Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Batman dan Cerry


__ADS_3

" Aku tidak tau nomor siapa itu, kalau kau curiga padaku, telefon saja nomornya, ajak dia bertemu dan hajar dia seperti kau menghajar Daniel kalau memang aku berselingkuh " Ruby menjawab malas, karena dia sangat yakin tidak ada laki-laki lain yang akan menghubungi nya, kecuali Daniel.


Secepat kilat Rai sudah membuat panggilan ke nomor tersebut.


tuuut, tuuut, tuuut !! Suara sambuangan telefon yang tidak di angkat. Membuat Rai semakin kesal dan wajahnya memerah karena marah.


" Halo ? " Suara perempuan serak seperti sedang tidur dan terbangun.


" Hmm.. halo, dengan siapa ini ? " Rai menjawab salah tingkah karena yang mengangkat ternyata wanita.


" Apa ini suami nya Ruby ? " Wanita itu bertanya.


" Ah ya, ini Ruby akan bicara " Rai merasa malu dan langsung menyodorkan ponselnya ke arah telinga Ruby yang sedang berganti pakaian.


" Siapa ? " Ruby berbisik. Rai hanya mengangkat bahu tanda dia tidak tahu.


Ruby kemudian mengapit ponselnya di antara pipi dan bahu nya, Rai juga segera memeluk Ruby dari belakang dan ikut menempelkan telinganya di dekat ponsel. Ruby menghela nafas melihat sikap Rai yang benar-benar sangat posesif dan cemburu buta.


" Siapa ini ? " Tanya Ruby santai.


" Kau ? " Ruby terkejut dan terbelalak, tidak percaya dengan seseorang yang sedang berbicara dengannya saat ini.


🍁🍁🍁🍁🍁


Pagi yang cerah, semua orang sedang berkumpul untuk sarapan bersama. Kecuali beberapa orang yang bermuka masam di karena kan pepatah mulutmu harimau mu.


Rai dan Ken harus menerima konsekuensi dari kekalahan mereka bertanding gulat dan samurai.


" Kau tidak bisa melakukan ini ayah " Seru Ken memprotes kebijakan dari ayahnya.


" Kalau kalian masih merasa laki-laki hadapi ini dengan jantan " Regis menjawab tegas tidak memperdulikan protes yang di layangkan Ken.


Sementara Rai hanya bisa pasrah menerima hukumannya. Bukan tidak ingin protes tapi dia tau hal itu hanya akan sia-sia saja.


" Tapi ayah... " Ken terus saja merengek.


" Ayah bisa membuatmu lebih buruk dari ini " Regis menjawab telak yang membuat Ken segera menutup mulutnya.


" Baiklah " Pada akhirnya dia pun patuh dan berusaha tabah menjalani cobaannya.


" Anak ku apa yang akan kau lakukan hari ini ? " Tanya Regis kepada Ruby.


" Aku ingin bertemu teman lama ayah, semalam dia menghubungi ku, dan juga aku ingin mengunjungi Lucas dan Ignes di rumah sakit " Ruby menjawab sopan.


" Baiklah aku akan menyuruh pengawal untuk menemani mu, keselamatan mu yang paling utama " Regis memerintah tegas.


" Aku akan pergi dengan Rai ayah " Ruby menjawab sopan, dia tidak ingin membuat orang lain khawatir lagi, jadi Rai akan ikut kemana pun Ruby pergi mulai sekarang dan Regis pun menyetujui nya.


Selesai sarapan mereka semua berangkat bekerja, Ken menumpang di mobil Regis karena mobilnya sedang dalam penyitaan.


Sementara Ruby dan Rai berada di mobil yang lain untuk mengunjungi ayah nya dan juga Lucas.


Mobil mereka berpisah sesaat setelah keluar dari gerbang.


" Apa kau yakin akan baik-baik saja melihat Lucas, apakah tidak akan menimbulkan trauma ? " Tanya Rai hati-hati kepada Ruby.


