
Kriiiiiieeeeett !!!!! Suara pintu besar berdecit panjang ketika di buka padahal Ken membuka pintu itu dengan sangat perlahan. Tapi entah kenapa sepertinya pintu itu sedang mentertawakan kegugupan mereka di tengah suasana yang mencekam saat ini.
Dor !! Dor !! Dor !! terdengar suara tembakan lagi yang membuat keduanya terlonjak kaget. Suara itu sekarang jauh lebih keras karena mereka sudah ada di depan ruangan itu dengan pintu yang terbuka sedikit.
Ken mendongakkan kepalanya memeriksa keadaan di dalam ruangan itu, dia melihat punggung kakaknya sedang berdiri tegap dengan menggunakan headphone peredam suara di telinganya.
Ken kembali menengok Ruby. Ruby bertanya dengan pandangan matanya ada apa di dalam sana. Ken menggeleng dan membuat gerakan menyayat lehernya. Ruby terkejut dan menutup mulutnya. Dia kemudian berbalik arah akan pergi dari tempat itu, bagaimana pun keselamatannya lebih penting saat ini. Tapi belum dia melangkahkan kakinya, Ken sudah memegang leher baju Ruby, mencegahnya kabur.
Ruby meronta berusaha kabur, tapi terlambat Ken sudah menyeretnya masuk ke dalam. Rai yang menyadari ada seseorang di belakangnya, segera berbalik dan mengarahkan pistolnya ke arah mereka tepat di depan kening Ruby.
Wajah Ruby semakin pucat, seumur hidupnya dia hanya pernah melihat adegan ini di film action, tapi sekarang dia menjadi bagian didalamnya.
Ken yang berdiri di sebelahnya juga sama pucatnya, dia sangat tau tabiat kakaknya. Dan saat ini dia pun tidak berani untuk berbicara.
Ken mendorong bahu Ruby dengan bahu nya, Ruby menoleh dan memandang Ken dengan tatapan bertanya ada apa, yang dibalas Ken dengan tatapan yang seakan berkata cepat rayu dia. Ruby menatap kesal Ken yang seakan memojokkannya. Dia menghela nafas, mengumpulkan semua keberaniannya untuk mulai merayu Rai.
Baiklah jurus pertama.
" Rhoma " Ruby memanggilnya lembut.
Ken terkejut mendengar Ruby memanggilnya begitu.
" Kau gila ? Aku menyuruhmu merayunya bukan mengajaknya bernyanyi " Ken berbisik geram ke arah Ruby.
" Sshhhttt " Ruby melotot ke arah Ken.
Mereka menoleh ke arah Rai bersamaan melihat bagaimana reaksi Rai terhadap rayuan Ruby. Dia hanya memiringkan kepalanya dan menyunggingkan seringai menyeramkan. Mereka semakin pucat.
Tidak berhasil, aish rayu apalagi. Baiklah jurus kedua.
" Ayo lah Rhoma hentikan, ya ? " Ruby merayunya lagi dengan suara lebih lembut, mengedip-ngedipkan matanya.
Ken membenturkan kepalanya ke pundak Ruby.
" Kau sudah benar-benar gila, aku menyuruhmu merayunya tapi kau malah mengajaknya bermain drama " Suara Ken putus asa.
" Aiissshh " Ruby menggoyangkan pundaknya membuat kepala Ken terbentur dengan tulang di bahunya. Dia kesal sekali padanya.
" Kau ini bukannya membantu malah memojokkan ku " Ruby berbisik geram menahan marah.
__ADS_1
Ruby menoleh ke arah Rai, sedangkan Ken meliriknya sembunyi-sembunyi dari balik bahu Ruby. Melihat Rai yang sama sekali tidak merubah ekspresinya, Ruby tersenyum masam. Rai menurunkan pistolnya dan mengokang penutup geser di bagian atas pistolnya, kemudian mengarahkannya lagi ke kening Ruby. Ken terlonjak melihat kakaknya berbuat sampai sejauh itu. Tubuh Ruby sudah hampir bersimpuh karena takut, kalau bukan karena Ken yang memegangi lengannya sudah pasti dia akan jatuh terduduk sekarang.
Habis sudah aku, dia tidak bergeming. Jurus terakhir ini harus berhasil, kalau tidak aku akan berakhir hari ini.
Ruby menutup mata menerjang Rai dan mencium bibirnya. Suasana hening. Ruby membuka matanya, dia melihat Rai yang sama sekali tidak terpangaruh, tatapan matanya masih tajam dan bahkan posisinya tidak bergeser sedikitpun.
Ruby melepaskan ciuman, matanya mulai berkaca-kaca.
" Rai maafkan aku, aku tidak tau kalau dia akan melakukan itu, tapi aku sudah menolaknya dengan sangat kasar. Aku mohon maafkan aku, ampuni aku, aku janji malam ini aku akan memulai melakukan itu, apa kau ingin 2 ronde, 3 ronde tidak masalah berapa ronde pun aku akan melakukannya, aku juga janji kali ini aku yang ada di atas " Ruby melakukan semua upaya nya untuk merayu Rai, bahkan tanpa sadar membongkar semua kehidupan pribadinya dengan Rai.
Rai tetap bergeming, tapi sekarang seringai di wajahnya berganti dengan matanya yang membelalak terkejut dengan ucapan Ruby.
Tidak berhasil juga ya ?
Ruby putus asa.
