Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Pujian


__ADS_3

Mandi bersih, biar wangi, mandi bersih....


Suara nyanyian sumbang dari dalam kamar mandi itu terdengar penuh rasa bahagia.


Bermandikan air pancuran dari shower yang mengalir deras, Rai membasuh setiap jengkal tubuhnya, berkali-kali menggunakan sabun dan shampoo. Tak lupa juga dia mencukur bersih jenggot dan kumisnya.


Masih tersisa 1 jam lagi sebelum makan malam, dan masih tersisa 1 jam 30 menit lagi sebelum datangnya moment yang paling mendebarkan yang telah dia nanti-nanti seharian ini.


Setelah tadi berpamitan pada Ruby yang masih menunggui Raline yang tidur di ruang bermain, Rai langsung bergegas kembali ke kamar untuk membereskan tempat tidur mereka dengan kedua tangannya sendiri, mengatur ulang seprei dan menyemprotkan pengharum ruangan ke setiap sudut kamar.


Di moment spesial ini, dia ingin menyiapkan semua sendiri, karena sangat jarang baginya Ruby yang mengajak untuk "bertarung" lebih dulu. Biasanya selalu Rai yang berinisiatif dan memulai duluan, naluri dari seorang laki-laki.


Kalau saja Rai bisa membawa pegawai museum record, sudah barang pasti dia akan mendaftarkan kejadian langka ini.


Kata-kata "bertarung" terus saja menari-nari di kepalanya, menghadirkan sederet imajinasi-imajinasi liar yang membuat jantungnya berdegub sangat kencang.


Penuh semangat dia menyiapkan dan membersihkan seluruh kamar. Dia harus benar-benar menciptakan sebuah suasana yang sangat romantis sebagai balasan atas ajakan Ruby. Ya begini baru yang namanya hubungan timbal balik, take and give.


Dan setelah selesai menyiapkan semuanya, disinilah dia saat ini. Bernyanyi dan bersenandung riang di kamar mandi.


Setelah menghabiskan sebotol penuh sabun dan shampoo, Rai menyelesaikan mandi nya. Dengan berbalut handuk, dia menyusuri ruang gantinya, membuka semua pintu lemari pakaiannya.


Wajah serius dengan tangan yang menyangga dagu.


" Semua baju sudah pernah ku pakai di depannya, tidak berguna " Gumamnya kesal sendiri. Matanya menyusuri lemari pakaiannya dari atas sampai bawah.


Helaan napas meluncur dari bibirnya, kecewa dan kesal bercampur jadi satu.


" Kalau minta di belikan baju sekarang, masih keburu tidak ya ? " Gumamnya lagi lalu melirik jam dinding.


Dia sudah menghabiskan 45 menit waktunya untuk mandi, hanya tersisa 15 menit saja untuk bersiap-siap dan turun kebawah untuk makan malam bersama keluarganya.


Dia tidak boleh terlambat makan malam, atau siluman kerbau akan menjadikannya menu makan malam hari ini. Ayahnya itu tidak suka anggota keluarganya terlambat untuk makan bersama.


" Haish !!! Kenapa aku bisa lupa mempersiapkan pakaian baru sih !! " Rutuknya semakin kesal sendiri.


" Aku ingin tampil berkesan di depannya, kalau semua baju sudah pernah ku pakai, dia pasti mengira aku menyepelekan malam ini " Omelnya sembari mengacak-acak rambutnya yang masih setengah basah.


" Pak Handoko ini kerjanya tidak becus, apa karena dia sudah tua jadi semakin tidak peka saja " Gerutunya terus menerus.


Dia keluar dari ruang ganti untuk mencari ponselnya, setelah menemukannya dia segera menghubungi kepala pelayan yang biasanya memang mengurusi masalah pakaiannya.


" Kenapa baju di lemari ku sudah ku pakai semua, apa Pak Handoko sudah lupa untuk membelikan ku baju " Tanyanya langsung tanpa basa basi begitu sambungan teleponnya di jawab.


" Tidak tuan, saya tidak lupa " Jawab Pak Handoko santai dan tenang.


" Alasan, kalau begitu kapan terakhir kali kau belanja baju ku ? " Tanya Rai tak mau kalah sambil melenggang pergi kembali ke ruang ganti, mencari pakaian baru yang katanya sudah di belikan olehnya.


