Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Pesta Yang Tak di Duga


__ADS_3

" Kyaaaaa.... " Jerit Kiran dan Ruby menyaksikan kejadian nyata yang terpampang di hadapannya. Mereka saling berpegangan tangan gemas melihat Dylan yang sedang mencium Blair.


Mobil yang di tumpangi Dylan memang telah di pasangi kamera tersembunyi, mereka sengaja melakukannya agar bisa memantau perkembangan hubungan Dylan dan Blair, berjaga-jaga kalau Dylan lebih memilih menyimpan dan memutuskan untuk menghadapi Dimitri sendirian. Namun mereka tidak pernah menyangka akan melihat kejadian tak terduga itu.


Setelah menyaksikan adegan ciuman antara Dylan dan Blair, Rai baru bisa menentukan langkah apa yang harus di ambilnya untuk mengurus adik bungsunya itu.


" Aku tau dia memang beda " Pekik Ruby girang melihat Dylan yang sedang menggenggam tangan Blair sepanjang perjalanan pulang mengantar Blair.


" Bukankah dia sangat romantis, aku seperti melihat adegan di dalam drama " Jawab Kiran tak mampu melepaskan pandangannya dari layar tv yang menampilkan gambaran kamera tersembunyi tersebut.


" Dia benar-benar manis sekali " Puji Ruby memandang Dylan dengan mata yang berbinar.


" Iya kau benar " Timpal Kiran mengangguk antusias.


" Hei !! " Rai yang sedari tadi sudah panas mendengarkan obrolan kedua wanita itu semakin bertambah panas saat mendengar Ruby memuji-muji Dylan setinggi langit.


" Aku juga bisa romantis seperti dia " Sungutnya mendelik kesal ke arah Ruby.


" Iya iya sayang, kau yang paling romantis" Jawab Ruby asal namun matanya masih tetap terpaku pada pasangan baru di dalam mobil tersebut.


" Kira-kira Dylan akan menyatakan cintanya malam ini tidak ya ? " Tanyanya antusias pada Kiran.


" Entahlah, aku juga ikut berdebar melihat mereka berdua, aku tidak sabar menunggu kelanjutan kisah mereka " Jawab Kiran juga ikut antusias.


Namun belum sampai mereka mengetahui jawabannya, layar datar di hadapan mereka tiba-tiba saja menjadi gelap.


" Loh ? Mati ? " Tanya Kiran panik.


" Kenapa... " Ruby menoleh ke arah Rai untuk bertanya, dan remote yang ada di tangan Rai seolah menjadi jawaban tidak langsung.


" Kenapa di matikan ? " Teriaknya kecewa.


" Sudah malam, ayo tidur " Jawab Rai ketus, dia melemparkan remotenya dengan asal lalu bangkit dan menarik Ruby berdiri.


" Tapi aku... " Rengek Ruby memelas, dia masih ingin melihat Dylan dan Blair, bagaimana kelanjutannya. Namun Rai tidak peduli, dia malah meraup Ruby dan menggendongnya.


" Jangan sampai rentenir ronde ini menaikan suku bunga hutangmu atau kau tidak akan bisa keluar besok karena seluruh tubuhmu akan penuh dengan tanda merah dari ku " Ancam Rai kesal, mendengar hal itu Ruby langsung membekap mulut Rai.


" Iya iya aku mengerti, jangan bicarakan itu di depan mereka " Desis Ruby melirik ke arah Kiran dan Ken yang sedang mengamati mereka.


" Makanya jangan buat aku marah " Rai semakin mengeratkan gendongannya dan kemudian pergi keluar, meninggalkan Kiran dan Ken yang masih melongo.


" Wuah tidak ku kira dia bahkan bisa cemburu hanya karena Ruby melihat Dylan dan Blair " Desis Kiran sembari mengusap-usap kedua lengannya yang merinding.


" Beruntungnya aku Ken bukan orang yang seperti itu " Gumamnya lagi lalu menoleh ke arah Ken.


" Jadi kau berpikir yang di lakukan Dylan itu keren begitu ? " Ucap Ken sinis menepuk-nepuk pahanya sendiri.


