
Ruby terbatuk melihat kejadian dihadapannya. Dia tidak menyangka ada gadis seagresif itu, selama ini melihat kelakuan Vivianne saja sudah membuatnya pusing dan sekarang bertambah lagi.
Wah luar biasa, lihatlah dia begitu santai dan tidak merasa malu saat ada wanita lain menciumnya di tempat umum. Tapi memaksa ku setengah mati agar jangan sampai membuatnya malu.
Ruby melotot melihat sikap Rai yang terlihat tidak masalah dengan adegan tadi. Hatinya sangat kesal.
“ Ups Sorry adik ipar, aku lupa ada anak dibawah umur, harusnya aku tidak melakukannya disini. Mmm... Bagaimana kalau dikamar ku atau di kamarmu ? “ Goda Ignes kepada Rai, dia menyusuri wajah Rai dengan ujung jarinya.
Rai sama sekali tidak bereaksi dengan godaan Ignes, dia hanya terus memandang Ruby dengan tersenyum.
Ruby sudah tidak tahan dengan pembicaraan itu, tanpa sadar dia berdiri, bersiap-siap pergi.
“ Maaf saya permisi dulu, sepertinya pemandangan laut di pagi hari sangat indah, saya ingin menikmatinya “ Ruby menundukkan kepala dan meninggalkan mereka berdua.
Rai tersenyum lebar, hatinya merasa bahagia. Sangat menyenangkan membuat babysitter kecilnya itu marah-marah.
Ruby menyusuri pantai dengan wajah cemberut, dia berjalan dengan menghentak-hentakkan kaki nya.
“ Hah dia selalu bilang ‘ jaga sikapmu, jaga bicaramu, jangan membuat aku malu ‘ tapi lihatlah, dia tersenyum sangat lebar saat wanita lain tiba-tiba menciumnya. Kurang kasih sayang ? Omong kosong. Begitu banyak wanita ada disampingnya dan dia bilang masih kurang kasih sayang ? Dasar maniak sinting “ dia bergumam kesal.
“ Ada apa ? “ Tanya suara mengagetkannya dari belakang.
" kaget aku " Ruby terlonjak melihatnya.
Lucas tersenyum ramah, mengenakan celana pendek dan baju pantai serta topi lebar dan kacamata hitam, penampilannya sungguh menyihir, tampan dan baik.
" Kenapa kau bicara sendirian ? " Tanya Lucas mengulanginya.
“ Tidak ada apa-apa “ jawab Ruby terbata-bata, wajahnya merona merah, mungkin memang dia menyukainya.
“ Kenapa wajahmu merah ? Apa kau demam ? “ Tanya nya mengulurkan tangan menyentuh pipi Ruby. Ruby semakin salah tingkah.
“ Ah mungkin ini efek sinar matahari “ Kilahnya, tidak mungkin dia bilang kalau itu disebabkan olehnya.
“ Aku mencari mu semalam, kau menghilang “ tanya Lucas.
“ Aku sedang tidak enak badan, jadi aku kembali ke kamar dan istirahat “ dia mencari alasan.
" Kenapa ? Apa kau sakit ? " Suara Lucas terdengar khawatir.
__ADS_1
" Tidak hanya butuh penyesuaian dengan udara disini " Ruby menjelaskan.
Mereka berjalan bersama di tepi pantai, dan berteduh di bawah pohon kelapa. Lucas berpamitan sebentar dan kembali dengan membawa dua buah kelapa muda.
“ Pasti kau haus setelah mengomel tadi “ Ucapnya memberikan kelapa muda itu kepada Ruby.
" Terima kasih " Ruby menerima dengan tersenyum, suasana hatinya sedikit membaik berkat Lucas.
“ Ceritakan ada apa, mungkin aku bisa membantu mu “ Lucas memulai pembicaraan.
“ Tidak terima kasih, suasana hatiku sudah sedikit lebih baik sekarang “
“ Dimana suami mu, aku tidak melihatnya ?“
“ Dia sedang bersenang-senang dengan para wanita disana, waahh mereka sungguh luar biasa “ ucap Ruby ketus mengingat hal tadi membuatnya kesal lagi.
" Yah Rai memang selalu jadi pusat perhatian dari dulu, pesona nya membuat wanita berebut cintanya " Lucas menjelaskan.
" Entahlah, aku rasa begitu " Jawab Ruby malas, dia memalingkan wajahnya.
Melihat Rai yang begitu santai dengan sentuhan setiap wanita membuat Ruby kesal. Meskipun Ruby sendiri tau dia tidak pernah membalas sentuhan mereka, tapi membiarkannya saja sudah cukup salah menurut Ruby, bukankah dia laki-laki yang sudah menikah.
“ Aku ?!? Cemburu ?!? Bagaimana mungkin aku cemburu kalau pernikahan kita bahkan hanya sebuah kesepakatan “ Ruby dengan penuh emosi menjelaskan.
