
" Aku sudah menyuruh seseorang untuk mengawasinya 24 jam, menyadap telfonnya agak sedikit rumit karena harus berurusan dengan kepolisian, aku rasa itu juga membutuhkan waktu yang lama, jadi untuk sementara kita lakukan ini saja " Ken menyarankan kepada Rai.
Mereka sedang duduk di ruangannya untuk membahas masalah Ignes.
" Aku akan menghubungi ayah untuk memecatnya, aku tidak ingin melihatnya lagi disini " Rai memberitahukan Ken.
" Aku rasa itu bukan pilihan tepat saat ini, mengingat kita tidak bisa menyadap telfonnya, aku merasa kita harus tetap berdekatan dengannya, karena itulah cara satu-satunya melihat langkah apa yang akan dia ambil " Ken memberikan saran.
" Aku juga berfikir begitu, semakin berbahaya tempat untuk bersembunyi maka akan semakin aman pula. Kalau kita berada di dekatnya mungkin akan berbahaya, tapi kita bisa memprediksi langkah-langkah yang akan di ambilnya, jadi kita bisa mengantisipasi, tapi aku juga tidak ingin membuat Ruby dalam bahaya " Rai berargumen.
" Untuk sementara biarkan berjalan seperti ini, dan saat kakak ipar pulang kerja, berikan dia mobil jemputan. Mungkin akan terlalu mencolok kalau hanya untuknya, jadi adakan saja mobil jemputan khusus karyawan, dengan begitu orang lain tidak akan curiga " Ken memberikan ide.
" Akan lebih mudah mengakui kalau dia istriku, maka semua akan beres, tidak ada yang akan berani menyentuhnya " Rai kesal sendiri.
" Kau salah, semua masalah ini adalah karena pernikahan kalian terbongkar, siapa yang tau di luar sana akan ada banyak Ignes-Ignes yang bermunculan dan merencanakan sesuatu seperti ini kalau kau mempublikasikan pernikahan kalian, kau beruntung hanya Ignes yang tau untuk saat ini " Ken menyanggah.
" Sial, harusnya ini sangat mudah untuk ku, aku hanya perlu melenyapkan Ignes dan semua akan selesai " Rai mengutuk Ignes.
" Kau tau ayah tidak akan setuju, kita tidak akan mengibarkan bendera perang dengan siapapun sampai mereka yang menyerang duluan " Ken mengingatkan.
" Cih " Rai mencibir, dia memalingkan wajahnya. Kesal karena semua pendapat Ken benar adanya.
" Kakak Ipar meminta ganti ponselnya, dan dia juga meminta izin untuk menghadiri pesta pak Hong " Ken menginformasikan.
" Dia sedang tidak dalam posisi bisa seenaknya keluar rumah " Rai menolak.
" Kalau kau tidak bisa mengantarnya, aku saja yang akan mengantarnya. Biarkan dia menikmati waktunya bersama teman-temannya, jangan terlalu mengekangnya. Semua masalah ini pasti berat untuknya, jadi biarkan dia sedikit bersenang-senang " Ken memberikan saran.
" Tidak mau, dia harus selalu berada dalam jangkauan ku saat ini " Rai menolak.
" Setidaknya lakukan ini demi junior " Ken berusaha membujuknya.
" Baiklah baiklah, antarkan dia tapi pastikan si bule itu tidak akan mendekatinya " Rai menyerah, dia menjawab ketus.
" Tenang saja " Ken menjanjikan.
Semua divisi cleaning service sedang berkumpul saat ini di ruangannya. Mereka bersiap-siap akan pulang. Pak Hong mengumpulkan mereka untuk memberitahukan tentang pestanya.
" Kalian boleh mengajak kekasih dan suami kalian, aku sudah menyewa sebuah restoran kecil untuk berpesta, kita juga akan berkaraoke sampai puas " Pak Hong bersemangat menjelaskan.
" Waaahh " Semua antusias mendengar penjelasan pak Hong.
Ruby juga sangat antusias, selama ini hidupnya hanya dia habiskan untuk bekerja mencari uang, jadi dia tidak pernah berpesta sebelumnya. Dan saat sudah menikah dengan Rai dia malah harus terkurung di mansion dan disini.
" Ruby datanglah " Daniel berbisik padanya.
" Baiklah aku usahakan nanti " Ruby menjawab ragu-ragu, dia belum mendapat izin dari Rai.
" Apa kau ingin aku menjemputmu ? Atau memintakan izin pada ayahmu ? " Daniel menawarkan.
" Tidak perlu, kalau memang boleh aku akan langsung kesana, kau juga langsung kesana saja " Ruby menjawab santai.
__ADS_1
Jam kerja sudah habis, mereka bubar dan menuju ruang loker untuk berganti pakaian. Ruby bergegas ganti pakaian dan akan ke ruangan Rai untuk meminta izin, dia sangat ingin pergi ke pesta.
Pintu lift terbuka, dia segera keluar dan menuju ruangan Rai. Mengetuk pintunya dan tanpa menunggu jawaban dia membukanya.
Rai dan Ken masih berada di sana. Mereka menoleh ke arah Ruby. Dia berjalan mendekat, Rai yang melihatnya mendekat segera menarik tangannya membuat Ruby jatuh terduduk di pangkuannya.
" Baiklah aku pulang dulu, aku tidak ingin melihat kalian beradegan mesum di depanku " Ken menyindir mereka.
" Hei siapa yang beradegan mesum " Ruby mengelak.
" Sudahlah jangan mengelak, kita semua keluarga mesum, akui saja itu hahaha " Ken berdiri dan pergi meninggalkan ruangan.
" Kau sudah selesai ? Apa aku menganggu rapat kalian ? " Ruby bertanya pada Rai yang sekarang sudah melingkarkan pelukannya ke pinggang Ruby.
