Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Satu Pabrik


__ADS_3

Jam besar nan antik di ruang keluarga klan Loyard telah berdentang sepuluh kali, dan sudah puluhan kali pula Ruby serta Kiran bolak balik menatap ke arah pintu dengan gelisah.


" Lama juga dia perginya " Gumam Ruby berbisik kepada Kiran yang duduk di sebelahnya.


" Iya aku juga tidak sabar melihat ekpresi di wajahnya, si ice bear yang dingin itu berkencan, membayangkannya saja aku tidak bisa " Balas Kiran sembari menggelengkan kepalanya dan bergidik.


Rai yang sudah gatal dengan tingkah kedua nyonya Loyard itu pun menghela napas kesal. Sedari tadi Ruby tidak berkonsentrasi pada film yang mereka tonton, padahal dia lah yang semula memaksa ingin menonton film bersama di ruang keluarga walaupun sebenarnya mereka bisa saja nonton film di bioskop pribadi mereka atau menonton hanya berdua saja di kamar mereka.


" Filmnya ada di sebelah sana " Dengan setengah menggeram Rai memutar pelan kepala Ruby agar menghadap layar datar yang ada di hadapannya.


Namun tidak ada semenit kemudian Ruby sudah kembali gelisah dan bolak balik melihat ke arah pintu.


" Hei !! " Teriakan kesal Rai sukses membuat Ruby serta Kiran yang sibuk melihat ke arah pintu, dan Ken yang sedang serius melihat film pun terlonjak kaget, mereka semua kompak menoleh ke arah Rai.


" Sudah ku bilang filmnya ada di sana, kenapa kau terus menatap ke arah pintu " Sungut Rai kesal.


" Aku sedang menunggu Dylan pulang " Jawab Ruby dengan wajah polosnya.


" Memangnya kenapa kau menunggu dia pulang, hah ? " Tanya Rai semakin ketus.


" Ya aku penasaran saja bagaimana kencannya, apakah berjalan lancar atau tidak " Jawab Ruby santai.


" Jadi kau memaksa untuk menonton film di sini karena kau sedang menunggunya ? " Batas kesabaran Rai yang memang cuma segaris itupun habis sudah, dengan wajah yang merah menahan kesal dia memelototi Ruby yang masih memasang ekspresi polosnya.


" Sayang kau jangan marah begitu " Dengan suara merayu penuh kesabaran Ruby meraih tangan Rai.


" Aku bukannya sengaja menunggunya, aku hanya khawatir apakah kencannya berjalan lancar atau tidak, kau tau sendiri dengan wajah ice bearnya itu kurasa akan sangat sulit baginya untuk berinteraksi dengan orang lain " Lanjut Ruby sembari membawa tangan Rai dan meletakkan dipipinya kemudian mengusap-usapnya lembut, jurus andalannya saat Rai terbakar cemburu.


" Kalian tenang saja " Saut Ken terdengar santai.


Dan mereka semua kembali kompak menatap ke arah Ken.


" Dia tidak sepolos dan sedingin yang kau kira kakak ipar marimar " Lanjut Ken menjelaskan.


" Maksudnya ? " Tanya Kiran mengerutkan kening menatap Ken yang ada di sampingnya yang sepertinya acuh dengan kencan Dylan.


" Dylan itu jauh melebihi bayangan kalian, adik kecil kita itu tidak sedingin yang terlihat saat bersama dengan Blair " Ken menyilangkan satu kakinya dan terdengar sangat meyakinkan.


" Kau tau dari mana ? " Kejar Ruby sangsi dengan penjelasan Ken.


" Aku tau karena aku sendiri melihat betapa hangat dan perhatiannya Dylan kepada Blair " Jawab Ken mantap.


Ruby dan Kiran semakin mengerutkan alis mereka dalam-dalam, masih tidak percaya. Sementara Rai hanya menatap Ken dengan tajam, menyimak dalam diam.


" Hei kalian kira aku berbohong ? " Ketus Ken saat menerima semua tatapan tajam dari kedua kakaknya dan istrinya.


" Aku dengan mata kepala ku sendiri, bahkan dengan kedua tangan ku ini... " Ken mengangkat kedua tangannya dan menunjukkannya pada mereka semua.


