Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Suami Macam Apa ?


__ADS_3

" Yang benar ? " Bisik Lusi sedikit memekik saat mendengar cerita singkat Sinta tentang siapa pengirim undangan yang membuat Ruby sedikit merasa syok.


Lusi yang baru bekerja selama setahun di mansion menjadi pelayan itu datang tepat setelah Vivianne pergi, sedangkan Sinta sudah sering bertemu dengan Vivianne karena terkadang Vivianne tinggal di mansion itu meskipun telah memiliki apartemen sendiri pemberian Regis.


" Lalu bagaimana dengan nasib nyonya sekarang ? " Tanya Lusi sedih.


Sinta yang sedang memangku Raline itu pun kemudian bangun untuk menenangkan Raline yang mulai menggeliat di pangkuannya. Dia lalu bergoyang-goyang menimang Raline agar dia senang.


" Kau mungkin hanya melihat nyonya Ruby sebagai orang yang kalem dan santai, tapi jangan salah. Dia bisa men-smack down nenek lampir itu dalam sekali gebrakan " Jawab Sinta menggebu-gebu.


" Benarkah ? " Pekik Lusi menutup mulutnya agar tidak berteriak.


" Aku semakin mengaguminya " Lanjutnya takjub.


" Yang paling terpenting, kau harus ingat ini. Apapun yang kau dengar dari mulut wanita itu jangan pernah percaya, dia itu sangat licik. Jangan pernah tergiur dengan apapun yang dia tawarkan, karena sekali kau mengkhianati nyonya Ruby maka musuhmu bukan lagi tuan Rai melainkan tuan Regis " Wanti-wanti Sinta dengan serius.


Tentu saja Lusi tau benar akan hal itu, di mansion ini ketiga wanita permata klan Loyard, sekarang menjadi empat setelah di tambah dengan Adelia, sangat di lindungi oleh tuan Regis. Jika Lusi mengira berurusan dengan Rai saja sudah sama artinya dengan bunuh diri, maka lain halnya berurusan dengan tuan Regis. Kiamat sudah dekat, begitulah kira-kira yang akan terjadi. Tidak ada kata ampun untuk siapapun yang berani mengusik para menantu yang sangat di sayanginya.


" Iya aku mengerti, lagipula untuk apa aku mengkhianati orang sebaik nyonya Ruby " Jawab Lusi seraya mengangguk-angguk penuh keyakinan.


" Bagus, kau harus camkan itu di hati dan pikiran mu " Sekali lagi Sinta memperingatkan Lusi.


" Eh ngomong-ngomong kemana nyonya ? " Tanyanya begitu sadar Ruby telah pergi cukup lama.


" Tadi katanya mau menyambut tuan, tapi tuan baru pulang setengah jam lagi " Jawab Lusi sembari memeriksa jam tangannya.


" Ya sudah ayo kita ikut menyambut tuan, dan si gembul ini juga tidak sedang tidur jadi biar dia senang melihat papanya yang baru pulang dari bekerja " Sinta kemudian membalikkan tubuh mungil Raline agar menghadapnya, lalu mengangkatnya tinggi sejajar dengan wajahnya.


" Ci embul ayo kita sambut papa " Kudangnya lalu menciumi pipi Raline dengan gemas hingga Raline terkekeh karena geli.


" Aah aku juga mau... " Rengek Lusi meminta Raline dari gendongan Sinta.


" Tidak mau, enak saja, aku belum puas menciuminya " Jawab Sinta mengambil ancang-ancang dan kemudian berlari menjauh.


" Ayo nany Luci, kejal aku " Godanya dengan menirukan suara anak kecil yang cadel sementara Raline hanya tertawa terpingkal-pingkal saat di ajak berlari.


" Awas ya kalau tertangkap " Lusi pun bangun dan kemudian mengejar Sinta yang menggendong Raline.


Sementara itu di depan pintu utama, Ruby sedang tertawa terbahak-bahak dengan sangat kecut saat menyambut seorang tamu yang sudah sangat familiar baginya meski mereka hanya baru bertemu dua kali.


" Saya sangat senang sekali melayani anda nyonya " Ucap tamu itu juga ikut tertawa bahagia.


" Saya yang tidak bahagia " Jawab Ruby masih setia dengan tawa kecutnya. Di depannya saat ini sedang ada beberapa orang berseragam serba biru tua dengan sarung tangan karet putih sedang sibuk memindahkan karung-karung berwarna coklat dari dalam mobil ke ruang keluarga.


Dan Ruby hanya bisa mengikuti mereka dengan pandangan matanya tanpa bisa mencegah.


