
" Kau ?!?! " Ruby terkejut melihat seseorang yang sedang duduk di hadapannya di sebuah sofa tunggal.
" Aku sangat merindukan mu " Seringainya mengerikan.
" Kenapa kau lakukan ini padaku ? Aku tidak akan meninggalkan Rai " Ruby berontak berusaha melepaskan ikatan di tangannya.
" Tidak perlu repot-repot meronta sayang, itu hanya akan melukai tangan mu. Bersikaplah manis karena kau sedang hamil bukan ? " Seringainya semakin kejam.
" Lucas kenapa kau lakukan ini ? Sebentar lagi Rai akan tau, dan saat dia tau kau pelaku di balik semua ini, dia tidak akan mengampuni mu " Ruby mengancam Lucas, tapi sepertinya ancamannya itu tidak menakutinya sama sekali.
" Jangan sebut namanya di depan ku !!! " Teriak Lucas dan kemudian berdiri.
" Kau tau aku sudah menunggu lama untuk saat-saat seperti ini. Aku menyiapkannya dengan sangat teliti, jadi saat Rai menyadari ini dan mulai mengejarku, kita sudah akan pergi dari negara ini " Lucas terkekeh menceritakan rencananya.
" Kita ? Apa maksud mu kita ? " Tanya Ruby tidak mengerti.
" Tentu saja kita istri ku, kau dan aku, ah dan tentu saja anak kita " Lucas berjalan mendekati Ruby, dan memutarinya.
" Lucas aku tidak mengerti apa maksudmu, tapi yang jelas ini salah " Ruby berusaha melembutkan suaranya. Dia tau ada yang berbeda dengan Lucas, dan instingnya mengatakan Ruby harus tenang dan menghadapi Lucas dengan lembut.
" Salah ? Apa yang salah dari hubungan suami istri ? Aku menjemput istri ku yang di tawan oleh penjahat. Lalu dimana letak kesalahan ku ? " Lucas bertanya dengan nada sedih yang di buat-buat.
" Aku bukan istrimu, aku istri Rai " Ruby menjawab terbata-bata.
" Tidak !!!! Kau istri ku, dari dulu istri ku, lihat aku bahkan sudah mengurus surat pernikahan kita " Lucas menghampiri meja dan melemparkan amplop coklat ke arah Ruby.
" Itu berkas-berkas yang akan kita gunakan untuk pergi keluar negeri, paspor mu dan tanda pengenal baru mu sudah ku persiapkan semuanya " Lucas kembali terkekeh menceritakan ide gilanya.
" Lucas apa yang coba kau lakukan, aku mohon jangan sakiti aku " Ruby memohon dengan suara memelas.
" Sshh... ssshhhh... jangan menangis sayang, mana mungkin aku menyakiti istri ku sendiri dan juga calon anak ku, kita akan pergi keluar negeri dan hidup bahagia di sana, hanya kau dan aku juga anak kita " Ucap Lucas lirih di depan wajah Ruby dan kemudian mencium keningnya.
" Lucas apa yang terjadi padamu, kenapa kau seperti ini ? " Ruby mulai merasa takut dengannya. Ada sesuatu yang tidak beres pada Lucas.
__ADS_1
" Kenapa ? Apa kau akan seperti yang lain yang mengatakan aku gila ? Bagaimana bisa kau mengatakan suami mu gila sayang ? " Ucap Lucas lirih di telinga Ruby, sekarang dia berada di belakang Ruby, mencengkeram pundak Ruby dengan kuat.
" Aku sangat mencintai mu, benar-benar sangat jatuh cinta padamu, aku bahkan mengirimkan seorang mata-mata untuk bekerja di tempat penjahat itu, mencari kesempatan untuk bisa membunuhnya, tapi sial keamanan di club itu sangat ketat. Tidak di sangka ternyata aku malah mendapati kabar kalau kau juga bekerja di sana, di bagian cleaning service " Lucas menceritakan awal mula semua rencananya.
" Mata-mata ? Ignes ? " Ruby bertanya penasaran.
" Bukan dia teman satu bagian denganmu, siapa namanya ? Ah ya Mey " Jawab Lucas santai.
" Mey ? " Ruby mengulanginya tidak percaya.
" Tapi mereka menembak Mey " Ruby memberitahu Lucas perihal anak buahnya.
" Tentu saja mereka harus menghilangkan saksi mata, aku tidak mungkin membahayakan mu dengan meninggalkan saksi mata untuk membiarkan penjahat itu mengejar kita. Hari itu aku mengirimkan Mey untuk menjadi pegawai baru disana, statusnya yang hanya pegawai cleaning service pasti tidak akan membuat dia di curigai, tapi ternyata di hari pertamanya bekerja kau juga muncul sebagai pegawai baru, sungguh kejutan yang menyenangkan, jadi aku memutuskan akan mengampuni penjahat itu dan merebutmu kembali " Lucas menjawab santai seolah-olah itu bukan hal yang besar.