" Aku rasa tidak, aku siap bertemu dengannya. Dia memperlakukan ku dengan baik waktu itu, aku merasa kasihan dengannya, dia terus saja mencari Leon, seseorang yang tidak nyata " Ruby menjawab sedih.


" Kita tidak pernah tau jika berhubungan dengan perasaan seseorang " Rai mengangguk menyetujui pendapat Ruby.


Mobil yang mereka tumpangi telah sampai di pelataran rumah sakit, penjaga turun untuk membukakan pintu mereka.


" Kau siap ? " Tanya Ruby kepada Rai, dia menyodorkan tangannya untuk di genggam.


" Ya " Rai menjawab singkat.


Mereka berdua berjalan menuju ruang perawatan tempat Lucas di rawat, perawat yang memandu jalan mereka.

__ADS_1


Lucas telah di pindahkan ke ruang perawatan, dan perawat mengatakan bahwa kondisi jiwa Lucas masih belum stabil jadi dia meminta hanya Ruby dulu yang masuk di temani dengan perawat.


Perawat mengetuk pintu ruangan, dan kemudian membukanya perlahan. Lucas sedang berbaring di ranjangnya menoleh ke arah perawat.


Perawat masuk di ikuti dengan Ruby di belakangnya. Lucas segera terlonjak begitu melihat Ruby datang.


" Ruby ? " Tanya nya sumringah.


" Hai " Sapa Ruby singkat dengan senyuman.


" Kau baik-baik saja ? " Tanya nya kemudian.


" Akhirnya kau datang, aku sangat merindukan mu " Lucas akan menghambur Ruby tapi di cegah oleh perawat, beralasan bahwa dia tidak boleh banyak bergerak lebih dulu.


" Kenapa kau lama sekali ? " Tanya nya kemudian.


Ruby mendekatinya dan duduk di kursi yang ada di dekat ranjangnya.


" Ya aku sedang sibuk " Ruby menjawab basa-basi, dia harus sangat berhati-hati karena dokter bilang dia masih mengalami krisis identitas antara Lucas dan Leon.


Psikiater yang menangani nya mengatakan bahwa Lucas menderita alter ego.


Alter ego adalah kondisi di mana seseorang membentuk karakter lain dalam dirinya secara sadar. Karakter lain ini sering kali merupakan gambaran ideal tentang dirinya, yang tidak bisa dia realisasikan dan hanya mampu ia idam-idamkan.


Dalam kondisi Lucas, masa lalu nya sangat mempengaruhi nya, mengalami bullying dalam masa remaja, penolakan oleh cinta pertamanya, dan kemudian penolakan lagi oleh Ruby dan itu semua disebabkan oleh satu orang yaitu Rai.


Jadi dalam kasus ini, Lucas secara sadar membuat karakter lain dari dirinya yang mirip seperti Rai, kejam, dingin, dan berani. Itu semua dia gunakan untuk menarik perhatian Ruby.


Hingga pada akhirnya Lucas mengalami krisis identitas, dia semakin terjebak dalam identitasnya antara Lucas dan Leon, karena sejujurnya dia sangat membenci Lucas yang hanya mampu menjadi pencundang.


Dan dokter akan melakukan terapi untuk mengembalikan percaya dirinya agar dia bisa bangga menjadi Lucas. Hanya itu satu-satu nya cara agar Leon menghilang.


" Apa kau sudah bertemu Leon ? Aku mencari nya, aku ingin bicara dengannya " Lucas bertanya pada Ruby.


" Lucas aku sangat menyukai mu, sebagai teman. Kau orang yang baik, hangat dan humoris. Kau tau Leon tidak baik untuk di ajak berdiskusi, jadi kalau kau butuh sesuatu, bicarakan itu dengan ku. Aku akan selalu mendengarkan mu " Ruby mencoba membantu Lucas agar kembali pada kesadarannya.


