
Ke empat kakak Dylan sudah sampai di depan pintu kamar Dylan, Ken mengetuknya untuk memberitahukan kedatangan mereka.
Tak berselang lama Dylan membukakan pintu kamarnya, dengan rambut berantakan dan wajah yang kusut dia menyambut kakak-kakaknya.
" Kenapa sampai begini sih ? " Tanya Ken penasaran.
Dylan tidak menjawab hanya memiringkan tubuhnya untuk memberikan jalan lewat bagi mereka.
" Ini semua gara-gara kalian " Gumamnya kesal.
" Kok bisa jadi salah kami ? " Sanggah Ken tidak terima, dia langsung menuju sofa dan menghempaskan dirinya, begitu juga dengan yang lainnya.
" Kalian terus mengirimi ku pesan saat aku juga berkirim pesan dengannya, aku jadi tidak konsentrasi lalu salah kirim " Jelas Dylan lemas.
" Memangnya kau mengiriminya pesan apa ? " Tanya Rai santai.
" Aku bilang aku bukan rangers pink dan juga bukan nunu tapi pipa " Jelasnya semakin lirih, lalu dengan frustasi dia menggosok wajahnya kemudian meremas rambutnya yang sudah acak-acakan.
" Bagaimana kalau dia tau itu aku lalu balik menggejek ku terus-terusan ? Harga diriku... " Gumamnya.
" Memangnya kenapa dia harus mengejek mu ? " Tanya Ruby yang masih belum paham tentang permasalahan ini.
" Ya mungkin balas dendam karena aku terus saja mengejeknya masalah bra hitamnya " Jawab Dylan asal.
" Hahaha... pembalasan memang begitu, harus seribu kali lebih kejam " Saut Rai santai.
" Lagian kenapa sih kau itu mesum sekali, ada begitu banyak hal lain untuk mengejek Blair, tapi kenapa harus bra nya ? " Tanya Kiran.
" Ya karena pada waktu itu yang terlihat jelas mencolok di mataku ya bra hitamnya, baju seragam putihnya basah lalu bra hitamnya kontras, bukankah semua orang juga akan langsung memandang ke arah sana ? " Dylan membela dirinya.
" Kau benar " Jawab Rai santai. Ruby yang mendengarnya langsung mendelik ke arahnya lalu mencubit perutnya, namun Rai seperti tidak terpengaruh sama sekali, tidak merasa geli atau bahkan sakit.
" Jangan remehkan delapan kotak di perutku ini ya " Jawabnya dengan seringai miring penuh kesombongan seakan menjawab keheranan Ruby.
" Cih " Cibir Ruby kesal.
" Kau itu jangan mengajarkan aliran sesat padanya, dia itu masih di bawah umur " Omel Ruby.
" Aku bukannya mengajarkan aliran sesat padanya, aku bicara tentang fakta. Manusia memandang manusia lain dengan pakaian kering yang menutupi tubuh mereka sebagai sebuah kenormalan, jadi jika ada yang melenceng dari kenormalan itu walau hanya sedikit saja, maka fokusmu akan langsung teralihkan pada apa yang salah tersebut " Jelas Rai serius. Semua orang menatapnya dalam diam, mendengarkan penjelasan Rai.
" Kalau dia tidak terusik pada hal yang tidak pada tempatnya itu, maka bisa di bilang ada yang salah dengan otaknya " Rai menunjuk Dylan dengan wajahnya.
" Dan kau normal dik " Lanjutnya tersenyum.
" Tapi tetap saja salah menyebutkan bra Blair " Sanggah Ruby.
" Kalau kau melihat sebuah langit biru yang cerah dengan awan yang putih, kau akan bilang apa ? " Tanyanya pada Ruby.
" Wah indahnya langit itu " Jawab Ruby masih bingung.
" Lalu ada awan hijau tua yang tiba-tiba muncul dari balik awan putih, kau akan bilang apa ? " Tanya Rai lagi.
" Kok ada awan hijau ? " Ruby balik bertanya.
" Nah kan ? Fokusmu langsung tertuju pada awan hijaunya kan ? Kau melupakan langit biru yang luas dan awan putih yang lainnya, padahal porsi mereka lebih besar, kenapa kau tidak tetap bilang saja " wah langitnya indah "" Jawab Rai santai.
