Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Mission Impossible 1 : Killing the Chicken


__ADS_3

Mereka bertiga berjalan menuju dapur restoran di hotel tersebut, satu wajah yang terlihat sangat sumringah, dan 2 wajah yang terlihat sangat putus asa.


" Tuan? " Pekik kepala koki terkejut melihat rombongan manusia luar biasa itu.


" Apa yang membawa anda kemari ? " Tanya kepala koki dengan gugup, takut telah membuat kesalahan, apalagi setelah skandal-skandal yang terkuak ke permukaan, mereka menjadi lebih berhati-hati lagi jangan sampai menyinggung hati tuan dan nyonya baru mereka.


" Istri ku sedang ngidam ayam goreng, dia ingin... " Rai menjelaskan malas


" Baiklah tuan kami akan segera menyiapkannya, harusnya anda hanya perlu menelfon tidak perlu sampai repot-repot turun kebawah sini " Kepala koki itu menyaut cepat memotong pembicaraan Rai, menundukkan kepala hormat setiap berbicara dengannya.


" Aisshh, makanya dengarkan aku dulu sampai selesai, dia ingin makan ayam goreng yang aku masak sendiri " Rai menjelaskan kesal.


" Apa ?!? " Kepala koki dan para koki yang sedari tadi menguping pembicaraan kedua orang itu kompak berseru.


Mereka semua kemudian menatap ke arah Ruby secara bersamaan, dengan tatapan menyelidik dan memindai, bagaimana wanita semungil itu, bertubuh kecil dengan wajah polos, yang bahkan seperti tidak punya kekuatan apa-apa bisa membuat Tuan Rai yang terkenal kejam dan dingin, memasak ayam goreng dengan tangannya langsung. Mereka yakin besok harga ayam goreng di restoran hotel mereka akan meroket tajam.


Ruby yang menerima serangan pandangan dari para koki-koki yang lain hanya bisa tersenyum canggung.


" Sudahlah kalian semua berhenti paduan suara, siapkan saja semuanya, aku dan Ken akan memulai memasaknya " Rai melanjutkan dengan menjawab malas, dia merasa harga dirinya saat ini sedang menguap bersama gulungan asap yang mengepul di dapur.


" Apa ?!?! " Lagi-lagi mereka kompak terkejut mendengar perintah Rai, sekarang bukan hanya tuan Rai yang akan memasak, bahkan tuan Ken juga, bagaimana pun mereka adalah putra mahkota dalam Klan, dan Ruby membuat mereka berdua secara langsung memasak untuknya.


" Hei aku bilang hentikan paduan suara kalian, kalian berisik sekali, pastikan berita ini jangan sampai keluar, atau kalian semua akan berakhir di penggorengan itu " Rai berteriak mengancam, kesal setengah mati.


" Baiklah siapkan semua rencana nya " Rai menunjuk ke arah kepala koki.


" Rencana apa tuan ? " Tanyanya bingung.


" Kau ini membuatku kesal saja, tentu saja rencana yang harus di buat untuk membunuh seekor ayam, memangnya rencana apa lagi ? " Rai menjawab kehabisan kesabaran.


" Maaf tuan, tapi semua ayam yang dikirim ke sini sudah dalam keadaan mati, dan kita hanya tinggal mengolahnya saja " Kepala pelayan menjawab takut.


" Aaarggghhh " Rai berteriak kesal. Dia menatap Ruby tajam.


" Marimar kau dengar itu, ayamnya sudah lebih dulu terbunuh sebelum aku melakukan apa-apa " Ucap Rai kepada Ruby dengan nada kesal.


" Baiklah kalau begitu, minta saja ayam yang masih utuh lalu kau yang memotongnya sendiri " Jawab Ruby santai, dan di balas dengan geraman kekesalan Rai.


" Baiklah tunggu saja di luar, ayam goreng pesananmu akan segera datang " Rai menjawab asal, dia berusaha menghindar dan mengakali Ruby.


" Tidak aku tunggu disini saja, kau bisa meminta pelayan menyiapkan kursi, aku tidak akan mengganggu, aku akan menunggu dalam diam " Jawab Ruby sambil membuat gerakan menarik bibirnya tanda menutup mulut.

__ADS_1


" Cih " Rai mendengus kesal, dia segera memerintahkan salah satu koki untuk menyiapkan kursi untuk Ruby.


Koki itu berlari-lari mengambilkan kursi empuk beserta dengan kursi kecil untuk menaruh kaki Ruby agar tidak lelah menunggu. Ruby merasa tidak enak di perlakukan berbeda, tak urung dia menundukkan kepala dan mengucapkan terima kasih.


" Baiklah ayo cepat memasak, siapkan semuanya " Perintah Rai kepada kepala koki.


Kepala koki datang dengan membawakan seekor ayam segar yang masih utuh, Rai dan Ken bergidik ngeri melihat ayam yang sudah gundul tidak berbulu itu.


