
Satu jam pelajaran terpanjang sekaligus tersingkat dalam sejarah hidup Blair, telah berlalu.
Terpanjang karena dia terus saja merasakan jantungnya yang berdetak tak karuan, dan itu sangat tidak nyaman.
Tersingkat karena jauh di dalam lubuk hatinya, di alam bawah sadar terliarnya dia menikmati setiap adegannya gemasnya bersama Dylan.
Belum pernah dia merasakan perasaan semacam ini. Perasaan yang dia sendiri tidak bisa menjelaskannya.
Dengan napas yang terengah-engah Blair duduk berselonjor di tepi lapangan. Mengatur napasnya yang pendek-pendek. Dadanya terasa sakit, selain karena debarannya yang masih berlangsung, juga karena usahanya yang keras untuk melakukan sit up, dan kerja keras selalu membuahkan hasil, dia berhasil melakukan 3 kali sit up.
" Kau hebat Blair, aku saja bahkan tidak bisa melakukan satu pun. Kau benar-benar orang yang gigih dan memiliki tekad baja " Bella yang berbaring di sampingnya memuji Blair di antara helaan napasnya.
" Terima kasih " Hanya itu yang bisa di ucapkan Blair. Dia mampu melakukan 3 kali sit up itu pun karena terpaksa. Dylan membuatnya tidak punya pilihan lain.
Kau tidak tau saja apa yang terjadi padaku sampai aku mati-matian melakukannya.
Batin Blair tersenyum kecut. Dia teringat Dylan yang terus saja menggodanya dengan sebutan si perut buncit, jadi harga diri Blair menolak untuk terhina hingga dia berusaha sekuat tenaga agar bisa melakukannya. Terkadang motivasi memang datang dari kata-kata yang menyakitkan, dan itu lah yang di rasakan Blair saat ini. Ejekan Dylan membuatnya pantang menyerah.
" Apa kau tidak merasa risih terus saja berkaitan dengan Dylan ? " Tanya Bella, dia sudah bangun dari posisi rebahannya dan kini juga ikut duduk berselonjor di samping Blair.
" Maksudnya risih ? " Tanya Blair tidak paham.
" Yaa risih " Jelas Bella, lalu bergidik jijik sebagai ungkapan yang di maksudkannya.
" Ah yang masalah dia anak " itu " ? " Blair yang oneng itupun cepat tanggap.
" Iya masalah yang itu, dia sudah terkenal di seantero sekolah, tidak ada yang mau dekat-dekat dengannya " Bella menunjuk Dylan dengan dagunya.
" Lihat dia " Blair mengikuti arah pandangan Bella, dan dia melihat sosok Dylan yang juga sedang duduk berselonjor seraya mengibas-ngibaskan seragam olahraganya, membuat perutnya yang putih sedikit terekspose. Bisa Blair lihat meskipun dari jarak jauh, ada otot yang kencang di perutnya.
Aah roti sobeknya
Batin Blair terpesona.
" Bukankah dia terlihat menyeramkan ? Dia terlihat berbahaya. Dia tau semua murid di sekolah ini menjauhinya bahkan terkadang juga membullynya, tapi sikapnya benar-benar sangat tenang dan seperti tidak tau apa-apa. Bukankah dia seperti psikopat gila ? Dari yang aku baca di buku, sikapnya yang seperti itu seratus persen sikap psikopat. Hiiiy buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya " Jelas Bella panjang lebar.
" Iya dia memang berbahaya. Bahaya untuk kesehatan jantungku " Gumam Blair tanpa sadar, masih saja fokus mengintip roti sobek Dylan hingga tubuhnya miring ke samping.
" Benar kan " Seru Bella lantang. Blair pun terhenyak oleh suara keras Bella.
" Apa ? " Blair bingung kenapa tiba-tiba Bella berteriak seperti itu.
" Apa yang benar ? " Tanyanya dengan wajah polos.