" Karena awan hijaunya mengganggu pemandangan " Saut Ruby cepat.
" Begitu juga Dylan, dia terganggu dengan bra hitam milik Blair yang terlihat, jadi dia mengungkapnya, bukan karena dia mesum, kalau orang mesum pasti pikiran mereka tidak akan seperti itu, otak mereka akan membayangkan sesuatu yang lain lebih dulu lalu dia tidak akan jujur memberitahukan Blair kalau bra nya terlihat, dia pasti akan sibuk merayu Blair agar pikiran mesumnya terwujud " Jelas Rai panjang lebar.
Dylan bisa mencerna semua kata-kata Rai, dan dia tau betul maksudnya, karena apa yang di katakan Rai benar adanya.
Saat pertama bertabrakan dengan Blair di kantin, dia merasa sungkan telah membuat kotor bajunya, namun saat Blair keluar dari kamar kecil, Dylan tidak dapat menahan pandangannya dari bra hitam milik Blair yang terlihat, dan secara reflek dia memberitahukannya, meski mungkin dengan cara yang salah. Lalu yang kedua, ketiga dan ke empat serta kelima ? Apa alasannya ? Dylan pun bertanya-tanya dalam hati apa alasannya terus membahas bra hitam milik Blair setiap berbicara dengannya.
" Ok katakanlah itu memang mengganggu pemandangan mata ? Lalu alasan yang berikutnya apa ? " Tanya Ruby seakan mampu membaca pikiran Dylan, Dylan pun beringsut semakin mendekat ke arah Rai, mencari tahu jawabannya.
" Kalau itu... " Rai terdiam dan menatap Dylan dengan tajam, semua pun ikut tegang mendengarkan pendapat Rai, mereka bahkan menahan napas karena saking penasarannya.
__ADS_1
" Hanya dia dan Tuhan yang tau " Lanjut Rai santai.
Lenguhan kesal dari setiap orang menyambut jawaban Rai, pundak mereka yang tadinya tegang kini merosot malas.
" Ku pikir kau akan tau alasannya " Cibir Ken ketus.
" Kenapa kau terus membahas bra nya ? " Tanya Rai santai kepada Dylan yang sudah menyandarkan tubuhnya di sofa, kecewa dengan jawaban Rai. Karena jujur sampai sekarang dia sendiri tidak tau apa alasannya hingga dia terus saja membahas masalah bra Blair. Apakah dirinya memang mesum ? Dia sendiri tidak tau pikiran mesum itu pikiran seperti apa.
" Entahlah " Pasrahnya kemudian, memejamkan matanya dan menghela napas berat.
" Tapi kenapa kau sangat peduli kalau Blair tau bahwa kau pengirim pesan itu ? " Tanya Ken penasaran.
" Aku juga tidak tau, harusnya aku santai saja karena sudah terbiasa di kucilkan, tapi dengan Blair lain, apanya yang lain aku juga tidak paham " Jawab Dylan masih tetap pada posisinya semula.
" Jangan bilang kau juga suka pada Blair ? " Celetuk Kiran.
" Juga ? " Dylan menegakkan punggungnya menatap Kiran, dahinya berkerut dalam.
" Ya Sekertaris Yuri bilang kau kan sudah punya kekasih, jadi jangan bilang kalau kau juga menyukai Blair, kau tidak boleh mencintai 2 orang sekaligus " Jelas Kiran.
" Aku tidak punya kekasih dan aku tidak ingin punya kekasih " Jawab Dylan malas.
" Kenapa ? Ayah mengizinkan kau punya kekasih, dan dari yang ku dengar dia juga anak dari tuan Gavin " Saut Rai.
" Tuan Gavin ? " Dylan yang tidak mengenalnya hanya bisa menatap Rai dengan wajah polosnya.
" Ah ya kau kan belum di kenalkan secara publik, yang perlu kau tau kalau tuan Gavin pemilik brand G&M dan juga yang memiliki G&M store yang ada di negeri ini, dan kekasihmu itu anak bungsunya " Jelas Rai panjang lebar.
