Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Ice Bear


__ADS_3

Setelah makan malam itu selesai, Rai dan ketiga adiknya serta istrinya berkumpul di ruang pribadinya untuk mendengarkan cerita tentang Dylan yang menjadi korban jebakan batman ala Rai. Dylan hanya bercerita saat-saat dimana dia harus menanggung malu karena uang seribuan itu.


Dylan tidak menceritakan semuanya secara detail, dia melewatkan bagian dimana dia hampir saja mencium Blair karena suasana yang mendadak romantis, atau adegan-adegan romantis lainnya yang terjadi antara dirinya dan Blair. Baginya ada hal yang menurutnya pantas untuk di ceritakan pada orang lain dan selebihnya hanya akan menjadi rahasia pribadinya.


" Lalu Dera bagaimana ? Katanya kau berhubungan dengannya " Potong Ruby di sela-sela cerita Dylan.


" Aku tidak berhubungan dengannya kok " Dylan langsung menyanggah pernyataan Ruby dengan menggebu-gebu.


" Aku sudah berusaha menolaknya, menghindarinya tapi dia seakan tidak peduli, dia terus saja muncul entah dari mana " Jawab Dylan malas.


" Biarkan saja kalau begitu, kita ini keluarga Loyard memang di lahirkan untuk di kejar-kejar, jadi jangan menyangkalnya " Jawab Ken penuh percaya diri.


" Memangnya siapa yang mengejarmu ? Kau kan jomblo sejati sebelum menikah dengan Kiran " Tanya Ruby mencibir.


" Ada banyak, Megan salah satunya " Jawab Ken sombong.


" Megan ? Megan si supermodel itu ? " Pekik Ruby terkejut.


" Iya lah, memangnya Megan siapa lagi " Ken membusungkan dadanya penuh kesombongan. Tidak sadar jika Kiran, istri yang duduk di sampingnya itu sedang menatapnya tajam.


Ruby yang melihat tatapan penuh api cemburu di mata Kiran segera menutup mulutnya dan memberikan kode untuk Ken agar menoleh ke arah Kiran.


Namun Ken yang larut dalam rasa percaya dirinya yang terlalu tinggi itu malah meneruskan cerita-ceritanya, tentang bagaimana Megan sangat tergila-gila padanya.


" Ssst... " Ruby menempelkan telunjuknya di bibir, memberikan isyarat agar Ken berhenti.


" Ehem... " Kiran berdehem dengan keras untuk menghentikan ocehan Ken.


" Eh sayang " Ken meringis begitu sadar Kiran ada di sampingnya saat ini.


" Kau kan tau kalau aku hanya mencintaimu saja " Lanjutnya lalu merangkulkan tangannya ke pundak Kiran.


" Lalu Dylan ? Apa sikap Blair berubah ? Apa dia menghina mu atau memandang sinis padamu ? " Kiran mengabaikannya dan malah menoleh ke arah Dylan, memintanya melanjutkan ceritanya.


" Untung saja Dasya tidak terlalu memusingkan masalah uang seribuan itu, tapi aku tidak yakin apa yang ada di pikirannya. Dia gadis dari keluarga berada, mungkin saja dia sudah terdidik untuk tidak merendahkan orang lain " Jelas Dylan ragu-ragu. Sepengamatannya sejak jalan-jalan bersama Blair tadi, dia terlihat biasa saja, sama sekali tidak terlihat menjauh atau berubah.


" Itu tidak mungkin " Saut Rai tiba-tiba, dengan wajah serius dia menyangga pelipisnya dengan tangan yang bertumpu pada pinggiran sofa.


" Maksudnya ? " Tanya Dylan bingung.


" Kalau kau bilang dia terdidik untuk menghargai orang lain, itu sangat tidak mungkin. Aku tau siapa ayahnya, dia terlalu sibuk menghitung kekayaannya daripada repot-repot mendidik anaknya agar memiliki sikap toleransi yang tinggi " Jelas Rai panjang lebar.


" Oh ya ? " Sepertinya kau sangat mengenal keluarga Blair luar dalam ya ? " Sindir Ruby ketus, mengingat bagaimana dulu Blair kabarnya mengejar-ngejar Rai.


" Tentu saja, aku setiap bulan mengadakan pertemuan dengannya, mana mungkin aku tidak tau " Jawab Rai yakin.


" Cih " Cibir Ruby kesal.


" Lalu kau sendiri bagaimana ? Dari Dera atau Dasya siapa yang kau sukai ? " tanya Ruby beralih pada Dylan.