" .... telah membantunya memilihkan pembalut untuk Blair, kalau dia sedingin itu mana mungkin dia mau repot-repot menjatuhkan harga dirinya dengan membeli pembalut " Pungkas Ken dengan sangat meyakinkan.


Ruby dan Rai membelalakkan mata tidak percaya, syok mendengar cerita Ken yang heboh itu.


" Sungguh ? " Pekik Ruby sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.


" Ah iya iya aku ingat " Seru Kiran hampir berbarengan dengan pekikan Ruby, suasana pun menjadi tegang.


" Dia benar, Ken pernah cerita padaku bahwa dia melihat Dylan di minimarket dekat sekolah sedang memilihkan pembalut tapi bukankah kau tidak tau kalau itu untuk Blair ? " Cerita Kiran dengan menggebu-gebu.


" Waktu itu aku memang tidak tau kalau Dylan membelikan pembalut untuk Blair, tapi saat melihat Blair dan Dylan keluar dari perpustakaan dan Dylan mengantarkan Blair ke toilet sembari memberikan bungkusan plastik berisi pembalut itu, aku jadi tau kalau dia membeli itu untuk Blair " Jelas Ken dengan santai.


" Benarkah ? " Ruby yang masih tidak percaya menatap mata Ken dengan tajam, tapi di lihat dari sudut mana pun Ruby tau kalau Ken tidak mungkin berbohong.


" Wuah dia sampai sejauh itu " Pekik Ruby masih syok.


" Nah sekarang kalian tau kan kalau adik kita itu tidak sedingin yang kalian sangka, jadi berhentilah khawatir tentang kencannya karena sudah pasti hubungan mereka akan berhasil " Jawab Ken dengan santai.


" Wuah aku masih tidak percaya dengan apa yang ku dengar " Gumam Ruby.


" Lihat lihat, tangan ku sampai merinding membayangkannya " Dia mengulurkan tangannya dan menunjukkan pada Rai bulu-bulu tangannya yang sedang meremang.


Namun Rai sama sekali diam tak bereaksi. Hal itu membuat Ruby dan yang lainnya menjadi bingung.


" Kau masih tidak percaya ? " Tanya Ken pada Rai.


" Hmm... " Hanya itu yang keluar dari mulut Rai, dia kemudian menempelkan telunjuk di keningnya dan berpikir keras.


" Aku tidak menyangka Dylan sampai mampu berbuat sejauh itu demi Blair, ternyata dia sangat perhatian juga di balik sikap dinginnya " Celetuk Kiran mengabaikan Rai yang masih saja berpikir keras.

__ADS_1


" Ternyata dia sangat romantis " Saut Ruby dengan suara penuh kekaguman.


" Benar, tidak kah menurutmu dia seperti tokoh di dalam drama, cuek tapi ternyata sangat perhatian, aah... aku jadi tidak sabar mendengar cerita tentang kencannya " Saut Kiran juga penuh dengan aura kekaguman.


Dan selanjutnya Ruby juga Kiran sibuk untuk menerka-nerka bagaimana kencan adik kecil mereka, apakah akan seindah dan seromantis dalam drama korea yang sering mereka tonton.


Sementara Rai masih saja terlihat berpikir keras, Ruby yang melihat itupun keheranan dan menatap Rai dalam-dalam.


" Kau kenapa ? " Tanya Ruby bingung.


" Aku sedang berpikir " Jawab Rai gusar.


" Berpikir apa ? Mengkhawatirkan Dylan ? " Kejar Ruby semakin bingung. Hal itu membuat Kiran dan Ken juga ikut memperhatikan Rai yang masih saja menempelkan jari telunjuknya di kening dan terlihat berpikir sangat keras.


" Hmm " Jawab Rai masih dengan nada gusar yang kental.


" Ei kan sudah ku bilang kalau kencan mereka akan berjalan lancar " Saut Ken menenangkan.


" Tidak, aku tidak memikirkan tentang itu " Jawab Rai lagi masih dengan posisinya semula.


" Lalu tuan memikirkan apa ? " Tanya Kiran bingung.


" Kalian bilang Dylan membeli pembalut bukan ? " Tanyanya kemudian yang semakin membuat ketiga orang lainnya bingung.


