
Bel istirahat berbunyi nyaring, semua siswa bersorak gembira mendengarnya. Mereka sibuk mengemasi buku-buku pelajaran namun ada pula yang sibuk menggeliat, meluruskan punggung karena capek hanya duduk terus selama beberapa jam. Bahkan ada yang langsung cuek dan merebahkan kepala mereka di meja, dengan acuh menutup wajah mereka dengan jaket untuk mencuri-curi waktu tidur.
Begitulah rutinitas remaja yang sedang bertumbuh selama jam istirahat berbunyi.
Namun semua rutinitas itu sama sekali tidak di lakukan oleh Blair dan Dylan, mereka berdua hanya diam saja dan saling canggung.
" Hai Blair mau ke kantin dengan kami ? " Tanya Bella dan beberapa siswi lainnya yang datang menghampiri Blair.
" Maaf ya tapi aku sedang tidak enak badan, jadi aku akan di kelas saja " Jawab Blair sungkan. Sebenarnya dia ingin berbicara beberapa hal dengan Dylan.
" Ah ya semalam kau mengupload di instastory mu kalau kau sedang sakit, kau mau sesuatu ? Kami akan membelikannya untukmu " Tawar Bella ramah.
" Tidak apa-apa, aku baik-baik saja " Blair menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
" Baiklah kalau begitu, kami pergi dulu ya " Pamit siswi-siswi itu dan kemudian meninggalkan Blair.
Dylan yang sedari tadi masih berpura-pura sibuk diam-diam mengamati Blair yang bersikap kikuk di sampingnya.
Biasanya masing-masing dari mereka akan segera pergi keluar kelas saat mendengar bel istirahat berbunyi. Dylan akan langsung menuju perpustakaan dan Blair akan berada di kantin untuk berfoto bersama para penggemarnya. Dan suasana kelas sepi melompong. Namun pada saat di butuhkan seperti ini, anehnya suasana kelas bahkan lebih ramai dari biasanya. Hampir separuh penghuni kelas tidak keluar untuk istirahat dan malah menghabiskan waktunya untuk tiduran di kelas.
Padahal ingin bicara 4 mata dengannya malah ramai begini.
Gerutu Blair dalam hati, sesekali dia melirik Dylan yang masih sibuk menuliskan sesuatu di bukunya.
Sabar... tahan... kalau aku merebut bukunya dan menuliskan surat di sana harga diriku akan hilang. Aku seorang artis terkenal, mana mungkin aku mengajaknya bicara dengan cara yang tidak elegan begitu.
Blair sibuk sendiri dengan pikirannya yang malah semakin menambah kusut pertanyaan-pertanyaan yang sudah di pendamnya untuk Dylan, tentang apa maksud tindakan anehnya seharian ini. Kalau memang benar karena bra alasannya, haruskah Dylan memperhatikannya sampai sedetail itu.
Blair mengamati dirinya sendiri, meraba-raba wajahnya, menilik pakaiannya, sepatunya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat. Ada begitu banyak bagian dari tubuhnya, dan juga cara berpakaiannya serta make up nya untuk di komentari, tapi kenapa Dylan malah selalu fokus pada bra hitamnya.
Aish !!
Decak Blair kesal dan membenamkan wajahnya ke meja, namun karena terlalu kesal bercampur malas dia malah membenturkan keningnya.
" Ouch " Pekiknya lalu dengan cepat mengelus-elus keningnya.
" Pft... " Dylan menahan tawanya melihat hal itu namun segera menguasai kembali dirinya saat Blair menatapnya dengan kesal.
Blair kembali membenamkan wajahnya di meja dengan kedua tangannya terlipat di meja menjadi tumpuannya.
Baiklah mari kita urutkan baik-baik dari awal. Aku membencinya, dia terlalu sombong, lalu aku semakin membencinya saat dia menumpahkan makanan dan tidak minta maaf, lalu kenapa aku memberikannya jaket ? Kenapa aku menyemangatinya tadi saat di lapangan. Ada apa sih sebenarnya dengan pikiranku ini ? Aku harus memutuskan aku mau membencinya atau tidak, aku tidak boleh setengah-setengah. Baiklah, aku akan mengajaknya bicara dan memutuskan akan membencinya saja. Ok Blair tetapkan itu di kepalamu.Kau bisa, kau pasti bisa.
Batin Blair mantap. Lalu dia mengatur napasnya sebelum nanti benar-benar bicara pada Dylan.
Setelah merasa cukup berani dan siap dia mengangkat kepalanya.