" Aku tidak suka keduanya, mungkin aku memang sedikit menghindar pada Dera tapi itu hanya karena aku tidak ingin memberikan harapan padanya. Sedang dengan Dasya, aku hanya merasa nyaman berteman dengannya, lagipula tidak mungkin dia menyukai ku, yang dia tau aku ini anak dari seorang yaah begitulah " Jawab Dylan berusaha terlihat santai, namun jangan remehkan tingkat kepekaan para kaum hawa, Ruby juga Kiran merasakan bahwa Dylan memang memiliki rasa pada Blair. Entah Dylan sadar atau tidak.


" Kalau kau tidak suka padanya, kenapa kau memukul Andromeda tadi ? " Selidik Ken.


" Aku kesal saja dia melukai Dasya sampai begitu, dia itu benar-benar anak brengsek yang bisa mengganggu siapa saja, tidak peduli laki-laki atau perempuan, jadi aku memberinya pelajaran " Jawab Dylan.


" Tapi dari yang ku dengar itu hanya kecelakaan yang tidak di sengaja, jadi tidak seharusnya kau memukul Andromeda seperti itu, kalau kau memang tidak punya perasaan apapun pada Blair, kau pasti akan bertanya baik-baik bagaimana kronologis kejadiannya, bukan malah menyimpulkannya sendiri " Sanggah Ken. Dia mengamati Dylan, tidak terlihat gelisah sedikitpun saat Ken mengatakan hal itu. Jika memang benar Dylan menyukai Blair, sudah pasti dia akan menyangkal dengan berlebihan. Sikap reflek manusia yang ingin menutupi kebohongannya.


" Ya aku tidak tau kalau kejadiannya begitu " Kilahnya mengalihkan pembicaraan.


Sepertinya dia jujur saat bilang hanya menganggap Blair sebagai temannya.


Ken menyimpulkan sendiri hipotesanya.


" Jangan menyerah dulu, aku percaya cinta tidak memandang status. Siapa tau Blair juga begitu " Kiran memberikan dukungannya, karena itulah yang terjadi di keluarga barunya saat ini. Putra mahkota Klan menikah dengan orang biasa.


" Iya jangan pesimis dulu, mungkin saja Blair memang menyimpan rasa untuk mu " Ruby ikut menimpali. Meskipun dia hanya pernah bertemu dengannya sekilas tapi dia percaya Blair seorang gadis baik-baik.


" Tidak, aku nyaman berteman dengannya, aku tidak ingin lebih " Tolak Dylan, dia sendiri belum yakin apakah yang di rasakannya adalah perasaan cinta atau hanya sekedar rasa ingin melindungi Blair yang oneng.


" Ya sudah kau tenang saja, kalau dia memang menyukai mu, dia pasti akan menerima mu apa adanya " Kali ini Ken yang memberikan nasehat.


" Iya tenang saja, aku akan membuat kalian berdua lebih dekat " Rai juga ikut menimpali.


" Caranya ? " Tanya Kiran, Ruby dan Dylan berbarengan.

__ADS_1


" Katanya kau tidak suka dia ? Kenapa masih penasaran " Goda Ruby.


" A-aku ha-hanya ingin tau, sebenarnya tanpa bantuan kakak pun aku sudah dekat dengannya " Kilah Dylan gelagapan.


" Benarkah ? " Sangsi Ken tidak percaya.


" Benar lah " Jawab Dylan yakin. Lalu idenya untuk balas dendam kembali muncul.


Dia kemudian menceritakan bagian-bagian kisahnya yang tidak dia ceritakan tadi, tentunya dengan sedikit bumbu penyedap yang membuat ceritanya terdengar meyakinkan dan menarik perhatian.


" Dan begitulah... " Dylan mengakhiri ceritanya dengan hembusan napas panjang. Lalu tersenyum puas saat melihat reaksi Kiran dan Ruby tepat sesuai prediksinya.


" Aah... kau manis sekali sih adik kecil " Puji Ruby menatap Dylan dengan mata berbinar-binar kagum mendengar cerita Dylan yang terasa sangat romantis, layaknya adegan-adegan drama yang sering di tontonnya bersama Sinta dan Lusi jika Raline sudah tidur.


Mereka bertiga penggila drama romantis, saat menonton adegan yang menggetarkan hati biasanya mereka akan menggigit bantal atau memukul-mukul lantai karena gemas.


Mendengar kalimat pujian terlontar dari mulut Ruby, Rai yang tadinya bersandar santai kini duduk tegak. Dengan cepat dia membungkam mulut Ruby.


" Haha hih " Tanya Ruby dari balik tangan Rai.