Pantas saja sikapnya begitu, rupanya anak orang kaya. Memaksakan perasaan, sepertinya dia sudah terbiasa mendapatkan apapun keinginannya.
Batin Dylan.
" Jadi benar ? " Tanya Ken penasaran melihat Dylan yang malah melamun.
" Hu'um " Angguknya setuju, Dylan sedang tidak berkonsentrasi dan pernyataan Rai seakan menjawab hipotesa yang menari-nari di dalam kepalanya.
" Jadi kau sudah punya kekasih ? " Pekik Ruby terkejut mendengar pengakuan Dylan.
" Kau benar sudah punya kekasih ? " Tanya Ruby lagi dengan antusias yang tertahan.
" Tidak, belum " Sanggah Dylan sekuat tenaga.
" Lalu kenapa sampai ada gosip kau dan putri tuan Gavin memiliki hubungan ? " Tanya Rai menuntut penjelasan.
Dylan kemudian menceritakan perihal Dera yang mengungkapkan rasa sukanya pada dirinya, lalu dirinya yang malas untuk menjalin sebuah hubungan dan permintaan Dera yang sedikit memaksa untuk lebih dekat dengannya.
" Kalau kau memang tidak menyukainya jangan beri harapan palsu padanya " Jawab Kiran.
" Terserah saja, kalau kau ingin mencoba memulai hubungan dengannya tidak masalah, toh aku dulu dan Ruby juga memulai hubungan kami dengan sebuah perjanjian, sekarang kami saling mencintai. Bisa saja itu juga berlaku untukmu " Nasehat Rai.
" Entahlah kak, aku sama sekali tidak memikirkannya, terlintas pun tidak. Aku hanya sedang sibuk dengan Blair " Jawab Dylan malas kembali menyandarkan punggungnya ke sofa lalu mengacak-acak rambutnya dengan wajah kusut.
" Bagiku yang terpenting saat ini adalah meminta maaf padanya dan alasan apa yang akan ku pakai untuk menjelaskan pesan jahanam tersebut " Lanjut Dylan.
" Kau tidak perlu memikirkannya terlalu jauh, aku akan membantu mu, dan semua akan mudah semudah menjentikkan jari " Jawab Rai santai.
" Benarkah ? " Mata Dylan berbinar-binar mendengar jawaban Rai.
" Masalah minta maaf, besok akan ku beritahu caranya, dan masalah alasan, kau tidak perlu menjelaskan apapun padanya. Karena apa ? Karena dia sendiri tidak akan tau kalau kau yang mengiriminya pesan " Jelas Rai.
" Tapi kami ada di grup kelas, bukan tidak mungkin dia mencari nomorku di dalam grup kelas " Sanggah Dylan.
" Hei kau pikir dia tidak ada kerjaan mencari-cari kesana kemari siapa yang mengiriminya pesan. Dia itu artis, jadi bisa saja itu salah satu penggemar isengnya, dia pasti akan berpikir seperti itu. Dia tidak akan repot-repot menyewa jasa seorang detektif hanya untuk mencari tau nomor asing yang masuk ke ponselnya " Jelas Rai santai seraya mengangkat satu kakinya dan menumpangkannya pada kaki yang lainnya.
" Iya ya " Dylan mengangguk-angguk.
" Kenapa baru kepikiran ya ? " Gumamnya sendiri lalu tersenyum lega. Tenang rasanya dia tidak akan menjadi bahan olok-olokan Blair.
__ADS_1
" Sudahlah, aku jamin 99,9 persen dia tidak akan tau kalau kau yang mengiriminya pesan " Jamin Rai yakin.
" Kenapa tidak 100 persen ? " Sela Ken.
" Karena masih ada 0,1 persen kemungkinan dia mengetahuinya " Jawab Rai.
" Apa itu ? " Tanya Dylan tak sabaran.
" Ke-a-pe-san " Jawab Rai lambat-lambat menekankan setiap suku katanya.
" Yang artinya kalau kau sial, semua bisa saja terjadi. Hal yang tidak mungkin bisa saja jadi mungkin. Jadi berdoalah banyak-banyak agar terhindar dari kesialan " Lanjutnya.