" Kemarin sore para pegawai departemen store mengantarkan baju untuk anda, dan saya menaruhnya di lemari ke lima deretan ke tiga dari bawah " Jawab Pak Handoko masih tetap dengan tenangnya.


" Bohong, kenapa aku tidak lihat ada baju baru di lemari ? " Tanya Rai mulai kesal mendengar jawaban pak Handoko, dia mengobrak-abrik lemari yang di maksud oleh Pak Handoko. Mencari baju yang masih terdapat gantungan labelnya.


" Itu karena anda setiap jam berganti pakaian, jadi sejak kemarin sore sampai malam total anda telah berganti pakaian sebanyak 6 kali " Jawab Pak Handoko yang di sambut dengan ingatan Rai tentang masalah pakaian.


Dia pun menghentikan gerakan tangannya mencari pakaian baru. Wajahnya tertunduk mengingat kembali.


Sejak Raline lahir, Rai memang berusaha lebih keras untuk selalu mencoba menarik perhatian dari Ruby, salah satunya dengan berganti pakaian setiap jamnya, berharap Ruby akan tau perbedaannya dari jam ke jam. Namun bukan Ruby namanya jika tak secuek itu, dia bahkan tidak ingat sejam yang lalu Rai memakai pakaian warna apa. Alhasil, berganti pakaian sebanyak apapun Ruby tidak pernah bisa melihat perbedaanya.


" Ummm... ini seperti permainan mencari 5 perbedaan ya ? " Tanya Ruby ragu-ragu saat suatu hari Rai yang baru berganti pakaian mendatanginya dan bertanya apa yang berbeda darinya.


" Huuuh " Helaan napas panjang dari Rai sembari menutup sambungan teleponnya. Wajahnya muram.

__ADS_1


" Mau menarik perhatian mu saja begini susahnya " Gumamnya pasrah.


Dengan malas dia pun mengambil asal baju dengan model turtle neck berwarna merah maroon serta celana panjang berwarna beige.


Setelah memakainya, dia mematut dirinya di cermin seukuran badan. Tampilannya sempurna, sesempurna biasanya. Tapi tetap saja dia merasa ada yang kurang, kurang istimewa, kurang spesial ? Begitu pikirnya.


" Tidak boleh, aku harus bersiap-siap dengan baik agar Ruby terpesona dengan ku " Dia menyemangati dirinya sendiri, lalu mulai menata rambutnya agar terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Dia membiarkan rambutnya tergerai dengan belah tengah yang sedikit terlihat acak-acakan, menampilkan kesan badboy yang biasanya di sukai para wanita dalam drama-drama.


Jika gaya manis tidak bisa membuat Ruby sadar, mungkin gaya sedikit cuek dan berantakan begini bisa membuatnya menarik perhatian Ruby.


" Cih ini kan gayanya Dylan " Omelnya semakin kesal saat dia mengamati sekali lagi dirinya di depan cermin.


" Awas saja kalau dia berani-berani memikirkan laki-laki lain " Dengan keras dia menutup pintu lemari yang ada di belakangnya tapi tetap membiarkan semua pakaian berantakan itu berserakan di lantai.


Secuil perasaan buruk bergayut di hatinya, tapi demi hari yang spesial ini dia mengabaikannya dan mendorong perasaan tersebut menjauh ke sudut hatinya yang terpencil.


Rai pergi menuju ruang makan untuk makan malam bersama keluarganya yang lain.


" Hmmmm.... " Setiap pelayan yang di lewatinya langsung menarik napas panjang dan menghirup dalam-dalam.


" Tuan muda hari ini terlihat berbeda dan sangat wangi " Bisik-bisik para pelayan wanita di belakang Rai.


Jika biasanya dia akan langsung berdehem untuk memperingatkan mereka, kali ini hal itu malah membuatnya tersenyum bangga. Seakan menjadi suntikan kepercayaan diri baginya.


Kalau pelayan saja sadar dengan perbedaan ku, apalagi Ruby.


Batinnya bangga dan optimis.


" Selamat malam " Sapanya begitu masuk ke ruang makan, di sana telah berkumpul semua anggota keluarganya. Hanya Regis dan Dylan yang belum terlihat.


