Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Apa ?!?! ( part 2 )


__ADS_3

Ruby berada dalam mobil yang sedang melaju, dia duduk di kursi penumpang sebelah Rai, sekertaris Yuri ada di kursi penumpang depan sebelah sopir yang mengemudi. Sementara Ken dan Penyihir Vi berada di mobil satunya.


Ruby masih berfikir apa benar dia Big Bos yang sering dimaksud orang-orang itu.


“ Hei gadis sinting, apa kau sudah paham sesuatu ? “ tanya Rai memecah lamunan Ruby.


“ Maaf ? “ Tanya Ruby belum mengerti arah pembicaraan bos baru nya.


“ Seperti yang nona kira, saya lah Sekertaris Yuri, dan yang duduk di sebelah nona adalah Tuan Muda Rai sang Big Bos, sedangkan Tuan muda Ken berada di mobil satunya lagi bersama manager Vi “ Terang sekertaris Yuri menjelaskan, mengambil alih pembicaraan.


Ternyata aku menggali kuburanku sendiri, pikir Ruby.


Dia memang belum pernah bertemu atau melihat wajah Big Bos, tapi cerita bagaimana kejamnya dia Ruby selalu mendengarnya setiap hari. Kiki orang yang tergila-gila pada Big Bos, baginya Big Bos adalah bentuk dewa perang yang berwujud manusia, jantan, tampan dan berani, begitulah deskripsi menurut Kiki. Dan dia sangat memuja Klan Loyard.


Ruby diam seribu bahasa, dia tidak ingin bicara apapun yang akan membuatnya salah.


“ Hei gadis sinting, apa kau belum pernah melihatku? “ Tanya Rai dengan dingin.


“ Iya tuan muda, saya belum pernah “ Jawab Ruby dengan suara tersopannya.


“ Memangnya kau tidak punya TV atau ponsel ? “ Tanya Rai sinis merendahkan.


Setiap hari berita tentang Rai muncul di berbagai media, mustahil ada yang tidak tau bagaimana wajah sang Big Bos. Tapi Ruby terlalu sibuk bekerja jadi dia tidak pernah menonton acara TV, atau membaca koran, atau sekedar melihat berita dari layar ponselnya.


“ Maafkan saya Tuan muda “ Ruby menunduk meminta maaf.


“ Hei kau bantu dia mengingatnya “ perintah Rai kepada sopir yang sedang mengemudi.


“ Baik Tuan Muda, nona beberapa hari yang lalu kita pernah bertemu secara tidak sengaja, bukan pertemuan yang bagus karena anda memelintir tangan saya dan membanting saya “ sopir itu mulai menjelaskan.


“ Lalu saat itu Tuan Muda..” sopir melanjutkan, namun suara sopir itu terasa hilang dari pendengaran Ruby karena sekarang pikirannya seakan mengingat hal yang sangat menyeramkan.

__ADS_1


Aku bukan hanya menggali lubang kuburannku sendiri, tapi bahkan sudah menyiapkan pemakamannya, pikir Ruby, sekarang dia sadar bagaimana awal mula mereka bertemu.


Ruby merasa pikirannya sudah hilang, dia mengutuk dirinya sendiri atas sikapnya beberapa hari yang lalu.


Mulut jahat, mulut jahat, mulut jahat. Gerutu nya dalam hati sambil memukul mukul mulutnya sendiri.


Rai yang melihat kejadian itu tersenyum penuh kemenangan.


🍁🍁🍁🍁🍁


Mobil melambatkan lajunya dan berhenti di sebuah gerbang yang besar, sesaat kemudian gerbang besar itu terbuka, dan mobil memasuki pelataran halaman yang sangat luas menuju sebuah kastil megah di tengahnya.


Rumah itu seperti mansion yang indah, bergaya klasik di era kerajaan tapi tetap dengan sentuhan modern.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan pintu yang sangat besar, disitu telah berjejer pelayan seperti hendak menyambut seorang raja.


Sekertaris Yuri membukakan pintu untuk Ruby, sedangkan sopir itu membukakan pintu untuk Big Bos.


Yah paling tidak sepertinya disini tidak terlalu banyak penghuninya, jadi piring yang dicuci pasti tidak terlalu banyak. Pikir Ruby meyakinkan dirinya sendiri.


Mereka memasuki mansion itu menuju ruang tengah yang besar dengan perapian di pinggir ruangan, benar-benar bergaya klasik.


Disana terdapat hiasan dinding dari kepala hewan mati yang telah dikeringkan, kursi - kursi besar tertata rapi disana.


Tuan Muda langsung mendudukkan dirinya dikursi tunggal besar, dan sekertaris Yuri berdiri di sampingnya, sementara Ken mengikutinya dan duduk dikursi panjang, penyihir Vi berdiri disisi yang lain di sebelah Rai.


“ Hei duduklah “ perintah Rai kepada Ruby.


Dia lalu segera berjalan cepat ke arah Ken dan duduk disebelah Ken.


Rai terkejut Ruby memilih duduk disebelah Ken, tapi tak dia hiraukan. Sedangkan penyihir Vi sudah memelototkan matanya melihat Rai yang menyuruh Ruby duduk, dia terheran. Baru kali ini dia melihat Rai memperlakukan pelayan dengan berbeda.

__ADS_1


Tak lama berselang muncul seorang laki-laki paruh baya berbadan tegap. Wajahnya tampan meskipun sepertinya sudah berumur, ketegasan diwajahnya sangat mirip seseorang, bahkan tubuhnya pun terlihat kekar dan proporsional.


“ Ah anak – anak kesayanganku, akhirnya kalian pulang “ serunya dengan senyum lebar, seketika kesan tegasnya menghilang dan berganti kehangatan.


Dia menghambur memeluk Ken yang sudah lebih dulu berdiri untuk menyambutnya. Lalu menengok ke arah Rai untuk menawarkan pelukan, tapi di tepis Rai dengan membuang wajahnya.


“ Siapa nona manis ini ? “ tanya nya saat dia melihat Ruby duduk di samping Ken.


“ Bukankah dia alasan aku pulang “ jawab Rai singkat.


“ Aah gadis yang manis sekali “ jawabnya sambil memandang Ruby.


“ Siapa nama mu gadis manis ? “ tanya nya lagi.


“ Ruby Tuan “ jawab Ruby dengan sopan sambil menundukkan kepala.


“ Ah nama yang indah, permata Ruby, seindah diri mu “ puji ayahnya Rai.


“ Nama ku Regis, dan ya jangan panggil aku Tuan, panggil aku ayah “ ucapnya dengan lembut.


Ruby terheran dengan pembicaraan itu, kenapa dia harus memanggilnya ayah. Ruby yakin semua yang ada di ruangan itu juga sama herannya dengan dia, tapi karena ada aura yang aneh dengan orang-orang ini jadi mereka memendam pertanyaan itu.


“ Maaf Tuan saya tidak mengerti maksud perkataan Tuan “ jawab Ruby mencoba menjelaskan.


“ Bukan kah kau calon istri Rai? “ tanya ayahnya juga tak kalah heran dengan penjelasan Ruby.


“ APA ?!?! “ semua kompak terkejut, hanya sang obyek pembicaraan yang santai dengan pertanyaan ayahnya.


“ Lalu kapan kalian akan menikah ?” tanya nya lagi seakan tidak memperdulikan keterkejutan mereka.


“ Besok pagi “ jawab Rai singkat.

__ADS_1


“ APA ?!?! “ kembali terulang jawaban kompak dari semua orang di ruangan itu.


__ADS_2