" Kenapa ayam itu tidak memakai apapun ? " Ken bertanya geli.


" Hei kau bercanda ? Kau sudah tidak waras ? " Rai bertanya dingin kepada Ken.


" Sudah cepat bekerja " Perintah Rai kepada Ken.


" Tunggu dulu kak " Ken mencegah Rai yang akan berjalan mengambil pisau untuk memotong ayam itu.


" Apa ? " Rai bertanya geram.


" Apakah kau akan langsung memotong itu begitu saja ? " Tanya Ken ragu.


" Tentu saja, sudahlah lebih cepat lebih baik, ambil pisau " Perintah Rai kepada Ken yang kemudian menengok koki untuk meminta tolong mengambilkan pisau.


" Tunggu dulu kak " Ken menahan tangan Rai.


" Apa lagi ??? " Rai kehabisan kesabaran.


" Apa kau tidak memikirkan bagaimana caranya memotong ayam benar ? " Tanya Ken dengan ragu-ragu.


" Apa maksudmu ? " Tanya Rai bingung.


Ken lalu mendekatkan kepalanya ke arah Rai, dia membisikkan sesuatu yang membuat Rai mengangguk-anggukan kepalanya dengan mimik wajah yang sangat serius.


" Baiklah kita lakukan rencana mu " Ucap Rai kemudian.


Rai kemudian memanggil beberapa koki dan juga kepala koki untuk berdiri memutari mereka di sekitar meja. Mereka seperti mengadakan rapat.


" Ok baiklah, kali ini Ken yang akan memimpin operasi pembuatan ayam goreng enak untuk Ruby, kalian dengarkan baik-baik perintahnya " Rai membuka rapat dengan suara lirih seakan-akan itu sebuah top secret menyangkut hidup dan mati seseorang.


Ruby yang melihat itu di kejauhan mengernyitkan keningnya.


" Mereka sedang apa ? Kenapa menggoreng ayam saja suasana nya jadi begitu menegangkan seperti itu, membuatku merinding saja " Ruby membuat gerakan menggosok-gosong lengannya dengan telapak tangannya.

__ADS_1


" SIAP LAKSANAKAN !!! " Seru para koki yang mengikuti rapat dengan kompak, membuat Ruby terlonjak kaget dari tempat duduknya.


Mereka kemudian membubarkan diri, hanya tertinggal Ken dan Rai yang ada di sana. Membuat Ruby semakin heran.


" Rai apa kau baik-baik saja ? " Ruby bertanya basa basi.


" Tenang saja, aku hanya menjalankan standart umum proses membuat ayam goreng " Jawab Rai dari seberang ruangan.


Ruby semakin mengernyitkan kening mendengar jawaban Rai, dia tidak paham apa maksudnya. Ruby membuka mulutnya akan bertanya lagi tapi terhenti ketika beberapa koki masuk dengan bersamaan dan membawa sesuatu.


" Baiklah tuan semua sudah disiapkan, kita bisa segera memulainya " Ucap kepala Koki yang juga baru saja masuk.


Rai hanya menganggukkan kepala, dan melangkah mundur sedikit untuk membuat jarak dengan meja, begitu juga Ken dia bergerak kesamping sedikit menjauhi Rai, membuat jarak di antara masing-masing.


" Lanjutkan " Ken memberi aba-aba.


Dua orang koki maju dengan membawakan celemek yang terbuat dari semacam bahan anti air, berukuran cukup lebar yang mampu menutupi dada sampai lutut mereka.


Koki-koki itu memasangkan celemek Rai dan Ken dengan bergaya ala dokter yang akan melakukan operasi pembedahan.


" Selanjutnya " Ken memerintah lagi.


Tangan Rai dan Ken terangkat ke udara, dan para koki kembali memasangkan sarung tangan karet yang menutupi sampai siku.


" Selanjutnya " Ken lagi-lagi memerintah.


Para koki lain maju dan memasangkan mereka masker yang cukup lebar dan hanya menyisakan bagian kening dan mata mereka saja.


" Ok baiklah, kak mulai lah " Ken memberi aba-aba kepada Rai.


Rai maju mendekat ke meja, koki lain menyodorkan ayam yang dari tadi sudah tersedia, tapi sekarang ayam itu berada di atas papan kayu yang besar yang berfungsi sebagai talenan.


Koki lain di samping Rai sedang sibuk menata pisau mulai dari ukuran terkecil sampai terbesar.


" Baiklah kita mulai " Suara Rai tajam dan tegas di balik maskernya.


" Pisau bedah " Rai mengangkat tangannya meminta pisau kepada Ken.


Ruby yang sedang meminum teh yang baru saja di sediakan koki lainnya langsung terbatuk melihat adegan konyol di depan mereka.


" Daebak !! Hei aku menyuruh kalian memasak ayam bukan main dokter-dokteran " Ruby menepuk keningnya tidak habis pikir dengan tingkah kakak beradik itu.

__ADS_1


__ADS_2