" Memangnya bank kalian tidak ada kerjaan lain ya selain menuruti permintaan tak masuk akal dari Rai " Ucap Ruby dengan geraman tertahan dan senyuman penuh keterpaksaan.


" Maaf nyonya, sejujurnya kami tidak bisa menolak perintah tuan Rai karena beliau adalah salah satu jajaran CEO atau bisa di katakan beliau adalah salah satu pemilik bank tempat kami bekerja " Jelasnya singkat dengan sopan.


" Tidak mungkin, kalian bercanda kan ? " Tanya Ruby sangsi, dia memang tidak terlalu tau bisnis apa saja yang di miliki oleh Klan Loyard, yang dia tau hanya sebatas pusat perbelanjaan, rumah sakit, sekolah, resort, club malam dan sudah, hanya itu saja. Dia tidak berpikir bahwa bisnis Klan Loyard juga merambah ke dunia perbankan.


" Benar nyonya, Direktur utama bank kami adalah tuan Yuri yang memimpin perusahaan, tapi semua keputusan di ambil berdasarkan persetujuan oleh tuan Rai atau Tuan Regis atau juga tuan Ken " Jelasnya lagi.


Pantas saja.


Batin Ruby maklum, karena Sekertaris Yuri lah yang mencarikannya uang bergambar wanita dalam jumlah yang banyak.


Pak Handoko yang sedari tadi berdiri disamping Ruby hanya mendengarkan pembicaraan mereka dalam diam.


" Nyonya " Panggilnya pelan saat Ruby sudah mengakhiri obrolannya dengan pegawai bank tersebut.


" Hm ? " Hanya itu yang mampu dia ucapkan sebagai jawaban karena sekarang mata dan otaknya sedang berkonsentrasi penuh pada orang-orang yang sedang mondar mandir mengangkut karung-karung yang sudah jelas isinya di mata Ruby.


" Apa tidak sebaiknya uang-uang itu langsung di taruh di bak mandi sesuai perintah tuan Rai ? " Tanyanya tidak tepat waktu.


Tubuh Ruby bagaikan robot, dia menoleh dengan kaku ke arah pak Handoko. Dengan mata membelalak lebar dia berusaha memindai orang yang ada di depannya saat ini.


Wajahnya yang datar tanpa ekspresi itu semakin membuat Ruby heran. Bagaimana bisa ada orang yang setenang itu menerima perintah gila dari orang lain meskipun itu adalah atasannya sendiri.


" Pak Handoko kalau seumpama tuan Regis memerintahkan anda pergi ke laut dalam untuk mencari mutiara langka, apa anda akan pergi ? " Tanya Ruby basa basi sebagai sindiran.


" Tentu saja " Jawabnya santai.


" Meskipun anda tidak bisa berenang ? " Kejar Ruby belum puas.


" Saya bisa berenang " Jawabnya masih santai.


" Kan seumpamanya anda tidak bisa berenang " Jawab Ruby mulai tidak sabaran.

__ADS_1


" Anda tidak bilang kalau tadi seumpamanya saya tidak bisa berenang " Jawabnya dengan tenang.


" Aarrgghh !! " Teriak Ruby tidak tahan lagi.


" Terserah mau di taruh di mana semua uang koin itu " Pekiknya kesal lalu pergi meninggalkan pak Handoko yang senyum-senyum sendiri melihat kemarahan nyonya nya.


" Nyonya " Panggil Pak Handoko lagi setelah Ruby beberapa langkah jauhnya.


" Apa lagi ? " Tanyanya menahan geram.


" Sebentar lagi tuan sampai " Jelasnya datar.


" Arrrgghh !!! " Kembali terdengar teriakan kesal dari mulut Ruby. Ada-ada saja tingkah Rai yang membuatnya stres sendiri. Mau tidak mau dia kembali ke samping Pak Handoko dan berdiri dalam diam. Memberengut kesal lebih tepatnya.


" Nyonya " Kali ini Direktur bank yang memanggil Ruby.


" Apa ? Apa ? Apa ? " Tanyanya semakin kesal, hari ini terlalu banyak yang memanggilnya nyonya, membuat telinganya berdengung ngilu.


" Kalau anda butuh uang seribuan dalam bentuk kertas atau koin lagi anda bisa langsung menghubungi saya " Tawarnya sopan.


" Hahahaha... " Tawa Ruby semakin keras membahana, dia lalu menatap direktur bank yang masih saja tersenyum sopan tak memperdulikan alis Ruby yang sudah bertaut menimbulkan keriput-keriput besar di dahinya.