" ya itu, si itu " Jawab Bella dengan desisan lirih di antara giginya yang terkatup rapat, karena saat ini Dylan sedang menatap heran ke arah mereka. Dan itu membuatnya takut.
" Baiklah anak-anak untuk hari ini sekian. Dan yang mendapat nilai tertinggi dari ujian dadakan kali ini adalah Dylan " Ucap Guru olahraga mengumumkan hasil ujiannya kali ini.
" Haah "
" Huh "
" Eeww " Suara-suara sumbang pun terdengar bergantian, mengejek Dylan. Blair yang mendengar itu pun mendadak merasakan kekesalan. Dia menatap seluruh teman-temannya, tak ada satupun yang tersenyum melihat keberhasilan Dylan, alih-alih tersenyum, mereka justru memberikan tatapan jijik dan malas kepada Dylan.
Prok, prok, prok !!! Blair dengan kekuatan penuh mempersembahkan tepukan tangannya yang paling meriah untuk Dylan. Dan tentu saja, dia mendapatkan perhatian seluruh teman-temannya yang menatapnya heran. Untuk apa Blair memberikan tepuk tangan untuk Dylan, begitu pikir mereka semua.
Dylan yang melihat kesungguhan Blair dalam tepuk tangannya itu pun hanya tersenyum lalu menundukkan kepalanya, menyembunyikan tawanya yang hampir meledak melihat alis Blair yang bertaut saking seriusnya bertepuk tangan.
" Waah... rupanya Blair partner yang baik ya, dia semangat sekali memberikan tepuk tangannya untuk Dylan " Ucap Guru olahraga dengan tertawa lalu bertepuk tangan untuk Blair. mengapresiasi rasa kesetia kawanannya.
Melihat guru mereka memberikan apresiasinya untuk Blair, mereka semua ikut bertepuk tangan. Tentu saja di tujukan pada Blair.
" Dia memang peri berhati suci "
" Blair sangat rendah hati ya "
" Aku semakin mengaguminya " berbagai ungkapan pujian terus mengalir untuk Blair, dan itu membuatnya salah tingkah, merasa bersalah karena seolah-olah dia hanya melakukan pencitraan. Seperti memanfaatkan situasi untuk kepentingannya sendiri.
" Jangan tepuk tangan untuk ku, tapi untuknya " jelasnya pada semua orang, tapi suara Blair hilang di telan riuhnya suara tepukan serta pujian yang di berikan padanya.
" Ok Baiklah, pelajaran saya akhiri, silahkan kalian semua kembali ke kelas masing-masing " Tutup Guru olahraga, dan dia pun segera pergi meninggalkan lapangan. Lalu kemudian di ikuti oleh murid-murid yang lain.
Blair sengaja berjalan pelan-pelan agar bisa sejejar dengan Dylan yang ada di belakangnya.
" Dylan aku... " panggil Blair saat Dylan melintas di sampingnya.
__ADS_1
" Aku bukan bermasud untuk melakukan pencitraan tadi, aku benar-benar... " Jelas Blair ragu-ragu, dia takut Dylan akan salah paham padanya.
" Iya aku tau " Potong Dylan cepat.
" Darimana kau tau ? " tanya Blair polos.
" Dari itu " Dylan menunjuk wajah Blair tepat di hidungnya, maksudnya adalah dari wajah polosmu itu aku tau kau bukan tipe orang yang senang mengambil keuntungan dari kesusahan oang lain.
" Hidung ? " Blair memegang hidungnya, merabanya mencari-cari apa ada yang salah dengan hidungnya, bentuknya ? Bagus, mancung dengan jembatan hidungnya yang tinggi. Besar ? tidak, hidungnya kecil mungil seperti hidung kucing anggora yang menggemaskan.
" Upil ? " Tanyanya dengan kaget.
lalu dengan cepat menutup hidungnya dengan telapak tangannya.
