
" Hulk Women " Seru mereka berbarengan.
Ruby yang sudah kehabisan kesabaran menghela nafas panjang, berusaha mendapatkan ketenangan dari oksigen yang dia hirup dalam-dalam.
" Kalian sudah selesai bermainnya ? " Tanya Ruby dengan senyum di paksakan dan nada bicara seorang ibu kepada anaknya yang sangat bandel luar biasa, lembut namun mematikan.
Para pasukan elite dadakan itu pun berdiri, kemudian melakukan high five di udara di depan Ruby.
" Price Wolf masuk. Mission Complete " Suara Ken menggema dari balik walkie talkie nya.
Sekali lagi Ruby menghela nafasnya, menekan kuat-kuat perasaannya yang sudah ingin meledak.
" Kalian ingin aku menghukum kalian dengan cara apa ? " Tanya Ruby masih dengan lembut dan nada mematikan.
" Lakukan itu di fikiran mu marimar " Ken menjawab dengan menirukan nada bicara di telenovela.
Kakak beradik itu pun terkekeh kembali berhasil mengerjai Ruby, membuatnya kesal. Ruby semakin geram melihat Ken dan Rai yang masih saja bercanda.
" Sudahlah marimar, ah bukan sayang. Ken hanya bercanda, dia sedang bermain-main. Tidak kah kau pikir ini akan sangat menguntungkan kita nanti nya, Ken akan menjadi teman Junior dan menemani dia bermain " Rai menjawab santai, kemudian mendekati Ruby untuk memeluk pinggangnya.
" Ayo lah kakak ipar, apa kau tidak punya selera humor sama sekali, pantas saja keriputmu di mana-mana " Ken menyindir sinis Ruby.
" Tadinya aku sempat menyesalinya setengah mati saat aku menyebarkan foto mu dan membuatnya viral, merasa bersalah saat para wanita itu menyebut mu mengalami gangguan kejiwaan, tapi sekarang sepertinya tindakan ku itu benar, kau memang gila " Ruby menjawab sinis Ken yang di sambut gelak tawanya tanpa ada perasaan marah atau pun kesal.
" Sudah sudah, sekarang angkat ayam itu " Perintah Rai kepada para koki yang sedari tadi menyaksikan perdebatan mereka.
" Bawa itu ke kamar, kami akan makan di kamar saja " Rai melanjutkan.
__ADS_1
Mereka kemudian meninggalkan Ken dan para koki. Berjalan di samping Ruby sambil memeluk pinggangnya. Setelah pernikahan mereka terbongkar, dia tidak akan menahan diri lagi untuk menyentuh atau bahkan mencium Ruby di tempat umum.
Ruby yang sangat kesal dengan kelakukan Rai dan Ken hanya berjalan tanpa suara di samping Rai.
Mereka sampai di depan pintu kamar, Rai menempelkan kartu aksesnya dan membuka pintu. Ruby yang sudah sangat lelah setelah menonton bioskop box office versi real, menghambur masuk dan duduk di sofa, menyandarkan kepala dan memejamkan matanya.
Rai yang melihat itu segera duduk di sampingnya, dia ikut menyandarkan kepalanya.
" Apa kau malu ? " Tanya Rai kemudian.
" Diam " Ruby hanya menjawab singkat.
" Anggap saja itu pesta penyambutan untukmu, sebagai nyonya dari pemilik hotel ini " Rai menjelaskan lagi.
" Bisa diam ? Aku sedang malas bicara dengan mu. Kenapa akhir-akhir ini kau begitu konyol ? " Ruby bertanya malas, masih tetap pada posisinya semula.
Dia menghela nafas, mengambil jeda untuk kembali mengungkapkan perasaannya.
