
Rai memasuki lift dan akan kembali ke kamarnya, ponselnya berdering, dia melihat layar ponselnya. Sekertaris Yuri.
" Ya ? " Tanya nya tegas.
" Aku batalkan semua rencana ku, meskipun seluruh keluarganya berlutut dan mencium kaki Ruby, aku tidak peduli lagi, hancurkan saja semuanya sampai tidak tersisa, ah ya dan kirimkan seseorang untuk mendandani Cecil, dia akan jadi bintang utama pada malam ini, kirimkan saja Huan dan asistennya, jangan lupa bagian tangannya, aku ingin mereka terlihat indah " Perintah Rai tegas kepada Yuri, sorot matanya mengisyaratkan kebencian dan dendam yang membara. Dia kemudian menutup telfonnya.
Sementara itu di sebuah gym, laki-laki yang sedang berolah raga mengangkat beban seberat 150kg, sedang menerima ponsel yang di serahkan oleh anak buahnya.
" Ya Tuan " Jawabnya hormat kepada si penelfon.
" Baik laksanakan tuan, kau ingin tangan yang mana ? Kanan atau kiri ? " Huan di seberang telfon menjawab perintah Yuri.
" Baik tuan saya akan melakukannya dengan sangat bersih dan rapi " Dia menganggukkan kepalanya tanda hormat kepada penelfon meskipun Yuri tidak bisa melihatnya.
Yuri menutup telfonnya, Huan menggelengkan kepala tidak percaya, dia mendapat perintah langsung dari Yuri, biasanya Yuri tidak akan repot-repot turun tangan jika hanya masalah wanita.
" Hei kalian cepat pergi ke hotel, dandani wanita bernama Cecil, sentuh hanya bagian tangan " Perintah laki-laki bertubuh kekar seperti petarung MMA itu, anak buah yang selalu berada di belakangnya itu pun terkejut karena mereka harus mendandani seorang wanita. Tapi tak urung perintah Huan tidak mungkin di bantah, dan mereka pergi menuju hotel.
🍁🍁🍁🍁
Cecil yang merasa di atas awan segera menelfon teman-temannya untuk menemaninya pergi berbelanja, mereka akan menuju butik seorang desainer terkenal untuk membeli gaun yang terbaik.
Huan dan anak buahnya yang sudah mengintai di luar hotel segera bersiaga untuk mengikuti kemana pun wanita itu pergi. Cecil yang baru saja melintasi pintu keluar hotel bersama dua orang temannya segera memasuki mobil yang telah di siapkan supir.
Mobil mereka melaju meninggalkan hotel, dan anak buah Huan mengikuti mereka dari jarak aman sampai mereka melalui sebuah jalanan sepi. Anak buah Huan menambah laju kecepatan mobil mereka, menyalip mobil yang di tumpangi Cecil dan berhenti mendadak di depan mobil mereka untuk menghentikannya.
Tapi naas bagi sopir Cecil yang tidak siap dengan situasi tersebut, meskipun sudah membanting setir ke arah kiri tapi tak urung tabrakan tidak bisa di hindari. Bagian depan mobil mereka menabrak bagian belakang mobil Huan. Cecil dan teman-temannya menabrak kursi penumpang di depan mereka.
" Aish sialan, berani-beraninya mereka berhenti mendadak " Geram Cecil kepada mobil Huan karena membuat kepala mereka terbentur.
__ADS_1
Huan dan anak buahnya turun menghampiri mobil Cecil. Seketika itu juga nyali ke empat orang itu ciut.
Huan mengetuk kaca jendela mobil Cecil. Mereka bergidik ngeri melihat tubuh dan wajah Huan dan anak buahnya.
" Hei Tuan apakah kau tidak ingin mengatakan sesuatu tentang itu ? " Tunjuk Huan ke arah mobilnya yang penyok akibat tabrakan.
Sopir itu membuka kaca jendela dengan takut. Wajahnya pucat dan tangannya gemetaran.
" Maafkan saya Tuan, saya tidak sengaja " Ucap sopir itu dengan terbata-bata dan menundukkan kepalanya.
" Maaf ? Baiklah, mari selesaikan secara kekeluargaan, mata di balas mata, tangan di balas tangan, itu baru namanya adil, bukan kah begitu tuan ? " Seringai Huan mengerikan.
Seluruh penumpang di mobil Cecil bergidik mendengar arti kekeluargaan menurut versi Huan. Cecil dan teman-temannya saling berpelukan merapat. Huan memberikan kode kepada anak buahnya, dan mereka segera pergi kembali menuju mobil untuk mengambil tongkat baseball yang terbuat dari besi.
Tanpa aba-aba mereka memukul mobil yang di tumpangi Cecil dengan membabi buta. Jeritan penumpang di mobil Cecil bersaut-sautan seiring dengan setiap hantaman yang di layangkan anak buah Huan ke mobil mereka. Hanya butuh beberapa menit mobil itu sudah penyok tak berbentuk.