" Hm ? " Kiran mengernyitkan keningnya bingung.


" Memangnya aku kurang keren bagaimana lagi, menghadapi mu yang sedang PMS yang kadang galak seperti singa dan selalu berubah-ubah keputusan kau pikir itu tidak susah ? Bahkan aku ragu dukun yang terhebat saja bisa menghadapi wanita yang sedang PMS " Cibir Ken ketus lalu berdiri dan pergi meninggalkan Kiran.


" Ken... " Panggil Kiran ikut berdiri lalu menyusul Ken.


" Sayang tunggu aku " Teriaknya tapi Ken seolah acuh dan malah membawa skuter milik Kiran, mengendarainya pergi ke kamarnya.


" Tidur di luar " Teriaknya kesal sembari memacu skuternya bergerak lebihh cepat.


🍁🍁🍁🍁🍁


Pagi pagi Ruby yang dulu selalu di bangunkan oleh suara alarm dari ponselnya kini telah berubah.


Suara ocehan terkadang tangisan Raline seolah menjadi alarm alami untuknya, begitu juga pagi ini. Raline yang memang bangun sangat pagi itu sedang menangis.


" Kau sudah bangun " Gumam Ruby dengan suara serak khas bangun tidur, dia melirik jam kecil yang ada di nakasnya, masih jam 4 pagi dan Raline sudah bangun.


Suara tangisan Raline bukannya mereda malah semakin keras, Ruby pun bangun dengan sedikit sempoyongan menghampiri boks tidur Raline.


Dia menggendongnya dan membawanya ke ranjang, menidurkannya disana sembari menyusuinya.


Rai yang juga ikut terbangun itu menggeliat dan mengelus puncak kepala Ruby.


" Pagi sayang " Sapanya serak.


" Kau terbangun ya ? Maaf " Balas Ruby lirih.


" Tidak apa-apa, memang sudah seharusnya kita bangun. Oh ya kau mau apa hari ini ? Jalan-jalan ? Nonton ? Atau belanja ? " Tawar Rai, dia tau sebenarnya hari ini adalah hari pernikahan Vivianne, dan dia berencana membuat Ruby sibuk seharian agar dia lupa pada undangan yang tak di harapkan itu.


" Itu... " Jawab Ruby menatap wajah Rai sungkan, ragu-ragu untuk mengatakannya atau tidak.


" Kalau boleh aku ingin hadir ke pernikahan Vivianne " Lanjutnya.


" Kau yakin ? Aku tidak peduli pada pesta itu tapi kalau kau ingin hadir aku akan menghargainya " Jawab Rai asal.

__ADS_1


" Ya aku ingin hadir " Ucap Ruby mantap. Bukan tanpa alasan dia ingin hadir di pesta yang tidak di harapkannya itu, beberapa hari yang lalu dia mendengar dari pak Handoko jika pesta Vivianne di gelar tertutup dan hanya di hadiri beberapa orang saja, dan lagi Vivianne sengaja mengabari keluarga Loyard karena dia tidak memiliki keluarga lagi yang bisa hadir ke pestanya dari pihak mempelai wanita.


Hal itu tentu saja membuat Ruby yang memang berhati lembut dan selalu tidak tegaan menjadi goyah. Setidaknya dia harus menghormati undangan yang di berikan oleh Vivianne meski dia tau mungkin saja semua ini bisa berakhir buruk.


Dia juga sudah merundingankannya dengan Kiran dan Kiran setuju untuk ikut hadir di pesta itu.


Setelah selesai memandikan Raline juga memilihkan pakaian untuk Rai, Ruby berganti mempersiapkan dirinya sendiri.


" Tidak cocok " Ucap Rai saat Ruby datang ke hadapannya dengan balutan gaun berwarna hitam.


" Memangnya kau mau datang ke pemakaman, dan lagi kulitmu jadi semakin terlihat bersinar saat kau mengenakan warna hitam " Lanjutnya menggeleng kesal.