Dylan memincingkan matanya menatap Blair.
Ya Tuhan... ada apa dengan umatmu yang satu ini ?
Gelengnya seraya menahan senyum.
" Jadi benar ada upil di hidungku ? " Tanyanya merengek dengan suara sengau karena hidungnya yang tertutup.
Hmmm...
Dylan sudah ingin meremas squishy berbentuk Blair yang ada di hadapannya saat ini.
Lalu dengan perlahan Dylan meraih tangan Blair, menyingkirkannya dari hidung Blair.
" Hidungmu bagus kok, aku suka " Jawab Dylan lembut menenangkan Blair.
Aaawww... serasa terkena diabetes saking manisnya.
Blair tersipu malu mendengar ucapan Dylan, dengan wajah merona dia kembali meraba hidungnya. Merasakan bangga dengan hidungnya yang di bilang bagus.
" Sudah neng ayo cepat kembali ke kelas " Ajak Dylan dan dia kembali berjalan. Neng panggilan Dylan untuknya, kependekan dari oneng, julukan yang pantas di sematkan kepada Blair yang terlalu polos menurut Dylan, dan dari keonengannya itu Dylan percaya bahwa Blair selalu tulus dalam berbuat sesuatu, seperti tepukan tangannya serta dukungannya selama ini.
Omo !! Neng ? Dia memanggilku neng ? Neng apa ?
Blair semakin tersipu malu-malu, dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan bergoyang ke kanan ke kiri, mengekspresikan rasa senang sekaligus tersanjungnya.
" Nah kan si oneng mulai lagi " Gumam Dylan kesal saat menoleh ke sampingnya dan tidak mendapati Blair di sana. Dia berhenti dan berbalik, di lihatnya Blair sedang bergoyang-goyang tak jelas seraya menutup wajahnya.
" Ayo cepat " Panggil Dylan sudah mulai tak sabaran.
" Huh baru saja di puji manis, sekarang sudah kembali ke pengaturan pabrik " Gerutu Blair kesal melihat sikap Dylan yang sudah kembali ke mode normalnya.
" Iya iya " Jawab Blair ketus lalu setengah berlari menyusul Dylan yang sudah melanjutkan langkahnya.
Namun saat Blair berhasil menyusulnya, sebuah suara dari arah samping memanggil Dylan.
" Dylan " Teriaknya, mereka berdua menoleh bersamaan.
" Hm ? " Blair mengerutkan keningnya. Seorang wanita cantik sedang melambaikan tangannya ke arah Dylan dengan senyuman manis.
" Siapa dia ? " Gumam Blair penasaran. Dia menoleh ke arah Dylan dan di lihatnya Dylan juga membalas lambaian tangannya lalu ikut tersenyum lebar.
" Loh ? Kok ikut senyum ? " Gumam Blair semakin bingung. Dia kembali menatap wanita itu yang kemudian melambaikan sebotol minuman di tangannya ke arah Dylan.
" Kau duluan saja, aku akan menemuinya " Ucap Dylan lalu berlari menghampiri wanita itu, meninggalkan Blair yang terbengong sendirian.
Di tatapnya Dylan yang sudah sampai di depan wanita itu, tangannya terulur menerima botol minuman yang di berikan olehnya. Lalu wanita yang tersenyum semakin lebar itu pun mengusak kepala Dylan dan mereka berdua tertawa bersama.
Loh ? Loh ? Kok ?
Blair yang menyaksikan itu hanya bisa bengong, kesal dan bingung. Dia mengamati wanita yang ada di hadapan Dylan, wanita dengan usia di atas 20an, dan pakaian rapi itu belum pernah Blair lihat sebelumnya di sekolah ini. Dia tau siapa saja guru wanita yang ada di sekolah ini, tapi wanita itu ? Nihil. Blair belum pernah bertemu ataupun melihatnya, tapi kenapa wanita itu terlihat sangat akrab dengan Dylan ? Sejuta pertanyaan muncul di benak Blair, lalu semuanya bermuara pada satu titik. Kemarahan. Ya Blair marah, tidak suka melihat Dylan dekat-dekat dengan wanita lain. Dengan kesal dia pun berbalik dan segera pergi dari lapangan itu.
