Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Ambyar


__ADS_3

Hari baru, semangat baru, dan perasaan baru. Semua orang menghadapi paginya dengan suasana yang berbeda-beda. Bagi Dylan suasana pagi ini terasa sangat indah meski semalaman tadi dia hanya tidur beberapa jam saja. Namun tenaganya seperti telah terisi penuh bahkan melebihi kapasitas. Dengan bersiul-siul riang dia berjalan menuju ruang makan. Pukul enam tepat, tidak kurang tidak lebih.


Di ruang makan yang besar itu telah berkumpul semua anggota keluarga yang lain. Rai yang pagi ini masih tetap di dominasi dengan setelan jas hitamnya dan wajahnya yang selalu santai namun memiliki aura yang gelap bagi sebagian orang, sedang menikmati sepiring telur gulung hasil buatan tangan istri tercintanya.


Sementara Ruby terlihat sedikit lesu di pagi ini karena semalam dia harus berhadapan dengan rentenir ronde, julukan yang dia berikan pada Rai khusus di malam hari saja. Sedangkan Kiran terlihat telah kembali normal seperti biasanya dan Ken yang justru berbanding terbalik dengannya.


Tentu saja Ken terlihat kusut, karena dia masih harus berjuang menghadapi siklus period Kiran yang benar-benar merupakan pengalaman baru untuknya.


Semalam dia harus membuat dalgona cofee dengan tangannya sendiri dan itu sangat melelahkan. Dia membuatnya sambil menonton video youtube dan menurut tutorialnya dalgona cofee hanya perlu di aduk dengan sendok. Tapi pada prakteknya dia mengaduk dalgona itu hampir 30 menit sampai tangannya lumpuh dan tetap tidak ada yang terjadi. Hingga akhirnya dia menyerah dan terpaksa menghidangkan dalgatot buatannya.


" Mendadak aku ingin minum susu hangat saja " Begitu ucapan Kiran saat Ken baru saja masuk membawa dalgatotnya, sudah berubah pikiran lagi.


Benar-benar malam panjang yang membuatnya kelimpungan sendiri. Dan kini Ken duduk di kursinya dengan lingkaran mata hitam panda ciri khas orang yang kekurangan waktu tidurnya.


" Panpan apa yang terjadi pada mata mu ? " Tanya Dylan dengan logat ice bearnya.


" Jangan tanya " Jawab Ken malas sambil mengangkat tangannya mengacuhkan Dylan.


" Baru segitu saja sudah menyerah " Cibir Dylan meremehkan. Dia menarik kursinya dan menyusup masuk duduk di sebelah Ken.


" Hei apa kau tau kalau wanita sedang PMS itu kejam melebihi hitler ? " Desisnya kesal karena Kiran sedang duduk di sampingnya. Dia tidak mungkin berteriak menyuarakan keluh kesahnya atau sama saja itu seperti bom bunuh diri yang daya ledaknya melebihi nuklir di hirosima dan nagasaki.


Tidak percaya ? Coba saja cari perkara dengan wanita yang sedang PMS. Bahkan ada pepatah yang mengatakan, jika seorang wanita sedang PMS menabrak tembok, maka temboknya yang akan minta maaf.


" Aku sudah biasa menghadapi wanita yang sedang PMS " Jawab Dylan sombong. Bukan tanpa alasan Dylan bisa mengerti bagaimana suka dukanya berhubungan dengan siklus haid seorang wanita. Dia adalah anak tunggal dari seorang ibu tanpa suami, jadi dia hapal betul bagaimana sensitifnya perempuan saat mendekati masa tamu bulanannya.


" Sombong sekali " Cibir Ken lalu memalingkan wajahnya kesal.


Apa Blair juga akan bersikap seperti kak Kiran ya? Atau dia akan tetap menggemaskan meski sedang masa PMS ?


Batinnya malah sibuk memikirkan Blair, sejak dia tau Blair menganggapnya teman tapi mesra, hati dan pikirannya benar-benar di penuhi oleh bayangan wajah Blair. Apakah ini yang namanya jatuh cinta ? Entahlah, yang jelas Dylan merasa seperti di atas awan. Melayang ringan.


" Dylan jadi bagaimana acara nonton mu di hari minggu besok ? " Tanya Regis setelah Dylan dan Ken selesai berdebat. Dia melihat Dylan sedang senyum-senyum sendiri.