Ruby menghela napas jengah, dia sudah berganti pakaian lebih dari 3 kali tapi menurut Rai masih saja belum cocok, tidak mungkin kan dia harus mencoba seluruh isi lemarinya satu persatu.


" Begini saja, kau ingin aku tampil seperti apa, nanti biar aku carikan gaun yang kira-kira sesuai " Jawab Ruby dengan geraman kesal.


" Aku ingin kau tampil dengan jelek, tapi setelah berganti pakaian beberapa kali pun kau masih terlihat cantik " Jawab Rai dengan mimik wajah serius.


Hanya kata-kata sederhana seperti itu saja mampu membuat jantung Ruby berdebar lebih cepat. Entah Rai cuma asal mengatakannya atau memang serius, tapi hal itu nyatanya mampu membuat Ruby melayang serasa di atas awan.


" Cih " Cibirnya dengan wajah merona merah, malu-malu, batal kesal.


" Aku serius " Rengeknya dengan senyum yang tertahan.


" Aku malah 2 kali lebih serius " Sungut Rai semakin kesal.


" Membayangkan kau akan di lihat puluhan mata laki-laki lalu mereka berdecak mengagumimu saja sudah membuat darahku mendidih, jadi kau tidak boleh tampil cantik, kau harus berdandan sejelek mungkin " Lanjutnya sembari memutar tangannya, memerintahkan Ruby agar kembali berganti pakaian.


" Ugh.. " Erang Ruby jengah lalu memutar tubuhnya dan kembali ke ruang ganti.


Kali ini dia mengambil gaun berwarna kuning tua, gaun dengan warna yang paling tidak dia suka. Menurutnya dia terlihat pucat jika memakai warna itu, sudah pasti kali ini akan lolos penilaian Rai.


" Bagaimana kalau ini ? " Tanya Ruby antusias sembari memutar tubuhnya di hadapan Rai.


" Tidak cocok " Jawab Rai bahkan tanpa melihatnya dengan seksama.


" Hei lihat baik-baik " Teriak Ruby putus asa.


" Ini bahkan gaun terburuk menurutku, kalau ini saja masih belum cocok untukku lalu aku harus pakai apa ? Daster ? " Sungut Ruby kesal merasa di permainkan oleh Rai.


" Apa ? Daster ? Daster yang kau pakai sewaktu tidur ? " Tanya Rai meninggikan suaranya.


" Hei kau jangan macam-macam dengan ku ya, baju tidurmu semuanya terbuka di bagian punggung dan dada, dan kau berani berpikir akan memakai itu untuk pergi ke pesta ? Kau sudah bosan hidup. Hah ?! " Teriak Rai langsung berdiri. Suasana hatinya yang memang sudah masam seketika berubah menjadi angin badai.


" Ya habisnya kau tidak serius memberikan ku penilaian " Jawab Ruby mengkerut takut.


" Apa ? Topi ? Jaring ? Hei !! " Teriak Ruby ingin memprotes, namun Rai sudah menghilang di balik pintu. Dia hanya bisa menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.


" Mana ada pakaian seperti itu ? " Sungutnya kesal lalu kembali ke ruang gantinya, membuka lemarinya dengan keras dan menyibakkan deretan pakaian yang telah disusun berdasarkan warna tersebut.


Dia langsung mencari pakaian hitam dengan potongan tangan panjang dan roknya yang menjuntai di bawah lutut.


Memangnya aku punya dress seperti itu? Setauku hanya pakaian itu yang memiliki potongan tangan panjang.


Batin Ruby mengingat-ingat, karena deretan gaun berwarna hitamnya tidak banyak dan dia sudah pernah memakai semuanya.


Benar saja dugaannya, itu adalah pakaian yang dia pakai untuk upacara pemakaman ayahnya.


" Tadi katanya aku tidak boleh tampil seperti ke pemakaman, tapi malah menyuruhku pakai ini, dasar " Gerutu Ruby ketus, namun tak urung dia memakai dress tersebut karena memang tidak punya pilihan.