Nah kan kau kena jebakan batman, rasakan !! Sudah tau dia itu sudah punya kekasih, tapi kenapa masih saja terpesona sesaat oleh playboy cap palu itu. Dan lagi itu si remahan kerupuk, sudah punya kekasih masih saja tebar pesona. Huh !! Dia sukanya yang tua-tua, pantas saja ahli. Dasar setan !!
Maki Blair pada dirinya sendiri.
Dengan hentakan kaki yang cukup keras Blair berjalan menyusuri lorong menuju kelasnya. Wajahnya yang semula bersemu merah kini merubah menjadi merah maruun karena marah.
" Blair " Suara di belakang Blair menghentikan langkahnya. Dia berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya.
" Apa ? " Sautnya ketus terbawa suasana, sejenak dia lupa harus menjaga imagenya sebagai artis yang budiman. Lalu dengan cepat dia merubah ekspresi dan sikapnya saat melihat Dera sedang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
" Aku ingin bicara dengan mu " Dera berjalan mendekati Blair.
" Soal ? " Blair mengenyitkan alisnya bertanya, merasa tidak ada yang perlu dia bicarakan dengan Dera, dia tidak punya urusan apapun menyangkut Dera.
" Hanya bicara " Jawab Dera santai, dia lalu berjalan mendahului Blair, mengajaknya menuju tempat duduk yang ada di sekitar taman yang ada di samping lorong.
Dengan setengah hati Blair pun mengikutinya, walau sebenarnya dia ingin cepat-cepat kembali ke kelasnya untuk melamun.
Mereka sampai di tempat duduk yang di buat dari campuran semen dan kerikil yang di bentuk menyerupai batang pohon yang terpotong, salah satu seni dalam membuat taman terlihat lebih " tanamani ". Jika manusia lebih manusiawi dan hewan lebih hewani, maka tanaman lebih tanamani, begitu pikiran Blair bekerja.
Dera lebih dulu duduk, disusul oleh Blair.
" Aku dan Dylan memutuskan untuk memulai pendekatan " Ucap Dera tanpa basa basi lagi. Dengan wajah yang serius dia memandang Blair.
Di tembak dengan pernyataan semacam itu membuat Blair bingung. Apa hubungannya Dylan dan Dera yang melakukan pendekatan dengan dirinya.
" Lalu ? " Pada akhirnya hanya itu yang keluar dari mulut Blair.
" Ya tidak ada, aku hanya ingin memberitahukan itu padamu " jawab Dera santai.
" Ooh... Ok " Blair mengangguk-angguk.
" Mungkin kau tidak sadar, tapi aku juga temasuk dalam golongan " pewaris "". Lanjut Dera menjelaskan. Golongan pewaris adalah grup yang di buat oleh para anak orang kaya yang akan mewarisi bisnis keluarganya, dan mereka harus menjalin hubungan sedini mungkin dengan para pewaris lainnya demi kelangsungan bisnis di masa depan.
" Oh ya ? " Pekik Blair terkejut.
" Kenapa aku tidak pernah melihatmu ? " Tanya Blair.
" Ya aku jarang hadir di pertemuan itu, aku hanya datang sesekali dan tidak terlalu bersosialisasi " Jelas Dera.
" Ah pantas aku tidak pernah melihatmu " Jawab Blair paham.
Tentu saja kau tidak pernah melihat ku karena kau selalu di kelilingi oleh pemuja mu, yang ada di matamu hanya bagaimana semua orang jatuh dalam pesona mu.
Batin Dera sinis.