Dylan memejamkan matanya erat-erat, bingung dengan setiap penjelasan Rai. Terkadang masuk akal dan terkadang tidak masuk akal, terkadang mendukungnya dan terkadang menjatuhkannya. Haruskah dia percaya kesialan ? Dia tidak percaya hal semacam itu. Tidak ada yang namanya kesialan, baginya itu semua karena kurangnya perencanaan yang matang saja. Dan kesalahannya mengirim pesan jahanam itu juga karena dia tidak berkonsentrasi, jika dia berkonsentrasi dan fokus, maka tidak akan terjadi kesalahan apapun dalam hidupnya. Kuncinya adalah fokus dan konsentrasi.
" Sudah jangan terlalu di pikirkan, kakak-kakakmu ini akan menyelesaikannya untukmu " Ucap Rai pongah.
" Ya baiklah " Jawab Dylan lemas, masih belum yakin dengan rencana yang akan di lakukan kakaknya mengingat bahwa mereka semua adalah the amburadul family.
" Kak boleh aku bertanya ? " Lanjutnya penasaran.
" Hm ? " Saut Rai sebagai jawaban.
" Tumben kau rasional " Celetuk Dylan takut.
" Ada kalanya dalam hidup kau harus bersikap santai dan ada kalanya kau harus bersikap serius. Aku bisa bersikap santai jika itu berhubungan dengan kalian semua, tapi jika berhubungan dengan orang lain itu berarti waktunya serius. Lagipula apapun aku dia tetap mencintai ku " Rai lalu melingkarkan lengannya ke pundak Ruby dan menariknya mendekat.
" Ya kan sayang ? " Bisiknya lirih lalu mencium pipi Ruby.
" Mulai si tukang pamer beraksi " Saut Ken malas.
Dan pembicaraan mereka harus terhenti karena ketukan pelayan di pintu kamar Dylan, dia berdiri untuk membukakannya.
" Ini makan malam anda tuan " Ucap pelayan tersebut sopan seraya mendorong troli makanan masuk ke dalam kamar.
" Terima kasih, biar aku sendiri " Jawab Dylan menerima troli tersebut lalu mengizinkan pelayan itu untuk pergi.
" Sudah makanlah dulu lalu tidur, jangan pikirkan apapun lagi, makan yang banyak karena kau butuh amunisi untuk menjalani esok hari " Rai bangkit di ikuti dengan yang lain.
" Kami pergi dulu " Pamitnya kemudian.
" Makan yang banyak ya, kau terlihat semakin kurus " Ruby menepuk pundak Dylan.
" Makan yang banyak, kau tidak akan tau apa yang akan terjadi besok " Kali Ken yang menepuk pundak Ruby.
" Makan yang banyak, itu bergizi " Kiran pun ikut memberikan Dylan dukungannya.
Mereka berempat kemudian pergi dari sana dan kembali ke kamar masing-masing.
Dylan yang merasa sedikit lega itupun bersyukur memiliki kakak yang perhatian padanya. Dengan lahap dia memakan makan malamnya yang terlambat. Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, seluruh makan malamnya telah habis. Dia menjadi bersemangat lagi saat ini, percaya diri bahwa semua akan baik-baik saja seperti kata Rai.
Bagaimana makan malam mu ? Enak ?
Rai mengirimkan pesan Dylan secara pribadi.
Ya enak, terima kasih kak.
Balas Dylan cepat, tak lupa juga dia menambahkan emoticon tersenyum dengan pipi merona merah.
Ah ya sekedar informasi, makan malam mu tadi terbuat dari kayu bambu, selamat mencernanya.
Balas Rai di akhiri dengan emoticon devil yang tersenyum jahat.
Duarrr !!! Bagai di sambar petir Dylan menatap piringnya yang telah kosong.
Kayu bambu ???
Jerit Batinnya tidak percaya.
__ADS_1
Kau bilang kali ini waktunya kau serius !!!!
Umpatnya kesal dan mengambil air minum sebanyak-banyak untuk mengisi perutnya agar melebihi kapasitas dan berharap dia akan muntah karena saking penuhnya.