
Semua yang ada di ruangan itu diam dengan tenang saat menunggu dokter keluar dari ruang perawatan. Suasana duka kental sekali terasa. Rai mengedarkan pandangannya menelisik seluruh wajah keluarganya yang ikut hadir menyaksikan dokter melepas alat-alat itu lalu kemudian beralih menatap Ruby yang hanya diam membatu dengan tatapan kosong.
Ini tidak benar.
Pikir Rai, harusnya Ruby menangis, berteriak histeris meraung-raung saja dan menumpahkan semua kesedihannya, atau paling tidak membiarkan air mata yang sedari tadi sudah menggenangi pelupuk matanya itu meluncur turun. Tapi semua itu tidak di lakukan Ruby dan hal itu membuat Rai cemas, perilaku Ruby tidak seperti biasanya.
" Sayang... " Rai mencium tangan Ruby yang ada di genggamannya, membuat Ruby terhenyak dan menoleh ke arah Rai.
" Kau ingin mereka semua ikut ke pemakaman ? " Tanya Rai dan menunjuk anggota keluarganya dengan lirikan mata.
Ruby ikut mengedarkan pandangan ke seluruh orang, terlihat jelas wajah-wajah sedih itu tercetak. Lalu dengan lemah Ruby menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin seluruh anggota keluarganya ikut memakamkan ayahnya, dia hanya akan pergi sendiri di temani Rai. Dia tidak ingin keluarganya yang lain ikut larut dalam kesedihannya.
" Suruh saja mereka pulang, aku baik-baik saja " Ucap Ruby akhirnya membuka suara.
" Baiklah " Rai menganggukkan kepalanya dan melepas genggaman tangan Ruby lalu pergi menemui ayahnya.
Mereka berbicara lirih berbisik, terlihat sesekali Regis memandang Ruby dengan tatapan sedih lalu menunduk. Setelah berbicara cukup lama, akhirnya Regis pun mengangguk-angguk dan menepuk pundak Rai. Dia memberi kode pada Sekertaris Yuri dan Dylan agar mengikutinya pergi dari sana.
" Sayang... " Panggil Regis saat telah berada di hadapan Ruby. Dengan sedikit terkejut Ruby segera bangkit untuk menatap wajah ayah mertuanya.
" Kau yakin kami tidak perlu ikut ? " Tanya Regis.
" Ya ayah, aku dan Rai akan pergi berdua saja untuk memakamkan ayahku " Jawab Ruby masih berusaha terlihat tegar dengan menunjukkan senyum tipisnya.
" Jangan memaksakan dirimu, menjadi hancur dan terpuruk bukanlah sebuah hal yang memalukan " Ucap Regis berusaha menguatkan Ruby. Namun lagi-lagi Ruby hanya tersenyum tipis sebagai jawaban.
" Ayah sebenarnya ingin mengirim mu menyusul Ken dan Kiran saja alih-alih hanya mengajakmu berkeliling ke pusat perbelanjaan. Tapi ayah tau kau bukan tipe orang yang melarikan diri seperti itu " Ucap Regis lagi.
" Aku akan menghadapinya dan mengatasinya dengan baik, ayah tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja " Jawab Ruby.
Regis merentangkan tangannya dan memeluk menantunya.
" Aku juga ayahmu, jadi jangan merasa terlalu kehilangan " Lanjut Regis seraya menepuk-nepuk punggung Ruby dan dia merasakan anggukan kepala Ruby sebagai jawaban.
Regis lalu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Ruby sekali lagi.
" Kau memang putri kebanggaan ku " Puji Regis menepuk pundak Ruby.
Sekertaris Yuri yang ada di belakang Regis pun ingin mengucapkan bela sungkawanya, dia maju menghadap Ruby.
" Sayang... " Panggilnya menirukan Regis.
" Hei !! " Teriak Rai marah mendengar hal itu.
