Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Pertemuan


__ADS_3

Ruby terbangun oleh suara bising di halaman luar, dia melihat ke arah nakas dimana jam kecil itu bertengger.


" Aku masih belum terlambat bangun, tapi kenapa di luar berisik sekali ? " Ruby bangkit duduk dan mengusap matanya.


Dia melihat Rai masih tertidur pulas di sampingnya.


" Sayang bangun " Ruby menggoyangkan pundak Rai, tapi Rai hanya menggeliat dan mengubah posisi tidurnya.


" Ya sudah aku bangun sendiri " Ruby bergumam kemudian mengambil kimono tidurnya yang ada di lantai dan memakainya.


Berjalan perlahan menuju pintu dan membukanya dengan pelan. Saat dia sudah berada di luar kamar suara bising itu semakin keras terdengar. Dia mempercepat langkahnya menuruni tangga.


Pak Handoko berlarian memasuki rumah dari arah luar.


" Tunggu pak Handoko, ada berisik apa di luar ? " Ruby mencegat pak Handoko yang akan menuju dapur.


" Tuan Besar sedang mengurus hal yang penting nona " Ucap pak Handoko sopan dan kemudian pergi meninggalkan Ruby yang belum sempat bertanya lebih lanjut.


Sebenarnya dia trauma dengan keadaan yang tegang, jadi dia tidak melihat ke luar dan memutuskan untuk kembali ke kamar memberi tahu Rai tentang keadaan genting yang terjadi saat ini.


" Rai, sayang !! " Pekik Ruby begitu dia membuka pintu dengan keras. Membuat Rai yang masih tidur segera terlonjak bangun dan berlari menghambur Ruby.


" Apa ? Ada apa ? Kau baik-baik saja ? " Rai bertanya khawatir dan memeriksa keadaan tubuh Ruby, dari atas sampai bawah, bahkan memaksanya berputar untuk memastikan bahwa Ruby tidak terluka.


" Pakai dulu baju mu " Ruby menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


" Aish kau ini, suasana tegang seperti ini kau masih saja memperhatikan masalah itu " Rai menjawab ketus, tak urung dia mengambil celana nya yang tergeletak di lantai.


" Itu, itu, ayah gawat, penting " Ruby tidak bisa menjelaskan dengan lancar.


" Apa ? Kenapa ayah ? " Rai bertanya khawatir, melihat Ruby yang tergagap.


Tanpa berpikir lagi dia mengambil ponselnya yang ada di meja sebelah tempat tidur dan menekan tombol speed dial, kemudian mengapit ponsel itu diantara pipi dan bahunya sambil berusaha memakai celananya


" Angkat bodoh " Rai mengoceh sendiri.


" Hei ayah gawat " Rai lalu meneriakannya begitu Ken mengangkat telefonnya. Dia melemparkan ponselnya asal ke arah kasur begitu selesai memberitahu Ken dan berlari keluar kamar dengan bertelanjang dada.


Ruby yang juga panik segera mengikutinya berlari keluar kamar, langkah kaki Rai yang lebih cepat darinya membuat Ruby tertinggal jauh.


Ruby berhasil menyusul Rai yang saat ini sudah berdiri di tepi halaman belakang rumah, dia juga telah melihat Ken sampai disana hanya dengan mengenakan celana boxer dan kaos dalam.


Ruby terperanjat dan menutup matanya. Ken dan Rai yang terkejut mendengar suara teriakan Ruby menoleh dan mendapati Ruby sedang menutup wajah dengan telapak tangannya.


" Hei kau mesum, kenapa tidak pakai baju ? " Rai memarahi Ken setelah sadar melihat keadaannya.


" Aish !! " Ken menutupi tubuhnya dengan tangannya.

__ADS_1


" Ini semua gara-gara telefon sialanmu " Ken berlari kembali ke kamarnya untuk mengambil pakaian.


Ruby mengintip dari sela jari-jarinya dan melihat Ken yang sudah pergi segera berjalan mendekati Rai dan berdiri disampingnya.


" Ada apa ? " Tanyanya kepada Rai.


" Lihat sendiri " Rai menunjuk sumber keributan.


Regis sedang berdiri tegak dan di dampingi pak Handoko sedang mengatur beberapa orang yang berusaha menurunkan box container besar dari helikopter yang mulai terbang rendah di atas mereka.


Menimbulkan hembusan angin kencang di sekitar tempat itu. Rai memeluk Ruby untuk melindunginya dari terpaan angin.


" Apa itu ? " Teriak Ruby kepada Rai karena suara bising helikopter yang sudah sangat rendah.


" aku tidak tau " Balas Rai berteriak juga sambil mengangkat bahu nya.


Mereka hanya bisa menyaksikan para pelayan sedang bersiap dengan kedatangan box besar itu.


Setelah box itu diturunkan, para pelayan laki-laki yang bertubuh kekar segera membukannya dan masuk kedalam.


Ruby semakin mengeratkan pelukannya dan sekaligus berlindung dari rasa takut traumanya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang ada di dalam box itu sampai harus di angkut oleh helikopter.


" Apa ?!?! " Teriak Rai dan Ruby bersamaan setelah melihat barang yang di keluarkan dari dalam box.


Pelayan bertubuh kekar itu kemudian menutup kembali box nya dan memberikan aba-aba kepada pilot helikopter bahwa mereka telah selesai mengeluarkan barang di dalamnya.