Ah ya !!


Dylan menepuk jidatnya, hampir lupa jika hari minggu tinggal 2 hari lagi, dan dia belum menemukan waktu yang tepat untuk nonton bersama Blair.


" Iya jadi, hanya waktunya saja yang belum pasti " Jawab Dylan sungkan, dia belum mendapatkan kepastian dari Blair tentang jadwalnya yang kosong.


" Memangnya siapa partner mu sampai susah sekali mengatur waktunya ? " Tanya Sekertaris Yuri ikut menimpali.


" I-itu... Dasya " Jawab Dylan malu-malu.


" Dasya yang artis itu ? Blair ? " Saut Ruby antusias.


" Iya " Angguk Dylan bingung melihat sikap Ruby yang begitu bersemangat saat mendengar nama Dasya.


" Cieeee " Kiran dan Ruby kompak berseru menggoda Dylan.


" Kau mau kencan dengannya ya ? " Tanya Ruby penasaran.


" Ti-tidak " Jawabnya gelagapan sambil melirik Regis yang terlihat sedang menyimak pembicaraan anak-anaknya.


" Ka-kami nonton untuk mengerjakan tugas, bukan kencan " Sanggahnya membela diri.


Dia masih terlalu sungkan membicarakan hal yang terlalu pribadi di depan ayahnya, terlebih masalah percintaan. Dia takut ayahnya akan menganggapnya tidak serius belajar dan malah bermain-main saja.


" Kenapa tidak, kan bisa sambil menyelam minum air " Celetuk Kiran masih bersemangat ikut menggoda Dylan.


" Kalau kau menyelam sambil minum air kau akan tenggelam lah " Saut Rai asal dan disambut dengan gelak tawa semua orang.


Sekertaris Yuri yang juga ikut tertawa itupun memandang Dylan dengan kasihan, karena setelah menyelidikinya dia mendapatkan kabar bahwa memang benar kalau Dimitri akan melanjutkan perjodohan Blair dengan Andromeda.


Dan yang akan semakin membuat Dylan patah hati adalah perjodohan itu akan di wujudkan dalam hubungan pertunangan setelah mereka sama-sama lulus nanti.


" Kau mau ku bantu memeriksakan jadwal kosong Blair ? " Tawar Sekertaris Yuri kemudian.


" Bisakah ? " Pekik Dylan bersemangat tanpa sadar dan langsung di sambut sorakan menggoda dari semua orang.


" A-aku hanya memikirkan tentang tugas ku, itu saja " Sanggahnya berteriak tapi percuma saja semua orang terlalu bersemangat untuk menggodanya, jadi apapun yang dia katakan tidak akan di gubris oleh mereka semua.


" Aish sudah lah, soraki sepuas kalian " Decaknya putus asa dan membiarkan mereka semua melakukan apapun semaunya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Suasana hati yang di penuhi cinta memang memiliki auranya sendiri, hal itu bisa terpancar dari raut wajah yang terlihat bercahaya. Rasanya garis bibir seseorang yang sedang di mabuk cinta seperti memiliki kait di atasnya yang membuatnya selalu tertarik ke atas dan memunculkan senyum yang terkembang lebar.


Kiranya itulah gambaran wajah Dylan saat ini, sepanjang perjalanan di lorong sekolah menuju kelasnya, dia terus saja mengobral senyum yang membuat kadar ketampanannya semakin meningkat seribu persen.


Dan jujur saja, para gadis yang melihat hal itu langsung terpesona dan terhipnotis oleh senyuman Dylan. Namun seperti ada sungai yang di penuhi buaya yang membatasi sekeliling Dylan yang tidak mampu di jangkau oleh mereka. Jadi mereka cukup menikmati pesona Dylan sebagai model berjalan yang kebetulan lewat di depan mereka.


Dera yang kemarin mendapat penolakan terpahit sepanjang perjalanannya mendekati Dylan pagi ini tidak terlihat batang hidungnya, biasanya dia akan menunggu kedatangan Dylan di depan kelasnya sendiri atau di depan kelas Dylan.


Dylan juga tidak peduli Dera ada atau tiada, dia tidak pernah ada pikirannya, bahkan satu persen pun tidak.