" Kalau bisa aku bahkan tidak ingin lagi melihat uang dalam bentuk apapun " Lanjutnya sinis, membuat direktur itu langsung terdiam dan terbungkuk-bungkuk meminta maaf.


" Nyonya " Panggil Sinta dan Lusi hampir bersamaan.


" Kenapa ? Kenapa ? Kenapa ? " Erangnya jengah.


" Itu apa ? " Tanya Sinta pelan mendekat ke arah Ruby. Sebenarnya Lusi dan Sinta terbiasa bertanya dengan suara keras kepada Ruby, tapi karena saat ini ada pak Handoko otomatis mereka harus bertindak sangat sopan kepada Ruby, salah satunya adalah bertanya dengan suara rendah.


" Karung beras " Jawab Ruby asal.


" Oh tumben sekali anda mengecek pengiriman beras " Lusi yang polos itu ikut menimpali.


Ruby dan Sinta memandang Lusi dengan terkejut melihatnya percaya begitu saja apa yang di katakan Ruby.


" Aku bisa gila " Erang Ruby benar-benar frustasi.


Tak berapa lama sebuah mobil memasuki pelataran mansion dan berhenti tepat di belakang mobil pengangkut uang.


Sopir langsung bergegas turun dan membukakan pintu mobil untuk Rai.


" Kau pesan uang ? " Tanyanya menggoda Ruby.


" Tidak lucu " Cibir Ruby ketus.


Namun Rai hanya terkekeh melihat wajah kesal istrinya, dia berjalan mendekatinya dan langsung merangkul pinggangnya, menariknya ke dalam pelukannya.


" Jangan protes, aku memang suka pamer " Ucapnya langsung begitu melihat Ruby membuka mulutnya bersiap untuk menegurnya.


" Hei kau pikir ini lucu " Omel Ruby berusaha melepaskan pelukan Rai.


" Mau taruh mana uang sebanyak itu ? " Dia menumpahkan kekesalannya pada si pemilik ide gila itu.


" Disini banyak kamar, kau tenang saja. Pak Handoko akan membaginya ke beberapa bathup, jadi kau bisa mandi di kamar mandi manapun yang kau mau " Kekehnya melihat Ruby yang semakin kesal.


Malas berdebat dengan Rai, Ruby pun memutuskan segera pergi ke kamarnya.


" Bisa tolong titip Raline sebentar ? Aku ingin bicara dengan Rai dulu " Pintanya pada Lusi dan Sinta.


" Baik nyonya " Jawab mereka bersamaan.


Dia pun pergi meninggalkan pintu utama setelah sebelumnya puas menciumi Raline, Rai yang masih saja terkekeh mengikutinya dari belakang.


" Kenapa kau semarah itu hanya karena uang receh ? " Tanya Rai mendadak berubah serius setelah mereka sampai di dalam kamar.


" Entahlah " Jawab Ruby bingung dan langsung menuju ruang ganti.


" Kau kenapa ? " Rai menghentikan langkah Ruby, menahan tangannya dan menatap matanya.


" Aku seperti sedang tidak enak hati " Jawabnya malas, gara-gara undangan yang tak di harapkan dari Vivianne, suasana hati Ruby mendadak buruk. Dia seperti memiliki firasat yang tidak baik terkait kembalinya si nenek sihir itu.


" Katakan pada ku apa yang membuatmu begitu " Rai membawa Ruby kedalam pelukannya, menyandarkan kepala Ruby di dadanya dan memeluknya erat.


" Haaah " Ruby menarik napas panjang, mencium aroma tubuh Rai yang selalu wangi itu sedikit membuatnya tenang. Mendengar detak jantung suaminya yang selalu berdebar kencang itu seakan menjadi penghalau semua pikiran buruk yang saat ini menghantuinya.


Detak jantungnya selalu berdebar dengan keras saat aku di pelukannya, tidak mungkin dia akan berpaling pada Vivianne bukan?


Batinnya berusaha menenangkan diri sendiri.

__ADS_1


" Aku sudah lebih baik " Jawabnya kemudian dan kembali tersenyum. Ketakutannya lenyap seketika.


" Masa ? " Tanya Rai masih belum percaya.


" Hm, hanya dengan mencium aroma tubuhmu dan mendengar debaran jantungmu aku sudah merasa tenang " Jelas Ruby mendongakkan wajahnya menatap Rai.


" Memangnya kenapa debaran jantungku ? " Tanya Rai bingung.


" Debaran jantung mu masih sama iramanya seperti saat kita mulai mengakui perasaan kita " Jawab Ruby.


