
Pagi yang cerah menjelang, dihiasi oleh cuitan manis burung-burung peliharaan Regis yang ada di halaman belakang mansion.
Regis yang mendadak menjadi pecinta satwa itu sedikit demi sedikit mulai memenuhi halaman belakang mansionnya dengan berbagai macam binatang. Namun hanya dari spesies yang jinak saja.
Regis sebenarnya ingin mendirikan sebuah kebun binatang mini untuk Raline, jadi dia bisa belajar mengenal satwa-satwa jika sudah lebih besar nantinya.
Beralih ke arah dapur, suara berisik denting spatula yang beradu dengan wajan penggorengan itu pun turut meramaikan suasana pagi. Belum lagi di tambah dengan suara mesin-mesin penyedot debu di sepanjang lorong-lorong.
Begitulah kesibukan pagi hari di mansion keluarga Loyard. Semua pelayan sibuk membersihkan rumah, halaman, kamar-kamar tamu juga menyiapkan sarapan sebelum para empunya rumah terbangun.
Namun, tidak semua empunya rumah masih tertidur lelap. Ken yang semalam sibuk menuruti keinginan aneh Kiran itu sedang duduk bersandar di sandaran kasur. Dengan lingkaran hitam di bawah matanya lengkap dengan mata yang memerah menahan kantuk.
Aku mimpi apa semalam ?
Batinnya bertanya-tanya sendiri.
Kiran tidak memberikannya kesempatan sama sekali untuk tidur. Sebentar terlelap dia meminta di ambilkan minum, sebentar terlelap lagi dia mendadak ingin curhat, lalu detik berikutnya mendadak ingin tidur sambil di gosok-gosok punggungnya, lalu bangun dan mendadak ingin nonton tv, semuanya tiba-tiba mendadak ujar Kiran kala itu beralasan. Begitu terus hingga hampir menjelang dini hari barulah Kiran bisa tidur dengan lelap.
Keanehan demi keanehan terus saja di tunjukkan Kiran, membuat Ken yang semula yakin tidak melakukan kesalahan apapun menjadi tidak percaya diri. Dia berusaha keras mengingat-ingat sikap dan juga kata-katanya seharian ini, barangkali tanpa sadar menyinggung perasaan Kiran hingga membuatnya balas dendam dengan cara bar-bar seperti ini.
Ken menghela napas sekali lagi, mungkin sudah yang ke seribu kali jika di hitung sejak semalam. Dia menolehkan kepalanya ke arah Kiran yang sedang tertidur di bungkus selimut.
Untung saja tingkahmu menggemaskan meski menyebalkan, kalau tidak...
Batinnya gemas sendiri melihat wajah polos istrinya yang sedang nyenyak itu.
Dia melihat jam kecil di nakasnya, waktu menunjukkan hampir pukul setengah enam pagi. Dan dia masih belum tidur.
Masih ada satu jam lagi pikirnya, jika memang harus terlambat sarapan tak masalah yang penting dia bisa sejenak memejamkan matanya yang hanya tinggal 5 watt saja.
Dengan gerakan pelan tanpa suara, Ken membaringkan tubuhnya. Lalu dengan posisi senyaman mungkin dia memejamkan matanya.
Selamat tidur....
Ucapnya pada diri sendiri.
Jiwa yang kantuk itu pun dengan cepat kehilangan kesadarannya, beralih ke dunia mimpi. Seperti tidur di atas awan, melayang ringan, tenang dan nyaman. Namun sepertinya Ken salah menaiki awan. Karena tiba-tiba saja awan yang dia tumpangi berubah warna menjadi hitam pekat di sertai kilatan-kilatan cahaya.
" Berani-beraninya kau naik ke atas ku " Terdengar suara menggelegar tanpa wujud. Ken terhenyak, menatap sekelilingnya dengan bingung.
" Si-siapa ? " Tanyanya takut-takut.
" Cepat bangun atau akan ku sambar kau dengan petir ku " Suara keras menggelegar itu kembali mengeluarkan ancamannya.
" Siapa ? " Namun Ken malah berteriak keras menantang.