Dylan telah sampai di kelasnya lancar tanpa hambatan, ketika dia memasuki ruang kelasnya jantungnya langsung berdetak kencang saat mendapati suasana new normal nya sedang tidak terjadi.


Tidak ada kumpulan murid-murid yang mengantre menunggu Blair seperti biasanya. Mendadak jantungnya seperti di remas oleh sebuah tangan raksasa, nyeri. Biasanya jika para penggemar Blair absen dari rutinitasnya itu adalah karena sang idola tidak masuk sekolah.


Punggungnya yang semula tegak penuh percaya diri itu langsung merosot lemas, jika tau Blair tidak masuk hari ini dia pasti juga memilih tidak akan masuk sekolah. Semangatnya yang menggebu-gebu seketika itu juga padam.


Dengan malas dia menarik bangkunya dan menghempaskan dirinya dengan cukup keras. Tak lupa juga dia membanting tasnya di atas meja.


Bella dan Merry yang duduk di depannya sampai berjengit kaget, namun mereka memilih mengabaikan Dylan yang terlihat sedang memberengut kesal itu.


" Abaikan si aneh itu " Terdengar suara bisikan Merry pada Bella yang sengaja dikeraskan agar Dylan juga ikut mendengarnya.


Dia mengambil buku pelajarannya dan membacanya, berharap dengan mengalihkan perhatiannya dia bisa melewati hari ini dengan cepat.


Rasanya sudah cukup lama Dylan membaca bukunya atau memang waktu yang berjalan lambat, yang jelas saat dia melirik jam tangannya jarum panjang itu hanya bergerak satu angka ke kanan yang artinya dia baru membaca 5 menit lamanya.


Hah ? Baru lima menit ? Ku pikir aku sudah membaca setengah jam.


Decaknya kecewa. Dia kembali membaca bukunya sekedar untuk membunuh waktu sembari menunggu bel masuk berbunyi.


" Pagi " Sebuah suara lemas di sampingnya membuatnya menoleh dengan cepat.


Oneng !!


Pekiknya girang menatap Blair, namun yang ditatap malah terlihat sangat lesu dan tidak bersemangat, berbeda seratus delapan puluh derajat dengannya yang sangat girang saat melihat kedatangannya.


" Kau kenapa ? " Tanya Dylan mengernyitkan keningnya melihat Blair yang lesu dengan wajah pucat.


" Aku mengantuk dan sakit " Jawabnya dengan gumaman lirih. Dylan pun buru-buru membantu menarikkan kursi untuk Blair.


" Terima kasih " Ucap Blair dan langsung mendudukkan dirinya, dan menaruh tasnya ke atas meja.


" Kau baik-baik saja ? Wajahmu terlihat buruk " Tanya Dylan cemas.


" Aku tidak bisa tidur semalam, dan pagi ini perutku rasanya sakit sekali " Jawab Blair lalu merebahkan kepalanya ke atas tasnya.


Mendengar jawaban Blair semakin membuat Dylan cemas, tangannya langsung terulur menyentuh kening Blair. Adem dan normal, lalu sakit apanya ? Pikir Dylan bingung.


" Bukan itu yang sakit, tapi ini " Tunjuknya pada pinggang belakangnya, masih sakit di tempat yang sama seperti kemarin. Dan kali ini sakitnya bertambah berkali lipat.


" Kau sudah periksa ? " Tanya Dylan pelan.

__ADS_1


" Belum " Jawab Blair acuh lalu memejamkan matanya meresapi rasa sakitnya.


" Sini pindah tempat duduk, biar ku pijat seperti kemarin " Ucap Dylan kemudian berdiri. Blair yang memang sangat mengharapkan perhatian dari Dylan itu pun menurut saja, karena itulah tujuannya berangkat sekolah meskipun sedang sakit hari ini.


Dylan juga melipatkan jaketnya dan meletakkannya di meja agar Blair bisa menggunakannya sebagai bantal.


Dylan menatapnya dengan rasa kasihan, wajah Blair yang biasanya selalu bersinar dengan semu pink menyegarkan itu kini terlihat putih pucat dan kehilangan keceriaannya.


Setelah Blair duduk di bangkunya dan merebahkan kepalanya, Dylan mulai memegang tulang belakang Blair di bagian punggung bawah.