Semerbak wangi parfum yang dia semprotkan melebihi batas itu pun langsung menguar memenuhi udara ruang makan.


" Ah masa ? " Jawab Rai sesantai mungkin, tapi jauh di dalam dirinya, dadanya mengembang 10 kali lipat. Penuh rasa percaya diri dan optimis.


" Iya, bahkan tampilan tuan berbeda malam ini " Kiran ikut menimpali melihat Rai yang berjalan mendekat dan menarik kursi untuk duduk.


" Apanya yang beda ?Aku tetap seperti biasanya " Tanya Rai memasang tampang cool khas badboy, sesuai tema gayanya malam ini. Dia melirik Ruby di sampingnya yang juga sedang menatapnya.


Berhasil. Aku menarik perhatiannya.


Batin Rai girang setengah mati.


" Iya kok, tampilan tuan hari ini sangat berbeda " Kiran masih mempertahankan pendapatnya.


" Ya kan Ruby ? " Tanyanya kemudian kepada Ruby yang juga ikut mengamati penampilan Rai dari atas sampai bawah, samping kanan sampai samping kiri.


" Hanya perasaan mu saja kali " Jawab Rai masih memasang tampang acuh. Namun dalam hati rasa optimisnya semakin membuncah ruah. Berharap Ruby akan memuji penampilannya atau paling tidak terkesima.


" Iya apanya yang beda, kau terlalu pakai perasaan deh " Jawab Ruby polos sembari mengangguk mengiyakan jawab Rai.


Jleb !!! Bukannya pujian atau tatapan terkesima yang di dapat oleh Rai, malahan angin lalu dari Ruby.


Sia-sia sudah usahanya untuk tampil all out di hadapan Ruby, istri tercintanya itu bahkan tidak bisa menebak perbedaan dirinya.


" Tidak, dia memang berbeda " Sanggah Kiran masih tetap kukuh mempertahankan pendapatnya.


" Ada-ada saja kau ini, mata mu sepertinya jadi semakin tidak fokus " Jawab Ruby santai kembali menolak pendapat Kiran tanpa melihat lagi ke arah Rai.


" Beneran, benar kan Ken ? " Kiran meminta dukungan dari suami yang sedang duduk di sampingnya itu.


" Iya sedikit berbeda " Jawab Ken sekenanya.

__ADS_1


" Tuh kan, perhatikan secara seksama deh " Ucap Kiran merasa menang setelah beroleh dukungan.


" Perhatikan gimana lagi, dia tetap seperti biasanya kok " Jawab Ruby santai, menolak melihat Rai dengan lebih seksama lagi.


Dan perdebatan tentang bagaimana penampilan Rai malam ini pun tak terelakkan. Lantas bagaimana dengan perasaan Rai ? Jangan di tanya lagi, setiap Ken dan Kiran memberikan pendapat mereka yang mengatakan dirinya berbeda, parameter kepercayaan dirinya naik dengan tajam, wajahnya mendongak penuh rasa bangga, tapi begitu sanggahan Ruby terucap, rasa percaya dirinya langsung anjlok drastis, dan suasana suram meliputi sekelilingnya. Seperti jungkat jungkit ucapan mereka semua membuat mood Rai naik turun.


" Haish !!! " Decak Rai dengan keras pada akhirnya, membuat mereka semua yang berdebat langsung diam seketika.


" Kenapa tidak kau perhatikan aku saja sih, lihat baik-baik apa ada yang berbeda " Ucap Rai kesal pada Ruby.


Merasa yakin tidak ada yang berbeda, Ruby pun memilih mengalah dan menuruti perintah Rai. Di tatapnya lekat-lekat wajah suaminya, menilai setiap detailnya. Rambut, turun ke dahi, turun lagi ke kedua matanya, hidungnya, pipinya, bibirnya, dan berakhir di dagunya. Hasilnya ? Nihil. Ruby sama sekali tidak bisa melihat apa yang berbeda dari suaminya itu. Wajahnya tetap bersih mulus dengan garis rahang yang tajam.


" Bagaimana ? " Tanya Rai dengan senyum yang tertahan, tidak mungkin bukan Ruby tidak mengenali gayanya hari ini yang jelas-jelas sangat berbeda seratus delapan puluh derajat.