" Jadi kau berani melawan ku ? " Teriak suara itu memengkakkan telinga hingga membuat Ken menutupkan kedua tangannya menghalau suara itu memecah gendang indera pendengarannya.
" Rasakan ini " Belum lagi Ken menguasai dirinya dari rasa bingung tiba-tiba saja awan yang di dudukinya itu berguncang dengan hebatnya. Membuat tubuhnya oleng ke kanan dan ke kiri.
" Woooo.... " Pekik Ken seiring tubuhnya yang semakin tidak seimbang. Lalu awan itu mendadak menyingkir dari tubuh Ken, membuatnya jatuh ke bumi dalam jarak yang sangat jauh dan tinggi.
" Aaaarrrgghh.... " Teriaknya sembari meronta-ronta mencari pegangan awan lain yang sedang di lewatinya, namun usahanya sia-sia, awan-awan itu laksana kumpulan asap tebal yang mampu dilihat tapi tidak bisa di pegang. Tidaakk !!!
" Hei !!! " Teriak Kiran menggoyang-goyang tubuh Ken keras dengan kedua tangannya.
Ken yang terus saja jatuh itu hampir mendarat di tumpukan daun-daun kering.
" Wuuaaahh !! " Teriaknya terkejut begitu membuka mata dan mendapati Kiran di depan matanya dari jarak yang sangat dekat. Dengan panik dia langsung bangun dan terduduk.
" Aku dimana ? " Tanyanya gelagapan, berusaha meraup udara sebanyak-banyaknya demi memenuhi rongga dadanya yang terasa sesak.
" Tenang dulu, tenang. Sstt.... " Kiran meraup kedua pipi Ken, menahannya dari serangan panik.
" Hah hah hah... " Hanya terdengar deru napas Ken yang tersengal-sengal seperti baru saja mengikuti perlombaan lari maraton sepuluh kilo jauhnya.
" Kau kenapa ? " Tanya Kiran pelan sembari mengusap keringat dingin yang membasahi pelipis Ken.
" Tidak hanya mimpi terjatuh " Jawabnya setelah bisa menguasai ritme napasnya. Dia mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan, memastikan jika kejadian barusan yang di alaminya memang benar-benar hanya mimpi.
" Ya sudah ayo bangun, nanti kita terlambat sarapan " Ucap Kiran kemudian dan turun dari ranjangnya. Berjalan menuju jendela besar lalu menarik korden berwarna putih gading itu agar terbuka.
Ken langsung memincingkan matanya begitu sinar matahari menyeruak masuk menerangi kamarnya.
" Jam berapa sekarang ? " Tanyanya asal malas melihat ke arah nakas.
" Sudah hampir jam setengah tujuh " Jawab Kiran yang masih sibuk membuka korden jendela yang lainnya.
" Kau tidur seperti orang pingsan saja " Lanjutnya kemudian, membalikkan badannya menghadap Ken.
" Makanya kalau malam jangan begadang, jadi tidak bisa bangun pagi kan " Omelnya sembari berjalan kembali menuju ranjang.
Mengambil selimut yang masih melilit di tubuh Ken lalu merentangkannya dan menatanya dengan rapi.
__ADS_1
" Ayo cepat mandi, nanti kita telat " Perintah Kiran lalu menunjuk jam yang ada di nakas dengan dagunya, seolah ingin mengingatkan Ken masalah waktu.
Tapi Ken hanya memandanginya dengan heran. Kemana perginya Kiran yang semalam ? Apa sudah berakhir ? Atau akan ada sesion ke dua ? Pikirnya menimbang-nimbang.
" Sayang cepat " Ulang Kiran dengan lembut saat melihat Ken yang malah diam membeku.
" Kau sudah normal ? " Tanyanya hati-hati.
" Normal ? " Kiran mengernyitkan keningnya bingung mendapat pertanyaan begitu.
" Ya kau tidak ingin yang aneh-aneh lagi ? " Tanya Ken memastikan.
" Tidak, aku baik-baik saja. Memangnya aku ingin yang aneh-aneh apa ? " Kiran malah balik bertanya.
" Haaah... syukurlah " Ken menghela napas lega sembari mengelus dadanya.
