
Bel masuk yang berbunyi itu menjadi pemisah antara Dera dan Dylan. Tanpa memberikan Dera kesempatan untuk membela diri lebih lanjut, Dylan meninggalkannya begitu saja dalam keadaan bengong. Malu bercampur syok.
Sementara itu barisan para penggemar Blair yang menjadi situasi new normal bagi Dylan juga sudah mulai membubarkan diri dan hanya tersisa beberapa yang masih sibuk mengantri meminta tanda tangan Blair.
" Terima kasih " Ucap seorang gadis saat menerima kembali buku catatannya yang telah di tandangani oleh Blair.
" Sama-sama " Jawab Blair sembari tersenyum memamerkan 2 gigi kelinci depannya yang membuatnya terlihat sangat manis.
Gadis terakhir dari pengantri itu pun telah pergi, berbarengan dengan Dylan yang sedang menarik kursinya dan kemudian duduk.
" Bagaimana keadaan Dera ? " Tanya Blair penasaran begitu Dylan sudah selesai meletakkan tasnya.
" Biasa saja " Jawabnya malas.
" Dia sakit apa ? " Kejar Blair masih penasaran.
Terakhir kali dirinya yang pingsan, Dylan menganggapnya terkena penyakit jantung dan tiba-tiba berubah sangat manis padanya. Jadi dia juga ingin tau apakah Dylan juga akan merubah sikapnya pada Dera, karena kalau sampai itu terjadi, mungkin saja dia bisa tidak terima.
" Sakit hati mungkin " Jawab Dylan asal, mengeluarkan buku catatannya dari dalam tas.
Sakit hati ? Sakit hati yang bagaimana ? Hatinya yang sakit atau sakitnya di hati ?
Batin Blair bertanya-tanya sendiri. Sakit hati karena perasaan atau organ hatinya yang sakit.
" Sakit ba... " Tanya Blair buru-buru, namun helaan napas jengah dari Dylan membuat Blair menghentikan ucapannya. Sepertinya bukan saat yang tepat bertanya begitu pada Dylan, pikir Blair lalu menutup mulutnya rapat-rapat dan ikut mengeluarkan buku catatannya.
" Pukul berapa kau bisa nonton ? " Tanya Dylan mengalihkan pembicaraan.
Blair yang sedang berpura-pura sibuk dengan buku catatannya itu langsung menoleh ke arah Dylan dengan semangat. Baginya suasana hati Dylan seakan menjadi semacam cambukan untuknya, memicu adrenalinenya naik turun.
" Terserah kau jam berapa " Jawabnya bersemangat.
" Aku be... " Tiba-tiba saja dia teringat jadwal pemotretannya di akhir pekan.
" Kenapa ? " Tanya Dylan begitu melihat Blair tidak menyelesaikan jawabannya.
" Hari minggu aku ada pemotretan " Ucapnya memelas dengan wajah menggemaskan.
" Tidak apa-apa, selesai pemotretanmu saja kita nonton filmnya " Jawab Dylan santai.
" Apa tidak bisa nonton di tempat kost kak Sofia saja ? Kan lumayan gratis " Jawab Blair.
Glek !! Dylan yang sedang sibuk menulis sesuatu di buku catatannya itu langsung berhenti begitu mendengar kata kamar kost.
Bayangan terliarnya kembali memutarkan sepenggal adegan mesra antara Rai Ruby serta Ken Kiran yang di lihatnya semalam.
Dylan berusaha menyingkirkan bayangan-bayangan itu dari kepalanya, tapi tidak bisa di pungkiri dia remaja yang sedang dalam masa puber. Berduaan dengan seorang gadis di sebuah kamar sempit dan suasana yang mendukung pasti membuatnya membayangkan sesuatu yang mungkin menjurus ke arah sana. Lagipula dia laki-laki normal dan sehat jasmani juga mental, bohong jika dia bilang bisa menjamin seratus persen tidak akan terhanyut dalam suasana kalau nanti mereka benar-benar akan menonton di kamar kost.
