
Sepanjang sisa jam pelajaran di habiskan Dylan dan Blair di ruang uks. Mereka berdua mengobrol tentang banyak hal.
Sikap Blair yang benar-benar terbuka membuat Dylan sangat mudah memahaminya. Dan akhirnya sedikit banyak dia tau darimana sumber keonengannya.
Menurut cerita Blair, dia adalah anak kedua dari dua bersaudara. Ayahnya adalah orang rusia dan ibunya adalah warga negara yang menempuh pendidikan di luar negeri.
Mereka berdua bertemu di kampus, Dimitri adalah kakak senior dari ibunya. Setelah menjalin hubungan beberapa waktu, mereka berdua pun memutuskan menikah dan menuruti Nania yang meminta kembali ke tanah air.
Di tanah air Dimitri meneruskan usaha keluarga milik ayah mertuanya yang bergerak di bidang perdagangan bahan makanan pokok. Namun usaha yang didirikan mertuanya selama bertahun-tahun itu bangkrut akibat keserakahan Dimitri. Dia ingin menguasai seluruh pasar pendistribusian bahan kebutuhan pokok di daerah ibu kota. Hingga pada akhirnya dia di tipu oleh rekan bisnisnya.
Beruntung saja orang tua Nania masih memiliki usaha sampingan lain berupa sebuah apotek yang cukup besar dan terkenal di ibukota, yang memasok berbagai macam obat-obatan serta alat kesehatan untuk klinik-klinik kecil dan juga dokter praktek di rumah.
Beberapa waktu berjalan, Dimitri dan Nania meneruskan usaha apotek tersebut. Tergiur oleh keuntungan yang besar, Dimitri berusaha mengembangkan bisnisnya. Dia membuka cabang-cabang apotek yang lain karena dia melihat kebutuhan obat setiap tahunnya semakin meningkat, penyakit baru yang tentu saja membutuhkan obat baru seakan tak ada matinya. Dia melihat peluang untuknya bergelut di bidang ini cukup besar.
Dia mulai mendekati para sales obat-obatan yang bekerja langsung dari pabriknya, dia mensabotase mereka dan mengiming-imingi mereka dengan jabatan yang tinggi jika dia mampu membuka sendiri pabrik yang memproduksi obat. Tidak ada yang gratis di dunia ini, para sales itu di minta untuk mencuri data-data bagaimana sistem kerja serta SOP dari tempatnya semula bekerja. Dan singkat cerita, dia berhasil membangun perusahaan yang bergerak di bidang obat-obat dengan jalan menghancurkan perusahaan yang lain. Dia semakin berkembang seiring jatuhnya perusahaan lain yang bergerak di bidang yang sama.
Hingga akhirnya perusahaannya mengalami masalah untuk pertama kalinya, dia melanggar kesepakatan bisnis bersama para investor. Dia berkelit dan lalai dalam membayarkan kewajibannya pada para pemegang saham. Disya, kakak perempuan Dasya sudah menjadi korban keserakahan Dimitri. Dia di nikahkan dengan putra salah satu investor untuk menebus semua hutang-hutangnya. Selamat pada masalahnya yang pertama tidak membuat Dimitri sadar tapi malah membuatnya semakin menjadi-jadi.
Setelah berhasil dengan pernikahan Disya yang membuat bisnisnya semakin besar, dia berencana menjadikan Dasya tumbal kedua. Tumbal pamungkas yang akan membuatnya tak tergoyahkan. Namun satu masalah kembali datang, merk dagang obatnya bermasalah dan di tengarai menggunakan komposisi dari bahan-bahan yang berbahaya. Dirinya pun terjerat kasus hukum. Ancaman pidana serta penutupan perusahaan membayang-bayanginya. Dia mencari pengacara terkenal di negeri ini, dan bertemulah dia dengan pengacara Henry yang secara kebetulan memiliki anak sebaya dengan Dasya.