" Sudah ayo cepat turun, aku akan pergi duluan ya. Bajumu sudah ku siapkan di tempat biasanya. Ok ? " Ucap Kiran kemudian mengecup pipi Ken untuk berpamitan.
Ya dia sudah normal lagi, mungkin semalam dia kerasukan makanya jadi aneh begitu.
Batin Ken meyakinkan dirinya sendiri setelah melihat Kiran yang sudah kembali ke habitat awalnya, kalem dan penuh perhatian serta sabar.
Dan begitulah perpisahan mereka di pagi yang indah itu, Kiran segera pergi keluar kamar untuk menuju ruang makan sementara Ken pergi ke kamar mandi untuk segera bersiap-siap memulai hari.
Di ruang makan semua anggota keluarga sudah berkumpul dan memulai sarapan mereka. Kiran yang baru saja bergabung itu langsung menarik kursinya.
" Selamat pagi " Sapanya sopan pada semua orang.
" Mana Ken ? " Tanya Ruby yang melihat Kiran hanya datang seorang diri.
" Masih bersiap-siap " Jawabnya seraya mengulurkan tangannya mengambil sepotong roti dan selai.
" Dylan " Panggil Regis selanjutnya.
" Ya ayah " Jawab Dylan sigap begitu namanya di panggil.
" Aku sudah mengaturkan jadwal pemutaran film yang akan kau lihat sebagai bahan tugas sekolah mu, jadwalnya hari minggu, apa kau tidak keberatan ? " Tanya Regis.
" Ya tidak masalah ayah, hari apapun boleh, batas pengumpulan tugasnya sampai minggu depan " Jawabnya sopan.
" Kau ingin film itu di putar di bioskop premiere atau biasa ? " Tanya Regis lagi.
Mendengar kata premiere ingatannya langsung kembali pada kenangannya semalam. Melihat Rai, Ruby serta Kiran dan Ken yang berpelukan sambil berciuman mesra di kursi ranjang bioskop membuatnya jadi membayangkan hal yang tidak-tidak jika sampai dia dan Blair menonton dengan fasilitas seperti itu.
" Yang biasa saja ayah " Putusnya kemudian, menghalau bayangan nakal yang mulai menggelitiki pikirannya.
" Tidak yang biasa saja " Tolaknya dengan kuat, dia tidak yakin bisa menjamin dirinya sendiri tidak akan hanyut dalam suasana seperti kakak-kakaknya semalam jika keadaan sangat mendukungnya begitu.
" Ya sudah kalau begitu, jamnya nanti akan di atur oleh Sekertaris Yuri. Mintalah jam berapapun yang kau mau " Pungkas Regis.
" Terima kasih ayah " Jawab Dylan sumringah. Dia merasa senang sekali dan akan merundingkan hal ini dengan Blair, mengingat partner kelompok belajarnya adalah seorang artis yang sedang naik daun, jadi dia harus menyesuaikan jadwalnya dengan waktu longgar Blair.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Dylan semakin hari semakin memandang positif semua hal atau mungkin hanya tentang Blair saja. Yang jelas sekolah membuatnya lebih bersemangat saat ini. Dia seolah terlahir kembali dengan kehidupan yang sempurna.
Sempurna, setidaknya sampai dia bertemu Dera di depan kelasnya.
Melihat sosok yang sangat ingin di hindarinya itu membuatnya langsung membuang napasnya dengan keras.
Kalau saja waktu bel masuk masih lama, tentu Dylan lebih memilih terkunci di toilet laki-laki daripada harus melihat Dera.
" Dylan " Panggilnya begitu Dera berbalik badan dan langsung bertatapan dengan wajah masam Dylan.
" Hm " Jawabnya basa basi sebagai bentuk kesopanan belaka.
" Aku ingin bicara dengan mu " Ucap Dera dengan ragu-ragu, terlihat jelas dia sangat ketakutan Dylan tau tentang kebohongannya kemarin.
" Memangnya dari tadi kau tidak bicara " Jawab Dylan sekenanya saja.
" Bukan begitu maksud ku, aku ingin bicara denganmu tapi tidak disini " Balas Dera sembari mengedarkan pandangannya ke arah sekitarnya.