" Sini ? " Tanyanya pelan sambil memukul-mukul pelan pinggang Blair.


" Iya di situ, maaf ya Dylan aku merepotkan mu " Jawabnya sungkan.


" Tidak apa-apa, aku malah merasa senang kau bergantung pada ku " Jawab Dylan lembut.


" Maksudnya ? " Tanya Blair tidak mengerti.


" Bukankah ini gunanya teman tapi... " Jawab Dylan santai lalu melanjutkan membacanya sambil terus memukul-mukul pelan tulang punggung Blair. Sengaja tidak meneruskan kata-katanya agar Blair bertanya-tanya sendiri. Dia sangat suka kalau Blair kebingungan, karena menurutnya Blair menggemaskan kalau sedang bingung.


Tapi apa ? Tapi bohong ? Atau tapi mesra ? Atau tapi tidak jadi ? Aarggh terserahlah, otak ku tidak terlalu pintar kalau sedang sakit begini.


Batinnya pasrah dan kemudian membenamkan wajahnya sembari menunggu bel masuk berbunyi.


Sepanjang pelajaran Blair terus saja meringis kesakitan, dia merasakan kram di perutnya semakin bertambah parah dan pinggangnya juga rasanya seperti patah jadi dua. Jika saja bukan karena pukulan lembut dari Dylan sudah pasti Blair saat ini sudah menangis kesakitan.


" Jangan lupa kerjakan tugasnya dan selamat pagi " Pamit guru pelajaran di jam pertama dan kemudian pergi ke luar kelas. Semua murid langsung merosot lega. Tinggal satu jam pelajaran lagi sebelum jam istirahat.


" Kau baik-baik saja ? " Tanya Dylan panik yang melihat Blair terus saja memegangi perutnya.


" Iya tidak apa-apa " Jawabnya lemas dengan keringat yang mengucur di pelipisnya.


Dylan teringat obat pereda nyeri yang kemarin masih tersisa di tasnya. Dia kemudian mencondongkan tubuhnya maju untuk mengambil tasnya yang ada di gantungan meja yang di tempati Blair saat ini.


Hampir tidak ada jarak di antara mereka saat ini, bibir Blair dan pipi Dylan sudah sangat dekat, jika Blair bergerak sedikit saja mungkin dia akan mencium pipi Dylan tanpa sengaja.


" Nah ini " Dylan kembali ke tempat duduknya lagi dengan membawa sebutir tablet obat pereda nyeri.


" Minum ini biar sakit mu sedikit reda " Dylan mengulurkan obatnya juga botol minum miliknya dengan tutup yang sudah terbuka.


Namun Blair yang masih syok itu pun hanya bisa menatap Dylan dengan bengong. Detak jantungnya yang tak karuan itu membuat wajahnya merona merah.


" Wajahmu merah ? Kau demam ? " Tanya Dylan kembali mengulurkan tangannya menyentuh kening Blair. Nope. Suhu tubuhnya normal.


" Tidak, aku tidak demam " Blair menggelengkan kepalanya pelan. Lalu dengan cepat mengambil obat dari tangan Dylan dan meminumnya.


" Guru jam pelajaran ketiga sedang berhalangan hadir, jadi kita mendapatkan jam kosong satu jam yang di ganti dengan tugas di buku hal 178 " Teriak lantang ketua kelas dari depan. Semua pun langsung bersorak girang, meski harus mengerjakan tugas setidaknya mereka bisa santai.


" Jam pelajaran berikutnya kosong, kau mau ke uks ? Dari tadi ku lihat kau terus saja meringis kesakitan " Tawar Dylan lembut penuh perhatian.


Kalau aku ke uks apa dia akan menemaniku ? Kalau tidak aku lebih baik kesakitan disini saja asal bersamanya.


Batin Blair memutuskan.


" Aku tidak suka sendirian di uks " Jawab Blair memancing reaksi Dylan, jika Dylan menawarkan akan menemaninya maka dia akan langsung menyetujuinya tanpa berpikir dua kali.


" Aku tidak bisa menemanimu karena ada tugas untuk di kumpulkan menggantikan pelajaran yang kosong hari ini " Jawab Dylan merasa bersalah tidak bisa ada saat Blair sangat membutuhkannya.


