
Matahari benar-benar bersinar terik saat ini, sinarnya juga sangat terang menembus jendela-jendela kaca dan menyilaukan mata. Di jam-jam terakhir seperti ini, murid-murid sudah kehabisan tenaga dan semangatnya dalam mendengarkan pelajaran.
Di tambah lagi perut kenyang mereka setelah makan siang menambah rasa kantuk yang mulai datang. Sebagian dari mereka terlihat mulai menguap dan yang lain terlihat meregangkan punggungnya samar-samar.
Banyak dari mereka mulai mendirikan benteng dari buku pelajaran untuk menyembunyikan rasa kantuk yang menuntut untuk di wujudkan melalui terpejamnya mata meski hanya 5 menit lamanya.
Tapi semua keadaan itu seakan tidak berpengaruh untuk kedua makhluk di belakang sana, yang malah terlihat segar bugar tanpa rasa kantuk sedikitpun.
" Bukakan lagi " Bisik Blair mencondongkan tubuhnya ke samping.
" Sudah jangan makan terus, dengarkan gurunya " Tolak Dylan juga berbisik. Dan Blair langsung menegakkan punggungnya sambil memberengut kesal. Dia sangat kelaparan siang ini.
Saat makan siang dia hanya akan mengambil sedikit nasi dan lebih banyak sayuran, demi menjaga imagenya sebagai seorang artis. Kan tidak mungkin dia menumpuk nasi di piringnya seperti gunung semeru, lalu lauknya seperti gunung krakatau kemudian sayurannya seperti gunung jayawijaya. Tentu semua orang akan memandangnya heran dan menilainya rakus.
Blair kembali menarik buku catatan yang terbuka di depannya, yang dia coret-coret sejak tadi.
Dengan kesal dia menggambarkan sosok Dylan dalam karikatur serigala dengan wajah yang menyebalkan.
" Ini harusnya di beri warna merah " Coretnya pada mata serigala itu.
" Lalu ini di beri taring yang sangat panjang " Coretnya lagi, menggambar secara asal-asalan taring tajam menjuntai ke bawah yang malah terlihat seperti gading seekor gajah.
" Kau berisik !! " Tulisnya lagi di dalam awan yang ada atas kepala serigala tersebut, membuat serigala tersebut seperti sedang mengucapkannya.
Dylan yang melirik tingkah laku Blair itu benar-benar di buat pusing. Semakin mengenal Blair semakin dia susah berkonsentrasi mendengarkan penjelasan guru. Ada saja tingkah Blair yang membuatnya heran, lucu dan kebanyakan adalah gemas.
Dia menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya menyerah. Di rogohnya laci mejanya, mengambil salah satu snack yang belum di buka. Lalu dengan gerakan pelan dia membukanya tanpa suara.
Kali ini camilan yang di bukanya adalah coklat pie dengan bagian tengahnya berisi marsmellow. Dia mengeluarkan sedikit isinya dan yang lainnya tetap berada di dalam bungkusnya.
Dylan kemudian menepuk pelan pundak Blair yang ada disampingnya.
" Apa ? " Tolehnya pelan dengan wajah memelas dan sudut bibir yang tertarik ke bawah.
" Nih " Dylan menyodorkan camilan di tangannya, dan wajah cemberut itu kini langsung berganti sumringah.
" Wuaah " Pekik Blair dengan berbisik. Secepat kilat dia menyambar kue kesukaannya dari tangan Dylan.
" Makasih " Balasnya dengan senyum lebar dan kemudian memakannya dari balik buku catatan yang dia berdirikan.
" Cih " Cibir Dylan menahan senyumnya, lalu kembali mendengarkan pelajaran yang di berikan oleh guru.
Konsentrasinya sudah kembali setelah memberikan camilan untuk Blair, dia jadi merasa seperti pengasuh anak TK saja, yang baru bisa tenang setelah melihat anak yang di rawatnya diam anteng dengan makanan di tangannya.
" Baiklah anak-anak sekian pelajarannya, jangan lupa kerjakan PR kalian. Selamat siang " Suara lantang guru di depan kelas itu pun menjadi penutup pelajaran hari ini yang berakhir 5 menit sebelum bel pulang sekolah berdentang.
" Selamat siang Buuu... " Dengan penuh semangat murid-murid membalas sapaan penutupan itu, lalu terdengar helaan napas panjang keluar dari bibir mereka secara serempak. Penuh kelegaan dan juga kebebasan.
