Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Berakhirnya nasib Rhoma


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Rai berbelok menuju sebuah hotel, Ruby yang melihat itu heran, kenapa mereka tidak pulang saja.


" Kenapa harus ke hotel ? " Ruby bertanya heran saat mobil sudah berhenti di depan pintu utamanya.


" Tidak apa-apa hanya berganti suasana saja " Rai menjawab santai.


" Lebih baik di rumah, lebih nyaman " Ruby beralasan. Dia masih berusaha menyembunyikan pernikahan mereka.


" Sudahlah tidak apa-apa, disini juga akan senyaman di rumah " Rai kemudian membuka pintu mobil dan keluar, berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Ruby.


Ruby ragu-ragu melangkah keluar mobil, dia tidak suka menjadi pusat perhatian. Dia melihat jam tangannya, pukul 12 malam. Suasana di hotel memang sepi, tapi bukan berarti tidak ada orang lain.


Rai yang melihat Ruby ragu-ragu segera menarik tangannya dan merangkul pundaknya. Menutup pintu mobil dengan keras dan setengah menyeret Ruby masuk ke dalam.


Ruby hanya pasrah mengikuti Rai karena terikat janjinya. Mereka tiba di meja resepsionis. Pegawai resepsionis terkejut melihat Rai yang datang, dan segera memanggil semua pelayan untuk melayani Big Bos. Salah satu pelayan yang bertugas memarkirkan mobil Rai menghadapnya dan menundukkan kepala. Rai melempar asal kunci mobilnya, dia menangkapnya dengan geragapan dan menundukkan kepalanya lagi lalu pergi untuk memarkirkan mobilnya. Pelayan lainnya mempersilahkan mereka duduk di sofa yang ada di lobi. Mereka berjalan menuju sofa dan duduk disana, di depan mereka sudah berderet beberapa pelayan dan dua wanita penjaga resepsionis yang tadi.


Seorang laki-laki paruh baya berlarian menuju arah mereka, dan menundukkan kepala saat tepat berada di depan Rai.


" Maafkan kami atas kelambatan kami melayani anda Tuan " Laki-laki itu berbicara sopan kepada Rai.


" Hidangkan makanan dan minuman sekarang " Perintahnya kemudian kepada para pelayan yang sudah berbaris rapi di depan mereka, dua orang pelayan wanita pergi untuk mengambilkan makanan dan minuman.


" Tenang saja, jangan membuat keributan " Rai menjawab santai kepada Manager hotel, dia semakin mengeratkan pelukan di bahu Ruby.


Petugas wanita di bagian resepsionis itu melihat Rai dengan pandangan takjub dan kagum, namun setelah beralih ke arah Ruby, dia menyelidik dan menilai dari atas sampai ke bawah, seperti robot pemindai yang harus memindai sebuah obyek dengan seksama.


Ruby merasa tidak nyaman di pandang seperti itu, dia memalingkan wajahnya. Ponsel Ruby berdering, dia melihat layarnya.


Hohoho... masih berani juga kau menelfon rupanya, aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah kali ini, dasar pengkhianat.


Ruby menunjukkan layar ponselnya kepada Rai, dan meminta izin pergi mengangkat telfonnya. Rai hanya mengangguk sebagai tanda pesetujuan.


" Apa ? " Jawab Ruby ketus saat mengangkat telfonnya dan setelah berdiri agak jauh dari Rai dan para pegawainya.


" Kau selamat ? Haah syukurlah " Ken terlihat lega mendengar suara Ruby, dia mengira kakaknya yang akan mengangkat telfon dan mengatakan kalau Ruby sedang terbaring koma di rumah sakit.


" Selamat ? Aku bahkan lebih parah dari yang terlihat " Ruby mulai menggoda Ken.


" Sungguh ? Apa yang dia lakukan padamu ? " Ken bertanya panik.


" Aku sedang bersiap-siap untuk bertarung dengannya, 5 ronde kau tau !! " Suara Ruby ketus dan dibuat sedramatisir mungkin.


" Haaahh ? Dia bahkan tidak mengampuni mu ? Kalau kau dan Junior saja tidak bisa meredakan kemarahannya, lalu bagaimana dengan ku ? " Nada suara Ken mulai panik.


" Dia akan membuat perhitungan denganmu setelah membereskan ku " Suara Ruby terdengar meyakinkan.

__ADS_1


" Sungguh ?!? " Ken setengah berteriak sekarang.


" Baiklah tolong sampaikan maafku padanya, dan katakan juga ayah menelfon ku, menyuruhku segera pergi menemuinya, jadi aku akan keluar negeri sampai batas waktu yang tidak di tentukan, ok ? " Ken berusaha menghindar.


" Lupakan niatmu itu, kau tidak mau foto mu di sebarkan sebagai buronan no 2 kan ? Jadi tunggu dan terima saja nasibmu " Ucap Ruby sinis.


" Sudah aku sibuk, aku harus banyak-banyak berdoa agar kakakmu sedikit lembut padaku " Ruby memutuskan sambungan telfon tanpa menunggu jawaban dari Ken.


Aku akan memikirkan cara terkejam untuk membalasmu nanti, gara-gara kau aku harus bertarung 5 ronde dengan Rai.


Ruby menghela nafas panjang, dia berbalik akan kembali ke arah Rai. Namun langkahnya tertahan karena samar-samar mendengar nama Rai disebut.


" Selera tuan muda Rai jadi aneh sekali, kau lihat gadis itu, penampilannya buruk sekali, dia seperti dari dunia lain saja, tidak biasanya Tuan muda memilih gadis seperti itu " Gosip seorang pelayan yang melintas dengan membawa nampan minuman untuk Rai.


