
Sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki gerbang mansion milik keluarga Klan Loyard dan berhenti tepat di depan pintu utama. Beberapa pelayan juga nyonya besar dari klan Loyard itu pun terlihat berdiri berjejer untuk menyambut kedatangan tuan yang ada di dalam mobil tersebut.
“ Hai sayang “ Sapanya begitu turun dari mobil dan berjalan mendekat.
“ Kau jadi ikut kan ? “ Tanya Ruby memastikan rencana mereka untuk pergi ke panti asuhan.
“ Ya tentu saja, kita kan satu paket, kau ke sana aku juga ke sana, kau ke sini aku juga ke sini “ Saut Rai penuh percaya diri.
“ Iya kita satu paket seperti tukang ojek pengkolan “ Cibir Ruby asal.
“ Tukang ojek ? “ Rai yang tadinya hendak memeluk Ruby mendadak berhenti dan menatapnya tajam.
“ Tukang ojek mana yang berani-beraninya menyamai kita ? “ Tanyanya ketus.
“ Haaah... “ Ruby menghela napas kesal sekaligus malas. Di tatapnya Rai yang sudah bersungut-sungut marah. Begitulah Rai, selera humornya buruk, pikir Ruby.
“ Sudah ayo cepat masuk “ Ajak Ruby melingkarkan lengannya ke lengan Rai, menghentikannya dari ocehan-ocehan tak masuk akal yang tidak berujung.
Mereka berdua berjalan menuju tangga untuk ke lantai atas.
“ Mana Raline ? “ Tanyanya menolehkan sedikit kepalanya melihat kepada dua pelayan yang biasanya juga satu paket dengan Ruby tidak mengikuti mereka.
“ Dia bersama ibu, tadi setelah aku menyusuinya dia agak sedikit rewel, jadi ibu membawanya pergi mencari udara segar “ Jelas Ruby. Lalu memijit pelipisnya dengan satu tangannya yang bebas.
“ Dia masih saja rewel ? “ Tanya Rai lembut, menatap istrinya yang terlihat sangat kelelahan mengurus Raline yang memang bayi ajaib. Bagaimana tidak ajaib, dia lahir di tengah-tengah the amburadul family, jadi tingkahnya terkadang di luar nalar.
Bayangkan saja, dia terkadang bisa seharian rewel dan hanya diam saat di gendong oleh Ken, ya semua orang memakluminya karena ibaratnya Ken adalah pawang Raline, dia memegang, menelan lebih tepatnya salah satu anggota tubuhnya.
Tapi terkadang juga dia justru bisa sangat rewel bahkan saat di gendong Ken, sepertinya bayi memiliki cara unik mereka sendiri dalam menjalani hidup masa tumbuh kembangnya, bagaimana polanya itu yang keluarga Loyard sendiri tidak tau.
“ Entahlah, biasanya tidak terlalu, tapi hari ini tidak tau kenapa dia terus saja menangis “ Jelas Ruby beralih memijit pangkal hidungnya.
Mereka sampai di depan pintu kamarnya, lalu tanpa memberitahu Ruby lebih dulu Rai membungkuk begitu saja kemudian meraup Ruby dalam gendongannya.
“ Hei apa-apaan, turunkan. Aku bisa jalan sendiri “ Teriak Ruby meronta-ronta malu.
“ Turun sendiri kalau bisa, aku tidak berniat melepaskan mu tuh “ Goda Rai mengerlingkan satu matanya dan tersenyum manis lalu membuka pintu kamarnya dengan tangannya yang menahan kaki Ruby. Kemudian dengan punggungnya dia mendorong pintu itu agar terbuka lebih lebar, masuk ke dalam dan menutup pintu dengan kakinya.
“ Aku tidak terlalu bisa membantumu menjaga Raline saat sedang bekerja, tapi bukan berarti aku tidak bisa membantu meredakan lelahmu “ Ucap Rai lirih di depan wajah Ruby, kening mereka bertautan. Dapat Ruby rasakan hembusan napas Rai yang menerpa wajahnya.
Mendengar ucapan Rai yang semakin hari semakin manis itu pun membuat jantung Ruby berdetak dengan cepat. Mereka sudah menikah lebih dari satu tahun, juga menikah dua kali, tapi debaran jantung itu rasanya tidak pernah berubah, malah semakin menjadi-jadi dengan hadirnya Raline di tengah-tengah mereka.