" Pulang... pulang " Pekik mereka bersemangat. Seakan lupa jika 5 menit yang lalu mereka sudah seperti zombie.
Dengan cepat mereka memasukkan buku-buku pelajaran mereka dan bergegas keluar kelas. Dylan pun ikut merapikan buku-bukunya dengan santai sembari menunggu Blair menghabiskan satu bungkus lagi snacknya yang terakhir.
" Kenyangnya " Pekik Blair mengelus-elus perutnya setelah menyelesaikan makanannya.
" Kau ini kecil tapi makan mu banyak sekali ya " Saut Dylan mengejek sambil terus merapikan buku-bukunya.
Blair melirik tajam ke arah Dylan, lalu memiringkan tubuhnya dan menyangga pelipisnya dengan tangannya yang bertumpu pada meja.
" Itu lah kelebihanku " Jawabnya penuh nada kesombongan.
" Saat gadis-gadis lain melakukan diet gila-gilaan, aku tetap pada tubuh mungilku meski makan ku banyak. Ini namanya anugerah, tidak boleh di sia-siakan " Lanjutnya dengan bangga.
" Cih " Cibir Dylan kemudian ikut-ikutan memiringkan badannya persis seperti yang di lakukan Blair, memandangnya dengan gemas dan tersenyum.
" Kalau kau tidak menjaga pola makan mu kau bisa sakit meski tubuhmu tetap mungil, kau paham " Jelas Dylan dengan sabar, lalu tangannya terulur mengusap sisa coklat di ujung bibir Blair.
Degub, degub, degub !! Kan !! Baru saja di nasehati, penyakit itu sudah datang. Namun bukan dari makanan yang dia makan, melainkan dari sikap Dylan yang kelewat manis.
Aku bisa sakit bukan karena makanan tapi karena mu tau !!
Jerit batin Blair gemas dengan tindakan Dylan yang selalu saja membuatnya meleleh.
" Sudah cepat bereskan buku-buku mu, kau tidak pulang " Dylan sudah kembali membereskan buku-bukunya dan Blair juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
" Oh ! ini buku mu ternyata " Blair menyodorkan buku catatan Dylan yang tadi di ambilnya untuk alibi saat terpergok oleh Dera. Dan itu juga buku catatan yang di coret-coret oleh Blair sebagai pelampiasan rasa kesalnya, namun dia tidak menyadarinya.
Dylan menerimanya begitu saja dan langsung memasukkannya ke dalam tas, dan mereka pun telah siap untuk pulang.
" Aku duluan ya " Pamit Blair berdiri lalu menyampirkan tali tas di kedua pundaknya.
" Hm.. hati-hati di jalan " Balas Dylan yang juga sudah berdiri.
Dylan memang menghindari jalan bersama Blair jika berada di area sekolah, dia tidak ingin Blair ikut terseret menjadi bahan gosipan karena terlalu dekat dengannya. Lebih jauh, dia tidak ingin sampai Blair di hina atau di ejek.
Dylan menatap punggung Blair yang semakin menjauh, dan melihat ada yang janggal dengannya.
" Tunggu " Panggilnya sedikit keras saat Blair hampir mencapai pintu keluar.
Mendengar panggilan Dylan, Blair berhenti dan berbalik badan.
" Ada apa ? " Tanyanya heran. Matanya mengikuti Dylan yang berjalan semakin dekat ke arahnya. Namun tanpa bicara apapun Dylan lalu memutar tubuh Blair kembali seperti semula dan memunggunginya.
" Tali tas mu melilit nih, kalau di biarkan saja nanti pundakmu bisa sakit dan berbekas merah " Jelasnya seraya membenahi tali tas Blair.
Benar-benar teman tapi mesra yang sangat beruntung, setidaknya begitulah isi kepala Blair. Bisa mendapat perhatian semanis itu bahkan hanya untuk hal remeh seperti ini. Dengan wajah memerah dia tersipu malu lalu menutupnya dengan kedua telapak tangannya.
" Aaahh... " Pekiknya tanpa sadar.
" Hm ? " Dylan yang mendengar itu mengernyitkan keningnya.
" Kau kenapa ? Apa aku membenarkannya terlalu keras ? " Tanyanya bingung.
" Oh ? " Blair terdiam mendengar suara Dylan. Jiaaahh kelepasan. Dia tidak berani membuka tangannya karena terlalu malu.
" Oii " Panggil Dylan lagi, kini sudah berada di hadapan Blair, sedikit membungkuk agar wajah mereka sejajar. Dia mengetuk-ngetuk punggung tangan Blair yang di gunakan untuk menutupi wajahnya.