" Kau benar biasanya Tuan muda selalu memilih wanita cantik dan modis, tapi melihat tuan muda yang sepertinya sangat menyukainya jadi membuatku curiga, jangan-jangan gadis itu menggunakan ilmu pelet " Saut pelayan yang lain yang juga membawakan makanan dengan nampan.


Mereka berdua cekikikan bergosip tentang Ruby, mereka tidak menyadari Ruby sedang berada di balik tembok tertutup pohon hias. Ruby yang mendengarnya hanya menghela nafas, suasana seperti ini akan dia nikmati nanti saat pernikahan mereka terbongkar.


Seseorang bergosip tentangnya di belakang, dan kemudian berubah menjadi baik di depan. Seperti Ignes yang berpura-pura bersikap baik didepannya dan berusaha melenyapkannya di belakangnya.


Ruby menghela nafas panjang, dia segera pergi menemui Rai yang duduk di sofa menikmati secangkir kopi.


" Kau sudah selesai ? " Tanya nya santai.


" Hu'um " Ruby hanya menjawab dengan anggukan kepala dan berusaha tersenyum.


" Bisakah kita berjalan dengan normal saja ? Tanpa rangkulan ? " Ruby berusaha melepaskan diri, dia tidak nyaman dengan tatapan para pelayan yang menilainya dengan tatapan menyelidik.


" Tidak mau " Jawab Rai seenaknya.


" Ah ya dan jangan lupa bawakan minuman STMJ ke kamar, kami akan begadang malam ini " Perintah Rai kepada manager hotel.


" Baik tuan, anda ingin berapa telur untuk di campurkan kedalamnya ? " Manager hotel bertanya sopan.


" Tambahkan 3 saja cukup, ini untuknya bukan untukku hahaha " Rai mengerjai balik Ruby.


Mereka semua terkejut mendengar ucapan Rai, tapi menahannya karena takut menyinggung perasaan tuannya.


Dasar kau !! Membuatku malu saja, aishhh.


Ruby menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


" Jangan tutupi wajahmu, kau jadi terlihat benar-benar seperti buronan yang tertangkap dan di giring ke kantor polisi " Rai tergelak karena telah berhasil membalas Ruby.


" Hentikan " Ruby berbisik geram ke arah Rai.

__ADS_1


Mereka memasuki lift dan pelayan menekan tombol di lift, lantai 20. Tempat kamar pribadi Rai di hotel tersebut. Semua hening di dalam lift, tidak ada suara sedikitpun.


Pintu lift terbuka, pelayan mempersilahkan Rai dan Ruby keluar, mereka berjalan dan berhenti tepat di sebuah pintu. Petugas menempelkan kartu akses berwarna hitam yang khusus hanya untuk kamar Rai.


Setelah pintu terbuka Rai segera memaksa Ruby masuk ke dalam. Sebuah kamar yang luas dan mewah. Rai segera berjalan menuju sofa luas dan merebahkan dirinya di sana. Ruby meliriknya sinis.


Kalau tau kau tidak mungkin menyakitiku, aku sudah pasti tidak akan menawarkan itu kepadamu, apalagi sampai 5 ronde. Aku benar-benar sudah gila.


Ruby menunduk menyesali mulutnya yang selalu saja tidak bisa di kontrol jika dalam keadaan genting.


" Kemarilah sayang " Rai memanggil Ruby untuk mendekat, menepuk nepuk sofa di sebelahnya.


Ruby berjalan mendekatinya dengan malas. Dia merasa seluruh tenaganya telah terkuras habis untuk dramanya di tempat latihan menembak tadi.


Rai menarik tangan Ruby, dia terjatuh dipangkuan Rai.


" Kenapa wajahmu terlihat sedih ? " Tanya Rai lembut.


" Aku hanya lelah " Ruby beralasan.


" Jangan mengelak, kau punya hutang yang sangat besar padaku " Rai menyindir.


Cih bagaimana mungkin aku lupa, kita sudah berada disini untuk melakukan itu.


Ruby menghela nafas panjang.


" Baiklah, tapi bisakah kita bersantai dulu " Ruby merayu Rai.


" Baiklah sayang, apapun untukmu " Jawab Rai manis, dia mulai menciumi pipi Ruby.


Ruby mengambil remote tv, kemudian menyalakannya, agar suasana tidak terlalu sepi.


" Sudah larut malam, apa kira-kira ada film yang bagus ya ? " Ruby mengoceh sendiri.


Rai menatap Ruby, dia terlihat sangat gemas dengan tingkah Ruby. Dia memeluknya semakin erat, membenamkan wajahnya di dada Ruby.


Ruby sedang sibuk memindah saluran tv, mencari channel yang menayangkan sesuatu yang menarik untuk di tonton. Ruby mengurutkannya dari nomor terendah, memencet asal tombol + di remote tv.


" Ani " Tiba-tiba suara itu terdengar keras dari layar tv, saat chanel telah sampai di MN*CTV.


" Cukup Rhoma !!! " Begitulah adegan drama itu berlangsung.


Ruby yang terkejut dengan film lawas di era 90an itu hanya diam mematung, dia merasakan pelukan Rai melonggar. Jantungnya berdetak kencang. Dia memberanikan diri melirik ke arah Rai.


Kilatan kemarahan jelas terlihat di matanya, otot wajahnya mulai menegang membuat wajahnya yang putih sekarang berubah menjadi semu merah karena menahan marah. Ruby tersenyum kaku padanya.

__ADS_1


“ Kau !!! “ Rai menahan geram.


" Tidak Rhoma !!! " Kata-kata Ruby bersamaan dengan kata-kata Ani di layar tv.


__ADS_2