" Kalau begitu aku akan disini saja, aku juga harus mengerjakan tugasnya bukan ? " Jawab Blair dengan senyum yang di paksakan.


" Maaf ya " Ucap Dylan sekali lagi dengan perasaan bersalah.


" Tidak apa-apa " Jawab Blair lalu menegakkan punggungnya.


Nyut !!! Rasa kram di perutnya semakin menjadi saat dia menggerakkan tubuhnya.


Aduh kenapa lagi sih perutku ini.


" Mau mengerjakan tugasnya di perpustakaan saja ? " Tawar Dylan yang melihat Blair seperti sangat kesakitan.


" Memangnya boleh ? " Tanya Blair polos.


" Tentu saja, ini kan jam kosong " Jawab Dylan santai.


" Ok baiklah, kau berangkat saja duluan aku akan menyusul " Ucap Blair berusaha terlihat baik-baik saja.


Dylan lalu membereskan buku pelajaran yang akan dia bawa ke perpustakaan dan langsung pergi keluar kelas tanpa bicara apapun lagi. Memangnya ingin pamit pada siapa, satu-satunya orang yang ingin di pamitinya justru akan bersamanya.


Blair yang masih sangat kesakitan itu berusaha setengah mati untuk menahannya.


Aish kenapa sih perutku ini ? Di hari-hari yang indah begini harusnya berjalan lancar dengan Dylan, tapi aku malah kesakitan.


Batinnya kesal sendiri, dia pun lalu ikut membereskan buku-bukunya dan pergi keluar kelas.


Perpustakaan berada di lantai 2 dan di ujung lorong. Tempatnya sepi dan tenang, meskipun koleksi bukunya sangat lengkap tetapi para murid tetap lebih mengandalkan penjelasan dari sesepuh google daripada harus repot-repot mencarinya di buku perpustakaan.


Tapi itu adalah tempat favorite Dylan, disana dia bisa bebas dan nyaman tanpa perlu merasa risih menjadi pusat perhatian dari murid-murid yang lainnya.


Dylan yang sudah menunggu Blair di bawah anak tangga itu pun langsung menggandeng tangan Blair begitu dia telah sampai di sampingnya.


Benar-benar akan jadi hari yang romantis penuh perhatian jika saja Blair tidak harus berkonsentrasi pada rasa nyeri di perutnya.


Debaran jantungnya bahkan tidak mampu menyaingi rasa sakit yang menusuk-nusuk perut bagian bawahnya itu.


Mereka telah sampai di depan pintu perpustakaan, karena ini adalah jam pelajaran maka perpustakaan itu kosong melompong. Hanya ada guru penjaganya dan sekarang bertambah 2 orang, yaitu Dylan dan Blair.


Dylan mengajak Blair duduk di tempatnya biasa duduk, sedikit tersembunyi di balik rak-rak penuh buku.


" Ugh " Erang Blair melentingkan tubuhnya dan kembali meremas perutnya.


" Sakit sekali ya ? " Tanya Dylan merasa kasihan melihat Blair yang sepertinya sangat kesakitan. Dengan cekatan dia mengelus-elus punggung Blair.


" Iya, aku sendiri juga tidak tau kenapa dari kemarin sangat sakit " Jawab Blair lemas.


" Kau tidur saja, biar aku yang mengerjakan tugasnya, nanti kau hanya tinggal menyalinnya " Jawab Dylan mengusak kepala Blair pelan lalu fokus mengerjakan tugasnya.


Blair meletakkan kepalanya ke atas meja, mengamatinya Dylan yang sedang mengerjakan sesuatu di buku catatannya, wajahnya yang dalam mode serius itu ternyata sangat keren. Tapi sepertinya rasa sakit Blair memang datang untuk jadi pengganggu membuatnya semakin mengeratkan remasan tangannya di perutnya.


" Ugh " Erangan lirih penuh kesakitan itu meluncur dari bibir mungil milik Blair.


Dylan yang mendengar hal itu langsung mengulurkan tangan kirinya dan memukul pelan pusat rasa sakit di punggung Blair meski sedang sibuk menulis. Sikap Dylan yang cuek sekaligus perhatian itu benar-benar terasa nyaman dan menenangkan bagi Blair.