Suasana di depan kelas Dylan memang selalu seperti ini, ramai dan penuh sesak. Hanya pada saat Blair tidak masuk sekolah saja suasana akan kembali tenang dan normal.
Tapi akhir-akhir ini suasana ramai itulah yang terasa normal bagi Dylan, new normal.
" Bel sebentar lagi " Jawab Dylan acuh melihat jam tangannya, tentu saja itu hanya alasannya saja untuk mengulur waktu. Dia tidak ingin pergi kemanapun jika itu dengan Dera, walau hanya untuk menghindari kerumunan murid-murid yang lain.
" Please Dylan, aku mohon " Rengek Dera memelas, wajahnya semakin ketakutan melihat sikap Dylan yang semakin lama semakin dingin terhadapnya.
Dylan secara terang-terangan menghela napas jengah di hadapan Dera. Dan itu membuat Dera sudah seperti cacing kepanasan.
" Oh ? Dera ? " Suara dari arah belakang Dylan membuat Dylan membalikkan badannya dengan cepat.
__ADS_1
Salah satu alasan Dylan sangat bersemangat berangkat sekolah kini sedang berdiri di depannya, terlihat cantik seperti biasanya, dan jangan lupakan wajah onengnya yang membuat Dylan selalu tak berdaya.
" Hai Blair " Jawab Dera tersenyum kikuk.
Lengkap sudah saksi mata atas kejadian kemarin. Dia harus memastikan kedua orang di depannya itu tidak tau kalau dirinya kemarin hanya berpura-pura pingsan, atau kalau tidak harga dirinya akan benar-benar tercoreng, terlebih jika Dylan yang tau, sudah pasti dia akan di cap pembohong di mata Dylan.
" Kau sudah sehat ? " Tanya Blair. Dengan wajah yang terlihat tulus dia mengamati Dera dari atas hingga bawah.
" Kalau dia tidak sehat, dia pasti sudah di rumah sakit sekarang " Saut Dylan sinis.
" Oh iya ya " Blair mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Kau harusnya tidak perlu masuk sekolah dulu, seperti aku yang pingsan dulu, aku memilih beristirahat di rumah sampai kondisi ku benar-benar membaik " Lanjut Blair penuh perhatian.
" Tidak apa-apa, meski aku sedikit merasa sakit sekarang tapi aku masih bisa menahannya " Balas Dera dengan senyum kelegaan yang tersamarkan. Jika di lihat dari sudut pandangnya yang cerdas, dia bisa melihat kalau Blair percaya dirinya benar-benar pingsan kemarin, dan dia langsung bergegas memasang wajah lemahnya agar semakin meyakinkan bahwa dia masih sakit saat ini.
" Oh begitu ya, jangan terlalu memaksakan diri " Nasihat Blair dengan pandangan rasa iba.
" Ayo masuk " Ajak Dylan tiba-tiba memotong. Dera dan Blair sama-sama terkejut, mereka menatap Dylan dengan heran.
" Tapi Dylan aku ingin bicara dengan mu " Saut Dera dengan cepat, dia masih belum sepenuhnya merasa lega karena belum yakin Dylan benar-benar percaya dengannya atau tidak.
" Ya sudah kalau begitu cepat bicara " Balasnya dengan ketus.
Blair yang sudah berpengalaman dengan kemarahan Dylan itu pun mengambil satu langkah menjauh ke samping, menjaga jarak aman agar dirinya juga tidak terkena imbasnya dan memilih menutup mulutnya rapat-rapat. Hanya memandangi Dylan dan Dera secara bergantian, menjadi penonton yang baik saja.
Dera memilin jari-jarinya, menghilangkan rasa tidak nyaman karena di tatap oleh Blair seperti itu.
" Umm... ummm... " Dia bolak balik menggigit bibir bawahnya dan sesekali melirik ke arah Blair.
Seoneng-onengnya Blair, dia cukup paham akan kode ketidaknyamanan yang di tunjukkan oleh Dera. Lalu sadar diri, dia berniat meninggalkan Dera dan Dylan berdua saja. Memberikan mereka privasi.