Tidak ingin rugi, Dimitri pun ingin menikahkan Dasya dengan Andromeda, agar jika kelak dirinya tersandung kasus hukum lagi, dia sudah memiliki seseorang yang akan memback upnya di rana hukum, terlebih lagi dia jadi tidak perlu membayar jasa pengacara mahal-mahal. Seluruh hidupnya dan hidup keluarganya hanya tentang bisnis dan uang.
Rumah sakit Lord, sebagai salah satu rekanan bisnis obat-obatan yang di pasok oleh Dimitri pun terkena imbasnya. Tidak tinggal diam, Rai memerintahkan pengacara Henry untuk menangani kasus ini hingga selesai dan nama rumah sakit Lord kembali bersih.
Satu permasalahan lagi terselesaikan, pengacara Henry menagih janji Dimitri. Namun bukan Dimitri namanya jika tidak serakah. Setelah tau bahwa di atas ketenaran pengacara Henry ada Klan Loyard yang berkuasa, dia ingin menjadikan putrinya sebagai nyonya besar dalam Klan tersebut. Dia sudah memutuskan tujuan hidupnya, akan mejadikan Dasya nyonya dalam Klan Loyard bagaimana pun caranya, tak peduli apapun keadaannya.
" Jadi kau tidak pernah sekolah formal sebelumnya ? " Tanya Dylan, langsung paham kenapa Blair sedikit oneng.
" Ya aku dan kakak ku, kami berdua menjalani home schooling, aku baru mulai bersekolah di sekolah umum 2 tahun terakhir, sejak kakak ku menikah " Blair hanya menceritakan garis besar tentang keluarganya, bagian ayahnya yang serakah hanya di simpannya nanti untuk seseorang yang akan benar-benar menerimanya luar dan dalam. Dia hanya bercerita bahwa dia anak ke dua dari dua bersaudara. Dan Disya, kakaknya telah menikah.
" Pantas saja " Gumam Dylan tersenyum simpul.
" Kau sendiri bagaimana masa kecil mu ? Kau punya saudara berapa ? " Tanya Blair santai. Lalu detik berikutnya dia memalingkan wajahnya dan memukul mulutnya sendiri.
Aish kan aku sudah tau ceritanya bagaimana, kenapa malah bertanya lagi. Dasar !
Dia merutuki kebodohannya sendiri. Bella sudah menceritakan semua tentang Dylan, bagaimana orang tuanya, ibunya, ayahnya dan semua masalah buruk yang membuatnya menjadi siswa paling di kucilkan. Dengan wajah sungkan dia kembali menatap Dylan.
" Ah nanti kau ingin jalan-jalan kemana ? Mall ? Atau taman hiburan ? " Sautnya cepat mengalihkan pembicaraan.
Dylan hanya tersenyum menanggapi sikap Blair, dia tau Blair berusaha mengalihkan pembicaraan karena dia sudah tau tentang latar belakangnya.
" Aku anak tunggal dari seorang ibu tanpa suami, ayahku siapa aku juga tidak tau, ibu ku menikah lagi tapi sayangnya bukan dengan orang yang tepat, mereka bertengkar setiap hari, hingga pada suatu saat mereka berdua merasa sudah tidak menemukan kecocokan lagi dan memutuskan berpisah dengan cara mereka sendiri, cara yang lain daripada yang lain, cara yang tidak biasa yang di tempuh oleh dua orang yang sama-sama egois " Jelas Dylan santai. Dia sudah memutuskan berdamai dengan masa lalunya, tak akan ada yang bisa merubahnya atau juga memperbaikinya. Dylan menghela napas sejenak, mengambil jeda untuk meredakan rasa tercekik di tenggorokannya, lalu tersenyum pada Blair.
" Maafkan aku, maaf ya " Tanpa sadar Blair menggenggam tangan Dylan, di dorong perasaan bersalah karena telah mengorek masalah privasi orang lain, terlebih lagi itu adalah masa kelam Dylan.