Ya ampun dia perhatian sekali sih, andai saja aku bisa memiliki dia seutuhnya, aku pasti akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini.


Batinnya, mendadak saja dia merasa sedih dan tidak mampu lagi menahan air matanya.


Dadanya terasa sesak hingga membuatnya harus menarik napas dalam untuk mengisi paru-parunya dengan suplai oksigen sebanyak-banyaknya.


" Hiks... hiks... " Isak tangis lirih itu mulai pecah, Blair membenamkan wajahnya dan menutupinya dengan tangannya. Suasana hatinya sedang kacau balau.


Dylan yang mendengar suara tangisan itu menoleh dan mendapati pundak Blair sedang naik turun seirama dengan suara isak tangisnya.


" Dasya kau baik-baik saja ? " Tanyanya lirih mengguncang pundak Blair.


Blair mendongak mengangkat wajahnya yang sendu berurai air mata, menatap Dylan yang sedang kebingungan.


" Kenapa kau harus seperhatian ini sih, aku kan jadi galau " Serunya sambil menangis.

__ADS_1


" Hm ? " Dylan mengernyitkan keningnya bingung.


" Kenapa ? Kau tidak suka kalau aku perhatian ? " Tanyanya kemudian.


" Suka tapi aku jadi galau harus bagaimana huhuhu... " Isak Blair sesegukan.


Dylan hanya menghela napas melihat Blair yang tiba-tiba menangis hanya karena dirinya terlalu perhatian. Dia menepuk-nepuk pundak Blair untuk menenangkannya, masa hanya karena dirinya terlalu perhatian malah membuat Blair sesedih itu? Pasti ada alasan lain. Pikir Dylan tidak percaya.


Sudah lima belas menit Blair menangis, dan kini dia mulai tenang. Napasnya sudah normal seperti semula, hanya tersisa beberapa sesegukan.


" Sudah menangisnya ? " Tanya Dylan sabar.


" Iya sudah, sekarang aku lapar " Ucapnya polos masih di sertai sisa sesegukan.


" Mau makan ? " Tanya Dylan masih sabar.


" Iya makan coklat yang banyak, kalau suasana hati ku buruk begini aku harus makan coklat yang banyak " Jawabnya mengangguk-angguk lemas.


" Ada yang lain lagi ? " Tanya Dylan memastikan, dia seperti menangkap signal-signal aneh terkait sikap Blair kali ini. Karena biasanya Blair akan sok tegar saat di depannya.


" Aku cuma ingin makan coklat " Jawabnya menggeleng.


" Ok tunggu di sini " Pamit Dylan yang lalu berdiri dan pergi ke luar perpustakaan untuk membelikan camilan Blair di kantin.


Tak butuh waktu lama untuk Dylan memilih camilan, dia membeli semua hal yang berbau-bau coklat, mulai dari biskuit coklat, wafer coklat sampai coklat batangan. Setelah merasa membeli cukup banyak coklat dia pun kembali menuju perpustakaan.


" Nih " Dylan menyerahkan kantong plastik yang di bawanya ke hadapan Blair yang sedang bermain-main dengan ponselnya. Sudah berhenti menangis dan sekarang sedang tertawa-tawa sendiri melihat acara kartun.


Blair langsung meletakkan ponselnya secara asal, lalu membuka kantong plastik itu dengan penuh semangat, di keluarkan semua camilan yang ada di dalamnya, sibuk memilih-milih seperti anak kecil.


" Susu coklatnya tidak ada ? " Tanyanya.


" Tadi katanya hanya ingin makan coklat " Jawab Dylan sabar.


" Ya kan susu coklat termasuk dalam kategori makanan berbahan coklat " Jawab Blair tidak mau kalah.


" Maaf ya aku lupa tidak membelinya " Jawab Dylan lembut.


" Bagaimana aku bisa makan tanpa minum, nanti tenggorokan ku penuh dan aku susah menelan, terus aku batuk-batuk, terus aku... " Omelnya cerewet dengan manja.


" Nanti aku belikan lagi, sekarang makan ini dulu ya " Dylan mengambil kue coklat kesukaan Blair dan membukakannya, lalu menyodorkannya pada Blair yang masih mengomel tak jelas.


" Tidak jadi ah, aku ingin minum susu coklat saja " Jawab Blair sedikit manyun.