" Lalu ? " Tanya Ruby ragu-ragu, menebak kemana arah pembicaraan Rai.


" Memangnya kalian tidak merasa aneh dia membeli pembalut untuk Dipsy " Jawab Rai.


" Dasya !! " Kompak ketiga orang lainnya mengoreksi.


" Aish sama saja " Ketus Rai kesal.


" Memang sih agak aneh juga dia membeli pembalut untuk seorang gadis, tapi... " Jawab Ruby pada akhirnya.


" Nah kan aneh " Saut Rai dengan cepat, membuat semua orang kembali terlonjak kaget.


" Iya juga " Kiran mau tau mau ikut mengangguk mengiyakan pernyataan Ruby dan Rai.


" Aku jadi khawatir dengan Dylan " Ucap Rai kembali gusar.


" Khawatir kenapa ? " Saut Ken bingung.


" Apa ? " Tanya Ken dan Kiran berbarengan.


" Apa kalian tidak berpikir kalau Dylan dan Blair sudah terlalu jauh, maksud ku bagaimana mungkin Dylan bisa tau siklus Blair, apa Dylan dan Blair sudah.... " Jawab Ruby takut-takut lalu kemudian bergidik mengusir bayangan negatif di kepalanya tentang adik kecilnya.


Tidak mungkin, tidak mungkin, Dylan anak yang bertanggung jawab, tidak mungkin dia melakukan itu sebelum waktunya.


Batinnya menenangkan dirinya sendiri.


" Kau benar " saut Rai mantap.


" Kurasa Dylan sudah di jebak " Lanjutnya.


" Di jebak ?!? " Kompak saja Ruby, Kiran dan Ken terlonjak mendengar ucapan Rai.


" Sedari awal aku memang tidak suka dengan keluarga Dimitri, tapi aku membiarkan Dipsy karena aku masih memandang Dylan. Tapi lihat saja, kalau sampai mereka macam-macam dengan keluarga ku, akan ku remukkan mereka semua " Geram Rai.


" Di jebak apa ? Bagaimana ? " Kejar Ruby panik.


" Kau lihat saja, belum apa-apa Dylan sudah membelikan pembalut untuk Dipsy, jangan-jangan ini memang rencana keluarga Dimitri untuk mendekati Dylan " Jelas Rai bersungguh-sungguh.


" Ma-maksud mu ? " Tanya Ken tergagap.


" Pasti si Dipsy itu tidak benar-benar menyukai Dylan, dia hanya berpura-pura terluka agar Dylan menjadi kasihan padanya kemudian membelikan dia pembalut " Jelas Rai lagi.


" Tunggu dulu " Sanggah Ruby merasa aneh dengan argumen Rai.


" Terluka ? Memangnya Blair terluka apa ? " Tanya nya menginterupsi.


" Ya mana ku tau, kenapa tidak kau tanya saja pada Dylan si Dipsy terluka kenapa sampai harus menyuruh Dylan membelikannya pembalut " Jawab Rai polos.


" Haaah.... " Ruby menghela napas panjang, mulai menemukan titik terang penjelasan Rai yang sedari tadi berputar-putar tidak pada tempatnya.


" Memangnya kau tau pembalut itu apa ? " Tanya Ruby jengah.


" Perban kan ? " Jawab Rai percaya diri.

__ADS_1


" Haaaah... " Kiran dan Ken kompak menghela napas dan menyandarkan bahu mereka, sia-sia mendengarkan Rai dengan serius karena pada akhirnya pembicaraan mereka tidak berada di garis yang sama.


" Bukan Rhoma... itu bukan perban " Geram Ruby menahan kesal.


" Lalu kalau bukan perban apa ? Bukan kah katamu itu pembalut, tentu saja itu gunanya untuk membalut luka " Jawab Rai ketus.


" Aiyooo... sudah salah malah ngeyel " Gumam Ruby kesal.


" Hei memangnya kau tidak tau bagaimana bentuknya pembalut ? " Tanya Ruby.


" Kain kasa putih kan ? " Jawab Rai santai.


" Kau tidak pernah nonton iklan ? " Tanya Ruby malas.


" Tidak " Jawab Rai bingung.


" Pantas saja " Ruby ikut menyandarkan punggungnya dan kembali menghela napas panjang.