Ken yang di sebelahnya terkejut mendengar ucapan Ruby. Dia tidak tau lagi harus berkomentar apa atas tingkah konyol Ruby.
" Baiklah Ruby pada hitungan ke tiga, kita akan kabur bersama " Ken berbisik cepat di telinga Ruby.
" Tiga " Ken berlari kabur keluar ruangan meninggalkan Ruby yang tertegun.
" Hei kau bilang... " Ruby berteriak tertahan tapi Ken sudah menghilang di balik pintu. Dia melihat Rai dan tersenyum kaku.
Rai tersenyum melihat Ruby dengan sikapnya yang lucu, dia kemudian membelokkan tangannya ke arah papan target yang ada di belakang punggungnya, dan menembakkan isi di dalam pistol tersebut. Peluru itu melesat menembus papan target berbentuk siluet tubuh manusia dan tepat mengenai dahinya.
Ruby terkejut melihat itu, dia menutup mulutnya agar tidak berteriak.
" Kau bilang apa tadi ? " Rai bertanya lirih dan terdengar menyeramkan.
" Kau keren sekali, tembakanmu tepat sasaran " Ruby bertepuk tangan ringan berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Aku tidak sedang bercanda " Suara Rai masih terdengar tajam dan menyeramkan.
" Aku minta maaf, aku tidak tau kalau Daniel akan menem... " Ruby mengulangi dengan lirih dan menundukkan wajahnya.
" Sshhh sshhhh shhhh " Rai memotong ucapan Ruby, dia meletakkan jari telunjuk tangan kirinya ke bibirnya.
" Jangan pernah sebut namanya lagi di depan ku, atau dia yang akan menggantikan posisi papan target di depan sana " Rai mengancam, dia memutar posisi tubuhnya sudah menghadap lagi papan target.
__ADS_1
Dor !! Dor !! Dor !! Dia menembakkan semua sisa isi peluru di dalam pistolnya. Membuat suara ledakan keras di seluruh ruangan, Ruby menutup telinganya yang berdenging.
" Ulangi lagi " Rai memerintah Ruby, dia telah selesai dengan kegiatan menembaknya.
Dia berjalan menuju sebuah lemari di sudut ruangan itu, menekan sejumlah kode nomor di tombol agar lemari itu terbuka, meletakkan pistolnya di sana dan menutup pintunya kembali. Ruby hanya mengikuti Rai dengan matanya.
" Aku minta maaf, aku tidak tau kalau dia akan melakukan itu, aku sudah menolaknya dengan kasar, aku mencampakkannya, dan dia akan kembali ke negaranya untuk selamanya " Ruby melebih-lebihkan kebohongannya.
" Lalu ? " Rai bertanya lagi, sekarang dia berjalan ke arah Ruby.
Ruby melihat wajahnya, sepertinya kemarahannya belum mereda, dia sangat takut saat ini. Meskipun Rai sudah tidak bersenjata, tapi tetap saja dia bisa mencekiknya atau membantingnya.
" Lalu aku menyusulmu kemari " Ruby menjelaskan asal, dia juga bingung dengan maksud pertanyaan Rai.
" Lanjutkan kalimatmu yang tadi " Suara Rai mulai meninggi satu oktaf.
" Kalimat, kalimat... " Ruby berusaha mengingat ingat apa yang di ucapkannya tadi karena tadi dia hanya asal bicara.
" Ah ya aku akan melakukan semua yang kau inginkan " Ruby menjawab asal karena Rai sudah berada tepat di depannya saat ini.
" Kau tidak ingat rupanya " Rai menyeringai.
" Baiklah akan aku bantu mengingatnya " Rai sedikit membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajah Ruby.
Ruby semakin takut, dia ingin mundur menghindari Rai, tapi sepertinya saraf di kakinya telah putus, jadi sekuat apapun Ruby mencoba menggerakkannya, itu tidak bergerak. Wajah Rai semakin dekat, dia bisa merasakan nafasnya di seluruh wajahnya.
" Aku ingin 5 ronde dan kau yang harus memulai semuanya, dan satu lagi, kau yang harus di atas " Bisik Rai lirih ditelinga Ruby.
Dia kemudian tegak kembali untuk mengerlingkan matanya kepada Ruby, dan dengan gerakan cepat sudah menggendong Ruby dengan kedua lengannya.
Berjalan menuju pintu, dia membuka dengan satu tangannya dan melebarkannya dengan bahunya agar mereka berdua bisa keluar.
" Rai turunkan aku, aku bisa jalan sendiri " Ruby meronta.
" Diam " Jawab Rai singkat dan tegas.
" Aku sudah mengunjungi dokter kandungan dan berkonsultasi untuk melakukan itu, mereka bilang akan aman-aman saja asal aku melakukannya dengan lembut. Bersiaplah malam ini aku ingin kau tidak tidur " Rai tersenyum lebar.
Wajah Ruby merona mendengar penjelasan Rai. Mereka berjalan sampai di tempat parkir, Rai menurunkan Ruby, membukakan pintu mobil dan Ruby masuk kedalamnya. Dia kemudian berjalan memutari depan mobil, masuk ke dalam kursi pengemudi dan menyalakan mesin. Mobil melaju meninggalkan tempat latihan menembak.
__ADS_1
Bersiaplah marimar, aku tidak akan melepaskan mu malam ini.
Rai tersenyum lebar.