" Dylan " Panggil Blair langsung mendongakkan kepalanya.
" Dylan " Panggil Dera yang juga sudah ada di depan meja mereka secara bersamaan.
Dylan yang mendengarnya menoleh secara bergantian ke arah Blair dan Dera.
" Ah maaf, kau duluan saja " Ucap Dera sopan.
" Ti-tidak, silahkan kau saja " Jawab Blair tergagap.
" Baiklah kalau begitu " Dera tersenyum dan menoleh ke arah Dylan.
" Aku ingin mengajakmu belajar bersama untuk persiapan olimpiade kita " Ajak Dera lembut.
" Aku terbiasa belajar sendiri " Jawab Dylan dingin.
Bagus !!!
Entah kenapa hati Blair tiba-tiba bersorak riang mendengar jawaban Dylan.
" Begitukah ? Tapi pak Tomy selaku pembimbing kita menyuruh kita belajar bersama " Jawab Dera masih berusaha terlihat lembut, namun senyumnya yang kecut tidak dapat di sembunyikan akibat penolakan dari Dylan.
" Nanti aku sendiri yang akan mengatakan padanya bahwa aku akan belajar sendiri saja " Jawabnya acuh dan kembali membaca buku-buku yang ada di hadapannya.
Benar begitu, kau harus punya prinsip, dia itu sebenarnya hanya ingin mendekatimu.
Lagi-lagi tanpa sadar hati Blair melambung tinggi mendengar penolakan Dylan dan membuat bibirnya mengulas senyum tipis tanpa sadar.
__ADS_1
Dera yang melihat Blair tersenyum-senyum sendiri merasa tersinggung.
" Maaf ? " Tanyanya dengan kemarahan yang tertahan kepada Blair.
Blair yang masih tidak berkonsentrasi itu pun terus saja tersenyum-senyum sendiri seraya merapatkan jaket yang sedang tersampir di pundaknya.
" Blair ? " Ulang Dera dengan nada yang sedikit naik karena Blair mengacuhkannya.
" Ya ? " Jawab Blair polos begitu namanya di sebut.
" Apa kau merasa ada sesuatu yang lucu ? " Tanya Dera dengan nada sinis yang tersamarkan.
" Ti-tidak " Jawab Blair gelagapan merasa di tuduh seperti itu.
" O-oh kau pasti salah paham, aku bukan sedang mentertawakanmu, aku sedang menghapal dialog projek iklan ku berikutnya, dan dialognya sangat lucu, kau jangan salah paham " Jawab Blair berbohong.
" Begitukah ? " Sangsi Dera menilik wajah Blair yang masih terlihat panik.
" Baiklah maafkan aku kalau begitu " Dera memalingkan wajahnya sinis dan menatap Dylan tajam.
" Dylan aku harap kau tidak bersikap egois, karena ini adalah kompetisi yang membawa nama besar sekolah Klan Loyard " Jawab Dera kesal lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.
Blair menghela napas lega begitu Dera telah keluar dari kelas.
" Wuah anak itu menyeramkan ya " Gumamnya takut.
" Ehem... ehem... " Blair berdehem dan membenarkan posisi duduknya, lalu melirik Dylan yang masih saja acuh dan membaca bukunya.
" Ka-kau memakai jaketnya ? " Tanya Blair memulai percakapan.
" Hm " Jawab Dylan acuh.
" I-ini hanya ungkapan rasa terima kasihku karena kau meminjamkan jaketmu tempo hari untuk menutupi br ah maksudku noda di bajuku " Ucap Blair ragu-ragu, dia harus berhati-hati agar jangan sampai menyinggung perasaan Dylan.
" Hm " Lagi-lagi Dylan menjawabnya dengan acuh.
" Dan... dan tadi pagi saat aku menyemangati mu, i-itu karena aku hanya merasa kasihan denganmu, tidak ada orang lain yang memberikanmu tepuk tangan, wajar bukan karena aku teman sebangku mu " Jelas Blair lagi.
" Hm "
" Hm "
" Ka-karena ku lihat sepertinya kau sangat menyayangi Raline " Ucap Blair lirih.
Mendengar nama Raline di sebut, Dylan langsung menolehkan kepalanya menghadap Blair dan menatapnya tajam.
" Kenapa kau bisa tau tentang Raline ? " Tanyanya dingin, pikiran buruknya tentang Blair yang ingin mendekati Rai kembali muncul di kepalanya.