Terima saja tawarannya...
Bisikan halus di telinga Dylan itu terus merayunya dengan syahdu.
" Hei " Dylan terkesiap melihat jentikan jari Blair di depan wajahnya. Rupanya dia larut dalam lamunan sesaat.
" Tumben kau melamun, biasanya aku yang melamun. Ada apa ? " Lanjut Blair bertanya.
" Siapa yang melamun " Kilah Dylan menundukkan wajahnya yang pasti sudah merona malu. Dan segera memasang tampang seriusnya lalu berpura-pura kembali menuliskan sesuatu di buku catatannya.
" Aku sedang memikirkan tugas-tugas sekolah tau. Memangnya kau yang tukang melamun tidak jelas " Lanjutnya membalik keadaan.
" Huh dasar mau menang sendiri " Cibir Blair ketus.
Dylan menghela napas dan melirik Blair yang sedang memberengut kesal sembari memanyunkan bibirnya.
Dia menutup buku catatannya kemudian memiringkan tubuhnya, menumpukan sikunya pada meja lalu menyanga pelipisnya dengan pergelangan tangannya. Menatap Blair dengan tersenyum simpul, gemas melihat tingkah Blair.
" Siapa yang mau menang sendiri ? " Tanya Dylan lembut.
" Kau " Jawab Blair kesal.
" Kalau aku yang melamun kau pasti mencibirku dan tidak percaya saat aku bilang aku tidak melamun, tapi saat kau yang melamun dan tidak mau mengaku tetap juga aku yang kalah " Jelas Blair dengan mencebikkan bibirnya.
" Cih " Cibir Dylan menahan senyumannya.
" Ya sudah aku melamun, kau menang sekarang " Jawabnya mengalah.
" Tidak terima kasih " Ucap Blair masih kesal.
" Ya sudah kalau begitu " Dylan mengedikkan bahunya lalu kembali menghadap ke depan.
" Ya kan kau tetap tidak mau mengalah, menyebalkan " Blair yang kesal memukul lengan Dylan berulang kali.
" Aw.. sakit " Dylan meraih tangan Blair untuk menghentikannya.
" Iya iya maaf ya neng " Masih dengan menggenggam tangan Blair, Dylan menatapnya lembut.
" Jadi jam berapa kau bisa nonton filmnya ? " Tanyanya lagi.
Tangannya kondisikan... tangannyaaa !! Jangan sampai aku meleleh seperti es cream di musim panas.
Batin Blair panik sendiri melihat tangannya yang terus di genggam oleh Dylan, seakan belum cukup membuat jantungnya berdisko, Dylan malah mengelus punggung tangan Blair dengan ibu jarinya dengan santainya. Jantung Blair ? Sudah jangan di tanya lagi kabarnya, stadium akut.
" A-aku belum tau, pemotretannya bisa saja lama " Jawabnya tergagap dengan pandangan mata yang terus tertuju pada genggaman tangan mereka, tenggorokannya tercekat, dia berusaha mengatur napasnya yang sesak karena debaran jantungnya yang di luar normal. Dia lalu menggelengkan kepalanya dengan kuat dan menatap wajah Dylan.
" Kan sudah ku bilang nonton di kamar kost kak Sofia saja sepulang sekolah, bagaimana ? " tawarnya lagi mengalihkan perhatiannya sendiri.
" Ck " Dylan berdecak dan membuang mukanya.
Itu lagi yang di bicarakan si Oneng.
Batinnya kesal sendiri, andai saja Blair tau saat ini Dylan sedang berusaha sangat keras mengalihkan pikirannya dari bayangan-bayangan mesra kedua kakaknya dan itu tidaklah mudah.
__ADS_1
Selama ini dia biasa saja melihat sikap Rai atau Ken yang mengumbar kemesraan mereka dimana saja di setiap sudut rumah atau bahkan di hadapannya, dia sama sekali tidak terpengaruh dan pikirannya masih bersih suci.
