Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Cemburu ( Sesion ke 2 )


__ADS_3

" Kau sedang bicara apa nona muda ? " Rai berpura-pura kejam, nada suaranya di buat semenyeramkan mungkin.


" Apa ? " Ruby bertanya heran dengan sikap Rai.


Hahaha... dia sangat pendendam sekali, dia pasti ingin membalasku karena menggodanya terus.


Ruby tersenyum kaku melihat Rai yang tidak membalas pengakuannya.


" Baiklah semuanya abaikan fans berat saya di arah sini, yah aku tau memang tidak mudah menolak pesona ku sebagai lelaki tampan " Rai menyombongkan dirinya sendiri.


Ruby memutar bola matanya, memalingkan wajahnya melihat teman-teman lain di divisinya yang sedang berbaris.


Mereka juga pasti sama muaknya melihatmu senarsis itu.


Ruby tersenyum mencibir.


Tapi dia terkejut, ternyata para pegawai wanita menatap Rai dengan mata berbinar-binar saat Rai mengatakan itu. Dia kesal dan menoleh ke arah Rai yang sedang tersenyum membuat wajah sok imut.


Tidak, dia memang terlihat tampan. Tapi apa kau harus menunjukkan pesona mu itu di depan semua orang. Awas kau.


Ruby memandang tajam Rai, dia terbakar cemburu.


" Ehem ehem " Ruby berdehem.


" Big Bos apakah apel pagi ini sudah selesai ? Atau kami masih harus mengamati wajah tampan mu itu ? " Ruby bertanya menahan geram, menekankan kata tampan dan memelototkan matanya pada Rai.


" Baiklah saya sudahi apel pagi kali ini, jaga semangat kerja kalian, disiplinlah selalu dan berhati-hati dalam bekerja, bagaimana pun keselamatan adalah yang utama " Rai memberi pengarahan dan meninggalkan ruangan cleaning service dengan tersenyum puas karena berhasil membalas telak godaan Ruby.


" Whoah di sangat tampan, hari apa ini ? Kenapa dia sangat berbeda, biasanya aura di sekitarnya sangat menyeramkan, tapi kali ini dia terlihat sangat manis, apalagi saat tersenyum. Aku meleleh " Mey memuji Rai tak habis-habisnya.


" Benar hari ini dia begitu manis dan imut, ternyata dia bisa tersenyum dan bertingkah imut begitu " Tina juga memuji Rai antusias.


" Melihatnya bertingkah seperti itu semakin membedakan kelasnya dengan kita, lihatlah dia saat bersikap tegas dia sangat berwibawa, tapi saat bersikap imut dia bisa mengalahkan semua pesona yang ada " Anton menimpali kagum.


Ruby terbakar cemburu melihat semua pegawai memuji Rai berlebihan, dia tidak suka.


" Aku harap wanita yang menjadi istrinya kelak adalah wanita keturunan kerajaan yang cantik dan anggun, itu akan sepadan dengan penampilan tuan Rai yang berwibawa " Bu made ikut-ikut memujinya.


" Memangnya kenapa kalau yang jadi istrinya wanita biasa ? " Tina tiba-tiba protes ketus.


Ruby terkejut dan bersiaga, mulut ember Tina selalu bisa bocor kapan saja.

__ADS_1


" Kalau dia wanita biasa tentu tuan Rai tidak akan menyukainya, pangeran harus bersanding dengan tuan putri " Pak Hong mengutarakan pendapatnya.


" Hei dia kan Big Bos, seharusnya yang jadi istrinya adalah seorang wanita tangguh yang bisa bela diri, baru mereka akan serasi " Tina masih menyangkal ketus.


" Itu tidak mungkin, laki-laki di ciptakan untuk melindungi wanita, kalau yang jadi pasangan Tuan Rai adalah wanita tangguh, maka Tuan Rai tidak akan bisa melindunginya karena sudah pasti wanita itu akan melindungi dirinya sendiri " Anton menyanggah argumen Tina.


" Benar sekali, pasangan Tuan Rai harus wanita lemah lembut jadi itu bisa melengkapi sifat Tuan Rai yang keras, dan mereka pasti akan jadi pasangan paling romantis sepanjang masa " Pak Hong mendukung pendapat Anton.


" Brakk !! " Ruby menutup pintu dengan keras, dia meninggalkan ruangan itu dengan kesal. Semua terkejut dan menghentikan gosip mereka.


" Lemah lembut ? Seorang putri ? Hei kalian terlalu banyak melihat drama dan membaca dongeng, memangnya kenapa kalau pasangannya wanita yang mandiri dan tidak bergantung padanya " Ruby mengomel sendiri, dia akan menuju lantai 5 untuk membuat perhitungan dengan Rai.


" Adik ipar... " Ignes memanggil dengan suaranya yang lemah lembut. Tentu saja dia sedang berpura-pura. Ruby menoleh dan terkejut melihatnya.


" Ah maaf maaf... aku masih belum terbiasa memanggilmu nyonya Loyard, karena aku masih menganggapmu adik ipar " Ignes menjelaskan.