" Kenapa minta maaf ? Memang itu lah kenyataannya, aku sudah biasa " Jawabnya santai lalu mengusak kepala Blair.
" Tidak perlu merasa bersalah " Lanjutnya.
Butuh waktu berapa lama baginya untuk berdamai dengan keadaan ? Pasti itu sangat berat. Aku masih lebih beruntung daripada dia tapi sudah mengeluh seakan-akan dunia tidak adil padaku. Dia dewasa sekali.
Blair tertunduk malu, mereka seumuran tapi tingkat kedewasaan mereka berada di level yang berbeda.
Bel makan siang berbunyi, dan mulai terdengar suara-suara ramai dari luar ruang uks.
" Kau mau makan siang sekarang atau nanti saja saat jalan-jalan ? " Tanya Dylan lembut penuh perhatian.
Nanti saat jalan-jalan, bisa pingsan aku kalau harus menahan lapar sampai selama itu.
" Aku mau sekarang saja " Jawab Blair kemudian.
" Ya sudah kau tunggu di sini saja, aku akan membawakan makan siang untukmu kesini, kau kan pasien " Ledek Dylan dengan tersenyum jahil.
" Tidak mau !! " Saut Blair ketus.
" Kau itu penipu " lanjutnya bersungut-sungut.
Alis Dylan berkerut dalam mendengar tuduhan yang di alamatkan padanya. " Hm ? "
" Iya kau itu penipu, tadi sewaktu istirahat kau bilang akan mengajak ku makan, tapi kau malah berduaan dengan Dera, sekarang kau ingin pergi ke kantin sendirian nanti di sana kau malah makan siang berdua dengannya lalu lupa kalau aku sedang kelaparan " Omelnya.
" Ah ya maafkan aku soal yang tadi ya " Ucap Dylan sungkan.
" Kalau begitu ayo ke kantin sama-sama " Ajaknya.
Mereka berdua turun dari ranjang dan bersiap-siap pergi ke kantin.
" Tunggu dulu " Cegat Dylan saat Blair sudah melangkah maju.
" Kau duluan saja, nanti kalau ada yang melihat kita keluar dari ruangan yang sama gosipnya akan tersebar dan kau akan susah " Jelas Dylan.
__ADS_1
" Oh iya ya " Blair mengangguk-angguk sadar.
" Lalu makan siang bersamanya tidak jadi ? " Tanya Blair kemudian.
" Nanti kau pilih saja meja di sudut, biasanya aku makan siang di situ, tidak ada yang mau menempati meja itu. Jadi aku dan kau bisa duduk disana tanpa di curigai orang lain " Jelas Dylan memberikan arahannya.
" Ok baiklah, siap-siap !! " Jawab Blair seraya menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O.
Dan mereka pun berpisah, Blair pergi terlebih dahulu, baru beberapa menit kemudian Dylan akan menyusulnya.
Dylan terus melihat jam tangannya, menghitung setiap detik yang terlewat. Hanya menunggu 5 menit rasanya dia sudah seperti menunggu 5 jam saja. Dia berjalan keluar ruangan di balik tirainya menuju pintu keluar sembari terus menatap jam tangannya.
288...
289...
300... Pas 5 menit di hitung dari hitungan detik.
Dylan langsung membuka pintu ruang uks dan berjalan keluar.
" Dylan " Sebuah suara mengagetkan Dylan, dia menoleh dan Dera sudah berdiri disana, menunggunya.
" Ada apa ? " Tanya Dylan bingung.
" Kok ada apa ? Kau kan janji kita akan makan siang bersama " Jawab Dera tersenyum riang.
" Aku tidak berjanji apapun " Sanggah Dylan.
" Aku mengajakmu makan siang bersama lewat pesan tadi " Jelas Dera.
" Tapi aku tidak membalasnya kan ? Itu artinya... "
" Artinya kau mau " Potong Dera cepat.