" Kaget aku " Pekiknya berjengit begitu melihat wajah Dylan dari dekat sewaktu membuka tangannya.
" Apa sih " Jawabnya berpura-pura ketus dan memasang wajah kesal.
" Kenapa kau berteriak ? " Dylan memperjelas pertanyaannya.
" Kalau mau membenarkan tas ku harusnya kau bilang dulu, biar aku angkat dulu tas ku seperti ini " Memperagakan mengangkat tasnya dari bawah agar tali tasnya sedikit melonggar saat di putar.
" Baru kau memutar talinya yang melilit. Kalau kau langsung memutar talinya yang melilit itu membuat pundak ku jadi tergores, kan panas " Omelnya panjang lebar.
" Iya iya maaf neng " Jawab Dylan sabar dan menegakkan punggungnya lalu berdiri di samping Blair.
" Ayo " Ajaknya lagi, tapi baru saja hendak berjalan Dera tiba-tiba kembali muncul dari balik pintu. Entah sejak tadi atau baru saja.
" Kau mengagetkan saja " Blair hampir berteriak namun buru-buru di tahannya, dia mengelus-elus dadanya yang berdebar karena terkejut.
" Ck " Sedangkan Dylan langsung berdecak dan memasang ekspresi kesal lalu memalingkan wajahnya jengah.
" Aku hanya ingin minta maaf padamu dan padamu " Ucap Dera menatap Dylan dan Blair secara bergantian.
" Hah ? " Blair sedikit terkejut mendengar ucapan Dera barusan. Tadi, beberapa jam yang lalu dirinya dan Dera terlibat perdebatan sepele, lalu juga sedikit pertengkaran karena masalah terpergoknya Dylan dan Kiran, tapi kini seperti jam pasir yang di putar begitu saja, Dera berubah.
" Ya aku merasa aku memang sudah keterlaluan " Jawab Dera memasang wajah memelasnya, dengan jari-jari tangan yang saling memilin dia kemudian menundukkan wajahnya. Tak berapa lama sudah terdengar suara isak tangisnya lirih.
" Haaah " Dylan menghela napas jengah.
" Terserah " Jawabnya acuh dan kemudian pergi begitu saja.
Dera yang melihat kesempatannya tipis itu tak juga pantang menyerah. Dia sudah separuh badan terjun ke dalam kubangan masalah ini, jadi sekalian saja menyelam, begitu pikirnya.
Blair yang bingung melihat sikap Dylan begitu acuh dengan Dera yang telah meminta maaf itu pun berinisiatif untuk membujuknya. Namun belum sempat dia berbuat apapun Dera yang ada di hadapannya mendadak jatuh pingsan.
" Hah !! " Teriaknya kaget dan buru-buru berlutut untuk memeriksa keadaan Dera.
Dylan yang mendengar teriakan Blair langsung berbalik panik, mengira terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya.
" Dia pingsan " Pekik Blair panik.
Melihat Dera pingsan Dylan pun reflek berlari mendekat.
" Kok bisa ? " Tanya Dylan ikut panik.
__ADS_1
" Ti-tidak tau, tiba-tiba jatuh " Jawab Blair terbata-bata.
" Kau bawa tasnya, aku akan menggendongnya ke UKS, bisa tolong kau berlari lebih dulu ke sana, aku takut dokter jaganya sudah pulang " Pinta Dylan dengan cepat.
" Iya bisa-bisa " Blair pun langsung melepas tas dari pundak Dera dan kemudian pergi berlari secepat yang dia mampu untuk mengejar dokter jaga.
Sementara Dylan yang juga ikut panik langsung mengangkat tubuh Dera dan membawanya berlari juga.
" Dokter, dokter... " Panggil Blair berteriak begitu melihat Dokter keluar dari ruang UKS.
" Untung... saja.... belum... terlambat " Ucap Blair di sela napasnya yang tersengal-sengal karena berlari setelah berada cukup dekat dengan Dokter itu.
" Ada apa Blair ? " Tanya Dokter itu bingung.
" I-itu... pingsan " Jawabnya menunjuk ke arah kelasnya masih di sela napasnya yang kembang kempis.
" Kau pingsan lagi ? " Pekik Dokter itu cemas. Terakhir kali Blair pingsan dia sampai harus diwawancarai oleh Manager Yo dan juga di hubungi dokter pribadi keluarga Blair melalui via telepon 3 jam lamanya. Dan itu membuatnya keder sebagai dokter yang baru memiliki 2 tahun jam terbang.
