
" Hei aku menyuruh kalian memasak ayam bukannya main dokter-dokteran " Ruby berkata ketus kepada Ken dan Rai, tapi mereka tidak menghiraukan, mereka tetap saja sibuk membedah ayam yang sudah mati itu.
Salah satu koki menghampiri Ruby.
" Nyonya tenang saja, tuan Rai tidak akan melakukan kesalahan dalam membuat ayam goreng enak untuk nyonya " Koki itu berusaha menenangkan Ruby.
" Apa ? " Ruby bertanya kesal, dia kemudian menghembuskan nafas kasar, menyerah dan memilih menikmati syuting adegan dokter-dokteran di depannya.
Tiba-tiba sebuah ide muncul lagi, dia mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada koki yang berdiri di sampingnya.
" Tuan tolong rekam mereka untuk ku, cari angle yang pas dan buat rekaman itu terasa nyata, ok " Ruby meminta tolong yang di sambut dengan anggukan dan senyuman lebar di wajah koki itu. Dia kemudian mengambil ponsel yang diberikan oleh Ruby dan mulai merekam.
Rai dan Ken terlihat sangat serius melakukan pekerjaan mereka, dengan hati-hati Rai membelah bagian dada hingga perut ayam yang sudah mati itu.
" Baiklah dadanya sudah terbuka, lalu apa lagi yang harus aku lakukan ? " Tanya nya pada kepala koki yang berdiri di samping mereka mengawasi jalannya operasi.
" Anda harus mengeluarkan isi bagian dalam tubuh ayam tersebut, hati-hati tuan atau kalau tidak anda akan memecahkan kantung empedu dari ayam tersebut dan membuat seluruh dagingnya terkontaminasi cairan empedu yang akan membuat dagingnya menjadi sangat pahit " Koki itu memberi penjelasan detail kepada Rai.
" Baiklah, ini operasi yang sangat rumit ternyata " Rai bergumam sendiri.
" Semangatlah kak " Ken mengambil tissu yang juga di sediakan oleh para koki dan mengusap keringat Rai layaknya assisten dokter yang mengusap keringat dokternya di ruang operasi.
Setelah mengikuti instruksi dari kepala koki akhirnya seluruh isi perut ayam itu keluar dengan sempurna. Membuat Rai dan Ken menghembuskan nafas lega.
" Baiklah langkah selanjutnya apa ? " Rai bertanya lagi.
" Anda harus mencari setiap sendi dari ayam-ayam ini untuk kemudian di potong, memotong tidak pas dengan sendi nya akan membuat ayam itu susah di potong dan membuat rasanya tidak sedap " Jawab Kepala Koki dengan serius.
Rai mengangguk paham dengan serius juga. Dia meraba setiap bagian tubuh ayam untuk mencari sendi yang akan di potong.
" Baiklah pisau potong " Perintah Rai setelah dirinya merasa menemukan sendi ayam tersebut.
Ken mengambil pisau kecil dari tangan Rai, dan menggantinya dengan pisau besar yang khusus untuk memotong tulang ayam.
Rai kemudian memotong ayam itu menjadi dua bagian, bagian atas dan bagian bawah sesuai instruksi dari kepala koki. Dia kemudian memotongnya lagi menjadi 10 bagian.
" Kita telah melewati masa kritis pertama, misi 1 selesai " Rai mengakhiri operasi pembedahannya.
Dia menyerahkan pisaunya kepada Ken yang kemudian di ambil untuk di kembalikan ke tempatnya oleh koki lainnya.
Rai mengangkat tangannya ke udara, memerintahkan koki untuk melepas sarung tangannya. Koki pun dengan sigap melepas sarung tangan Rai tanpa membuat tangannya kotor.
__ADS_1
" Baiklah Ken sekarang bagian mu " Rai menepuk pundak Ken.
" Semoga berhasil " Ucap Rai menyemangati Ken yang di jawab dengan anggukan kepala.
Koki memindahkan ayam yang sudah terpotong tadi kedalam wadah dan mencucinya sampai bersih. Kemudian membawanya kembali ke hadapan Ken yang sudah menunggu di depan meja. Koki yang lain sibuk menyiapkan sederetan bubuk-bubuk bumbu untuk membumbui ayam tersebut.
" Baiklah peralihan misi, aku akan mulai memarinasi ayam ini,apa yang harus aku lakukan ? " Ken berbicara kepada kepala koki.
" Anda harus melumurinya dengan air lemon terlebih dahulu tuan " Instruksi kepala pelayan kepada Ken yang kemudian menyerahkan beberapa potongan lemon segar.
Ken menerimanya dan memeras lemon itu di atas ayam dengan gaya ala-ala koki profesional kelas dunia, membuat tetesan-tetesan air lemon jatuh ke atas ayam. Dia kemudian meratakannya dengan cara memijat mijat daging ayam.
" Baiklah selesai, lalu apa lagi ? " Ken bertanya.
" Anda harus memasukkan bumbu-bumbu dengan takaran yang pas agar ayamnya terasa lezat " Instruksi kepala koki yang kemudian menyodorkan deretan bumbu-bumbu ke arah Ken.
Lagi-lagi dengan bergaya ala chef profesional dia menaburkan bumbu-bumbu itu di atas ayam. Dan kemudian meratakannya.