" Tidak mungkin, ini semua rencana Ignes. Lalu kenapa kau bisa terlibat di dalamnya ? " Ruby masih tidak percaya apa yang di dengarnya.
" Ah Ignes perempuan sinting itu ? Aku hanya menggunakannya sebagai kambing hitam " Lucas menarik kursi mendekat ke samping Ruby, dan duduk di sebelahnya. Menyandarkan kepalanya di pundak Ruby.
" Lucas ada apa dengan mu, apa kau sakit ? " Tanya Ruby hati-hati melirik ke arah pundaknya tempat Lucas bersandar saat ini. Dia tidak percaya melihat Lucas dalam keadaan seperti ini, Lucas yang dulu di kenalnya baik dan memiliki senyum hangat sekarang berubah jadi seseorang yang lain dengan seringai mengerikan.
" Aku tidak sakit, aku tidak sakit !!! " Lucas tiba-tiba bangkit dan membalikkan meja yang ada di depannya. Hal itu membuat Ruby ketakutan. Dengan kondisi Lucas saat ini bukan tidak mungkin dia akan menyakitinya.
" Lucas aku masih teman mu, kau bisa cerita apapun pada ku, jangan seperti ini, aku mohon " Suara Ruby tercekat, matanya mulai berkaca-kaca.
" Bukan, aku bukan teman mu, aku suami mu, berapa kali aku bilang aku suami mu, dia yang telah merebutmu dari ku !!! Kalau kau tidak mengakui ku sebagai suami mu, maka akan ku buktikan kalau aku suami mu " Teriak Lucas dan kemudian membuka kancing kemeja nya.
" Tidak !!! Lucas jangan, aku mohon. Tidak !!! " Teriakan Ruby memenuhi ruangan.
πππππ
" Itu ! " Tunjuk petugas polisi yang menatap layar monitor besar memantau gerakan di cctv.
" Mereka menuju selatan kota ini " Polisi tersebut memberikan informasi.
__ADS_1
" Baiklah hadang mereka dan adakan pemeriksaan jalan, jangan buat ini terlalu mencurigakan karena kita tidak tau apa yang penculik itu inginkan, salah langkah bisa-bisa membuat mereka menyakiti Ruby " Rai mengambil alih perintah dari kepala polisi.
Bagaimanapun mereka hidup di negara hukum, dan semua proses yang di tempuh Rai harus sesuai hukum yang berlaku juga, tapi Rai juga tentu saja sudah menyiapkan sendiri anak buahnya untuk bergerak sewaktu-waktu kalau di perintahkan.
Dan seorang polisi pun segera menelfon pos polisi terdekat untuk segera melakukan pemeriksaan kendaraan, Rai juga memerintahkan anak buahnya yang ada di selatan kota ini untuk membantu polisi menghadang mobil itu sampai mereka tiba disana.
Rai dan Ken juga segera bergerak menuju lokasi di mana mobil itu akan di hentikan.
Ken sendiri yang melajukan kendaraan yang dia tumpangi bersama Ken, di belakang mereka sudah mengikuti puluhan mobil pengawal yang berjaga-jaga jika terjadi baku tembak.
" Sial !! Aku akan menghabisi mereka semua tanpa sisa " Rai mengepalkan tangannya menahan geram, membuat buku-buku jarinya memutih.
" Tenang lah kakak, kau harus berpikiran dingin untuk saat ini, kita belum tau motif di balik penculikan ini, apa ada hubungannya dengan Ignes atau tidak " Ken berusaha menenangkannya.
" Aku tidak peduli ini ada hubungannya atau tidak, aku tidak akan membiarkan dia hidup tenang, akan ku buat sepanjang sisa hidupnya memohon untuk mati " Rai mengancam tajam.
Mobil mereka pun melaju kencang memecah jalanan yang memang sudah di sterilkan oleh polisi.
Sementara itu di balik meja kerja yang luas seseorang yang menerima informasi tentang kejadian yang sedang terjadi itu hanya mampu memijit pangkal hidungnya. Menghela nafas untuk menunjukkan kekecewaannya.
" Anak-anak itu hanya tau bermain-main, menjaga seorang wanita saja tidak becus " Sekali lagi dia menghela nafas.
" Cepat siapkan jet pribadi, kita kembali sekarang " Perintah Regis kepada Yuri.
" Baik Tuan " Yuri menjawab sopan dan menundukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan ruangan.
" Cinta memang membuat seseorang kehilangan akal, yang cerdas saja bisa menjadi bodoh. Haaahh dasar anak-anak itu. Sayang lihat anak-anak mu itu, begitulah kalau kau terlalu memanjakannya " Gumamnya sendiri pada sebuah foto kecil berbingkai yang ada di hadapannya.
Gambaran siapa hayoo ?? Yup betul ini gambaran Regis J Loyard, ayahnya Rai dan Ken. Maafkan author kalau menurut teman-teman semua tidak cocok atau kurang tua atau kurang garang, harap bersabar ini hanya cerita fiktif βΊοΈβΊοΈβΊοΈ, gambaran Ruby menyusul ya...
Terima kasih semua
__ADS_1