" Sayang pembalut itu khusus untuk wanita yang sedang mengalami siklus bulanannya " Jelas Ruby dengan kesabaran yang di tahan.


" Bulanan apa ? " Tanya Rai semakin bingung.


" Gajian ? Uang belanja ? " Lanjutnya menebak.


" Aduuh bagaimana menjelaskannya ya ? " Gumam Ruby sembari memejamkan matanya berpikir keras.


" Ah ya " Dia menjentikkan jarinya, menemukan jawaban yang cocok untuk Rai.


" Setelah aku melahirkan, kau kan melihat aku kehilangan banyak darah dan aku memakai sesuatu untuk menahannya, nah itu namanya pembalut " Jelas Ruby.


" Ah benda kecil putih itu " Jawab Rai mengangguk-angguk paham.


" Benar, setiap bulan wanita pasti akan mengalami siklus haid, jadi mereka butuh pembalut " Jelas Ruby lagi.


" Tidak heran kau tidak tau kak, karena itu urusan wanita, dan kau selalu tidak tau apapun tentang wanita " Saut Ken malas.


" Memangnya anda belum pernah melihat Ruby sedang haid ? Atau mendengarnya meminta pembalut ? " Tanya Kiran penasaran.


" Tidak pernah " Jawab Rai santai.


" Tentu saja tidak pernah, sejak menikah dengannya aku tidak sempat mengalami haid, mungkin karena aku langsung hamil, dan kehamilan ku sendiri baru ketahuan setelah usianya beberapa bulan " Jawab Ruby menjelaskan.


" Oooh " Kiran mengangguk-angguk paham, otaknya kembali menghubungkannya dengan cerita Ruby tentang betapa polosnya Rai jika sudah berhubungan dengan wanita, dia dibesarkan dengan cara yang berbeda dari kebanyakan manusia.


" Tapi kenapa menurutmu membeli pembalut saja hal yang romantis, memangnya apa yang ku lakukan untuk mu selama ini tidak romantis ? " Tanya Rai kepada Ruby.


" Hah ? " Ruby menatap Rai dengan bingung.


" Ya menurutku romantis, karena jarang ada lelaki yang mau menurunkan harga dirinya demi membeli barang khusus untuk wanita, kebanyakan dari mereka tidak mau melakukan hal itu " Jawab Ruby berhati-hati, karena salah bicara saja bisa membuat Rai terbakar cemburu mengingat dirinya telah kelepasan memuji laki-laki lain di hadapan Rai.


" Cuma membeli pembalut saja sudah kau bilang romantis ? " Suara Rai mulai sedikit meninggi, membuat Ruby gelisah.


" Ya... ya... me-menurutku begitu " Jawab Ruby gelagapan.


" Baiklah kalau cara main mu begitu " Jawab Rai dengan kesal, melihat hal itu semakin membuat Ruby panik. Dia tau Rai pasti akan melakukan hal gila demi mendapat predikat laki-laki paling romantis di mata Ruby.


Rai kemudian mengambil ponselnya dan menekan layarnya dengan cepat.


" Ka-kau mau apa ? Menelepon siapa ? " Panik Ruby.


" Akan ku buktikan aku jauh lebih romantis di banding Dylan " Jawab Rai ketus.


Kan ? Kan ?


Benar saja dugaan Ruby.


" Halo Sekertaris Yuri, besok kirimkan pembalut ke rumah " Perintah Rai begitu sambungan teleponnya di jawab.


" Baik tuan, berapa banyak ? " Suara Sekertaris Yuri samar-samar terdengar.


" SATU PABRIK " Jawab Rai dengan tegas.


" HAH ?!?! " Ketiga orang juga sekertaris Yuri yang ada di ujung telepon itu pun memekik syok mendengar jawaban Rai.


" Sudah " Pungkas Rai lalu menutup sambungan teleponnya dan kemudian menatap Ruby tajam.


" Aku jauh lebih romantis di banding si pipa, jadi jangan lupa pakai semua pembalut yang ku belikan untuk mu " Jawab Rai dengan seringainya yang mengerikan.

__ADS_1


Ku pikir dia sudah sedikit waras, tapi ternyata...


Batin Ruby meratap pilu.


__ADS_2