" Ayah ku, dulu dia tidak seperti sekarang ini. Ibu bilang dulu ayah hanya seorang penjaga pintu di sebuah diskotik kecil. Hidup ayah dan ibu waktu pertama menikah sangat susah. Ayah sering mengalami pelecehan dari orang-orang kaya, sampai pada suatu hari, seorang pengusaha kaya datang ke diskotik itu, pulang tengah malam dalam keadaan mabuk, dan beberapa preman menghadangnya untuk merampoknya. Ayah yang baru pulang kerja melihat itu lalu menolongnya, di dorong rasa terima kasih, pengusaha itu menjadikan ayah pengawal pribadinya. Sangat puas dengan kerja ayahku yang begitu baik, dia merekomendasikan ayah ke kolega nya. Pada akhirnya ayah merekrut beberapa anak buah untuk di latih menjadi pengawal pribadi. Dan ayah hanya merekrut para preman, untuk menghilangkan stigma buruk masyarakat terhadap preman yang suka berbuat onar. Makanya ayah ku sangat di kenal di kalangan preman, karena hanya ayah satu-satunya orang yang memberikan mereka pekerjaan saat orang lain memilih menghindari mereka walaupun hanya berpapasan di jalan. Usaha keras ayahku membangun bisnis jasa pengawal tidak dilaluinya dengan mudah. Ayah sangat sibuk dan berusaha keras menjaga wibawanya di depan anak buahnya. Pun saat tau ibu mengandungku, ayah tetap saja acuh, membuat ibu selalu bersedih dan semakim tertekan. Dokter bilang penyakit jantungku kemungkinan besar efek dari perasaan ibu yang tertekan saat hamil. Bahkan setelah aku lahir ayah tidak pernah sekalipun bercanda dengan ku, aku sangat kesepian dan merindukan sosok ayah yang hangat. Sampai Ken datang dan membuatku sedikit bahagia, tapi lagi-lagi ayah mengekang kami dengan peraturan-peraturan aneh yang membuat kami menjadi sedingin es. Beruntung bagi Ken, dia bisa sekolah layaknya orang normal kebanyakan, jadi dia tidak sedingin aku maupun ayah, tapi bagiku yang terkurung 15 tahun di rumah, hanya bertemu ibu, ayah, dan Ken, bagaimana mungkin aku bisa bersikap seperti orang normal. Aku tidak gila saja sudah bagus. Lalu saat dokter memberitahu bahwa kau hamil, aku bertekad akan menjadi ayah yang hangat untuk anak-anak ku. Yaah meskipun aku yakin sifat kejam ku masih lebih dominan, tapi akan ku pastikan tidak untukmu atau untuk Junior kelak " Rai mengungkapkan semua perasaannya pada Ruby.
Ruby yang mendengar itu seakan tidak percaya, selama ini dia hanya mendengar cerita masa lalu mereka dari Ken, tapi kali ini Rai sendiri yang membuka hatinya untuk menceritakan masa lalu nya.
Ruby memahami benar perasaan Rai saat itu, dia yang hanya di kurung Rai di mansion selama beberapa bulan saja sudah hampir menjadi tidak waras, lalu bagaimana dengan Rai yang selama 15 tahun di kurung ayahnya disana.
" Apa kau menyesal dengan masa lalu mu ? " Tanya Ruby mengenggam tangan Rai.
Rai yang masih menyandarkan kepalanya lalu menatap wajah Ruby dalam dan lekat.
__ADS_1
" Tidak " Jawabnya tersenyum.
" Mungkin aku memang jahat, tapi karena ini lah aku bisa membuatmu menikah dengan ku, kalau saja aku tidak sedingin ini atau seberkuasa saat ini, mungkin aku tidak bisa memberikan perawatan untuk ayahmu yang artinya kau juga tidak mungkin jadi istri ku " Rai menjawab santai.
Ruby tersenyum melihat keadaan Rai yang sepertinya memang benar baik-baik saja. Di saat anak lain memiliki kenangan indah bersama teman-teman sebaya nya, tapi Rai hanya punya ingatan tentang rumah sakit. Saat anak lain memiliki kenangan bermain bersama ayah mereka, bahkan untuk hal yang sepele, tapi yang di ingat Rai hanya betapa kerasnya ayahnya membuat dia sampai jadi seperti ini.
" Menurutmu kalau aku menyebarkan video tentang kau yang bersikap konyol malam ini, apa itu akan menjatuhkan harga dirimu ? " Tanya Ruby menggoda, seakan-akan memegang kartu as untuk kembali menjahili Rai.
" Kau tidak akan berani melakukan itu " Rai mengancam santai.
" Siapa bilang ? Aku akan sangat dengan senang hati melakukannya " Ruby menjawab sinis.
" Lakukanlah, lalu aku akan mencari tau siapa yang merekam itu dan kemudian menghancurkannya. Kau jangan lupa sayang, hanya karena aku bersikap baik padamu bukan berarti itu juga berlaku untuk semua orang, itu tidak akan sedikitpun mengendorkan sifat asli ku " Rai menjelaskan detail.
" Cih, kalau urusan kekerasan kau jago nya " Ruby mencibir sinis.
" Lalu apa bayaranku untuk ayam goreng buatan ku tadi ? " Tanya Rai dengan seringai menggoda.
" Daebak, aku bahkan belum memakan ayam gorengnya dan kau sudah minta bayaran. Kau memang mafia sejati " Ruby menyindir Rai.
" Terima kasih atas pujianmu " Rai kemudian mencium Ruby tanpa basa basi. Memeluknya erat dan menyusupkan tangannya kedalam baju Ruby.
" Ayo kita bermain satu ronde saja ? " Tawar Rai dengan nafas terengah-engah yang di sambut Ruby dengan anggukan malu-malu.
" Ah apa selanjutnya aku ngidam makan daging sapi yang kau masak sendiri ya ? " Tanya Ruby tiba-tiba.
" Jangan bercanda marimar !!! " Rai dengan cepat menolaknya.
__ADS_1