" Ah ya kalau begitu berarti hari sabtu nanti kau datang dong ? " tanya Blair antusias.
" Sabtu ? " Dera menautkan alisnya.
" Iya acara rutin hari sabtu, hang out bersama " Jelas Blair riang. Dan tiba-tiba saja sebersit ide melintas di kepala Dera. Ide brilian yang akan membuat Dylan berhenti dekat-dekat dengan Blair, ide jenius yang akan membuat Dylan illfeel terhadap Blair.
" Tentu saja " jawab Dera berpura-pura antusias.
" Kau juga datang kan ? " tanyanya kemudian, memastikan.
" Aku selalu datang " jawab Blair senang. Tentu saja dia selalu datang, dia tidak pernah melewatkan sekalipun perkumpulan itu di karenakan tekanan dari ayahnya.
Dimitri, ayah Blair selalu memaksanya hadir di acara perkumpulan para " pewaris " apalagi alasannya jika bukan karena meraup keuntungan sebanyak mungkin. Dia menyuruh Blair mengorek informasi tentang perusahaan teman-temannya, yang bisa di jadikannya sekutu, atau mencari kelemahan perusahaan yang dia anggap lawan, saingan bisnisnya.
Bukan tanpa alasan Dimitri mampu menguasai hampir 80 persen market obat di tanah air. Itu karena dia menempatkan Blair sebagai mata-mata terselubung. Teman-temannya yang anak para orang kaya itu akan mudah sekali meracau tentang rencana bisnis ke depan perusahaan mereka saat sedang mabuk. Jadi Blair hanya perlu berada di dekat para anak laki-laki itu dan menyerap semua informasi yang di berikan oleh orang mabuk. Dan apabila itu rencana inovatif, maka perusahaan obat milik Dimitri akan mencuri start terlebih dulu untuk mewujudkannya. Sukses tanpa perlu repot-repot berpikir keras, begitulah motto yang di pegang ayah Blair.
" Ok baiklah ayo kita kembali ke kelas " Ajak Dera setelah berhasil mengatakannya pada Blair bahwa dia dan Dylan akan memulai suatu hubungan, Dera berharap dengan peringatan ringan seperti itu akan membuat Blair sedikit menjaga jarak dan tau diri dengan Dylan.
" Iya ayo " jawab Blair lalu berdiri, dan mereka berdua berjalan bersama-sama menuju kelas mereka.
" Oh ya " seru Blair seperti teringat sesuatu. Dia berhenti, Dera yang penasaran pun ikut berhenti.
"Ada apa ? " Tanya Dera bingung.
" Tadi kau bilang kau dan Dylan melakukan pendekatan ? " Tanya Blair dengan wajah polos.
Dera menghela napas, dalam hati dia melakukan gerakan menepuk jidatnya sendiri, sedikit kesal karena Blair baru mencerna ucapannya sekarang.
" Iya " Jawabnya singkat dengan wajah serius.
" Apa kau tidak tau kalau Dylan sudah punya pacar, namanya Raline " Jelas Blair santai.
" A-apa ? " Pekik Dera terkejut.
" Pa-pacar ? " Serunya tak percaya.
" Hu'um, aku pernah bertemu mereka di mall saat mereka berdua sedang berkencan " Jawab Blair lagi-lagi dengan wajah polosnya. Sedangkan lawan bicaranya sudah seperti di sambar petir di tengah hujan badai.
" Kalau boleh ku sarankan sebaiknya kau jangan dekat-dekat dengan Dylan. Dia itu buruk untuk kesehatan " Nasehat Blair bersungguh-sungguh, dia menepuk pundak Dera pelan lalu pergi meninggalkan Dera yang masih sangat syok.
__ADS_1
Niatnya untuk menjauhkan Blair dari Dylan malah berbalik menyerangnya, seperti sedang melempar boomerang, sakit itu balik menghantam Dera dengan telak.
Oneng di lawan !!!