Lucas tertegun mendengar kata-kata Ruby, dia memandang wajah Ruby. Melihatnya hanya diam Ruby segera menyadari kalau dirinya telah melewati batas, tidak seharusnya rahasia itu di ucapkan.
“ Ah bukan begitu maksudku “ Ruby terbata-bata.
“ Perutku sakit, aku ke toilet dulu “ Ruby beralasan, Dia bergegas pergi meninggalkan Lucas.
🍂🍂🍂🍂🍂
“ Kenapa kau tidak bisa menjaga mulutmu, bagaimana ini kalau Lucas memberitahu Vivianne, lalu dia memberitahu Rai, atau bahkan lebih buruk berita ini tersebar lalu aku... Ah aku bisa gila, bodoh, bodoh, bodoh “ gumam lirih Ruby di bilik toilet. Dia mengacak acak rambutnya sendiri. Menyesali kata-katanya tadi.
“ Baiklah mari tenang dan pikirkan, mungkin saja dia tidak mendengarnya, iya benar, dia pasti tidak mendengarnya “ Ruby menenangkan dirinya sendiri, menarik nafas dalam dan membuangnya lewat mulut.
Dia akan beranjak keluar, tapi tiba-tiba dia mendengar nama Rai disebut, dia tinggal lebih lama untuk mendengarnya.
“ Menurutmu siapa gadis cilik yang selalu ada di sampingnya itu ? “ suara wanita bertanya.
__ADS_1
“ Entahlah, semalam aku tidak sengaja menguping pembicaraan Ignes dengan gadis itu, dari yang ku dengar sepertinya dia adik Rai yang baru kembali dari luar negeri “ suara wanita lain menimpali.
“ Sungguh ? Ku kira adiknya hanya Ken ? “ mereka berdua terlibat percakapan.
“ Kau tau lah keluarga mereka sangat misterius, siapa yang tau kalau ternyata dia memiliki adik perempuan “
“ Kalau itu benar, bukankah ini hal yang baik, kita bisa mendekatinya agar Rai juga melirik kita, sepertinya Rai sangat menyayanginya “
“ Hei apa kau lupa ada Ignes disini, dia tidak akan membiarkan itu terjadi, belum lagi Vivianne selalu bersikap seolah-olah Rai hanya miliknya “
“ Ya kau benar, dia sangat menyebalkan, hanya karena mereka saling mengenal dari kecil bukan berarti dia bisa menguasai Rai, dia selalu melebih-lebihkan dirinya sendiri “
“ Aku tidak peduli harus berbagi Rai dengan siapapun yang penting aku bisa memilikinya “
“ Kau benar, menjadi wanitanya meskipun harus yang kedua atau ketiga tidak masalah “
“ Benar kan ? Hahaha “ Mereka berdua tertawa bersama dan keluar dari toilet.
“ Heol daebak “ Ruby bergumam lirih, menirukan gaya bicara artis drama korea yang dia lihat di TV.
“ Aku kira kejadian seperti ini cuma ada di drama, tapi ternyata di negeri ini juga ada yang seperti itu, wah aku merinding membayangkannya “ Ruby bergidik mendengarkan para wanita itu bicara masalah menjadi yang kedua asal bisa bersama Rai.
Ruby kembali ke kamarnya, dia merasa tidak berani menemui Lucas lagi, dia tidak ingin merasa canggung dan menjelaskan ucapannya tadi.
Kepala Ruby pusing, matanya berkunang-kunang, semua hal disekitarnya membuat dadanya sesak, dia ingin tidur di kasurnya yang nyaman.
Di memegang handle pintu, ternyata tidak di kunci, Ruby membukanya dan memasuki kamar dengan wajah tertunduknya. Samar -samar terdengar desahan dari seseorang, Ruby mengangkat wajahnya, tubuhnya membeku menyaksikan dua orang yang sedang berciuman mesra di sofa kamarnya.
Hatinya sakit, dan tanpa sadar air matanya mengalir, tangannya terkepal dan wajahnya memerah menahan marah. Rai dan Ignes sedang berciuman dikamar mereka.
Rai terkejut dengan kedatangan Ruby tapi tidak dengan Ignes, dia terlihat santai dan tersenyum menyapa.
“ Maaf adik ipar atas pemandangan yang tadi hehehe “ Senyumnya santai.
Ruby benar-benar di kuasai kemarahan, dia berbalik, membuka pintu dengan kasar dan membantingnya.
Dasar maniak sinting, aku sangat membencimu, kau laki-laki terburuk yang pernah aku temui. Kenapa harus menikahiku kalau cinta pertamamu saja masih mengharapkanmu. Aku mirip ibu mu? Itu hanya alasanmu saja.
Ruby berlari meninggalkan resort dengan deraian air mata.
__ADS_1