" Ah maafkan anak buahku tuan, mereka sedikit kelewatan, bagaimana ini ? " Tanya Huan dengan nada khawatir tapi dengan seringai menyeramkan.
" Oh tidak bagaimana ini, kalian tidak bisa membuka pintu ini, lalu bagaimana kalian akan keluar ? " Huan berpura-pura terkejut.
" Baiklah, anak buahku akan membantu kalian, tolong kalian mundur " Perintah Huan kepada penumpang di dalam mobil. Mereka semua terlalu takut untuk bertanya tentang arti membantu menurut Huan. Dengan patuh yang terpaksa mereka mengikuti perintah Huan agar mundur sedikit.
Pyaaarrr !! Suara kaca jendela mobil yang pecah di bagian penumpang.
" Kemarilah nona-nona, aku akan membantu kalian keluar dari sana " Huan menawarkan bantuan dengan nada yang memerintah.
Cecil dan teman-temannya menggelengkan kepala takut, tidak ingin menerima bantuan dari Huan.
" Tidak mau ? " Huan mengartikan gelengan kepala mereka.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu, jalanan sekitar sini lumayan sepi, jadi tidak akan ada orang yang akan membantu kalian, kalau kalian menelfon polisi tentu juga akan memakan waktu, aku takut waktu kalian hanya sedikit sebelum mobil ini meledak dan membuat kalian menjadi daging panggang " Huan terkekeh melihat wajah para penumpang itu pucat pasi.
Lebih takut mendengar akan menjadi daging panggang Cecil pun memberanikan diri menerima tawaran Huan. Dia kemudian mengikuti intruksi Huan yang menyuruhnya keluar lewat jendela yang masih terdapat pecahan kaca tajam.
" Ini tidak muat " Cecil protes dengan terbata-bata.
" Benarkah ? Sepertinya kau harus mematahkan beberapa tulangmu agar bisa lewat " Ucap Huan ringan seperti itu bukan hal yang mengerikan.
Cecil yang mendengar itu semakin pucat, tapi tetap memaksakan dirinya keluar, meskipun harus tergores pecahan kaca di seluruh tubuhnya. Saat tangan kanannya berusaha meraih tangan Huan, dia dengan sengaja mencengkram tangan Cecil dengan keras, dan memelintir tangannya membuat Cecil berteriak saat merasakan pergelangan tangannya berbunyi keras tanda retaknya tulang yang ada di balik lapisan kulit itu.
" Ups maaf nona, aku tidak sengaja menarik tangan mu terlalu keras, lagi pula kenapa tangan ini kurus sekali, sekali tarikan saja pasti tangan ini lepas dari tubuhmu " Huan meminta maaf tapi semakin keras mencengkram tangan Cecil.
Cecil hanya bisa menangis tertahan, dia lebih takut pada ekspresi wajah Huan yang mengancamnya.
Setelah melalui satu jam yang penuh dengan ancaman dan menegangkan semua penumpang itu berhasil keluar dengan selamat tapi tentu saja dengan tubuh penuh luka, hanya Cecil yang terparah, karena dia harus mengalami patah tulang di bagian tangannya.
" Baiklah tuan dan nona-nona, aku rasa kita sudah impas dan sepakat menyelesaikannya secara kekeluargaan, jadi aku harap kita tidak melibatkan pihak berwajib, karena kalau sampai itu terjadi, maka bukan hanya pergelangan tanganmu yang akan patah, tapi leher indahmu yang berikutnya " Huan pamit pergi setelah meninggalkan ancaman yang tentu akan sangat di ingat mereka semua.
Rai yang sudah berada di kamarnya dan melihat Ruby sedang tidur bergelung selimut, berjalan mendekatinya.
Di pandangnya wajah istrinya yang sedang terlelap tidur, dia mengelus pipi kiri Ruby yang ditampar Cecil, bekas merah tamparan itu sudah sepenuhnya menghilang.
" Kenapa harus memilih jalan yang susah kalau kau bisa memilih jalan yang mudah, dasar keras kepala " Rai kemudian mencium kening Ruby yang masih terlelap.
Merasakan ciuman di keningnya Ruby pun membuka matanya, mengumpulkan kesadarannya. Di lihatnya Rai sedang tersenyum hangat menatapnya.
" Bangun lah Ani, kau harus melunasi hutangmu " Rai menggoda Ruby.
" Ani ? " Ruby bertanya heran.
__ADS_1
" Kau bisa memanggilku Rhoma kenapa aku tidak boleh memanggilmu ani " Rai menjawab ketus, melihat Ruby yang sudah membuka mulutnya akan protes, Rai segera menghadiahinya dengan ciuman.
Ronde ke 4 di mulai.