Tapi begitu mendengar tawaran Blair perihal kamar kosong, mendadak seluruh gambaran Rai dan Ruby yang sedang berciuman terputar di kepalanya silih berganti. Membuat suatu perasaan berdesir aneh yang menggerayangi tubuhnya.
Jika sekali lagi Blair menawarkan hal itu, mungkin runtuh sudah pertahanan dirinya. Bisa dipastikan dia akan mengangguk dengan bersemangat menyetujui ide gila Blair, gila menurut pikirannya sendiri karena yang dia tau Blair terlihat polos saat menawarkan nonton di kamar kost yang kosong. Tentu saja pikiran oneng Blair hanya sebatas nonton lalu mengerjakan tugas sekolah, simple.
" Kita nonton di bioskop saja ya " Tolaknya lembut, membuat suara bisikan halus itu melenguh panjang sebagai tanda penyesalan. Yaaah tidak seru, begitu kiranya suara itu menggaungkan protesnya.
" Tapi kan kalau nonton di bioskop harus terbatas waktu, aku tidak bisa " Blair kembali memberengut kecewa melihat keteguhan sikap Dylan.
" Akan ku pastikan filmnya di putar sesuai jadwal kosong mu " Jawab Dylan lembut sembari menepuk-nepuk punggung tangan Blair.
" Caranya ? " Tanya Blair sangsi.
" Aku akan meminta tolong pada teman ku " Jawab Dylan santai.
" Ada yang gratisan kenapa harus bayar sih, kan sayang uangnya " Decaknya malas.
" Sayang ? " Ulang Dylan heran.
Namun dasar hati Blair yang sedang di mabuk kepayang, mendengar kata sayang di ucapkan oleh Dylan malah membuatnya semakin gelisah meski dia tau sayang yang di maksud Dylan bukanlah panggilan mesra untuknya. Dengan malu dia menundukkan wajahnya, menggigit bibir bawahnya agar tidak berteriak histeris.
" Ya-ya k-kan sayang, uang untuk membeli tiket bisa untuk membeli makanan saja, jadi bisa lebih hemat " Jawab Blair setelah sedikit berhasil menguasai perasaannya.
Di pikiran Blair, Dylan adalah anak sebatang kara yang tidak jelas asal pendapatan keuangannya dari mana, jadi jalan2 serta nonton bioskop sudah bisa di pastikan akan memakan biaya yang tidak sedikit, terlebih lagi setelah melihat uang Dylan hanya berupa lembaran seribuan, semakin membuatnya sungkan jika berurusan dengan Dylan masalah yang berbau-bau uang.
" Ku beri tahu ya " Dylan mencondongkan tubuhnya, mendekat ke arah telinga Blair.
" Tiketnya gratis " Bisik Dylan menggoda Blair.
" Benarkah ? " Pekik Blair hampir berteriak, namun buru-buru dia menutup mulutnya sendiri.
" Cih " Dylan tersenyum melihat mata Blair yang berbinar-binar kala mendengar kata gratis.
" Kau ini kan artis, tapi senang yang gratis-gratis " Cibir Dylan sembari menegakkan punggungnya.
" Justru karena aku artis, sudah bisa mencari uang sendiri makanya aku suka dengan yang gratisan " Jawabnya bersemangat.
Kau tidak tau saja bagaimana susahnya aku mengumpulkan uang untuk membeli kebebasanku sendiri, jadi kalau aku tidak berhemat maka semakin lama juga aku akan bebas dari penjara papa.
Batinnya memelas namun dengan wajah tersenyum girang.
" Oh ya ? " Goda Dylan.
" Tentu saja, kalau kau mau konsultasi bagaimana caranya mengatur keuangan, jangan sungkan-sungkan, akan ku berikan semua tips mengelola keuangan ala Blair " Jawabnya sombong membusungkan dada.
" Wah wah sepertinya kau sudah siap menjadi istri yang baik ya " Puji Dylan mengangguk-anggukan kepalanya.
