
Dylan yang meluncur di atas skuter pinjaman itupun merasa keasyikan sendiri hingga lupa kemana tujuannya. Dia tidak jadi pergi ke kamar seperti pamitnya tadi, melainkan berkeliling berputar-putar dengan skuter milik Kiran.
" Ternyata enak juga ya " Gumamnya tersenyum lebar, dengan kaki yang mengayunkan skuternya pelan.
Keempat kakaknya yang ada di ruang santai itupun tertawa bersama melihat tingkah Dylan yang bersenang-senang naik skuter dari cctv rumah mereka yang terhubung ke layar tv.
" Kalian ini senang sekali mengerjainya " Omel Ruby, namun dia juga tidak bisa berhenti tertawa.
" Kami bukan mengerjainya, ini salah satu bentuk kasih sayang kami " Sanggah Ken yang di amini oleh Rai.
" Dia itu melewati masa kecil yang berat, membuatnya harus 2 kali lebih dewasa daripada usianya. Kau pikir waktu kecil dia pernah bermain skuter seperti itu ? Tidak. Dia hanya mengurung dirinya di dalam rumah, karena setiap kali dia keluar untuk pergi bermain maka semua teman-temannya akan menjauhinya " Jelas Rai santai.
" Dari mana tuan tau itu ? " Tanya Kiran penasaran.
" Sewaktu ayah memberitahu kami untuk alasannya mengangkat Dylan menjadi anak, kami berdua sempat tidak nyaman. Kehidupan kami sudah lebih dari sempurna walau hanya 2 bersaudara, tapi kemudian ayah memberitahu kami masa lalu Dylan dan itu membuat kami merasakan sesuatu, dia terlalu banyak menderita dimasa kecil, tidak jauh berbeda dengan kami. Itulah yang membuat kami yakin bahwa dia juga saudara kami " Dengan pandangan mata menerawan mengenang masa lalu Rai menjelaskan semuanya. Keadaan mendadak berubah sendu, melihat betapa Rai dan Ken yang sangat bersimpati pada Dylan dan mengabaikan asal usulnya, tanpa pernah mempermasalahkan bibit, bebet, bobot keluarga Dylan, mereka berdua sangat menyayanginya.
Mau tidak mau Ruby dan Kiran sangat terharu, tersentuh oleh satu lagi kebaikan murni yang tersimpan di balik sisi gelap kedua orang yang jadi suami mereka saat ini.
" Aku bangga padamu sayang " Ucap Ruby lirih lalu memeluk Rai dan membenamkan wajahnya di dada Rai, menghirup napas dalam-dalam merasakan limpahan rasa kasih sayang dari suaminya itu.
Sementara Kiran menatap Ken dengan tatapan mata berbinar bahagia bercampur dengan genangan air mata di pelupuk matanya.
" Aku tau kau laki-laki yang hebat " Ucapnya tersenyum lebar, lalu menghambur ke dalam pelukan Ken.
" Iya kuch kuch hota hai " Saut Ken santai.
" Hm ? " Kiran dan Ruby yang mendengar itu mengernyitkan kening mereka, melepaskan diri dari pelukan lalu kompak menoleh ke arah Ken.
" Iya benar kan ? Kuch kuch hota hai. Saat kami pertama kali mendengar kisah Dylan aku merasa seperti " Aah... kuch kuch hota hai "" Jelasnya santai.
Kiran dan Ruby semakin menautkan alis mereka, tidak paham dengan apa maksud Ken.
" Ish kalian ini, artinya terjadi sesuatu " Tunjuknya ke arah dadanya.
" Begitu kan kak ? " Tanyanya meminta dukungan.
" Kau saja mungkin yang merasa seperti itu, aku tidak " Jawab Rai santai, mencebikkan bibirnya menyanggah kata-kata Ken.
" Hei kau bilang kau merasakan sesuatu saat mendengar kisah Dylan " Saut Ken sengit.
" Iya tapi tidak sampai kuch kuch hota hai " Tolak Rai menggoyang-goyangkan telapak tangannya.
" Maksud mu ? " Sekarang berganti Ken yang bingung.
__ADS_1
" Aku merasa kasihan pada Dylan, tapi aku tidak sampai merasakan romansa seperti film dari negeri india itu " Jelasnya malas.
Ken menepuk jidatnya melihat sikap kakaknya.
" Rhoma " Panggilnya malas.
" Aku ini mengartikan arti kata " terjadi sesuatu " ke dalam bahasa hindi " kuch kuch hota hai " bukan berarti aku merasakan romansa rahul anjeli dan tina kepada Dylan " Jelas Ken dengan geraman tertahan.
" Oh " Jawab Rai dengan wajah polosnya.
" Bukannya ketumbar kemiri jahe ? " Saut Kiran cepat. Semua orang lagi-lagi dengan cepat menolehkan wajahnya ke arah Kiran.
" Apa lagi itu ? " Tanya Rai dan Ruby berbarengan, namun belum sempat Kiran menjelaskannya Ken sudah membekap mulut Kiran. Sudah cukup dia terbebas dari ejekan sang kakak dan berganti arah kepada Dylan, dia tidak mau situasi kembali berbalik padanya. Jika sampai Rai tau, maka dia dan Dylan akan bergantian menggodanya habis-habisan.
Di tempat lain, Dylan yang sudah puas berkeliling-keliling seluruh isi mansion itupun menuju ke kamarnya.
" Benar kata kak Rai, memang jadi lebih cepat mengitari seluru isi mansion dengan skuter ini, apa aku minta belikan ayah ya ? " Gumamnya saat sampai di depan pintu kamarnya, dia membukanya lalu membawa masuk skuter pinjaman itu, dan memarkirkannya di samping pintu.
