
Penyihir Vi menghentikan penyiksaannya saat suara ketukan pintu terdengar.
Pak Handoko mengingatkan bahwa nona Ruby harus memasak karena sebentar lagi waktunya makan siang, dan tuan Rai memberitahukan bahwa dia akan pulang untuk makan siang.
Mengetahui informasi itu Vivianne semakin marah, tangannya mengepal menahan amarah. Rai bukan type orang yang akan memikirkan tempat untuk makan, tapi setelah menikah dia berubah menjadi “ suami “ yang peduli tentang keluarga.
Harusnya aku yang melakukan semua itu, menyambut suami ku pulang, dan memasak untuknya, aku tidak percaya kalah dari pelayan rendahan ini, pikir Vivianne, kebenciannya semakin menjadi-jadi.
Dengan marah Vivianne meninggalkan ruangan dan membanting pintu. Ruby terkejut tapi tidak dengan pak Handoko, sepertinya pak Handoko mengerti tentang sikap Vivianne.
“ Tuan bisa tolong bawakan manekin ini ke ruang ganti ? Dan tolong juga bawakan balok kayu kecil “ pinta Ruby sopan kepada pak Handoko.
“ Baik nyonya, dan tolong jangan panggil saya tuan, panggil saja pak Handoko seperti yang lainnya “ jawabnya.
Pak Handoko mempersilahkan Ruby untuk berjalan di depan dan dia mengikuti dari belakang. Ruby berjalan tertatih karena kakinya benar-benar sakit. Pandangan matanya berkunang-kunang, tubuhnya mulai goyah, saat Ruby akan jatuh, pak Handoko menangkap dan menahannya.
“ Tuan bolehkan saya mandi air hangat dulu, saya benar-benar lelah, setelah itu saya akan memasak “ Pinta Ruby dengan wajah pucat.
“ Baiklah nyonya, saya akan mengantar anda ke kamar “ jawabnya.
Di dalam bath up Ruby berendam air hangat, luka dipaha nya mulai berubah warna merah keunguan, dia menahan sakit saat kaki-kaki nya di gerakkan.
“ Ibu apakah yang aku lakukan sudah benar ? Aku benar kan bu ? Hiks, hiks, hiks “ tangisnya pecah tak tertahankan.
Setelah berganti pakaian Ruby merebahkan dirinya di sofa, dia mencari kotak obat di kamarnya, tapi tidak menemukannya. Dia terlalu takut meminta kepada para pelayan, takut dengan ancaman penyihir Vi yang akan menghasutnya, takut karena Rai lebih percaya pada Vivianne, jadi dia memutuskan menyimpan semuanya sendiri.
Mata Ruby bengkak karena terlalu lama menangis, dadanya sesak dan kepalanya berat. Dia memejamkan matanya. Kemudian tertidur.
Suara mobil berhenti di depan pintu utama, pak Handoko dan Vivianne sudah bersiap menyambut Tuan Rai, sekertaris Yuri membukakan pintu untuknya.
Rai mengedarkan pandangan mencari Ruby yang tidak datang menyambutnya. Seperti paham dengan maksud Tuannya, pak Handoko menjelaskan bahwa nyonya terlalu lelah setelah pelatihannya dan tertidur.
__ADS_1
Otot wajah Rai menengang menahan marah, dia langsung menuju kamarnya dan membuka pintu dengan keras. Dilihatnya Ruby sedang tertidur di sofa. Tanpa berkata-kata dia menyeret bangun Ruby.
Ruby yang terkejut dan mendapati wajah Rai marah berusaha mencari tau ada apa sebenarnya.
Sekertaris Yuri yang mengikuti Rai mengingatkan bahwa tuan muda akan makan siang dan nyonya belum memasak.
“ Maafkan saya Tuan, tadi saya... “ ucap Ruby terbata-bata, matanya berkaca-kaca takut menatap Rai dan menahan sakit dikakinya.
“ Apa ini sikap seorang istri saat suami nya pulang ? “ Nada suara Rai mulai meninggi.
“ Cepat pergilah memasak “ perintah Rai dengan teriakan yang langsung membuat Ruby berlari keluar kamar menuju dapur.
Di dapur para koki sudah menyiapkan semua bahan-bahan masakan, tapi pak Handoko memberitahukan bahwa mulai sekarang hanya ada satu menu yang harus di siapkan nyonya.