" Tentu saja dong " Jawab Blair masih pongah.
Eh ? Istri ? Kok tiba-tiba ? Apa dia sudah berpikir ke arah sana ? Dengan Raline ? Tidak !! Jangan dulu, jangan menikah dulu.
Batinnya panik, tapi belum lagi Blair mengeluarkan pertanyaan terkait hal itu, guru pelajaran di jam pertama telah memasuki ruangan, membuat Dylan langsung mengembalikan tangan Blair yang masih di genggamnya ke pangkuan Blair lalu membalikkan badannya bersiap menerima pelajaran.
Ternyata dia sedewasa itu, pantas saja dia sangat sabar dan juga perhatian. Rupanya dia sudah menyusun tujuan hidupnya sampai sejauh itu, sedangkan aku membeli apartemen saja sampai sekarang masih belum bisa, padahal aku sudah sangat berhemat. Apa ada yang salah ya dengan otak ku.
Batin Blair kemudian tanpa sadar menghela napas dan melengkungkkan punggungnya untuk menyandarkan kepalanya di atas meja.
Memangnya dia tidak ingin kuliah ya, kok sudah memikirkan tentang pernikahan ?
Batinnya semakin memelas.
Dylan yang melihat tingkah antik Blair itu mengernyitkan keningnya bingung.
Kenapa lagi si oneng ini ?
Batinnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir melihat tingkah laku Blair, bukannya mendengarkan pelajaran malah tidur. Pantas saja nilai ujian matematikanya dua puluh lima, pikir Dylan gemas sendiri.
Namun Dylan kembali memusatkan pikirannya untuk lima belas menit jam pelajaran yang tersisa baru dia akan menginterogasi Blair kemudian.
" Jangan lupa kerjakan PR nya dan di kumpulkan di pertemuan berikutnya " suara keras guru mengakhiri pelajaran. Semua murid langsung menghela napas lega begitu sang guru telah meninggalkan kelas.
Masing-masing mereka merenggangkan tangan dan juga punggung untuk sedekar mengusir pegal karena terlalu serius mendengarkan penjelasan dari guru. Lalu sembari menunggu guru jam pelajaran berikutnya, mereka sudah larut dalam kegiatan masing-masing. Mengobrol atau sekedar bermain ponsel.
Dylan menutup buku catatannya dan memasukkannya ke dalam tas lalu mengeluarkan buku catatan pelajaran yang berikutnya.
Di liriknya Blair yang masih tetap dalam posisinya semula, lesu tak bersemangat.
Sejenak Dylan merasa ragu untuk menanyainya, dia merasa mungkin saja itu hal yang bersifat pribadi Blair jadi dia menahan dirinya sendiri agar jangan sampai melewati batasannya sebagai teman.
" Blair... " Bella yang duduk di depan bangkunya itu membalikkan badan untuk menyapanya.
" Hemm... " Jawabnya lesu tanpa mengangkat kepalanya.
" Boleh aku bertanya bagaimana caramu make up untuk pergi ke pernikahan ? " Tanyanya dengan riang, mengabaikan lawan bicaranya yang sudah seperti seonggok sayuran yang layu.
" Ya boleh " Jawab Blair masih dengan lesu.
" Kalau boleh bisa sekalian kau membuat tutorialnya di depan ku biar aku lebih paham " Lanjut Bella.
" Hemm besok akan ku tunjukkan padamu tutorialnya " Masih tanpa semangat Blair mengiyakan permintaan Bella.
" Minggu besok saudara ku akan menikah, jadi aku ingin terlihat cantik di acara pernikahannya " Dasar Bella yang tidak pernah peka, dia terus saja bercerita meski di abaikan oleh Blair.
" Siapa yang menikah ? " Merry teman sebangku Bella menyauti, ikut-ikutan membalikkan badannya menghadap ke arah Blair.
" Kak Dio " Jawab Bella santai.