" Bukan saya dokter, tapi itu " Blair sudah bisa menguasai napasnya. Dia kembali menunjuk ke arah ruangan kelasnya meskipun ruangan itu tidak terlihat dari sana.
Bersamaan dengan itu Dylan yang datang dengan tergopoh-gopoh sembari menggendong Dera pun muncul dari balik belokan lorong.
" Nah itu yang pingsan " Tunjuk Blair kembali panik.
Dokter yang melihat kedatangan Dylan langsung bergegas membuka kembali ruangan UKS yang belum di kuncinya.
" Bawa masuk langsung " Perintahnya panik.
Dylan langsung masuk dan menuju ranjang pasien. Membaringkan pelan tubuh Dera yang terkulai lemah di atas kasur.
" Kenapa dia ? " Tanya Dokter begitu Dylan selesai dan menegakkan punggungnya.
" Entahlah, tiba-tiba sudah begitu saat aku menemukannya " Jawab Dylan asal.
" Ya sudah kau keluar dulu, aku akan memeriksanya " Perintah Dokter itu.
Dylan pun juga tidak ingin berlama-lama ada di dalam sana, jadi tanpa di minta dua kali dia segera bergegas keluar untuk menemui Blair yang sudah pasti cemas setengah mati.
Blair yang berjalan mondar-mandir sembari membawa tas Dera di pelukannya itu pun terhenyak saat mendengar suara pintu terbuka.
" Bagaimana keadaannya ? " Tanyanya begitu melihat Dylan keluar dari dalam.
" Masih di periksa " Jawab Dylan santai. Mendengar jawaban Dylan yang tidak memuaskan dan menenangkan itu Blair kembali panik dan berjalan mondar-mandir.
" Aduuh bagaimana kalau dia meninggal ? Kita bisa di panggil polisi, kalau itu terjadi nanti pasti banyak media yang akan menyorot, lalu karir ku sebagai artis bisa tercoreng, kalau tercoreng aku tidak punya job lagi bagaimana aku bisa membeli apartemen sendiri, kalau tidak bisa membeli apartemen bagaimana aku bisa bebas " Gumamnya semakin panik dan berjalan menghentak-hentakkan kakinya.
Dyaln hanya mampu menghela napas panjang melihat kecemasan Blair yang berlebihan, padahal itu hanya pingsan.
Dia lalu meraih tangan Blair saat dia melintas di depannya, menariknya lebih mendekat ke hadapannya agar berhenti mondar-mandir.
" Dia baik-baik saja, kau tidak perlu cemas " Ucapnya lembut menenangkan, lalu dengan perlahan dia mengambil tas Dera dari pelukan Blair dan meletakkannya asal ke lantai.
" Aku tidak akan melibatkan mu kalau sampai nanti pihak sekolah menanyakan hal ini " Lalu dengan kedua tangannya Dylan menggenggam tangan Blair.
" Kau tenang saja. Ok ? " Pintanya lembut.
Sekali lagi, Blair sangat bersyukur sekaligus bahagia bisa menjadi teman tapi mesra Dylan. Karena Dylan benar-benar bisa menenangkannya, bahkan di situasi yang menurutnya buruk sekalipun.
" Ok " Jawabnya pasrah dan patuh, sudah merasa tenang dan lega.
Sementara itu Dokter yang sedang memeriksa Dera di buat terheran-heran sendiri dengan hasil diagnosanya.
Dari tekanan darah, lebar pupil, denyut nadi hingga detak jantung dan juga bagian pencernaan Dera semuanya normal. Tidak ingin kecolongan dua kali, dia pun memeriksa ulang Dera yang sedang terbaring di atas ranjang.
" Hmm... " Akhirnya dia sampai pada kesimpulannya sendiri setelah memeriksanya.
Dasar anak jaman sekarang.
Batinnya menghela napas panjang kemudian menyampirkan stetoskop di lehernya dan pergi keluar.
Aarrgghh !!! Dokter pasti tau kalau aku pura-pura pingsan.
Teriak batin Dera malu sendiri dengan tindakannya. Dia terlalu gegabah dalam bertindak, dia mengira Dylan hanya akan panik dan berusaha menyadarkannya sendiri tanpa perlu membawanya ke UKS. Tapi kenyataannya meleset dan sekarang sudah terlambat. Dia telah melakukan kebohongan.
__ADS_1