" Apa kau tidak pernah dengan istilah diam artinya ya, kau diam saja dan tidak membalas pesan ku jadi ku anggap itu sebagai jawaban ya darimu " Oceh Dera tidak memberikan sedikitpun celah Dylan untuk menolak atau pun menyanggah lagi. Dia sudah bersabar, bersabar lebih dari 5 tahun, dan kali ini dia tidak akan tinggal diam lagi.
Dylan menghela napas jengah, di tatapnya Dera yang sedang melihatnya dengan sinar mata berbinar dan senyum yang terkembang.
" Aku tidak bisa " Jawabnya kemudian, acuh dan dingin.
" Kenapa ? Memangnya kau tidak akan makan siang ? " Tanya Dera berpura-pura tidak tau meski sebenarnya dia tau kalau Dylan akan menyusul Blair.
" Oh ya, kenapa kau bisa tau aku ada disini ? " Tanya Dylan penasaran karena Dera sudah seperti Doraemon saja yang bisa tau dia ada dimana.
" Sudah lebih baik ? " Tanyanya lagi perhatian.
" Sudahlah " Jawab Dylan malas lalu berjalan meninggalkan Dera.
" Dylan tunggu aku dong " Teriaknya lalu berjalan cepat menyusul Dylan.
Suasana kantin seperti biasanya, ramai dengan deretan antrean panjang. Dylan langsung menoleh ke arah meja yang dia tunjukkan pada Blair. Kosong belum terisi.
Dylan kemudian mengedarkan pandangannya ke antrean murid-murid, mencari Blair. Nihil. Dia tidak ada di dalam antrean itu. Kebingungan mulai di rasakannya, dia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kantin. Dan dalam sekali lihat saja dia bisa tau bahwa gadis yang sedang duduk berhadapan dengan Andromeda adalah Blair. Dylan menghela napas panjang.
Mendadak perasaan tidak suka kembali merayapinya, menimbulkan semacam perasaan panas terbakar yang bergulung-gulung di hatinya. Tapi dia sadar, ini adalah tempat umum jadi dia tidak akan menimbulkan keributan untuk yang kedua kalinya, terlebih lagi Blair bukan siapa-siapanya, tepatnya belum jadi siapa-siapanya, jika dia berjalan menghambur ke arah Andromeda lalu memukulnya sekali lagi sudah pasti akan menimbulkan tanda tanya besar. Dia tidak ingin baik dirinya maupun Blair menjadi pusat perhatian.
" Oh itu Blair dan Andromeda " Tunjuk Dera ke arah meja mereka.
" Mereka serasi ya ? " Lanjutnya.
Dylan membuang wajahnya kesal dan menatap lurus ke depan, mengabaikan ucapan Dera.
" Aku pernah dengar dari ayahku kalau mereka itu akan di jodohkan loh " Dera terus saja bercerita meskipun Dylan tidak menggubrisnya.
" Dan kabarnya lagi setelah lulus sekolah mereka akan menggelar pertunangan " Ucapan Dera kali ini berhasil membuat Dylan terhenyak dan menoleh ke arahnya.
" Bagaimana bisa ? " tanyanya tidak percaya. Sekertaris Yuri bilang perjodohan mereka batal karena Dimitri mengharuskan Blair terus mengejar Rai.
" Ya bisa saja, kenapa tidak bisa " Jawab Dera berpura-pura bingung dengan perubahan sikap Dylan.
" Paman Yuri bilang... " Dylan langsung terdiam saat dirinya hampir saja keceplosan bicara tentang keluarga barunya.
Sudah ku duga dia keponakan dari Sekertaris Yuri, dengan statusnya itu aku pasti bisa dengan mudah meminta ayah menjodohkanku dengannya. Haah syukurlah ternyata dia keluarga dari orang yang cukup penting di Klan Loyard, kalau bukan sudah pasti aku tidak akan boleh menjalin hubungan dengannya.