__ADS_1
" Berani-beraninya kau memanggil istri ku sayang, kau ingin mati, hah ? " Geramnya kesal.
" Maaf tuan, saya hanya berpikir untuk menghibur nyonya saja " Jawab Sekertaris Yuri dengan senyum tertahan, dia melihat Ruby yang juga ikut tertawa melihat usahanya untuk mencairkan suasana.
" Dia ayahku, boleh saja memanggilnya sayang, tapi kau jangan berani coba-coba " Dengan ketus Rai mendelik pada Sekertaris Yuri lalu membuang wajahnya malu.
" Maaf nyonya atas kelancangan saya, tapi anda cantik saat tersenyum seperti itu " Puji Sekertaris Yuri lagi. Rai yang mendengarnya langsung maju kedepan Sekertaris Yuri.
" Hei ayo berkelahi saja, bagaimana ? " Dengan senyum kesal dia menggeleng-gelengkan kepalanya, melakukan pemanasan sebelum berkelahi. Tapi Sekertaris Yuri hanya tersenyum dan menundukkan kepala meminta maaf.
" Dia itu cantik hanya untuk ku, tapi di matamu dia tidak boleh terlihat cantik, kau paham ? " Perintah Rai lagi dengan kesal.
Ruby dan yang lainnya hanya tersenyum melihat kecemburuan Rai yang tidak pada tempatnya. Tidak peduli orang terdekatnya sekalipun.
" Aish sudah sana minggir, kau tau Sekertaris Yuri hanya bercanda, dia tidak serius " Jawab Ruby.
" Semua orang yang saling mencintai juga awalnya dari bercanda, lalu timbul rasa nyaman kemudian berubah jadi cinta, kau mau begitu dengannya ? " Saut Rai ketus masih mempertahankan argumennya.
" Iya iya lain kali aku tidak akan bercanda dengan siapapun lagi " Jawab Ruby asal dan memukul pelan lengan Rai, menyuruhnya pergi dari hadapan Sekertaris Yuri. Dan Rai pun kembali berdiri di samping Ruby.
" Saya tau mungkin kata-kata saya tidak dapat menghilangkan kesedihan anda, tapi saya... " Ucap Sekertaris Yuri lagi, namun Rai yang melihat Sekertaris Yuri akan melontarkan pujiannya lagi pun memotong pembicaraan itu.
" Iya iya dia sudah paham apa yang ingin kau katakan, jadi tidak usah di teruskan " Saut Rai asal.
" Hei kau ini bujangan, jadi belum waktunya mengerti hal-hal yang seperti ini. Dia ini sudah menaikkan levelnya hingga bisa membaca pikiran serta isi hati orang lain " Jawab Rai seraya menunjuk Ruby.
" Apa hubungannya bujangan dengan kemampuan nyonya membaca pikiran orang lain ? " Tanya Sekertaris Yuri semakin bingung mendengar persamaan yang Rai lontarkan.
" Aish dasar bujangan lapuk ini, makanya cepat menikah, jadi kau akan tau lama kelamaan istrimu akan memiliki kemampuan mendeteksi kebohongan dan kejujuran paling akurat, bahkan lebih akurat daripada alat pendeteksi kebohongan tercanggih sekalipun " Jelas Rai.
" Dia bahkan bisa menjadi dukun yang melihat rahasia apa yang kau sembunyikan " Lanjut Rai.
" Hm ? " Kali ini Ruby yang mengernyitkan keningnya bingung dengan penjelasan Rai.
" Bukankah kau menggunakan kekuatan khususmu itu untuk mengetahui bahwa selama ini aku membohongimu masalah ayahmu, lalu kau mengancam dokter Noh dengan cerita mak lampir karena kau tau istri dokter Noh segarang mak lampir bukan ? " Tanya Rai.
" Tidak " Jawab Ruby polos.