Setelah memakai pakaiannya, dia pergi ke lemari accesoris, dia membuka 2 pintu lemari sekaligus. Dan betapa terkejutnya dia menemukan sebuah topi hitam lebar plus jaring berenda yang akan menutupi wajahnya.


Sejak kapan topi dengan jaring ini ada disini ?


Batinnya bingung, dia hapal benar isi lemarinya, dan kemarin-kemarin topi itu tidak ada disitu. Sekarang dia paham, rupanya Rai sudah mengantisipasi jika dia memutuskan ingin menghadiri pesta pernikahan Vivianne.


Ruby menggelengkan kepalanya, antara takjub juga takut. Bahkan untuk hal remeh seperti ini pun dia sudah memikirkannya.


Setelah selesai dengan pergumulan batinnya dan juga selesai bersiap-siap, dia turun ke bawah untuk menemui orang-orang yang pasti sudah menunggunya karena dia sadar dirinya sudah sangat terlambat.


" Wuah kau seperti putri di jaman belanda " Goda Ken sembari terkekeh melihat penampilan Ruby yang memang terlihat sangat mencolok.


" Kau terlalu kentara sekali kalau ingin mengibarkan bendera perang " timpal Kiran ikut terkekeh.


Ruby berdecak kesal menjawab semua godaan kedua saudaranya.


" Oh ? " Serunya kaget melihat Dylan yang juga sudah berpakaian rapi dengan setelan tuxedo hitam sedang duduk berpangku tangan.


" Kenapa kau ikut juga ? " Tanya Ruby heran.


Dia memang berencana tidak mengajak Dylan karena dia tau ini bukan pesta yang bahagia layaknya pesta pernikahan, jadi dia tidak akan menyiksa Dylan yang masih remaja dengan drama rumah tangga yang akan di tontonnya saat nanti ratu hitam dan ratu putih akan bertemu.


" Aku di paksa " Jawab Dylan malas melirik ke arah Rai. Tentu saja, memangnya siapa lagi yang bisa memaksa orang lain selain dirinya.

__ADS_1


" Awas saja kalau nanti malah kau yang sangat bersemangat " Cibir Rai ketus mendelik ke arah Dylan.


" Sudah ayo berangkat " Ajak Ruby melerai perdebatan tidak jelas antara kakak dan adik tersebut.


🍁🍁🍁🍁🍁


Mobil yang mereka tumpangi memasuki area parkir yang terkesan sangat privat, terlihat dari begitu banyaknya laki-laki berpakaian serba hitam. Sekali lihat saja mereka sudah bisa tau kalau orang-orang itu adalah bodyguard profesional.


" Kau yang menyediakan semua pengawal itu ? " Tanya Ruby asal sembari celingukan ke arah luar jendela.


" Bukan " Jawab Rai acuh.


" Terus kenapa bisa ada begitu banyak pengawal ? " Tanya Ruby lagi.


" Tidak tau " Lagi-lagi Rai menjawab dengan acuh, membuat Ruby mengerutkan kening dan memanyunkan bibirnya.


" Cih " Cibirnya ketus.


" Setelah makan kita pulang " Perintah Rai santai lalu keluar dari dalam mobil karena pintu mereka telah terbuka.


" SMP ? " Pekik Ruby ikut turun dari sisi yang lain. Dia lalu bergegas berjalan mendekati Rai.


" Mana sopan " Protesnya.


" SMP apa ? " Tanya Rai bingung, menekuk lengan kanannya dan menyodorkannya pada Ruby untuk di gandeng.


" Selesai makan pulang " Jelas Ruby lalu mengaitkan tangannya di lengan Rai.


" Kan tidak sopan " Lanjutnya lagi.


" Kita ada misi penting setelah ini, jauh lebih penting daripada buang-buang waktu disini " Jawab Rai tegas lalu mengajak Ruby segera memasuki ruangan tempat di adakannya pesta.


Semula Ruby mengira pesta yang di selenggarakan Vivianne akan besar-besaran dan mewah, tapi nyatanya pesta itu bahkan lebih sepi daripada perayaan ulang tahun anak berusia 5 tahun.