Sensasi rasa mencuri-curi waktu untuk sekedar bermesraan dan memadu kasih malah membuat hubungan mereka semakin penuh warna dan tantangan. Mereka layaknya remaja yang sedang mengalami puber, yang terkadang harus menahan hasrat kerinduan di karenakan satpam cilik yang hadir di tengah-tengah mereka. Terkadang juga mereka seperti anak TK yang bermain bersama mainan baru mereka, sebuah boneka bernyawa yang sangat lucu dan menggemaskan, hingga membuat mereka lupa waktu.
Bisa saja mereka menyerahkan sepenuhnya Raline pada pengasuh yang mereka bayar dengan gaji tinggi, tapi jika begitu lalu apa fungsinya mereka sebagai orang tua.
Untuk apa mereka memiliki anak jika bukan mereka sendiri yang mengasuhnya. Jika memberi makan dan memenuhi segala kebutuhannya saja sudah dapat di katakan jadi orang tua, maka tidak perlu repot-repot menikah dan memiliki anak bukan ?
“ Kau sudah cukup membantu ku sayang, kau sudah menjadi suami yang benar-benar siaga untuk “ukuran” mu, dan kau sudah menjadi ayah terhebat yang pernah ada “ Puji Ruby lalu mengecup sebentar pipi Rai.
“ Ukuran ? Ukuran yang mana maksud mu ? “ Tanya Rai mendesah lirih. Dia lalu membalas ciuman Ruby di seluruh wajahnya tanpa terlewat satu bagian pun.
“ Ukuran mu yang tidak pernah mau merendahkan diri di hadapan orang lain, tapi demi aku dan Raline kau jadi seperti manusia pada umumnya “ Jawab Ruby lirih.
Rai kemudian membaringkan tubuh Ruby di atas ranjangnya dengan perlahan-lahan. Menatapnya lembut dari atas, tangannya mulai menyusuri kepala Ruby, merapikan rambut-rambut halus yang menutupi wajahnya.
“ Kau sangat cantik “ Pujinya kemudian mengelus-elus pipi Ruby lembut.
“ Tidak pernah terbayangkan aku akan berakhir dengan mu dan menghabiskan sepanjang sisa hidupku dengan wanita terhebat seperti mu. Kau wanita yang paling cantik di muka bumi ini. Setiap hari ada saja tingkahmu, ucapan mu yang membuatku jatuh cinta berulang kali, pagi hari saat aku melihatmu bangun tidur, kau terlihat sangat natural dengan wajah bengkak mu, siang hari kau terlihat sangat menarik dengan wajah lelahmu, dan malam hari kau terlihat sangat menggoda dengan wajah manja mu, aku tidak tau sudah berapa kali dalam sehari aku jatuh cinta padamu. Kau benar-benar wanita sempurna yang hanya tercipta untuk ku “ Semua ucapan romantis yang Rai lontarkan sukses membuat wajah Ruby merona merah, dapat dia rasakan darahnya berdesir saat mendengarkan setiap ungkapan kasih sayang Rai untuknya. Baginya pernikahan mereka sempurna, terlepas dari Rai adalah putra mahkota Klan Loyard atau bukan.
Menikah dengan orang sangat mencintaimu dan rela berkorban untukmu adalah sebuah anugerah terindah yang tidak akan tergantikan dengan apapun. Apa gunanya menikah dengan orang yang kaya dan memiliki banyak harta jika hanya akan melukai hati dan membuat menderita. Banyak di luaran sana realita pernikahan di bungkus dengan gaya hidup sederhana tapi kebahagiaan mereka tak berkurang sedikitpun, malah semakin bertambah setiap harinya karena kehidupan mereka di isi dengan cinta dan saling pengertian.
__ADS_1
“ Kau membuat jantungku berdegub sangat kencang “ Ruby membalas sapuan tangan Rai, dia memegang tangan Rai yang membelainya dan menciumnya.
“ Kau tau kalau aku bisa melakukannya dalam 30 menit ? “ Rai menyipitkan matanya menggoda Ruby.
“ Melakukan apa ? “ Tanya Ruby bingung, karena pembicaraan mereka mendadak beralih membahas waktu.
“ Apa kau pernah mendengar jangan membangunkan beruang yang tidur ? “ Dengan tatapan mata tajam lalu tersenyum manis yang membuat Ruby semakin bingung.
Seperti sadar kemana arah pembicaraan Rai, Ruby menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, malu oleh ucapan Rai. “ Hei apaan sih ? “
Lalu pada detik berikutnya, Rai sudah meraih selimut yang ada di bawah kakinya dan menutupkannya pada mereka berdua.
“ Tunggu dulu Rai... “ Protes Ruby gelagapan, dia tidak siap menerima serangan mendadak darinya.