" Kak Dio ? Kak Dio yang tampan itu ? " Pekik Merry terkejut.
Berisik.
__ADS_1
Batin Dylan dan Blair berbarengan, namun mereka tetap mempertahankan posisi mereka masing-masing.
" Iya memangnya aku punya saudara Dio berapa " Jawab Bella berdecak sambil memutar bola matanya.
" Hei bukankah dia baru lulus sekolah tahun kemarin dan itu juga baru beberapa bulan yang lalu kan ? " Merry menggerak-gerakkan jarinya untuk menghitung.
" Iya aku juga heran dia membuat keputusan sebesar itu di usianya yang masih muda " Jelas Bella ikut berpikir.
Percakapan keduanya mau tidak mau juga terdengar oleh telinga Blair dan Dylan, Blair yang semula mengabaikan saja sekarang ikut menajamkan pendengarannya. Sedangkan Dylan lebih memilih menganalisa kejadian kasus yang sedang mereka gosipkan dari balik buku yang di bacanya.
" Memangnya kenapa dia buru-buru menikah ? " Tanya Merry antusias.
" Tidak tau, kemarin lusa saat om dan tante datang kerumah untuk mengantarkan undangan mereka tidak menjelaskannya " Jelas Bella mengedikkan bahunya.
" Apa kekasihnya masih tetap yang waktu itu ? " Tanya Merry penasaran.
" Iya masih tetap sama, kenapa memangnya ? " Tanya Bella bingung.
" Siapa namanya ? " Merry mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke atas meja berusaha mengingat-ingat.
" Rindy " Jawab Bella.
" Oh ya kak Rindy, jadi.... " Lanjut Merry berkomentar dengan hebohnya.
Jleb !! Bahan gosipan antara Merry dan Bella membuat jantung Blair berdenyut nyeri. Dio dan Rindy. Dylan dan Raline, begitulah otaknya menyama-nyamakannya. Di kepalanya langsung saja tergambar jelas wajah Dylan dan Ruby, yang di sangka Blair adalah Raline, sedang berbahagia mempersiapkan pesta pernikahan. Dia semakin mengkerut lesu.
" Hemm ini akibatnya kalau kau memiliki hubungan dengan orang yang lebih tua, salah satu pihak pasti sudah berpikiran ke arah sana " Cibir Merry.
Bagaikan perasan air lemon di tumpahkan ke dalam luka, hati Blair yang semula sudah berdenyut nyeri sekarang semakin bertambah sesak mendengar sekelumit penggalan gosip itu.
Jadi kekasih si Dio ini lebih tua darinya ? Kenapa situasinya persis sekali.
Teriak Batin Blair meronta-ronta tidak terima.
" Haah !! " Tiba-tiba saja Merry memekik, membuat Bella berjengit kaget dan Blair semakin menajamkan pendengarannya.
" Apa ? Kau ini bikin kaget saja " Omel Bella ketus seraya memukul lengan Merry.
" Jangan-jangan Kak Rindy sedang hamil " Bisik Merry dengan suara yang terdengar meyakinkan.
" Tidak boleh !!! " Blair langsung bangkit berdiri dari posisi duduk lesunya dan berteriak, suaranya menggema di seluruh penjuru kelas yang lumayan ramai. Semua murid langsung terdiam begitu mendengarnya dan menoleh ke arah Blair, menatapnya dengan bingung. Dylan yang juga ikut terkejut itu mendongak melihat Blair.
" Kau kenapa Blair ? " Tanya Bella bingung, begitu juga dengan Merry.
" Apanya yang tidak boleh ? " Merry ikut menimpali.
Sadar diri telah melakukan kekonyolan, Blair tersenyum kikuk menghadap seluruh teman-temannya.
" Maaf ya... maaf " Ucapnya sungkan menundukkan kepala. Kemudian kembali menghembaskan dirinya di kursi dan bersandar.
" Tidak apa-apa, lanjutkan saja bergosipnya " Jawabnya sungkan.