" Tidak apa-apa lupakan saja " Ruby menjawab canggung.


" Kau ingin sarapan bersama ku ? " Ignes menawarkan, melingkarkan lengannya di lengan Ruby.


" Tidak terima kasih, aku sudah sarapan tadi sebelum berangkat " Ruby menolak sopan.


" Ya itu kegiatan rutin kami " Ruby menjawab santai.


" Adik ipar ah maaf maksudku nyonya Loyard kalau kau ingin tau semua hal tentang Rai kau bisa bertanya padaku, yah maksudku kami berhubungan selama 3 tahun, jadi aku tau Rai orang yang seperti apa " Ignes mencoba menghasut Ruby, membuatnya cemburu.


" Sungguh ? Terima kasih banyak, tapi kurasa aku lebih tau tentangnya luar dalam, kau tau suami istri memiliki ikatan yang tidak biasa karena mereka telah menyatu secara alami " Ruby menjawab telak, dia tau permainan licik Ignes yang akan menghasutnya.


" Tentu saja " Ignes menjawab kaku, dia tidak menyangka permainannya tidak berpengaruh pada Ruby.


Dasar hama menyebalkan, dia tidak terpengaruh sama sekali.


Ignes mengepalkan tangannya tapi tetap berpura-pura tersenyum manis.


" Baiklah aku harus pergi menemui suami ku, ku rasa dia merindukanku sekarang " Ruby membalas Ignes, dia melepaskan lengan Ignes yang melingkari lengannya.


Kau mengganggu orang yang salah, tidak semudah itu membuatku terjebak dalam perangkapmu.


Ruby tersenyum licik.


Ignes yang melihat Ruby sama sekali tidak terprovokasi merasa kesal, dia pergi ke kamar kecil. Melihat kamar mandi yang kosong dia meluapkan amarahnya.

__ADS_1


" Dasar wanita sialan, brengsek. Kau bertingkah hanya karena Rai memihakmu, lihat saja akan ku buat Rai menendangmu dari hidupnya, cih kau pikir aku sudi menyentuh tubuh kotormu itu " Ignes menyalakan kran wastafel dan mencuci tangannya yang dia gunakan untuk menyentuh Ruby tadi.


Dia kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


" Hei apa kau sudah mulai bergerak ? Aku minta lenyapkan Ruby secepatnya, dia membuatku muak " Teriak Ignes pada seseorang di ujung telfon dan menutupnya dengan kasar.


" Aaarrggghhh " Dia berteriak kesal di depan cermin.


Sementara itu di dalam bilik toilet Tina sedang menutup mulutnya agar tidak ketahuan. Dia terkejut mendengar seseorang akan melenyapkan Ruby.


Di tempat lain, Ruby sudah berdiri di depan pintu ruangan Rai, dia berusaha mengatur nafasnya. Hatinya masih kesal dan di tambah Ignes yang semakin membuat suasana hatinya bertambah buruk.


" Tok tok tok " Ruby mengetuk pintu. Dia menunggu lama, tidak ada jawaban. Dia membuka pintu dengan kasar.


Terlihat Rai yang sedang duduk di sofa tunggal dan memeriksa berkas-berkas.


" Ada apa ? " Tanya nya tanpa menoleh, dia tau Ruby pasti akan menemuinya.


" Cih " Ruby mencibir, melihat Rai yang santai saja dia sangat kesal. Dia menghampiri Rai dan duduk di sofa yang ada disebelahnya.


" Junior ingin makan apel " Ruby memerintah ketus. Dia berusaha mendapatkan perhatian Rai tapi terlalu gengsi untuk mengakuinya. Jadi beralasan atas nama Junior.


" Baiklah, aku akan telfon pak Handoko untuk membeli semua apel yang ada di supermarket " Rai menjawab santai.


" Aku ingin kau sendiri yang membelinya " Ruby menolak.


" Baiklah, nanti sepulang kerja aku akan membelinya " Rai masih menjawab santai dan mengabaikannya.


Ruby semakin kesal karena Rai yang sok jual mahal tidak memperhatikannya.


" Jangan panggil aku Ruby kalau tidak bisa mengalihkan pandanganmu " Ruby bergumam lirih.


Dia membuka beberapa kancing baju seragamnya, dan membiarkan dadanya sedikit terlihat.


" Sebenarnya aku kesini untuk melakukan itu denganmu " Suara Ruby di buat semenggoda mungkin, dia sangat percaya diri cara ini akan berhasil. Mengingat Rai yang sudah seminggu menahannya.


" Tidak mau aku harus menjaga junior tetap aman " Rai menjawab santai dengan tetap fokus pada berkasnya. Dia tersenyum lebar karena berhasil menolak godaan Ruby.


Tidak Rhoma !!!!


Ruby kesal melihat Rai tidak terpengaruh sama sekali. Dia menyandarkan diri dan menghela nafas kesal, menyilangkan tangannya di dada dan cemberut.

__ADS_1


__ADS_2