Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Dengan Atau Tanpa Persetujuan


__ADS_3

Kebanyakan orang menyambut pagi dengan bahagia dan penuh rasa syukur, namun tak jarang pula banyak yang menyambut pagi dengan kerutan di seluruh wajah. Bukan karena lupa memakai anti aging atau night skincare, tapi karena tidur dengan membawa beban di hatinya.


Begitu juga yang terjadi di kediaman megah milik Klan Loyard, mansion yang dulunya hanya berisi dengan hiruk pikuk kegiatan bersih-bersih di setiap sudut bangunannya, kini mansion itu telah di isi dengan kehidupan the amburadul family. Yang sesuai julukannya memang sangat amburadul.


Rai yang tidur dengan membawa beban tegangan tingginya mau tidak mau bangun dengan badan yang kesakitan di sekujur tubuhnya. Sementar Ken yang tidur dengan membawa beban mental karena harus menghadapi masa pms Kiran yang sepertinya belum menemukan titik terang kapan akan berakhir juga terlihat kusut masai menyambut pagi.


" Kalian berdua kenapa ? " Tanya Regis yang baru saja pulang dari tugas luarnya, bingung melihat kedua anaknya yang sedang cemberut itu. Dia hanya meninggalkan mereka selama akhir pekan, tapi perubahan yang luar biasa sudah terjadi.


" Tidak apa-apa " Jawab Rai asal sembari meminum kopinya.


" Aku juga " Ken ikut membuka mulutnya, lalu melirik Kiran yang terlihat santai dan tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali meskipun telah mendzoliminya layaknya cerita-cerita di film adzab.


" Dylan mana ? " Tanya Regis memilih mengabaikan wajah cemberut Ken dan Rai.


" Patah hati " Jawab Rai acuh dengan jujurnya.


Ketiga orang yang lain langsung membelalakkan mata padanya dengan serempak.


" Kenapa ? " Tanya Rai dengan wajah datar.


" Jujur saja pada ayah, mau di tutupi seperti apapun toh ayah juga akan tau " Lanjutnya mengedikkan bahu acuh dan mulai memakan sarapannya.


Ruby dan yang lainnya pun tidak bisa membalas ucapan Rai karena memang benar adanya, Regis akan selalu memantau mereka semua, mau tidak mau, suka tidak suka, tapi memang begitulah keadaannya. Dan mereka semua memaklumi hal itu karena itu adalah bentuk kasih sayang dari Regis.


Saat Dylan datang dengan wajah yang tegang, suasana pun kembali ikut menegang. Mereka semua terdiam memandangi Dylan dengan tajam.


Kasihan sekali dia, bagaimana cara menghiburnya ya ?


Batin Ruby mengikuti setiap gerak gerik Dylan yang berjalan mendekat.


Pasti tidak nyaman harus bertemu Blair saat kisah cintanya tidak berjalan mulus, apa dia harus pindah sekolah saja ?


Kiran pun ikut menatap Dylan yang tengah berjalan ke arah kursinya.


Apa aku minta tolong Dylan untuk bantu mengembalikan akun ku ya ? Kiran marah tidak ya ? Aish !! Aku akan sangat sibuk seharian ini.


Batin Ken menimbang-nimbang apakah dia perlu meminta tolong Dylan atau tim IT di klannya saja untuk masalah game onlinenya.


Cih patah hati !! Cengeng sekali, masih banyak dipsy yang lain.


Rai menatap Dylan dengan tajam.

__ADS_1


Dylan yang semula memang sudah tegang karena memikirkan kesalahannya semalam yang pulang terlalu larut semakin salah tingkah di tatap ke empat kakaknya dengan tatapan aneh, jalannya bertambah kikuk dan canggung.


Dia bahkan berjengit kaget sendiri mendengar suara kursi yang bergeser saat dia menariknya.


Keringat dingin menetes di pelipisnya, dia ingin memberikan senyum wajarnya pada semua orang yang ada di sana, namun seperti badut konyol dia malah tersenyum kaku.


Mereka semua marah karena aku pulang terlalu larut. Apa yang harus ku lakukan ? Mereka semua bukan orang biasa.


Dengan hati-hati dia duduk di kursinya di sebelah Kiran. Dia menyembunyikan tangannya yang gemetaran di bawah meja. Nafsu makan yang semula memenuhi rongga perutnya seakan menguap oleh tegangnya suasana.


Regis memandangi semua anggota keluarganya dengan alis yang berkerut dalam. Lalu menghela napas panjang dan berat.


Kenapa keluarga ku jadi kacau begini sih ? Turunan siapa mereka semua ini ?


Batinnya lalu menggelengkan kepalanya dengan jengah.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Monday atau biasa di sebut monster day adalah singkatan yang biasanya di tujukan untuk hari senin. Banyak orang yang belum siap mengakhiri weekend mereka dan merasa masih kekurangan hari libur.


Tak terkecuali Dera, dia sedang duduk di kursinya dengan menopang dagu. Wajahnya sangat cemberut kontras terbalik dengan hari yang cerah.


Dengan helaan napas jengah dia coba mengabaikan suara-suara berisik di sekitarnya yang saling sibuk memamerkan kegiatan akhir pekan mereka.


Tapi ternyata sepertinya dia terlalu kebanyakan menonton drama hingga imajinasinya di luar nalar, mengira dengan kekayaan dan kekuasaan yang di miliki keluarganya, dia bisa ikut campur dalam menentukan nasib hidup orang lain.


" Ish !!! " Umpatnya kesal sembari berdecak.