Dia menuju ruang ganti, menaruh tas sekolahnya lalu berganti pakaian santai, kemudian menuju kamar mandi untuk mencuci muka, menyegarkan wajahnya lalu setelahnya berjalan menuju ranjangnya yang empuk. Menghempaskan diri dengan keras dan memperbaiki posisinya agar terasa nyaman.
" Haaah... " Menghela napas lega, beban berat di hatinya telah hilang, dia merasa sangat tenang dan damai.
" Yang penting dia baik-baik saja, aku akan meminta maaf besok-besok saat dia masuk " Gumamnya lirih lalu memejamkan matanya.
Dylan berpindah posisi, miring ke samping membelakangi ponselnya, mencoba tidur siang menjelang sore, menggantikan tidurnya semalam yang tidak nyenyak sama sekali.
Bip, bip, bip !! Suara ponsel Dylan semakin nyaring berbunyi. Biasanya pesan beruntun yang dia terima adalah pemberitahuan di grup kelasnya, tapi tidak mungkin, dia telah membisukan notifikasinya dan lagi seluruh teman-temannya mempunyai grup kelas lain tanpa Dylan di dalamnya. Dari mana Dylan tau ? Begitulah rahasia umum, berputar kesana kemari hingga akhirnya sudah bukan menjadi rahasia lagi. Grup kelas yang saat ini di ikuti Dylan hanya sebuah bentuk formalitas absensi kelas, wajib di ikuti seluruh penghuni kelas.
Dylan mengambil guling dan menutupkannya di telinganya.
Berisik.
Ketusnya kesal.
Namun rupanya sang pengirim pesan seperti tidak akan lega jika belum membuat Dylan marah, kali ini suara dering telepon yang menggaung di kamarnya yang sepi, menuntut minta di angkat.
Dengan malas Dylan meraba-raba kasur di belakang punggungnya dan akhirnya menemukan benda kotak pipih tersebut.
Dera. Begitu yang tertulis di layar. Dylan tidak ingin mengangkatnya, dia terlalu malas mendengarkan suara wanita yang terus saja merengek padanya itu.
Setelah berdering cukup lama, akhirnya Dera menyerah juga. Dia berhenti menelepon. Dylan mengamati layar ponselnya.
Satu panggilan tak terjawab dan 4 pesan dari Dera.
__ADS_1
Dylan lalu menggeser kesamping pemberitahuan panggilan tak terjawabnya untuk menghilangkannya dan menarik ke bawah pemberitahuan pesan untuknya, membaca semua pesan masuk Dera.
Dylan...
Kau sudah sampai ?
Besok istirahat kita belajar bersama ya ?
Aku tunggu di perpustakaan, ada materi tambahan dari pak Tomy pembimbing kita.
Dylan membalasnya langsung melalui jalan pintas tanpa membuka aplikasi pesannya.
Y
Ketiknya cepat lalu dengan cepat pula mengirimkan balasannya. Berhubung dia sudah memegang smartphone nya, tentu ada saja godaan untuk melupakan tujuan utamanya, tidur siang menjelang sore.
Iseng-iseng dia membuka playstore untuk mengunduh beberapa aplikasi media sosial, membaca setiap keterangan tentang media sosial yang terpampang disana, mempelajarinya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengunduhnya lalu membuat akun baru, benar-benar baru pertama kali di hidupnya.
Media sosial pertama yang di buatnya adalah instagram, karena menurut review yang di bacanya di dalam mesin pencarian, instagram adalah yang sedang hits saat ini.
Setelah menyelesaikan beberapa pengaturan maka media sosialnya pun siap untuk di gunakan berinteraksi dengan dunia luar.
Ada begitu banyak rekomendasi teman-teman yang disarankan disana, namun perhatian Dylan hanya fokus mencari tentang Blair.
Dirinya penarasaran tentang apa saja yang di upload oleh artis oneng satu itu, kenapa setiap kali anak-anak disekolahnya selalu bergosip tentang instastrorynya padahal mereka bisa menanyakan langsung pada yang bersangkutan.
Dasya.
Ketiknya di kolom pencarian. Dan hasilnya, ratusan akun dengan nama Dasya muncul, Dylan menjelajahinya satu persatu mencari foto Dasya disana, dan nihil.
Disaat keputus asaan melandanya dan membuatnya hampir menyerah, mendadak muncul pemberitahuan rekomendasi teman berdasarkan nomor kontak di ponsel.
" Oh jadi aku harus menyimpan nomornya dulu " Gumamnya manggut-manggut.
Dengan cepat dia segera keluar dari aplikasi instagramnya dan masuk ke aplikasi whatsupnya untuk menyimpan nomor ponsel Blair.
" Hm ? " Alisnya bertaut tatkala mendapati dirinya mengirimkan pesan pada Blair beberapa jam yang lalu.
" Ke-kenapa pesannya aneh ? " Ucapnya gemetaran membaca penggalan pesan yang terpampang di layarnya. Dengan tangan gemetaran dia membuka ruang percakapannya dengan Blair.
Jreng, jreng, jreng !!!! Mata Dylan mendelik dengan mulut ternganga saat selesai membaca seluruh rangkaian pesannya, pesan jahanam yang seharusnya dia kirimkan di ruang grup chat keluarga malah terkirim untuk Blair, pesan terkutuk yang akan membuat harga dirinya hancur di hadapan Blair.
" TIDAK !!!!! " Teriaknya nyaring keras membahana di dalam kamarnya yang sunyi sepi sendiri.
__ADS_1