Jika biasanya Rai menyisir rapi rambutnya ke belakang, hari ini dia membiarkan rambutnya sedikit berantakan. Masa hal sejelas itu Ruby tidak bisa melihatnya.


" Ada yang beda kan ? " Tanya Kiran juga ikut tidak sabaran.


" Ah benar " Seru Ruby pada akhirnya. Dia bisa melihat apa yang berbeda dari suaminya saat ini.


" Benarkan ? " Seru Kiran merasa menang.


Rai pun semakin tersenyum lebar, akhirnya yang dia tunggu-tunggu datang juga. Sebuah pujian dari istri tercintanya.


" Iya kau benar, dia hari ini sedikit berbeda " Jawab Ruby sembari memincingkan matanya.


" Kau.... " Tunjuknya perlahan ke arah wajah Rai.


" Ya ? Apa ? " Jawab Rai dengan tidak sabar, tinggal sebentar lagi pujian akan meluncur dari bibir Ruby.


" Kau baru bangun tidur ya ? Belum mandi ? Kalau belum mandi kenapa turun untuk makan malam ? " Tanya Ruby dengan wajah polosnya.


" Aaaahhh.... " Ken melenguh panjang sembari sedikit memukul meja di depannya.


" Pantas saja kau pakai parfum sampai wangi sekali, ternyata kau belum mandi ya ? Ck, ck, ck " Lanjut Ken sembari menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi lalu melipat kedua tangannya dengan penuh kelegaan. Seperti baru saja memecahkan sebuah teka-teki besar.


" Oooh baru bangun tidur, pantas saja berbeda " Kiran pun ikut manggut manggut paham dan tak berani berkomentar lebih jauh lagi.


Merah, ungu, atau hijau ? Tidak jelas warna apa yang bisa menggambarkan raut wajah Rai saat ini, yang jelas dia sedang menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Bukan lagi hasrat laki-lakinya atau rasa haus pujian dari istrinya. Tapi rasa yang mampu membuat mereka bertiga berlutut memohon ampun sembari menarik lagi semua kata-kata yang terlanjur keluar kalau sampai Rai meluapkan rasa yang tertahan itu.


Seperti kebanyakan film india, dimana pihak berwajibnya datang terlambat. Regis dan Dylan datang secara bersamaan. Tepat sebelum Rai meledakkan emosi yang membuat kepalanya berdenyut hebat.


" Hm... siapa yang memakai parfum begini banyaknya ? " Tanya Regis begitu duduk di kursi.


" Kak Rai " Jawab Ken santai, tanpa tau tragedi pedih apa yang akan menimpanya di kemudian hari. Dendam kesumat dari manusia purba.


" Kenapa memakai begitu banyak parfum hanya untuk makan malam ? Tumben sekali " Tanya Regis santai. Namun Rai hanya diam membisu, tidak ada sama sekali keinginan untuk menjawab pertanyaan dari siapapun.


Dylan yang duduk berhadapan dengan Rai itu pun menatapnya dengan seksama. Menilainya.


" Apa ? " Tanya Rai kepada Dylan dengan masih berusaha sabar, mungkin saja dari sekian banyak keluarganya yang sama sekali tidak peka itu, masih tersisa satu adik kecil cerdas yang bisa menilai dirinya dengan berbeda.


" Kau... " Jawab Dylan ragu-ragu, wajahnya memerah menahan malu-malu.


Ya mungkin saja Dylan bisa menilai perbedaan Rai hari ini dengan positif. Mungkin.


" Tubuhmu seperti kebon " Jawab Dylan kikuk sendiri, bingung bagaimana berkomentar tentang wangi parfum Rai. Dia merasa harus memuji kakaknya itu, tapi dia terlalu kaku dan sungkan untuk memuji Rai dengan kata-kata manis.


" Ke apa ? " Ulang Rai tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Habis sudah, tidak ada lagi yang bisa menahannya agar tidak merancang aksi balas dendam kepada semua adik-adiknya, termasuk juga istrinya.


Dengan emosi yang membara, dia menggenggam erat sendok yang ada di hadapannya. Dan bukan sulap juga bukan sihir, sendok itupun bengkok.

__ADS_1


__ADS_2