" Berani-beraninya kau memuji laki-laki lain di depanku, kau ingin mati ya ?!?! " Teriak Rai kesal, dia semakin merapatkan bungkaman tangannya.


Ruby yang sudah terbiasa dengan sikap Rai yang over cemburu itu pun mengabaikannya dan kembali menatap Dylan dengan binar-binar penuh bintang di matanya.


" Aish !! " Rai berdecak keras, dia tau Ruby kini menatap Dylan dengan takjub.


" Tutup matamu juga " Perintah Rai tegas lalu menutup mata Ruby dengan tangannya yang lain.


" Hehashan, hehas !! " Ruby meronta-ronta berusaha melepaskan bekapan Rai, namun sia-sia saja, Rai menutup mulut dan matanya terlalu kuat.


" Ayo pergi " Rai membantu Ruby berdiri, masih dengan mata dan mulut yang tertutup.


" Hei awas kau ya, mulai sekarang hanya aku yang boleh romantis di rumah ini, mengerti " Ancam Rai ketus mendelik ke arah Dylan. Namun Dylan hanya tergelak keras melihat kecemburuan Rai. Balas dendamnya sukses, bukan hanya dirinya yang merasa kesal saat ini, Rai juga.


Rai dan Ruby pun keluar ruangan, dan hanya tersisa mereka bertiga saat ini.


" Begitulah azab tukang pamer dan pencemburu, sekarang dia marah sendiri saat ada yang menandingi kepiawaiannya dalam hal pamer memamer " Ken terbahak-bahak melihat tingkah Rai dan Ruby.


" Sepertinya kalian pasangan yang cocok yang akan saling melengkapi " Terdengar suara Kiran ikut menimpali. Dia bahkan menyangga dagunya saat mendengarkan cerita Dylan yang seperti di negeri dongeng. Pangeran dan Putri di masa kerajaan, atau romeo dan juliet versi lokal.


Mendengar suara Kiran yang lembut saat berbicara pada Dylan tapi malah menyindirnya ketus, Ken juga langsung menoleh ke arahnya dengan cepat.


" Hei kau !! " Teriaknya marah.


" Kenapa kau kagum padanya ? Memangnya aku tidak romantis padamu " Tanyanya sengit.


" Tidak pernah, siapa yang akan menyebutmu romantis kalau kau mengirimkan bunga kamboja kepada kekasih mu " Kiran mencebikkan bibirnya sinis.


" Ku beritahu kau, kakakmu ini mengiri... " Kiran yang hendak bercerita masalah bunga kamboja itupun berhenti saat Ken membungkam mulutnya dengan tangannya.


" Dasar kau " Sentak Ken kesal.


" Ayo pergi " Dia lalu menuntun Kiran berdiri dan mengajaknya pergi keluar masih dengan mulut terbungkam.


" Haaah... manisnya balas dendam, sekarang bukan cuma aku saja yang sedang kesal, kalian juga kan " Dylan tersenyum puas setelah berhasil mengerjai balik kakak-kakaknya yang pencemburu itu.


Untung saja aku tidak pencemburu seperti mereka.


Batinnya tidak sadar diri, padahal dia setali tiga uang dengan mereka. Terlahir dengan hormon cemburu yang berlebihan.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sesuai perintah Regis tadi siang, seluruh anggota keluarga kini sedang berkumpul di ruang keluarga. Untuk apalagi jika bukan untuk menyaksikan pertunjukkan tengkurapnya Raline.


Pak Handoko telah mengatur semuanya sedemikian rupa, kasur busa tebal di tengah ruangan, tempat Raline akan menunjukkan atraksinya.


" Kapan kejadiannya ? " Tanya Ken antusias mendengar cerita langsung dari saksi mata kejadian di tempat perkara, dia merasa sedikit kecewa kareba bukan dirinya orang yang pertama kali melihat Raline tengkurap.


" Tadi siang di dalam kereta dorongnya " Jawab Adelia, dia lalu meletakkan Raline yang di gendongnya ke atas kasur.


" Ayo sayang tengkurap " Pekik Kiran tidak sabaran begitu Raline sudah di atas kasur.


Dan sorakan-sorakan memberi semangat langsung menggema di ruang keluarga itu.


Raline yang di kelilingi banyak orang itu pun tertawa terbahak-bahak. Sangat lucu dan menggemaskan.

__ADS_1


" Lihat sini sayang, ini paman Yuri yang selalu menyusuimu, jangan lupakan paman ya " Kudang Sekertaris Yuri kepada Raline.


Raline menoleh ke arah Sekertaris Yuri lalu tertawa lebar dan menghentak-hentakkan kakinya seakan memberikan jawabannya.