Ruby yang sedari tadi menonton adegan demi adegan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tidak merasa yakin dengan rasa daging ayam itu.
" Kalian masih lama ? Aku sudah kelaparan " Ruby setengah berteriak.
" Tenanglah kakak ipar, ini misi penting tidak boleh gagal atau Junior akan malu punya paman seperti ku " Teriak Ken dari balik maskernya.
Mereka berkumpul lagi di sekitar meja besar untuk rapat yang ke dua kalinya. Masing-masing dari mereka menganggukkan kepala saat Ken menunjukknya.
" SIAP LAKSANAKAN " lagi-lagi mereka berseru kompak membuat Ruby terlonjak.
Aisshh kali ini akan main drama apa lagi.
Ruby memijit pangkal hidungnya.
Mereka semua bubar dan meninggalkan dapur, Ken dan Rai juga ikut meninggalkan dapur. Ruby menjadi semakin bingung.
" Kenapa mereka malah pergi ? " Tanya Ruby kepada koki yang sedari tadi menemaninya.
" Saya akan mencari tau nyonya, mohon anda tunggu disini " Koki itu berpamitan dan pergi menyusul yang lain keluar dapur.
Ruby menunggu cukup lama, dia melirik jam tangannya, 30 menit berlalu, kesabarannya habis. Dia bangkit berdiri dan akan pergi meninggalkan dapur, tapi langkahnya terhenti karena pintu dapur sudah di buka. Ruby menyipitkan matanya melihat ke arah luar. Setelah yakin apa yang di lihatnya matanya membelalak.
" Omo omo daebak !!! " Ruby tidak percaya apa yang di lihatnya, membuatnya kembali terduduk.
__ADS_1
Dua orang berjalan menuju dapur dengan mengenakan pakaian serba hitam dan seperti rompi anti peluru lengkap dengan helm penutup wajah. Membuat mereka terlihat seperti pasukan khusus gegana penjinak bom yang ada di barisan paling depan.
Koki yang masih tersisa di dapur sudah menyiapkan sebuah wajan penggorengan besar dengan minyak panas.
" Baiklah menyebar " Perintah Rai kepada Ken dan para koki lainnya. Mereka semua menuruti perintah Rai tanpa bantahan, membuat suasana dapur seperti film action.
Rai berjalan mengendap-endap seperti seorang agen yang siap menyergap musuhnya.
Seorang koki maju dan menyerahkan mangkok berisi ayam yang telah di marinasi tadi kepada Rai. Dia kemudian mengambil capit makanan dan mencapit ayam untuk di masukkan kedalam wajan berisi minyak panas.
Seketika terdengar letupan-letupan akibat masuknya ayam bercampur air kedalam minyak panas. Menimbulkan percikan-percikan minyak panas.
Rai yang melihat itu langsung menunduk di bawah kompor.
" Berlindung semua, itu serangan awal, masih ada 9 potong ayam lagi yang akan menimbulkan lebih banyak percikan minyak panas " Rai memerintah, dan bagaimana mungkin dengan konyolnya semua mematuhi perintah Rai.
Ken kemudian mengeluarkan sebuah walkie talkie.
" Prince Wolf masuk, bagaimana langkah selanjutnya, kita semua menunggu perintah. Ganti " Dia berbicara dengan walkie talkie nya.
Rai yang menerima panggilan di walkie talkie nya segera menjawab.
" Big Bos masuk. Kau yang memasukkan potongan ayam kedua, berhati-hatilah dengan percikan minyak panasnya. Ganti " Rai memerintah kepada Ken.
" Dimengerti. Ganti " Ken kemudian berdiri dan mengambil capit untuk memasukkan ayam ke dalam wajan penggorengan.
Suara keras minyak panas kembali bergemuruh seiring dengan masukknya potongan ayam, yang lagi-lagi menciptakan percikan minyak panas. Ken yang takut segera kembali bersembunyi di bawah meja.
" Prince Wolf masuk. Misi selesai. Aku hanya mampu memasukkan satu potongan ayam saja, percikan minyak itu ternyata sangat berbahaya, aku terkena di punggung tangan ku yang tidak terlindungi. Ganti " Ken mengambil walkie talkie nya lagi dan memberitahu Rai dengan ekspresi menahan sakit seperti kena tembakan.
" Big Bos masuk. Tidak, apakah kau baik-baik saja ? Itu pasti sangat menyakitkan. Bertahanlah, bantuan akan segera datang. Ganti " Rai menjawab cemas di walkie talkie nya.
" Aku tidak tahan lagi melihat mereka, mereka berbicara melalui walkie talkie padahal mereka hanya berjarak 1 meter " Ruby bergumam kesal.
Ruby kemudian bangkit dan berjalan kesal menuju koki yang memegang mangkok berisi ayam, dengan kesal merebut mangkok itu dan memasukkan 8 potongan ayam yang tersisa ke dalam wajan tanpa takut dan pengaman apapun.
Suara gesekan antara minyak panas dan air semakin keras, dan menimbulkan hujan percikan minyak panas.
" Berlindung semua, ini serangan terparah " Ken berteriak histeris.
Setelah suara percikan minyak panas mereda kakak beradik itu mendongakkan kepala mereka untuk melihat seseorang yang berdiri di depannya sekarang.
__ADS_1
" Hulk women " Seru mereka berbarengan.