Aish bikin malu saja !! Ini semua karena Dio dan Rindy, siapa sih mereka itu !!
Rutuknya dalam hati.
Dylan yang memang sudah terbiasa menghadapi tingkah aneh Blair hanya tersenyum dan kembali melanjutkan kegiatannya.
" Selamat pagi anak-anak " Suara Guru di depan sana membuat semua murid kembali terdiam dan menghadap ke depan, begitu juga Bella dan Merry, tapi tidak dengan Blair, dia malah membenamkan wajahnya di atas meja, sibuk mengusir bayangan Dylan yang sedang mengenakan setelan jas pengantin.
Satu jam pelajaran kedua di lalui Blair dengan suasana hati yang buruk, sepanjang jam pelajaran dia terus membenamkan wajahnya dan mengabaikan penjelasan guru. Pun saat bel istirahat berbunyi yang menandakan berakhirnya jam pelajaran kedua, dia tak kunjung mengangkat wajahnya.
Yang dia inginkan saat ini adalah pulang dan membaringkan dirinya di atas ranjangnya yang aman dan nyaman, kemudian menumpahkan segala kekesalan juga kegundah gulanaanya hatinya. Berteriak sekencang-kencangnya atau menangis sejadi-jadinya.
Dylan yang melihat Blair masih tidak mau mengangkat wajahnya mengira jika Blair sedang tidak enak badan. Tanpa bersuara dan dengan gerakan sepelan mungkin dia mendorong kursinya mundur, kemudian menyusup keluar.
Dia berniat membelikan sesuatu untuk Blair dan juga mengambil beberapa obat-obatan dari uks untuknya.
" Blair ? " Sebuah suara membuyarkan pikiran negatif Blair, membuatnya mendongak.
" Dera " Sapanya lesu.
" Kau kenapa ? " Tanya Dera bingung melihat wajah Blair yang kusut kehilangan cahaya keartisannya yang biasanya bersinar dimanapun dan kapanpun.
" Tidak apa-apa " Jawabnya masih lesu.
" Dylan mana ? " Tanya Dera lagi.
Blair menolehkan kepalanya ke arah bangku Dylan dan mendapatinya sudah kosong.
Sejak kapan dia pergi ? Kok aku tidak tau ?
Batinnya sendiri ikut bertanya.
" Tidak tau, mau menikah mungkin " Jawabnya asal lalu kembali membenamkan wajahnya.
" Me-menikah ? " Tanya Dera kikuk.
" Kau ini bicara apa sih ? " Lanjutnya bingung. Blair mendongakkan kepalanya menatap Dera.
" Ya mana ku tau kalau dia punya pikiran seperti itu, tiba-tiba saja membahas soal istri. Salah sendiri menjalin hubungan dengan perempuan yang lebih tua, jadinya seperti ini kan, dia pasti di desak menikah oleh Raline " Omelnya ketus lalu pergi begitu saja meninggalkan Dera yang semakin di rundung tanda tanya besar di kepalanya.
Ti-tidak mungkin kan ? Di-dia pasti bercanda.
Batin Dera syok dan jatuh terduduk di kursi.
Pantas saja sikap Dylan selama ini sangat dingin padanya dan seolah menutup semua akses bagi dirinya untuk mendekati Dylan, ternyata karena dia sudah sangat serius dengan Raline kekasihnya, setidaknya begitulah otak Dera yang cerdas mencerna penjelasan Blair.
Tidak boleh terjadi.
Tekadnya dalam hati.
__ADS_1
Kisah cinta Blair yang rumit di penuhi kesalah pahaman itu pun menular kepada Dera yang tidak tau apa-apa dan menelan bulat-bulat informasi yang di berikan oleh Blair. Tapi bukan Dera namanya jika tidak bertekad menjadi duri dalam durian dari awal sampai akhir.
Dia adalah orang yang bertekad baja, bahkan untuk hal yang satu itu. Menjadi pihak ketiga dengan totalitas penuh, begitulah pandangannya bekerja.