" Aahh lucunya " Kiran tak henti-henti memekik gemas melihat tingkah polah Raline.


" Sayang sini, lihat mama " Panggil Ruby bertepuk tangan.


Raline beralih menolehkan kepalanya menghadap Ruby.


" Aah... lihat dia mengenali mamanya " Ucap Ruby bangga.


" Papa mana ? " Kini giliran Rai yang bertanya.


Raline pun menoleh ke arah asal suara yang di dengarnya.


" Lihatkan anak ku, dia tidak salah mengenali papanya " Jawab Rai sombong.


Lalu semua orang pun ikut-ikutan memanggil Raline bergantian, dan memekik girang jika panggilannya di sambut Raline dengan senyuman dan hentakan kakinya yang mungil dan gemuk itu.


" Kalau uncle Ken mana ? " Kali ini Ken berteriak kegirangan memanggil Raline. Namun Raline tidak mencari asal suara itu, dia malah sibuk menjejak-jejakkan kakinya ke atas kasur.


" Uncle Ken mana ? " Ruby ikut bertanya, dan kali ini Raline merespon. Tapi bukan respon yang di harapkan Ken, dia malah menoleh ke arah Ruby lalu kembali tertawa girang.


" Bukan mama, tapi uncle Ken " Ulang Ruby sekali lagi. Raline menoleh ke arah Sekertaris Yuri.


" Bukan aku, tapi uncle Ken " Sekertaris Yuri itupun menunjuk ke arah Ken, namun bukannya mengikuti gerakan tangan Sekertaris Yuri, Raline malah tertawa ke arahnya.


Ken yang merasa kesal karena di khianati Raline itupun berpindah tempat duduk tepat di hadapan Raline.


" Uncle Ken " Tunjuknya ke arah dadanya sendiri.


" Bruuutt !! " Raline malah menyembur-nyemburkan liurnya tidak memperdulikan Ken.


" Hahaha... " Tawa yang bersaut-sautan dari seluruh keluarga membuat Ken semakin kesal.


" Awas saja kalau nanti kau rindu tal... " Ken bergidik saat akan mengucapkan kata terlarangnya.


" Kalau kau ingin ku gendong lagi, aku tidak mau " Ralat Ken ketus.


" Habruuuttt " Raline kembali memainkan bibirnya.


" Hahaha... " Sekali lagi tawa mereka pecah, Raline benar-benar seperti namanya. Seseorang yang mampu mengambil hati orang lain.


Mendengar suara tawa berisik, Raline semakin kencang menghentak-hentakkan kakinya, dan itu membuat tubuhnya miring kesamping.


Semua orang langsung kompak terdiam melihat Raline yang sedang berusaha tengkurap itu.


" Ayo sayang " Pekik Ruby tanpa suara dengan napas yang tertahan.


" Ayo Raline, kau pasti bisa " Sekertaris Yuri bahkan mengepalkan tangannya dan menahan napas melihat Raline yang berusaha dengan keras untuk tengkurap.


Mereka semua kompak memiringkan kepala mereka tanpa sadar, mengikuti gerakan Raline.


" Ayo... sedikit lagi " Regis melihatnya dengan tegang.


Bruk !! Tubuh mungil Raline itupun berhasil tengkurap, dia lalu mengangkat kepalanya dan tertawa lebar, seakan lega sudah berhasil melakukan satu pekerjaan besar.


" Yeay.... " Pekik mereka bersamaan, riuh ramai bersorak bahagia menyaksikan momen menegangkan barusan.


Mereka saling berpelukan satu sama lain untuk meluapkan rasa bahagia mereka. Namun hanya ada satu orang yang terlihat berwajah datar, seperti tidak terpengaruh suasana gemas itu.


Mereka semua menoleh ke arah Dylan yang menatap Raline dengan wajah datar tanpa ekspresi.


" Kau tidak bahagia melihat Raline telah melakukan hal sebesar itu ? " Tanya Rai.


" Tentu saja aku bahagia " Saut Dylan cepat, membela diri.


" Lalu kenapa kau diam saja dari tadi ? " tanya Ken ketus.


" Aku baru saja akan memberikan selamatku padanya " sanggah Dylan.


" Ya sudah kalau begitu, cepat beri selamat padanya " Perintah Rai.


" Ice bear sangat tersentuh melihat momen barusan. Ice bear tidak kuat, rasanya ice bear akan meleleh " Ucapnya dengan nada yang sama persis dengan intonasi yang ada di kartun animasi anak-anak tersebut.

__ADS_1


__ADS_2