" Debaran jantungku memang selalu lebih cepat jika ada di dekatmu, saking terbiasanya aku dengan hal itu, jika aku jauh darimu ku kira aku sudah mati karena jantungku berdebar sangat lemah " Jelas Rai lalu mencium hidung Ruby.


" Oh ya ? " Goda Ruby berpura-pura tidak percaya.


" Cih " Cibir Rai kesal merasa pengakuan perasaannya hanya di anggap gurauan semata oleh separuh jiwanya itu.


" Kau sendiri bagaimana ? Memangnya kau tidak berdebar-debar saat di sampingku ? " Tanya Rai ketus.


" Tidak " Jawab Ruby datar kemudian terkekeh.


" Jadi kau sudah tidak mencintaiku lagi ? " Kejar Rai semakin kesal.


" Debaran jantungku justru berlawanan dengan mu, saat ada di dekatmu jantungku berdetak sangat pelan dan damai, terasa begitu menenangkan dan nyaman. Tapi jika kau jauh dari ku, jantungku seperti kehilangan ritmenya, mendadak nyeri dan tidak tenang. Waktu berputar sangat lambat, dan aku selalu merasa gelisah sepanjang hari. Tapi jika kau sudah kembali padaku, aku merasa seperti tidak butuh apa-apa lagi, hanya ada kau saja aku sudah merasa cukup " Jelasnya lembut.


Wajah Rai langsung memerah begitu mendengar pengakuan manis Ruby. Istrinya itu selalu mampu membuatnya jatuh hati dengan cara yang berbeda setiap hari. Dan siang ini, Rai kembali jatuh cinta, rasanya sama persis dengan di awal, malah semakin bertambah dalam setiap harinya.


" Tapi tetap saja, aku jauh lebih mencintai mu " Sanggahnya tak mau kalah.


" Iya iya kau pemenangnya " Jawab Ruby mengalah dan kemudian kembali membenamkan wajahnya di pelukan Rai.


Sekali lagi, mengirup aroma tubuh laki-laki yang sangat di cintainya itu.


Aku percaya kau tidak akan menghiraukan Vivianne lagi, jadi aku akan menunggumu bercerita tentang undangan itu, aku akan selalu percaya padamu apapun yang terjadi.


" I Love You " Gumam Ruby lirih dan semakin mengeratkan pelukannya.


" I Love You more " Balas Rai lalu mencium puncak kepala Ruby.


" Oh ya apa itu sudah datang ? " Tanya Rai tiba-tiba sedikit melonggarkan pelukannya pada Ruby.


" Itu ? " Ruby mendongakkan wajahnya bertanya bingung pada Rai. Itu apa ?


" Dia bilang akan datang hari ini " Jawab Rai santai.


Deg !! Ini lah yang di tunggu oleh Ruby, kejujuran suaminya. Dia pasti bertanya perihal undangan itu, pikir Ruby.


" Itu apa ? " Tanyanya masih berpura-pura tidak tahu, dia ingin melihat sejauh apa suaminya masih berhubungan dengan Vivianne.


" Undangan ? " Tanya Ruby pada akhirnya.


" Undangan ? Dari siapa ? " Kini Rai yang bertanya bingung.


Lho ?


Ruby semakin bingung mendengar jawaban Rai, jika bukan undangan dari Vivianne lalu apa yang di tunggunya datang.


" Bu-bukannya kau menunggu undangan pernikahan dari Vivianne ? " jelas Ruby tergagap.


" Cih " Cibirnya malas.


" Aku mana peduli dengannya " Jawabnya acuh.


Lalu apa yang di tunggunya dong ?


Ruby semakin bingung.


" Kalau begitu kau menunggu apa ? " Tanya Ruby heran.


" Aku menunggu foto-foto hasil pernikahan kita dan juga foto power rangers kita, aku tidak sabar melihat hasilnya " Jawabnya antusias.


Heol !!! Masalah Vivianne di anggapnya tidak penting dan justru power rangers lah yang dia pikirkan. Suami macam apa dia ???


Ruby menepuk jidatnya sendiri, lalu memilih pergi ke ruang ganti.


" Sayang... kenapa lagi ? " Teriak Rai bingung.


" Sayaaaang... " Ulangnya semakin kencang dan kemudian menyusul Ruby.


Inilah para lelaki di Klan Loyard, jika sudah mencintai satu wanita mereka seperti memakai kacamata kuda, tidak ada yang di lihatnya selain wanitanya. Bravo the amburadul family.

__ADS_1


__ADS_2