Tidak ada tamu lain yang terlihat datang selain mereka berlima.


Dan benar saja, Ruby langsung melongo syok begitu pelayan membukakan pintu masuk, di dalam aula besar itu hanya ada satu meja super panjang untuk tamu undangan dan satu pelaminan yang memang cukup megah, hanya itu yang menjadi penanda kalau ini adalah pesta pernikahan bukannya rapat perusahaan.


Di tatap mata puluhan laki-laki dari hongkong, tamunya bahkan hanya 10 orang.


Batin Ruby kesal saat mengingat-ingat kembali ucapan Rai.


" Ini sungguh pesta pernikahan kan ? " Bisik Kiran yang tiba-tiba sudah berada di samping Ruby.


" Aku kira justru rapat perusahaan " Jawab Ruby dengan gumaman lirih.


Di atas pelaminan, kedua mempelai sedang melakukan sesi pemotretan dalam berbagai pose. Sementara kelima tamu yang lain sedang duduk di meja dan menatap kedua mempelai. Dan begitu mempelai laki-laki melihat kedatangan Rai, dia langsung berjalan cepat menghampirinya.


" Tuan Rai " Sapanya sopan mengulurkan tangannya.


" Selamat " Hanya itu yang keluar dari mulut Rai, namun dia masih cukup sopan untuk membalas uluran tangan sang mempelai laki-laki.


" Silahkan duduk " Tawarnya sopan menunjuk ke arah meja panjang yang ada di tengah ruangan. Di atasnya telah tersedia deretan makanan-makanan mewah.


Mereka semua kemudian duduk di kursi yang telah di sediakan.


Selanjutnya pesta pernikahan itu lebih cocok di sebut jamuan makan, karena mereka tidak menyaksikan pengantinnya mengucapkan janji suci atau sambutan layaknya pernikahan pada umumnya.


Mereka, para laki-laki kecuali Dylan, malah lebih banyak berbicara tentang bisnis.


" Hus " Ruby menjentikkan tangannya tepat di depan wajah Kiran yang sedang melongo menatap ke arah mempelai laki-lakinya.


" Kau ini sudah punya Ken tapi masih saja memandang laki-laki lain " Omelnya.


" Cih " Decak Kiran melirik Ruby kesal.


" Aku bukannya mengagumi dia atau terpesona, tapi aku sedang berusaha mengingat-ingat. Sepertinya aku pernah bertemu dengan laki-laki itu, tapi dimana ya ? " Bisik Kiran.


" Oh ya ? " Desis Ruby terkejut.


" Tapi mungkin saja sih kau bertemu dengannya, kau kan sering berpergian dengan Ken ke acara jamuan perusahaan " Lanjut Ruby.


" Bukan, kalau di acara jamuan sudah pasti aku tidak akan mengingat-ingatnya, aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat, tapi aku lupa " Geleng Kiran.


" Sudah biarkan saja, jangan di ingat-ingat. Jika Ken tau bisa-bisa kau disuruh tidur di luar lagi " Jawab Ruby asal.


" Ah kau benar " Pekik Kiran dengan lirih.


" Baru kali ini aku melihat perempuan yang di hukum tidur di luar, kan biasanya laki-laki yang begitu " Lanjutnya menggebu-gebu.


" Kau kan menikah dengan bukan orang biasa " Jawab Ruby terkekeh lalu kembali melanjutkan makannya.


Tanpa Ruby sadari, setiap gerak geriknya di amati oleh Gerald, sang mempelai laki-laki. Meskipun hanya sesekali matanya melirik ke arah Ruby yang sama sekali tidak ikut campur dengan obrolan antara para lelaki itu dan lebih memilih sibuk bergurau dengan Dylan dan Kiran, tapi Gerald sudah bisa melihat bagaimana kepribadian Ruby dan orang seperti apa dia.

__ADS_1


Nyonya Loyard...


Batinnya dengan sendu dan seringai aneh yang tidak bisa di jelaskan saat matanya menatap Ruby yang sedang tertawa bersama Kiran dan Dylan.


__ADS_2