Namun Rai mengabaikan protes Ruby dan langsung menghujaninya dengan ciuman di seluruh wajahnya. Kening, mata, hidung, pipi dan terakhir bibir lembut Ruby. Kecupan pelan itu berubah menjadi ******* halus, kemudian menjadi ciuman yang lebih hot lagi.
Dengan skillnya yang meningkat 100 kali lipat, hanya butuh waktu beberapa menit saja Rai sudah berhasil membuka seluruh pakaian Ruby dan melemparkannya ke luar dari balik selimut.
“ Kenapa harus pakai selimut, sempit “ Terdengar protesan Ruby dari dalam selimut.
“ Aku suka yang sempit-sempit “ Goda Rai lalu segera menyerang Ruby, tidak membiarkannya mengeluarkan protesannya lagi dan hanya deru napas mereka yang saling bersautan-sautan yang menjadi latar belakang musik di bawah selimut itu.
Mereka sedang melalui siang “terpanas” di bawah selimut mereka.
🍁🍁🍁🍁🍁
Raline dan Adelia serta kedua pengasuh Raline sedang berada di halaman mansion, di bawah pohon mahoni besar yang rindang, duduk di atas bangku kayu, menghirup udara segar di tengah teriknya matahari siang, merasakan semilir angin yang berhembus pelan yang terasa menyejukkan. Raline sedang berada di atas kereta dorongnya, menggeliat-geliat menggemaskan layaknya bayi yang sedang berolahraga.
“ Uuh lucunya... “ Adelia tersenyum gemas melihat tingkah Raline yang sekarang berat badannya sudah semakin membulat.
“ Iya dia benar-benar lucu sekali ya bu “ Timpal Sinta salah satu pengasuh Raline.
“ Iya tidak salah kalau tuan Ken memanggilnya himawari, dia benar-benar seperti bunga matahari yang sedang mekar “ Saut Lusi yang juga sangat gemas dengan tingkah Raline.
“ Mmm... maaf bertanya agak kurang sopan “ Saut Adelia sungkan.
“ Ya ? “ Dengan alis yang bertaut Sinta beralih menatap Adelia yang duduk di sampingnya.
“ Sinta sudah berapa lama bekerja disini ? “ Tanya Adelia ragu-ragu.
“ Saya sudah lebih dari 3 tahun bu “ Begitulah kedekatan para pengasuh Raline dengan Adelia dan juga Ruby, malahan terkadang Ruby memberengut kesal jika para pengasuhnya itu selalu memanggilnya dengan nyonya.
“ Kalau Lusi ? “ tanya Adelia berganti.
“ Kalau saya baru satu tahun “ Jawab Lusi, mereka berdua lalu saling berpandangan heran mendengar pertanyaan Adelia.
“ Memangnya kalian tidak merasa sesak bekerja disini ? “ Tanya Adelia takut-takut, lalu menghela napas dan mengeluarkannya perlahan melalui mulutnya.
“ Aku sangat sungkan tinggal di rumah ini, tidak boleh memasak, tidak boleh membantu pekerjaan rumah, aku merasa tidak berguna “ Cerita Adelia kemudian.
“ Ibu sudah sangat membantu nyonya Ruby dalam menjaga nona Raline “ Saut Sinta cepat.
“ Dulu mansion ini tidak seperti ini, disini sepi sekali, seperti rumah hantu saja. Tuan Regis selalu di luar negeri, tuan Rai tidak pernah pulang, tuan Ken hanya pulang sesekali, tapi sejak nyonya Ruby datang perlahan-lahan keadaan di rumah ini berubah, mulai ada tawa juga suara-suara berisik, sudah seperti rumah pada umumnya “ Jelas Sinta, dulu sewaktu pertama kali datang ke mansion itu untuk bekerja dia sampai tidak mengenali tuan Regis sebagai pemilik rumah di karenakan tidak pernah bertemu dengannya sama sekali.
Mereka semua kemudian larut dalam cerita masing-masing hingga tanpa sadar menurunkan pengawasan mata mereka dari Raline.
“ Oooh... “ Adelia manggut-manggut kala Lusi menyelesaikan ceritanya. Lalu mereka bertiga sama-sama menghela napas, mengambil jeda dari cerita-cerita panjang mereka. Sinta yang merasa suasana terlalu hening, terutama dari kereta dorong Raline itu pun menolehkan kepalanya untuk memeriksa.
“ Hah ?!?! “ Pekiknya hampir berteriak keras jika saja dia tidak cepat-cepat menyumpal mulutnya dengan tangannya sendiri.
“ Apa ? Apa ? “ Tanya Adelia dan Lusi bersamaan, terkejut dan bingung.