“ Tuan hanya akan makan telur gulung mulai sekarang “ ucap pak Handoko kepada Ruby.
Ruby terheran tapi tetap memasak sesuai perintah. Saat sudah selesai para pelayan membawa makanan ke meja makan.
Ruby lebih memilih duduk di seberang kursi Rai berhadapan dengannya. Dia terlalu marah untuk menjalankan peran jadi istri yang baik dan berpura-pura bahagia dengan pernikahannya, toh tidak ada Tuan Regis, pikirnya.
Vivianne berinisiatif mengambilkan makanan untuk Rai, sedangkan Ruby lebih memilih diam tidak memperhatikan mereka berdua.
Aku hanya perlu bertahan sampai ayah sembuh, setelah itu akan pergi dari neraka ini, bertahanlah Ruby, pikir Ruby menenangkan dirinya sendiri.
Ruby mulai memakan masakan lain yang dimasak koki. Dia makan dalam diam dan menundukkan kepala seperti kebiasaan yang dilakukan anggota keluarga, dia terlalu jijik melihat Vivianne yang terus mencoba menggoda Rai dengan sikap manja dan sok imutnya.
Perasaan kesal dan marah bercampur jadi satu dan tanpa sadar dia menawarkan makan siang kepada sekertaris Yuri yang sedari tadi hanya berdiri di samping Rai.
“ Tuan Yuri apakah anda tidak ingin makan siang bersama ? “ Tawarnya kepada sekertaris Yuri.
“ Terima kasih nyonya atas kebaikan nyonya, tapi maaf saya akan menolaknya “ jawab sekertaris Yuri dengan sopan.
__ADS_1
Rai mengepalkan tangannya, dia bahkan tidak menyentuh sama sekali makanan yang di ambilkan Vivianne. Dia marah karena Ruby tidak menjalankan perannya sebagai istri dan malah memberikan perhatiannya kepada orang lain.
Ruby selesai makan dan dia berpamitan kepada Tuan Rai untuk beristirahat, tapi Rai sudah lebih dulu mendahuluinya pergi ke kamar dengan wajah penuh emosi.
Ruby melihat dia tidak menyentuh makanannya, meminta dengan berbisik kepada sekertaris Yuri untuk membawakan makanan ke kamarnya.
Saat masuk ke kamar Ruby melihat Rai tertidur di kasur masih dengan setelan jasnya dan memakai sepatu.
“ Baiklah aku menyerah, aku memang seorang istri yang baik “ gumamnya lirih sambil menghela nafas yang panjang.
Ruby berjalan mendekati Rai, dilihatnya wajah tampan Rai yang seperti anak kecil sedang tertidur. Mengingat mereka sama-sama besar tanpa ibu, rasa kasihan Ruby muncul.
“ Tuan bangunlah, apa anda tidak ingin ganti baju ? “ Ucap Ruby lembut kepada Rai.
Tidak terduga Rai segera bangun dan berjalan menuju ruang ganti.
Yaah aku memang memiliki bayi besar yang harus ku urus, ibu sepertinya sifat peduli ku ini menurun darimu, pikir Ruby.
Dikamar ganti Ruby memilihkan pakaian dan membantunya berganti, seperti sebelumnya-sebelumnya.
Setelah mereka keluar dari ruang ganti pak Handoko datang membawakan makanan untuk Rai.
“ Makanlah Tuan, saya melihat anda tidak menyentuh makanan anda sama sekali “ Ucap Ruby sopan.
Rai dan Ruby duduk di sofa panjang, Ruby mengambilkan piring dan memberikannya kepada Rai, tapi dia diam tidak menerimanya.
Apa lagi sekarang ? Apa dia ingin aku menyuapinya ? Pikir Ruby.
Ruby mengangkat sendok ingin menyuapinya, tapi Rai tetap tidak membuka mulutnya. Ruby bingung apa lagi yang harus di perbuat. Rai menunjuk telur gulung dengan pandangannya, yang artinya dia hanya ingin makan itu.
Lihatlah, lihat tingkahmu sekarang seperti seorang anak yang marah kepada ibunya, Kau memang benar-benar seorang bayi besar. Ruby menghela nafas.
__ADS_1
Hari itu dia tau sisi lain dari Big bos, seorang anak kecil yang bersembunyi di balik topeng sosok dewasa dan sok berkuasanya.