Dera menghela napas puas dan lega tebakannya benar, dia semakin tersenyum sumringah membayangkan akan semulus apa jalannya kedepan terkait hubungannya dengan Dylan.
" Paman Yuri siapa ? " tanya Dera berpura-pura tidak tau.
" Bukan siapa-siapa " Ralat Dylan cepat dan kembali mengabaikan Dera.
Pikirannya sedang kalut saat ini, melihat Blair duduk berhadapan dengan Andromeda saja sudah membuatnya seperti cacing kepanasan, dan sekarang bertambah lagi informasi mengejutkan dari Dera.
__ADS_1
Dylan dan Dera maju kedepan setelah antrean di depannya selesai. Dia mengambil makan siangnya asal saja dan langsung pergi meninggalkan Dera yang masih sibuk memilih-milih makanan. Dia menuju mejanya di pojok ruangan. Dera yang melihat itu menyusulnya dengan terburu-buru. Saat melintas melewati meja Andromeda, dia melemparkan senyum penuh kepuasan karena telah berhasil menjauhkan Dylan dan Blair untuk sesaat.
Ini baru permulaan, kalau kau masih terus saja mendekati Dylan, aku bisa melakukan yang lebih jauh lagi.
" Dylan tunggu aku " Teriaknya manja yang di sengaja, apalagi tujuannya kalau bukan agar Blair mendengarnya.
Blair yang sedang menunduk itu pun langsung mendongakkan wajahnya begitu mendengar nama Dylan di sebut. Dia segera menoleh ke arah meja yang semula menjadi tempat janjian mereka. Dia melihat Dylan sedang menunduk memakan makan siangnya dengan tekun.
Tadi saja meninju Meda saat dia menabrak ku, sekarang malah diam saja melihat aku makan dengannya, marah kek, menarik ku kek, apa saja asal kau perhatian padaku.
Sungut Blair dalam hati, dengan kesal dia menusuk-nusuk makanan yang ada di piringnya hingga menimbulkan bunyi klentingan garpu yang beradu dengan piring.
" Kenapa tidak di makan makanannya sayang ? " Tanya Andromeda sok romantis.
" Sayang, sayang !! Jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu ! " Dia mendelik marah.
" Kenapa memangnya ? Tidak lama lagi kau kan akan jadi tunanganku, tak masalah kan aku memanggilmu sayang " Andromeda seakan tak peduli dengan sikap Blair yang semakin keras menusukkan garpunya kepada makanannya.
" Darimana kau tau soal pertunangan itu ? " Tanya Blair sinis, dia sendiri tidak tau jika ayahnya berniat melanjutkan pertunangan mereka yang batal.
" Kau tau ayahku kan ? Saat kau pindah ke sekolah ini, aku meminta ayahku untuk menjodohkan ku dengan mu, dan tidak ku sangka ayahmu menerimanya " Jelas Andromeda santai.
Apa-apaan papa ini, aku benar-benar sudah tidak tahan lagi.
Dengan geram Blair bangkit berdiri.
" Jangan mengikuti ku, atau kau ku teriaki penguntit " Ancam Blair pada Andromeda lalu dengan kemarahan yang tertahan dia pergi dari kantin.
Sempurna.
Batin Dera tersenyum puas melihat Blair yang pergi dengan di liputi amarah, dia lalu menatap Dylan yang masih khusyuk memakan makanannya dan tidak menoleh sekalipun ke arah Blair.
" Makan siang kali ini sangat enak ya Dylan " Dengan senyuman manis dan nada suara yang sedikit manja dia bertanya pada Dylan.
" Hm " Hanya itu jawaban Dylan tanpa menoleh ke arahnya dan semakin mempercepat makan siangnya.
" Jadi bagaimana, kau bisa jalan-jalan dengan ku nanti ? " Tanya Dera penuh harap.