" Ya sudah aku berikan pada Dera saja " Jawab Dylan santai lalu berdiri.


" Eh tunggu tunggu " Blair langsung meraih tangan Dylan dan menariknya agar kembali duduk.


" Kau ini ngambekan sekali sih, begitu saja sudah marah " Lanjutnya ketus. Lalu dengan cepat mengambil kue yang ada di tangan Dylan dan memakannya.


Cih ! Dasar oneng


Batin Dylan gemas sendiri melihat tingkah Blair.


" Lain kali jangan beri Dera camilan apapun ya " Ucapnya mewanti-wanti sambil terus melahap kuenya.


" Kenapa ? " Tanya Dylan sambil menahan senyum, dia memiringkan tubuhnya dan menyangga pelipisnya dengan tangannya. Mengamati Blair yang sedang makan dengan kesal.


" Dia itu sedang diet, nanti kalau kau memberinya kue coklat kasihan dietnya pasti berantakan " Jawab Blair asal, kan tidak mungkin dia bilang jangan memberikan Dera camilan karena dia akan cemburu.


" Masa ? " Goda Dylan dengan membuat ekspresi wajah tidak percaya.


" Iih " Blair mendelik kesal pada Dylan.


" Pokoknya jangan berikan ya " Ancamnya mendelik marah, namun sikap marahnya malah semakin menambah kadar gemas Dylan padanya.


" Iya iya neng, aku tidak akan memberikan camilan pada siapapun, semuanya buatmu saja " Jawab Dylan lembut sambil mengusap noda coklat di pipi Blair.


" Pada Raline juga ? " Tanyanya lirih takut-takut.


" Kalau padanya aku tidak janji, aku selalu tidak bisa menolak pesona Raline " Dahi Dylan berkerut saat mengatakannya, merasa sungkan tidak bisa memenuhi permintaan Blair yang satu ini. Karena jika dia menomor dua kan Raline, musuhnya bukan lagi Rhoma si tingki wingki, melainkan siluman raja kerbau penguasa dunia persilatan.


" Yaah " Decak kecewa meluncur mulus dari bibir Blair, tapi dia tidak bisa melakukan apapun dengan hal itu. Rasa sedih kembali menyelimutinya, tiba-tiba saja dia ingin kembali menangis sejadi-jadinya.


" Sudah lanjutkan makan mu, aku akan mengerjakan tugas ini " Jawab Dylan santai lalu kembali menghadap ke buku-buku pelajarannya.


Blair yang masih merasa sedih itu hanya memandangi kue coklatnya yang tinggal separuh, dia tidak bisa melanjutkan makanannya lagi. Suasana hatinya terlalu buruk saat ini.


Namun saat butiran air matanya akan jatuh mengalir turun, tiba-tiba saja tangan Dylan meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Blair langsung terhenyak dan menatap Dylan yang sedang mengerjakan tugasnya.


Betapa bahagianya hatiku saat


Ku duduk berdua denganmu


Berjalan bersamamu


Menarilah denganku


Dylan menggumamkan nyanyian untuk menenangkan Blair sambil terus menggengam tangannya.


Namun bila hari ini adalah yang terakhir


Namun ku tetap bahagia


Selalu kusyukuri


Begitulah adanya


Namun bila kau ingin sendiri


Cepat cepatlah sampaikan kepadaku


Agar ku tak berharap


Dan buat kau bersedih


Dylan semakin mengeratkan genggamannya dan menarik tangan Blair mendekat, menyentuhkannya pada dadanya yang berdetak sangat kencang saat ini. Bisa Blair rasakan debaran jantung Dylan, dan itu membuatnya salah tingkah.


Bila nanti saatnya telah tiba


Kuingin kau menjadi istriku


Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan


Berlarian kesana-kemari dan tertawa


Namun bila saat berpisah telah tiba


Izinkanku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukan di ujung waktu


Sudilah kau temani diriku


Pecah sudah perasaan Blair begitu mendengar bait lagu berikutnya yang di nyanyikan Dylan.


Ya ampun jantungku !!!

__ADS_1


Jerit batin Blair memegangi dadanya dengan tangannya yang lain yang masih memegang kue.


Ambyar seperti nasi bungkus yang hilang karetnya.


__ADS_2