" A-aku mendengarmu bicara di telepon tempo hari, dan kau mengatakan kau sangat menyayangi Raline. Bu-bukan berarti aku mengupingmu " Sanggah Blair panik yang melihat Dylan memincingkan matanya dan terlihat kesal.
" Waktu itu aku ada di belakangmu untuk mengantre makan siang, dan kau sedang berbicara dengan Raline di sambungan telepon, jadi aku mendengarnya secara tidak langsung " Jelas Blair detail, dia tidak ingin di cap sebagai orang yang menguping percakapan orang lain dan ikut campur dalam urusan pribadi orang lain.
Dylan semakin mengernyitkan keningnya, bingung melihat Blair meracau tidak jelas tentang Raline yang berbicara dengannya di telepon. Raline yang kerjaannya hanya tidur dan menangis saja, mana mungkin bicara dengannya di telepon.
" Raline ? " Tanya Dylan.
" Ya Raline kekasihmu kemarin yang kau ajak jalan-jalan ke mall, yang ketahuan selingkuh dengan tuan Rai " Jawab Blair antusias, namun dia buru-buru menutup mulutnya lagi.
" Maaf, maaf aku tidak bermaksud menjelek-jelekkan orang lain " Lanjut Blair lirih dan menundukkan kepalanya sungkan.
Aish, hampir saja mulutku ini kelepasan bicara. Kalau aku tidak hati-hati mereka bisa mencap ku artis yang semborono dan suka membicarakan keburukan orang lain.
Blair memukul-mukul bibirnya pelan dengan salah tingkah.
Melihat tingkah Blair yang lucu itu pun dirinya teringat dengan Ruby dan Kiran, sikap kedua kakak iparnya itu terkadang hampir mirip dengan sikap Blair saat ini. Dan dia menyukainya.
" Ya aku sangat menyayanginya " Jawab Dylan seraya menahan senyum.
" Ah ya " Balas Blair dengan senyum kecutnya, dia lalu bergegas melepaskan jaket yang di berikan Dylan untuk menutupi punggungnya, dan mengembalikannya pada Dylan.
" I-ini jaketmu " Lanjutnya lesu.
Entah kenapa hatinya sedikit merasa kecewa saat mendengar Dylan mengatakan sangat menyayangi Raline. Tiba-tiba timbul semacam perasaan iri di hatinya. Perutnya bergolak tidak enak dan dadanya merasa sesak.
__ADS_1
Dylan meraih jaket yang terulur kepadanya dan menyimpannya di dalam tas. Dia terus melihat Blair yang tiba-tiba berubah lesu. Dia memiringkan tubuhnya menghadap Blair, lalu dengan tangan kirinya yang bertumpu pada siku, dia menyangga pelipisnya. Melihat sikap Blair yang mendadak aneh dan berubah gelisah.
Blair sendiri yang masih merasa tidak enak hati memutuskan membuka tasnya, dia ingin melihat nilai hasil ujian matematikanya. Tapi sebenarnya dia hanya ingin mengalihkan perhatiannya dari dadanya yang terasa sesak. Dan pandangan Dylan padanya.
" Blair " Panggil Bella dan teman-temannya yang telah kembali dari kantin.
Blair yang baru saja mengeluarkan kertas hasil ujiannya itu pun berjengit kaget.
" Oh itu hasil ujian mu tadi ya ? Boleh aku lihat " Bella yang ada dalam rombongan itu langsung saja menarik kertas yang ada di tangan Blair tanpa permisi.
" Ja... " Terlambat, kertas itu telah berpindah tangan bahkan sebelum Blair sendiri melihat berapa nilainya.
" Wow !! " Pekik Bella dan teman-temannya takjub.
Mati sudah aku, mereka pasti menganggapku bodoh saat ini.
Blair menundukkan kepalanya malu.
" Bagaimana kau bisa mendapatkan nilai sempurna begini ? " Tanya Bella antusias.
" Hah ? " Blair bingung dengan apa yang di bicarakan teman-temannya. Lalu dengan cepat dia meraih kertas yang ada di tangan Bella.
100. Tidak mungkin.
Pekik Blair bingung, dia menilik lebih lanjut kertas itu, memeriksa apa yang salah dengan hasil ujiannya. Dan benar saja, nama yang tertulis di kertas itu adalah Blair bukan Dasya, padahal seingatnya dia menuliskan nama aslinya di kertas ujian itu.
Dia mendekatkan lagi kertas itu ke wajahnya. Mengamatinya dengan seksama. Terlihat nama Blair di tulis di atas sebuah nama yang sudah di hapus dengan penghapus ballpoint.