" Tidak " Jawab Dylan dingin lalu berdiri dan pergi meninggalkan Dera setelah sebelumnya mengembalikan nampan makan siangnya ke tempat pengembalian dan membeli beberapa snack.
" Tidak masalah kau menghindari ku sekarang Dylan, tapi aku yakin kau akan mendekati ku besok. Dan kau Blair, jika saja kau mengindahkan peringatan ku, aku juga tidak akan melakukan cara kotor seperti ini " Senyumnya getir lalu meneruskan makan siangnya sendirian.
Kejadian setelah Dylan memukul Andromeda...
" Kau tidak apa-apa ? " Tanya Dera menghampiri Andromeda yang sedang memegangi hidungnya yang mimisan.
" Aish !! Dasar anak haram sialan, kalau saja ayah tidak melarang ku mencari masalah dengannya, sudah pasti akan ku hajar habis-habisan dia " Makinya seraya bangun dan berdiri tegak dan menekan-nekan hidungnya untuk menghentikan mimisannya, tidak ingin harga dirinya jatuh di hadapan murid-murid yang kini sedang menatapnya dengan heran.
" Lagian kenapa kau mengganggu Blair sih ? " Tanya Dera ikut kesal, tentu saja dia bukan kesal karena kasihan pada Blair, dia kesal karena ulah Andromeda Dylan jadi semakin memperhatikan Blair.
" Aku tidak mengganggunya, dia sendiri yang menabrak ku " Andromeda semakin kesal, sudah di pukul sekarang malah di salahkan atas perbuatan yang tidak dia lakukan, ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula.
" Dia menabrak mu ? " Tanya Dera lirih, lalu sebuah ide muncul di benaknya, ide untuk membuat Dylan dan Blair akan menjauh dengan sendirinya.
" Cieee... kalau menurutku sepertinya dia menyukai mu " Goda Dera berpura-pura.
" Ah masak ? " Tanya Andromeda tidak percaya.
" Aish kau ini, apa kau tidak tau kalau wanita biasanya melakukan hal yang berkebalikan dari hal-hal yang sebenarnya, aku yakin dia sengaja menabrak mu karena ingin mencari perhatian mu " Dera memanas-manasi Andromeda dengan wajah yang meyakinkan.
" Begitu kah ? " Tanyanya pongah.
" Jika di pikir-pikir itu masuk akal juga, beberapa waktu yang lalu saat aku memberitahu ayahku kalau Blair bersekolah disini, dia bercerita bahwa dulu ayahku dan ayahnya Blair sempat membuat kesepakatan untuk menjodohkan kami " Cerita Andromeda sombong.
" Nah kan ! " Seru Dera semakin membuat Andromeda besar kepala. Tuhan berpihak padaku.
" Minta saja ayahmu segera melaksanakan perjodohan kalian, bukankah kalian sudah saling menyukai, lalu kurang apa lagi ? " Lanjut Dera dengan menggebu-gebu, dengan begitu dia tidak perlu repot-repot membuat Blair menjauh dari Dylan, karena orang lain yang akan melakukan itu untuknya, permainan yang bersih, begitu pikirnya.
Merasa mendapat suntikan dukungan Andromeda segera menghubungi ayahnya agar melanjutkan perjodohannya dengan Blair.
Akan serumit apa kisah cinta Dylan ? Apakah akan serumit tinky wingky ? Dipsy ? Lala ? Poo ? Tentu saja tidak, karena dia adalah nunu sang penyedot debu yang mampu menyedot masalah dan menelannya begitu saja tanpa masalah. Dia akan menyelesaikan masalah tanpa masalah.
Selamat membaca gengs, semoga suka dan sabar dengan alur ceritanya ya...
Seperti pepatah jawa alon-alon asal...
Terima kasih atas vote, like juga komentar positif kalian semua.
Salam hormatku,
Rizca Yulianah
__ADS_1
IG : Rizca Yulianah
FB : Rizca Yulianah