" Ya dengan cara menyakiti ku " Ruby menjawab tegas.


" Aku tidak suka Leon, dia menyakiti ku. Tapi kau, Lucas kau menolongku, kau menyelamatkan hidup ku. Aku suka Lucas yang baik tanpa Leon " Ruby berusaha sekuat tenaga.


" Ruby aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan, aku bingung, kepala ku terasa sakit " Lucas tiba-tiba menjadi panik dan memegang kepala nya.


" Baiklah nyonya sudah cukup, kami akan menyuntikkan obat penenang kepadanya, anda silahkan keluar " Perawat memberikan interuksi kepada Ruby.


Ruby hanya bisa mengangguk pasrah dan meninggalkan Lucas yang meraung-raung dan berteriak mencari Leon.


Rai yang menyaksikan semua itu dari jendela hanya bisa merasa iba kepada Lucas, dia membayangkan dirinya sendiri yang pada awalnya ingin menjadikan Ruby seperti ibunya karena mother compleks yang dia derita, kalau saja bukan karena Ruby juga membalas cinta nya, mungkin Rai akan bernasib sama seperti Lucas.


" Kau baik-baik saja ? " Tanya Rai begitu Ruby sudah keluar ruangan. Raut wajahnya sedih, Rai memeluknya untuk menenangkannya.


" Aku kasihan padanya, semoga dia akan baik-baik saja " Ruby menjawab dengan suara tercekat. Bagaimana pun Lucas adalah orang yang telah menyelamatkan nyawanya, jika bukan karena Lucas, mungkin Ruby yang saat ini terbaring di rumah sakit, atau bahkan di pemakaman.


" Dia akan baik-baik saja, ayah menyuruh psikiater profesional yang menanginya " Rai menenangkan Ruby.


Mereka semua beranjak akan menjenguk Ignes, tapi perawat bilang kondisi Ignes sangat buruk, dia di pindahkan ke rumah sakit jiwa dan sedang berada di ruang isolasi karena terus menerus melukai dirinya sendiri. Obsesinya kepada Rai membuatnya menjadi seperti ini.


Akhirnya mereka menjenguk ayah Ruby, kondisinya masih tetap sama, koma. Dokter sudah mengupayakan yang terbaik, tapi memang belum ada kepastian tentang koma, hanya waktu yang akan menjawabnya.


" Ayah " Isak Ruby mengenggam tangan ayahnya yang sedang terpejam.


" Aku datang dengan suami ku, dia orang yang sangat baik, kau tidak perlu cemaskan apapun lagi tentang hidupku " Ruby bercerita pada ayahnya. Rai yang berdiri disampingnya hanya bisa diam dan menepuk lembut pundak Ruby sebagai bentuk dukungan.


" Aku sangat mencintai nya, dan dia juga begitu. Ayah sembuhlah, buka mata ayah. Aku akan segera punya anak, apakah kau tidak ingin melihat cucu mu ? Rai bilang dia akan jadi jagoan yang baik " Ruby terus terisak bercerita.


Setelah satu jam lamanya Ruby menangis bercerita kepada ayahnya yang masih tidur terpejam, akhirnya mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar rumah sakit untuk mencari udara segar.


Ruby membawa Rai ke halaman belakang, ke bangku di bawah pohon beringin besar.

__ADS_1


" Dulu di sini aku ingat seorang anak kecil pernah melamar ku " Ruby bercerita dengan tersenyum lucu mengingat masa kecilnya.


" Apa ?!? " Rai terkejut kesal.


" Waktu kau kecil ada orang lain yang berani-berani nya melamar mu ? Siapa dia ? Aku akan menghajarnya " Rai menjawab kesal.


" Cih " Ruby mencibir.


" Kau ini terlalu cemburu, dia hanya anak-anak, dan lagi pula itu dulu " Ruby menjawab sinis.