" Aku ke kelas duluan ya " Pamitnya kemudian.
" Ah ya silahkan " Dengan cepat Dera membalas ucapan Blair, lalu melangkah mundur satu langkah untuk memberi jalan lewat bagi Blair.
" Hari minggu " Ucap Dylan tiba-tiba saat Blair lewat tepat di depannya.
" Oh ? " Dera dan Blair sama-sama mengernyitkan alisnya bingung mendengar ucapan Dylan. Blair sampai berhenti dan menoleh ke arahnya lalu ke arah Dera secara bergantian.
Dia mengajak bicara aku atau Dera ?
Batinnya bertanya-tanya.
" Hari minggu di gedung bioskop mall Lord kita akan nonton film Dilan " Lanjut Dylan kemudian memperjelas.
Mendengar kata film Dilan tentu saja Blair jadi yakin jika Dylan sedang bicara dengannya karena film itu adalah tugas kelompok mereka.
" Memangnya film itu masih di putar di bioskop ya ? " Tanya Blair dengan polos.
" Aku punya kenalan yang bekerja di bioskop itu, dan mereka bilang setiap akhir pekan mereka akan memutar ulang film-film yang sudah pernah tayang sebelumnya " Jawab Dylan beralasan.
" Oh begitu, baiklah " Blair mengangguk-angguk setuju.
" Tadinya aku ingin mengajak mu nonton di kamar kost kak Sofia, kebetulan dia punya dvd nya dan pas sekali kamar kostnya sedang kosong jadi kita bisa langsung mengerjakan tugasnya sehabis menonton film itu, tapi kalau kau sudah terlanjur membuat janji dengan teman mu di gedung bioskop ya tidak apa-apa " Jawab Blair dengan wajah super polosnya.
Glek !! Dylan langsung menelan ludahnya mendengar jawaban dari Blair. Jauh di dalam lubuk hatinya di sisi yang tergelap, dia menyesal telah meminta bantuan ayahnya untuk memutarkan film itu tanpa berunding sebelumnya dengan Blair, jika saja Blair mengatakan hal ini lebih dulu mungkin Dylan akan diam saja dan mengikuti semua keputusan Blair.
Namun Dylan bergegas menguasai dirinya, dia mengusir khayalan-khayalan nakal dari kepalanya.
" Kita bisa mengerjakan tugasnya di restoran cepat saji saja sehabis menonton film itu " Jawabnya kemudian setenang mungkin.
" Ya sudah terserah kau saja " Balas Blair lalu kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kelas.
Sementara Dera hanya bisa terbengong-bengong kecut mendengarkan percakapan mereka berdua yang seolah menganggapnya tak ada dan mengikuti pergerakan Blair yang semakin menjauh.
" Kalian akan nonton film ? " Tanya Dera basa-basi setelah memastikan Blair cukup jauh dari mereka.
" Ya tugas kelompok " Jawab Dylan malas.
" Kau sudah selesai ? Kalau sudah aku akan masuk kelas " Lanjutnya dingin.
" Kalian akan nonton di bioskop yang mana ? " Tanyanya lagi, mengingat pusat perbelanjaan Loyard yang ada gedung bioskopnya tersebar di beberapa titik strategis.
" Kenapa ? Kau ingin ikut nonton film ? " Tembak Dylan tepat sasaran.
" Ya kalau boleh, kebetulan aku juga ingin nonton lagi film Dilan " Jawabnya sedikit sumringah berharap Dylan benar-benar mengizinkannya ikut.
Dylan menyunggingkan senyum miring sinisnya begitu mendengar jawaban Dera, dia maju mendekat perlahan kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Dera.
" Kau istirahat di rumah saja, nanti kalau kau pingsan lagi kasihan dokternya pasti sangat kebingungan mencari penyebab pingsan mu " Sindir Dylan sinis dan tajam, lalu menatap mata Dera untuk menunjukkan rasa tidak suka yang dia pancarkan melalui tatapannya.
Dylan tau jika Dera kemarin hanya berpura-pura pingsan di depannya.
__ADS_1
Jadi dia tau !
Pekik batin Dera syok.