__ADS_1
“ No-nona Ra-Raline “ Tunjuknya ke arah kereta dorong bayi dengan telunjuknya yang gemetaran.
Mereka berdua mengikuti arah jari Sinta.
“ Hah ?!? “ Dengan gerakan cepat mereka berdua juga membungkam mulut mereka agar tidak menjerit.
“ Ce-cepat beritahu yang lainnya “ Adelia menepuk lengan Sinta dengan gelagapan.
“ I-iya “ Dengan tergopoh-gopoh Sinta berlarian menyebrangi halaman menuju mansion. Lalu berhenti sesaat saat sudah berada di dalamnya.
“ Haduh... nyonya dan tuan pasti sedang di kamarnya, kalau aku mengganggu nanti tuan marah “ Sinta berjalan mondar-mandir memikirkan bagaimana cara untuk memberitahu Rai dan Ruby perihal tentang Raline.
“ Bagaimana ini ? “ Dia merem*s jari jemarinya dengan gugup.
Pak Handoko yang sedang berkeliling memeriksa keadaan melihat Sinta yang sedang gelisah, dia berjalan mendekat untuk melihatnya.
“ Ada apa ? “ tanya Pak Handoko menyelidik.
“ Oh tuan “ Sinta yang terkejut langsung membungkukkan punggungnya memberi hormat.
“ I-itu no-nona Raline “ Tunjuknya gelagapan ke arah luar mansion.
“ Kau kembali saja ke sana, aku yang akan memberitahu tuan Rai “ Perintahnya kemudian. Seperti paham dengan apa yang akan di ucapkan Sinta, Pak Handoko langsung pergi menuju lantai atas, akan memberitahu Rai dan Ruby.
Sementara itu Sinta sudah kembali berlarian menuju halaman tempat Raline sedang berada.
Tak butuh waktu lama untuk Pak Handoko, Rai dan Ruby datang menemui Raline. Rai yang paling cepat berlari di antara ketiganya, dengan kaki yang panjang tentu saja langkahnya lebih lebar.
“ Ada apa ? “ Tanya Rai panik. Namun Adelia malah memberikan isyaratnya agar Rai tidak berisik. Lalu menunjuk ke arah kereta dorong Raline.
“ Hah ?!?! “ Pekiknya dengan suara tertahan oleh tangan yang membekap mulutnya.
“ Ada a... hah ?!?! “ Ruby yang baru saja datang juga langsung memekik syok melihat Raline di dalam kereta dorongnya.
Pak Handoko yang baru saja bergabung itu pun juga terkejut melihatnya, namun bisa menguasainya dengan cepat. Dia lalu mengambil ponselnya untuk segera melaporkannya pada Tuan Regis.
“ Nona Raline saat ini sudah bisa tengkurap sendiri tuan “ Lapornya dengan suara tegas seraya menatap penuh binar ke arah kereta dorong Raline, melihat Raline yang sedang nyenyak tertidur dalam posisi tengkurap.
“ Apa ? Tengkurap ? “ Teriak Regis dari ujung teleponnya, Sekertaris Yuri yang ada di ruangan itu pun ikut terlonjak kaget dan menatap Regis bertanya-tanya.
“ Baiklah terima kasih, siapkan saja tempatnya nanti, kita akan berkumpul bersama selepas makan malam untuk melihatnya “ Perintahnya kemudian lalu menutup sambungan teleponnya.
“ Ada masalah apa tuan ? “ tanya Sekertaris Yuri panik begitu Regis meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya.
“ Yuri... “ Panggilnya lirih lalu menghela napas sejenak untuk mengambil jeda.
“ Kita semakin bertambah tua rupanya “ Lanjutnya sedih.
Sekertaris Yuri menelengkan kepalanya mengamati raut wajah sedih milik tuannya.
“ Raline... " Ucap Regis sedih.
Deg !! Jantung Sekertaris Yuri bertalu-talu mendengar nama Raline di sebut dengan nada sedih begitu.
Ada apa ? Kenapa tuan putri ?
Batinnya panik dan cemas.
" Bayi yang kau susui setiap kamis malam jumat itu sudah bisa tengkurap sendiri, bukankah dia sudah besar sekarang “ Jelas Regis terharu lalu menundukkan kepalanya, mengusap air mata penuh kebahagiaan yang menggenang di matanya.
Aish Tuan Regis !! Apa perlu diperjelas bagian aku yang menyusuinya setiap malam jumat.
__ADS_1
Teriak batinnya merana. Masih jomblo, perjaka ting-ting tapi sudah berpengalaman dalam hal menyusui bayi.