" Aku tau kau berbohong karena dia menghubungi mu, kemudian mengirimi mu pesan singkat, lalu aku membaca semua pesan-pesan sebelumnya yang dia kirimkan padamu " Jawab Ruby datar.
" Lalu darimana kau tau kalau kelemahannya adalah istrinya ? " Tanya Rai terkejut mendengar penuturan Ruby.
" Semua kelemahan suami adalah istrinya, bukankah peraturannya begitu. Satu, wanita selalu benar. Dua, laki-laki yang selalu salah. Tiga, jikapun wanita salah, maka kau harus kembali pada pasal pertama " Jawab Ruby datar.
__ADS_1
" Wuah !! " Pekik Rai takjub.
" Ku kira apa yang di bilang dokter Noh bahwa kau berubah jadi dukun yang bisa membaca semua pikiran dan isi hati orang lain itu benar, aku bahkan sangat berhati-hati saat ada di sebelahmu agar tidak memikirkan macam-macam, takut kau bisa membacanya, jadi saat ada di dekatmu aku selalu bilang, Ruby cantik, Ruby baik, Ruby cantik, Ruby baik, begitu terus " Lanjut Rai dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, merasa malu dengan kebodohannya sendiri.
" Hei kau ini " Ruby memukul lengan Rai gemas dengan kepolosannya jika menyangkut masalah wanita.
" Terima kasih Sekertaris Yuri " Lanjut Ruby menoleh ke Sekertaris Yuri.
Dylan yang sedari tadi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Rai, kini ikut maju dan ingin mengucapkan duka citanya pada Ruby.
" Beb... " Ucap Dylan saat berada di depan Ruby.
" Aish ini satu lagi ranger pink ! " Teriak Rai kesal lalu langsung memiting leher Dylan.
" Aku tidak melakukan ini pada Sekertaris Yuri karena dia berstatus paman, tapi padamu, aku tidak akan sungkan-sungkan " Omelnya dan menggosok kepala Dylan dengan keras.
" Sakit kak, sakit " Teriak Dylan berusaha melepaskan diri dari pitingan Rai.
" Apa maksudmu memanggilnya beb, kau kira aku tidak akan tau, hah ? " Tanya Rai kesal.
" Beb itu kepanjangan dari bebek, kau ini selalu saja berburuk sangka pada orang lain " Kilah Dylan asal.
" Sudah, sudah... " Ruby melerai Rai dan Dylan, dia memukul tangan Rai yang di gunakan untuk memiting leher Dylan.
Dengan masih kesal Rai melepaskan pitingannya. Dan Dylan menegakkan punggungnya lalu mengelus-elus lehernya.
" Beb i love you " Ucap Dylan kemudian menggoda Rai lalu langsung berlari ke belakang punggung Regis untuk bersembunyi.
" Hei !!! " Teriak Rai kembali marah, namun semua orang hanya tertawa melihat kemarahan Rai karena mereka semua tau Dylan hanya menggoda Rai yang terlalu cemburu buta jika menyangkut Ruby.
" Ayah kau lihat dia " Tunjuk Rai kepada Dylan yang sekarang sedang menjulurkan lidahnya mengejek Rai.
" Iya iya ayah akan memarahinya untukmu, tenang saja " jawab Regis sabar.
" Yuri, pesankan kotak kaca besok " Perintah Regis kepada Yuri.
" Untuk apa tuan ? " Tanya Sekertaris Yuri bingung.
" Untuk mengawetkan Dylan, kita akan memakaikannya baju rangers pink lalu mengawetkannya kedalam kotak kaca " Jawab Regis berpura-pura serius.
" Maaf ayah " Dylan langsung beringsut mundur dan menundukkan kepalanya kepada Regis. Dia masih takut jika Regis benar-benar marah, akan jadi apa dirinya nanti.
" Dasar rangers pink ini " Regis mengacak-acak rambut Dylan. Dan semua orang tertawa melihat kepolosan Dylan.
__ADS_1