" Kau mungil sekali ternyata " Rai mengabaikan pertanyaan Ruby, dia mulai menciumi pipi Ruby.
" Aku ingin meminta izinmu untuk menghadiri pesta pak Hong, boleh ya ? Ya ? Ya ? Ya ? " Ruby merayu dan bersikap imut, dia melingkarkan lengannya ke leher Rai.
" Kalau aku bilang tidak boleh apa kau akan mendebatku ? " Rai bertanya, tangannya mulai menyusup ke balik baju Ruby.
" Tentu saja, dan aku tau pasti aku akan kalah berdebat denganmu " Ruby menjawab sedih.
" Baiklah pergilah ke pesta itu, tapi ajak Ken bersama mu, biar dia menjaga mu " Rai mengizinkan.
" Benarkah ? Sungguh ? Kau tidak berbohong ? " Ruby berteriak tidak percaya.
" Apa kau senang ? " Rai bertanya, baru kali ini dia melihat ekspresi bahagia yang tidak di buat-buat dari Ruby.
" Baiklah kalau begitu mana imbalan ku ? " Rai bertanya pada Ruby.
Ruby kemudian menciumi seluruh wajah Rai. Dia berhenti sebelum mencium bibirnya. Menatap Rai dalam.
" Aku sangat mencintaimu " Ruby menyatakan perasaannya. Dia kemudian mencium bibir Rai lama dan dalam.
Rai membalas ciuman itu, mereka berciuman dengan mesra. Tangan Rai yang menyusup di balik baju Ruby mulai menjelajahi tubuhnya. Membuat tubuh Ruby merespon geli. Rai mencium Ruby lebih dalam lagi, melepaskan semua perasaan nafsunya yang tertahan.
" Sayang aku ingin melakukannya " Rai meminta izin Ruby. Dia hanya menjawab dengan anggukan dan tersenyum.
Mereka menghabiskan sisa sore di ruangan Rai, menunggu club sepi sebelum akhirnya pulang bersama dalam satu mobil.
🍁🍁🍁🍁🍁
" Sayang mana yang harus ku pakai ? Ini atau ini ? " Ruby bertanya pendapat Rai tentang pakaiannya.
" Pakai apapun yang membuatmu terlihat jelek, memangnya kau mau berdandan untuk siapa ? Tidak ada aku disana " Rai menjawab malas.
" Cih " Ruby mencibir.
" Semua baju di lemari bagus-bagus, dan jangan salahkan aku kalau wajahku cantik, membuat apapun yang ku pakai terlihat indah " Ruby menyombongkan dirinya.
" Sudahlah pakai yang biasa saja, dan ingat pesanku, jauhi bule itu " Rai mengancam.
__ADS_1
" Bagaimana aku bisa tertarik pada bule itu kalau aku punya suami setampan dirimu " Ruby merayu Rai yang terlihat kesal.
" Cih " Rai memalingkan wajahnya yang merona.
" Aduh gantengnya suami ku " Ruby merayu Rai lagi yang terlihat malu.
" Ehem ehem " Rai berdehem untuk menyembunyikan tawanya.
" Sudahlah cepat sana pergi, jangan pulang terlalu malam, mengerti ? " Rai memerintah.
" Siap kapten " Ruby membuat sikap hormat ala militer.
Ruby pergi ke lantai bawah dengan di antar oleh Rai, Ken sudah menunggunya di pintu utama. Melihat Ruby datang Ken membuka pintu mobil untuknya. Ruby mencium bibir Rai sebelum masuk ke mobil. Ken yang melihat adegan ciuman itu hanya bisa tersenyum lebar.
Ken melajukan mobilnya menuju sebuah restoran kecil yang merangkap tempat karaoke. Pak Hong menyewanya untuk semalam. Mereka semua akan berpesta sampai pagi.
Ruby dan Ken tiba agak terlambat karena Rai yang menahannya. Melihat Ruby datang semua terkejut, apalagi bersama seorang laki-laki. Pak Hong mempersilahkan mereka duduk.
Tina menghampiri Ruby dan heran bagaimana Ruby bisa datang, dan bertanya siapa Ken sebenarnya.
" Dia adik Rai, aku boleh datang karena dia ikut dengan ku " Ruby berbisik di telinga Tina, dia hanya mengangguk paham dengan penjelasan Ruby.
Mereka semua salah paham dan mengira Ken adalah kekasih Ruby. Daniel yang melihat itu merasa kesal.
Dia menarik Ruby agak menjauh, dia akan berbicara empat mata dengannya.
" Ruby aku ingin bicara denganmu " Daniel memulai.
" Bicaralah " Ruby menjawab santai.
" Apa dia kekasihmu ? " Daniel bertanya tanpa basa basi.
" Ah bukan kami hanya dekat, dia tidak mungkin menyukai ku " Ruby menjelaskan.
" Kenapa tidak mungkin ? " Daniel bertanya heran.
" Dia tidak akan berani " Ruby menjawab asal, dia tidak mungkin menjelaskan kalau Ken adalah adik iparnya.
Daniel yang mendengar jawaban Ruby mengangguk paham, dia mengira Ken tidak berani mengungkapkan perasaannya.
Baiklah aku akan mengungkapkannya padamu malam ini.
Daniel mengangguk yakin.
Pyaarrr !!! Bu made menjatuhkan gelas dan membuatnya pecah berantakan. Semua menoleh ke arah bu Made.
" Itu itu itu " Bu Made terbata- bata menunjuk arah pintu masuk di belakang punggung mereka.
Mereka semua menoleh ke arah yang di tunjuk bu Made.
" Haaaahh !!!! " Semua kompak terkejut dan menutup mulut mereka.
__ADS_1