Dengan cepat Blair menoleh ke arah Dylan yang sedang tersenyum menatapnya.
Apa ini kerjaannya ?
Batin Blair bingung, namun Dylan hanya mengedikkan bahunya lalu kembali membaca bukunya.
" Wow kau pintar sekali, kau bukan hanya artis yang mengandalkan wajah tapi juga kepintaran, kami semakin mengidolakanmu Blair " Pekik siswi-siswi yang menatap Blair dengan kagum. Dan Blair hanya menatapnya dengan canggung.
Kenapa dia melakukan ini ? Kenapa ? Kenapa ? Kenapa ? Membuatku semakin bingung saja harus membencinya atau tidak !!
Teriak batin Blair kesal.
Sementara itu Dera yang kembali ke kelasnya dengan kekecewaan karena di tolak Dylan itu pun langsung menghempaskan dirinya di bangkunya. Dengan kesal dia membuka buku yang tadi di bawanya sebagai bahan untuk belajar bersama Dylan.
" Kau tidak jadi belajar dengan Dylan ? " Tanya teman sebangkunya yang melihat Dera seperti sedang kesal.
" Tidak dia menolakku " Jawabnya ketus.
" Apa ku bilang, dia itu aneh. Kalau dia tidak aneh tidak mungkin dia di kucilkan seluruh sekolah " Dengan nada mengejek dia menasehati Dera.
" Tapi kau tidak tau, aku sangat menyukainya Cissy " Dera hanya menjawabnya dengan nada putus asa dan suara tercekat.
" Kau kan tau aku menyukainya sejak pertama kita masuk SMP " Lanjutnya lesu dan merebahkan kepalanya di atas meja, menghadap Cissy.
" Ya mau bagaimana lagi, nyatanya dia memang tidak bisa di dekati " Jawab Cissy pasrah dan mengelus-elus punggung sahabatnya untuk menenangkannya.
Dera yang sudah putus asa itu pun memejamkan matanya, tidak tau lagi harus mendekati Dylan dengan cara bagaimana.
6 tahun dia berusaha mendekati Dylan, tapi jangankan semakin dekat, mereka justru semakin jauh meskipun Dera sudah kerap menunjukkan senyumnya saat mereka berpapasan di lorong sekolah, atau bertemu di perpustakaan, atau saat mengantre untuk makan siang.
Semula Dera merasa tenang-tenang saja melihat Dylan mengabaikannya, toh Dylan tidak mungkin menjalin hubungan dengan gadis manapun di sekolah ini karena predikatnya sebagai orang yang di kucilkan. Namun kejadian tempo hari mulai mengusiknya, saat Blair dan Dylan bertabrakan di kantin.
Dera yang sedang menikmati makan siangnya terkejut oleh suara teriakan Blair yang terkena tumpahan lauk dari piring yang dibawa Dylan.
Dia mengamati semua kejadian itu, dan dia juga melihat Dylan yang tiba-tiba pergi dengan pakaian yang sedikit kotor.
Dera yang memang peduli dengannya lalu menyusul Dylan, bermaksud untuk memberikan tissu basah untuk membersihkan noda makanan di bajunya.
Namun Dylan tidak menuju toilet, dia malah kembali ke kelasnya dan mengambil jaketnya lalu pergi lagi.
Saat mereka tiba di lorong, Dylan melihat Blair yang berjalan menuju toilet perempuan dengan kesal itupun menyusulnya. Tentu saja hal itu membuat Dera terkejut. Dia terus saja mengikuti Dylan dengan sembunyi-sembunyi.
Cukup lama Dylan berdiri di depan toilet wanita dan tersenyum-senyum sendiri. Dera yang mengawasi Dylan dari jauh semakin merasa bingung. Lalu saat Blair keluar dari toilet dan Dylan menyodorkan jaketnya, Dera semakin di dera rasa cemburu.
Dylan yang selama ini di kenalnya cuek dan angkuh itu bersikap berbeda pada murid baru yang notabene adalah artis cantik idola setiap laki-laki.
__ADS_1
Dengan kesal Dera mengepalkan tangannya, menahan rasa sakit yang menusuk-nusuk di jantungnya. Terlebih saat melihat Dylan mencondongkan tubuhnya dan berbisik di telinga Blair, membuatnya semakin terbakar cemburu.
Dia merasa inilah saatnya dia maju sebelum Dylan dan Blair semakin dekat, mengingat mereka adalah teman satu bangku. Dera akan mendekati Dylan secara terang-terangan mulai saat ini.