" Hei mana ada seorang anak kecil yang punya pikiran untuk menikah, dia pasti anak kecil yang mesum. Cih !! Akan jadi apa dia kalau sudah besar nanti, saat kecil saja sudah punya pikiran mesum " Rai memaki kesal.


" Dia anak yang baik, dan tampan " Bela Ruby.


" Mana ada anak baik dan tampan berpikiran mesum ? Kau itu gampang sekali di tipu, untung saja aku yang menemukan mu dan menikahi mu, kalau tidak aku tidak bisa membayangkan laki-laki mesum itu menjadi suami mu, dia pasti sudah selingkuh " Rai menjawab sinis.


" Dia anak yang baik " Ruby tetap membela nya.


" Memangnya kenapa kau ada di rumah sakit ini ? Apa kau sakit ? Aku juga di rawat disini waktu kecil " Rai bertanya heran.


" Aku merawat ibu ku yang sakit disini, saat itulah aku bertemu dengannya " Ruby menjawab santai.


" Aneh, aku dulu juga punya cinta pertama ku disini, dia anak yang cantik dan manis " Rai bergumam sendiri.


" Kau bilang apa ? " Ruby bertanya karena mendengar Rai bergumam sendiri.


" Siapa nama anak kecil itu ? " Tanya Rai mengalihkan pembicaraan, masih kesal.


" Entahlah, dia menyebut dirinya batman, dan dia memanggilku cerry " Ruby tersipu malu.


" Apa ?!? " Rai terkejut mendengar jawaban Ruby.


" Jadi kau anak kecil dengan wajah merah seperti cerry itu ? Kau anak yang selalu membantah omonganku dulu ? " Rai berteriak karena tidak percaya apa yang mereka alami.


" Apa ? Memangnya ada apa ? " Ruby bertanya heran.


" Kau anak yang selalu mendorong kursi roda bibi itu ? Yang membantunya berjemur di pagi hari ? " Tanya Rai masih terkejut.


" Iya benar, darimana kau tau ? " Tanya Ruby heran.


" Aku batman itu, aku anak kecil tampan itu " Rai menjawab sombong.


" Apa ?!? Jadi kau anak kecil sombong yang lubang hidungnya sangat besar dan selalu ingusan itu ? " Ruby berteriak tidak percaya.


" Lubang apa ?! " Ulang Rai kesal.


" Wuuaahh dunia benar-benar kecil, harusnya aku mengenali mu dari lubang hidungmu yang tidak wajar itu " Ruby menjawab dengan terkekeh.


" Dan apa ? Mesum ? Ya kau memang benar, anak kecil itu tumbuh menjadi seseorang yang mesum hahaha " Ruby terbahak-bahak karena semua umpatan Rai kembali pada dirinya sendiri.


" Kau !! " Rai memandang Ruby geram.


" Hentikan !! " Perintahnya kesal.


Tapi Ruby semakin keras tertawa. Membuat Rai semakin kesal dan memeluknya.


" Kalau kau tidak berhenti tertawa, aku akan mencium mu 5 ronde disini, di depan semua orang " Rai mengancam lirih di telinga Ruby.


Membuat wajah Ruby merah merona. Dia memukul pelan lengan Rai.


" Aku tidak menyangka janji kecil kita ternyata menjadi kenyataan. Aku sangat bahagia " Rai berbicara lirih dan semakin mengeratkan pelukannya.


" Aku juga bahagia " Ruby membalas pelukan Rai dan membenamkan wajahnya di dada Ruby.


" Mari kita hidup bahagia selamanya, sampai maut memisahkan " Rai berjanji kepada Ruby.


" Aku akan menemanimu dalam suka dan duka " Janji Ruby.

__ADS_1


Sekali lagi di pagi yang cerah itu mereka mengulang janji mereka saat kecil dulu, berjanji untuk menikah yang pada akhirnya takdir mengabulkan untuk menyatukan mereka.


__ADS_2