Ken yang sudah berpakaian berlarian kembali dan juga terkejut dengan kejadian di depannya.


" Kita dalam masalah kak " Ken menjawab lemas.


" Aku tidak akan sanggup melalui hari ini " Rai juga sama lemasnya.


" Kenapa harus seperti ini " Ruby juga meratapi hal yang akan terjadi selanjutnya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Matahari mulai terbit, cahaya nya memasuki celah celah jendela yang tertutup gorden tebal, membuat seseorang yang berbaring di dalam ruangan itu mengernyitkan matanya.


Dia membuka matanya perlahan-lahan, berusaha menghalau sinar matahari yang menusuk penglihatannya.


Dia mengedarkan seluruh pandangannya ke penjuru ruangan. Sepi. Dia mencoba bangun tapi seluruh tubuhnya terasa sakit.


" Sepertinya aku di rumah sakit " Gumamnya sendiri.


Dia kemudian memencet tombol untuk memanggil perawat. Tak berapa lama seorang dokter dan perawat memasuki ruangan.


" Mohon jangan banyak bergerak dulu tuan, anda masih belum pulih dengan sempurna " Perawat itu memberikan pengertian kepada pasiennya.

__ADS_1


" Anda tertembak, tapi kami sudah berhasil mengeluarkan pelurunya, dan anda akan baik-baik saja, anda hanya perlu menyembuhkan bekas luka nya " Dokter itu kembali menjelaskan karena melihat ekspresi bingung di wajahnya.


Dia mencoba mengingat lagi kejadian sebelumnya, dia melihat Ignes yang marah dan kemudian dengan cepat mengarahkan tangan pengawal yang sedang memegang pistol ke arah Ruby, membuat pengawal itu sontak terkejut dan tanpa sadar menarik pelatuknya. Dia yang berada dekat disamping Ruby segera memutar tubuh Ruby dan menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng.


Lucas menyentuh kepalanya yang terasa pusing dengan ingatan itu.


" Bisa tolong panggilkan Ruby dan Leon, aku ingin berbicara dengan mereka " Lucas meminta tolong kepada dokter dan perawat yang ada di sampingnya.


Mendengar permintaan Lucas, dokter dan perawat itu saling bertatapan. Seperti sudah tau akan kondisi mental dari pasiennya.


" Baiklah tuan, mohon tunggu sebentar, ini masih sangat pagi, mereka semua masih ada di rumah mereka masing-masing saat ini " Dokter itu memberitahukan dengan tersenyum lebar.


" Sebaiknya anda istirahat sebentar lagi, nanti saat mereka sampai, saya akan membangunkan anda " sarannya kepada Lucas.


" Baiklah terima kasih " Lucas menjawab sopan dan kembali berusaha memejamkan matanya.


" Baiklah tuan kami permisi dulu " Dokter dan perawat itu kemudian pamit dan berjalan meninggalkan ruang perawatan Lucas.


" Hubungi psikiatri, dan segera katakan pasien sudah sadar, agar mereka segera merawatnya dan melakukan konseling " Dokter itu memerintahkan kepada perawat yang di jawab dengan anggukan kepala.


Sementara itu para penjaga yang di tugaskan menjaga club tempat Daniel dan Tina di tahan telah diperintahkan untuk membebaskan mereka dan mengantar mereka pulang.


Selama mereka di tahan di club, mereka menempati lantai 4, tidak pernah sedikitpun mereka di sakiti atau merasa kelaparan. Tina bahkan merasa bahwa itu liburan yang mewah karena dia di layani dengan baik selama 24 jam nonstop.


Pengawal juga memberitahukan kepada mereka bahwa Rai memanggil mereka untuk datang ke kediaman keluarga Loyard untuk membicarakan hal penting.


Membuat Tina dan Daniel yang tadinya sudah lega karena mereka bebas yang artinya Ruby baik-baik saja, kembali pucat dan merasa takut.


" Apa nyonya Ruby baik-baik saja ? Kenapa sampai harus memanggilku ke rumah mereka ? " Tina bertanya ragu-ragu pada pengawal yang sudah membukakan pintu mobil untuknya dan mempersilahkan mereka masuk.


" Maaf nona, saya hanya menjalankan perintah " Jawab pengawal itu dan menutup pintu begitu Tina sudah duduk di dalamnya.


Dia kemudian memerintahkan sopir untuk melajukan kendaraan menuju rumah Tina.


Sedangkan Daniel yang di antar dengan mobil terpisah juga sama herannya dengan sikap pengawal itu.


" Kalau aku menolak untuk datang bagaimana ? " Tanya nya penasaran, mencoba menolak.


" Maaf kan kami tuan, ini perintah langsung dari nyonya muda, jadi tuan harus di pastikan datang dengan sukarela atau terpaksa sekalipun " Jawabnya sopan tapi dengan nada tegas yang menunjukkan tidak menerima penolakan.


Dia kemudian juga membukakan pintu mobil yang baru saja sampai di depannya dan mempersilahkan Daniel masuk.


" Saya harap anda tidak akan mengecewakan nyonya muda tuan " Pesannya sebelum menutup pintu mobil dan sopir melajukannya meninggalkan club.


Ruby atau suami nya yang memaksa ku datang ?


Pikir Daniel berusaha menebak.

__ADS_1


__ADS_2