" Kenapa kakak tidak bisa menghasut pak Ken sih, bukankah keluarga ku termasuk pemasok pemasukan terbesar di seluruh departement store milik klan Loyard, harusnya sebagai mitra bisnis yang baik Pak Ken bisa menuruti keinginan keluarga ku " Omelnya sendiri.


Dia semakin kesal saat ingatan kakaknya yang mengancamnya agar tidak mengusik bu Kiran lagi berdengung di kepalanya.


" Siapa sih sebenarnya dia itu ? " Pusing dengan pikirannya sendiri dia memijit pelipisnya, sekedar menghilangkan rasa denyut nyeri di kepalanya.


Namun seakan belum cukup semua rasa penatnya, tiba-tiba Cissy datang dan langsung menggebrak meja di hadapannya. Membuatnya yang sedang tertunduk dengan mata terpejam semakin emosi.


" Dera. Kau. Tidak. Akan. Percaya. Ini " Ucap Cissy sepatah demi sepatah karena napasnya yang tersengal-sengal setelah berlarian.


" Apa ? " Jawab Dera kesal.


" Tunggu. Dulu. Aku. Mau. Bernapas " Jawabnya masih tersengal-sengal lalu menghempaskan tubuhnya duduk di sebelah Dera.

__ADS_1


Dera memutar bola matanya jengah, hari ini, saat ini dia tidak sedang dalam kondisi mood yang baik untuk mendengarkan gosip murahan dari Cissy yang memang biasanya lebih paham tentang perkembangan kejadian-kejadian di sekolahnya.


Dia kembali memejamkan mata, memikirkan setiap kemungkinan alasan yang masuk akal kenapa kakaknya tidak mampu mengusik Kiran.


Anak menteri ? Anak pengusaha ? Atau anak apa sih dia ?


Batinnya menebak-nebak.


Di sampingnya dia bisa mendengarkan Cissy yang sedang mengatur napasnya, keluar masuk, tarik hembuskan.


" Ok sudah " Ucap Cissy kepada dirinya sendiri saat dia sudah bisa menguasai keadaan.


" Hei siapkan hati dan jantung mu, jangan sampai kau pingsan ya " Lanjutnya sembari memutar tubuhnya menghadap ke arah Dera.


Namun Dera tak bergeming, dia tetap saja acuh.


" Kemarin... Blair dan Dylan melakukan pemotretan untuk mall milik Klan Loyard " Ucapnya dengan cepat dan berbisik.


" Apa ?!? " Dera yang mendengarnya langsung berteriak kaget bercampur marah. Sontak saja semua teman-teman sekelasnya langsung menoleh padanya.


" Ssstt... " Cissy menempelkan telunjuknya di bibir, memberikan isyarat kepada Dera agar mengecilkan suaranya.


" Kata siapa ? Kau dapat berita itu dari mana ? " Geram Dera dari sela-sela giginya.


" Sepupu ku menjadi kepala tim PR di mall milik klan Loyard, dan kemarin dia ikut membantu menstrerilkan area-area yang di gunakan untuk pemotretan. Dia bilang Megan, yang seharusnya jadi model berpasangan dengan Blair, mendadak di gantikan tanpa alasan yang jelas. Dan pasangan Blair katanya adalah model yang baru saja memulai debutnya. Tapi sepupuku belum pernah melihat wajah model itu di mana pun, akhirnya dia mencuri-curi kesempatan untuk memotret model laki-lakinya karena katanya dia benar-benar turunan dewa, tampan bukan kaleng-kaleng. Dan saat dia menunjukkannya pada ku, aku langsung tau itu Dylan " Cerita Cissy panjang lebar dengan suara sekecil mungkin bahkan hampir berbisik.


" Kau yakin itu Dylan, bisa saja itu memang model lain yang sekilas mirip Dylan " Dera yang masih tidak percaya berusaha menyangkal cerita Cissy.


" Meskipun dia telah di make up sampai benar-benar bikin pangling, tapi aku yakin 100 persen eh tidak tidak, aku yakin 1000 persen kalau itu adalah Dylan " Jawab Cissy mantap.


" Kalau begitu mana buktinya ? Kau bilang sepupu mu diam-diam mengambil gambarnya " Tantang Dera dengan serius.


" Aku tidak punya, sepupu ku tidak mau memberikannya karena menurut perintah tuan Rai bahwa kegiatan hari itu harus di rahasiakan sampai proses peluncuran foto mereka di website resmi mall milik klan Loyard " Jawab Cissy dengan sungkan.


Otak Dera menolak mempercayai cerita Cissy tapi tidak dengan hatinya. Di dalam hatinya dia tau kemungkinan itu memang ada, karena Dylan adalah keponakan sekertaris Yuri, orang kepercayaan keluarga Loyard, setidaknya itu yang Dera tau.


" Oh ya " Cissy menjentikkan jarinya seperti menemukan suatu ingatan.


" Kata sepupu ku mereka juga jadi model untuk store keluarga mu, dan pengambilan gambar paling banyak juga di store milik keluarga mu, kenapa tidak kau cek saja cctv nya, pasti akan terlihat itu benar Dylan atau bukan " Lanjutnya dengan yakin.


Dera mengangguk-angguk menyetujui ide Cissy, kalau hanya rekaman cctv dia bisa mendapatkannya dengan mudah.

__ADS_1


Kalau memang benar itu Dylan, tidak bisa ku biarkan lagi. Aku harus cepat bertindak menjadikan dia kekasihku, dengan atau tanpa persetujuannya.


Batin Dera dengan dongkol.


__ADS_2