Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Lovey Dovey Sederhana


__ADS_3

Senin. Monday. Monster day.


Sekiranya begitulah sebagian orang menggambarkan hari di awal pekan itu. Bagi pelajar, mereka akan mengadakan upacara dan itu bisa sangat membosankan. Ceramah pemimpin upacara yang di ulang itu-itu saja bahkan hampir seperti pelajaran tambahan di hari senin.


".... Jadi sebagai murid-murid dari sekolah yang.... " Suara lantang nan tegas itu terdengar dari pengeras suara di setiap sudut lapangan.


Memang para murid di sekolah menengah atas Loyard lebih beruntung karena mereka memiliki lapangan upacara indoor. Berjaga-jaga jika cuaca di pagi hari terlalu panas atau hujan, jadi mereka tetap bisa melaksanakan upacara. Keuntungan yang juga sekaligus kesialan, karena apapun cuacanya, bagaimanapun kondisinya upacara tidak akan pernah batal.


Namun bagi sebagian murid perempuan itu adalah anugerah di salah satu sisi. Make up mereka tidak akan luntur akibat keringat dan mereka tidak perlu membubuhkan begitu banyak sunblock demi menghindari paparan sinar uv.


Tapi di sisi lain, mereka tetap saja harus berdiri mendengarkan ceramah yang panjang dan tak berkesudahan.


".... Yang terakhir.... " Ucap pemimpin upacara yang di sambut helaan napas lega dari seluruh siswa yang ikut upacara, karena sudah hampir 30 menit mereka berdiri.


" Akhirnya... " Keluh Blair yang sudah merasakan kesemutan di kakinya karena terlalu lama berdiri. Sikapnya sudah tidak tegak lagi, dia bolak balik bertumpu pada salah satu kakinya secara bergantian.


Dylan yang entah bagaimana bisa berbaris di sampingnya itu hanya mampu tersenyum mendengar keluhan Blair.


" Kau lelah ? " Bisiknya sembari sedikit mencondongkan dirinya ke samping.


" Ah... " Blair berjengit sedikit saat mendengar pertanyaan Dylan. Tadinya dia hanya mengeluh untuk dirinya sendiri, tak di sangka Dylan ternyata mendengarnya.


" Y-ya sedikit " Jawabnya berbisik sungkan. Sejak mereka "memutuskan bersama" kini Blair semakin menjaga imagenya. Dia hanya ingin Dylan melihatnya dalam keadaan yang keren dan cantik saja. Dan mengeluh tentu saja bukan gaya yang keren kan?


" Kau mau ku gendong nanti saat kembali ke kelas ? " Bisik Dylan menggoda dengan manisnya.


Mendengar bisikan Dylan yang serasa angin sejuk itu tentu saja membuat wajah Blair sangat memerah. Kupu-kupu di perut dan dadanya menari lincah membuatnya kesulitan mengendalikan helaan napasnya.


Jika saja saat ini mereka hanya berdua, mungkin Blair sudah jatuh bersimpuh di lantai, meleleh oleh ucapan Dylan.


" Ti-tidak perlu " jawab Blair tergagap. Dia yakin Dylan hanya asal bicara, tidak mungkin bukan Dylan akan benar-benar menggendongnya?


" Bilang saja kalau kau berubah pikiran " Lanjut Dylan menggoda, dia memang benar-benar hanya menggoda tapi jika memang harus bertanggung jawab nantinya, dengan senang hati serta tangan terbuka dia akan menjalaninya.


" Memangnya kau tidak malu kalau harus menggendong ku ? " Balas Blair mengikuti arah permainan Dylan.


" Kenapa harus malu ? " Jawab Dylan mantap.


Sudah hentikan, obrolan iseng ini benar-benar membuat Blair mabuk kepayang. Begini ya rasanya jatuh cinta, obrolan yang tak jelas pun terasa seperti dialog antara romeo dan juliet.


" Ya ka-karena menggendong ku " Jawab Blair tergagap, mereka berdua saling berbisik dan itu terasa semakin melengkapi rasa romantisnya berkencan diam-diam.


" Kan kau sedang pingsan, menolong orang yang sedang pingsan itu perbuatan terpuji, kenapa harus malu " Jawab Dylan santai.


Pingsan ? Siapa yang pingsan ? Blair kebingungan sendiri dengan ucapan Dylan.


Ok... kekasihnya itu memang peringkat pertama di sekolah ini, tapi itu tak lantas menjadikan obrolan mereka tidak nyambung bukan ?


Blair memutar otaknya dengan keras, memeriksa ulang percakapan mereka beberapa menit kebelakang untuk menemukan siapa yang pingsan.


Nihil, tidak ada orang ke tiga dalam percakapan mereka, lalu siapa yang pingsan yang akan di gendong Dylan ?


Si oneng masih berpikir keras.


" Dasya ayo cepat " Suara Dylan membuyarkan lamunannya. Dia kebingungan, ayo cepat apa ?


Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, upacara belum selesai dan suara pemimpin upacara masih menyampaikan pesan-pesan yang katanya terakhir tapi masih belum berakhir itu.


" A-apanya ? " Tanya Blair kebingungan.


" Pingsannya " Jawab Dylan buru-buru.


" Si-siapa yang pingsan ? " Blair juga ikut terburu-buru. Otaknya yang cuma segaris itu tidak bisa di pakai terburu-buru.


" Tentu saja kau " Jawab Dylan mulai kesal.


" A-aku tidak pingsan, aku baik-baik saja kok " Jawab Blair masih gelagapan bingung.


" Ck... sudah pingsan saja " Decak Dylan semakin kesal tak sabaran.

__ADS_1


" Hei bagaimana aku bisa pingsan kalau aku baik-baik saja ? " Jawab Blair juga ikut tak sabaran. Dirinya model bukan aktris, dia sadar diri jika harus pura-pura pingsan mungkin actingnya akan sangat terlihat amatiran.


" Baiklah akan ku bantu " Jawab Dylan jengah.


" Caranya ? " Blair mengerutkan keningnya. Memangnya orang bisa di buat pingsan dengan mudahnya ? Batinnya bingung.


Sesaat kemudian otak onengnya berpikir, mungkinkah Dylan akan memukulnya untuk membuatnya pingsan? Tidak. Dia tidak mungkin se-bar-bar itu, apalagi kepada dirinya. Seseorang yang katanya dia sukai.


Tapi alam bawah sadar Blair sudah memasang kuda-kuda, menyiapkan kemungkinan terburuk kalau harus di paksa pingsan oleh Dylan yang seorang Loyard.


Dylan semakin mendekatkan dirinya ke arah Blair yang juga semakin siaga. Matanya mengawasi pergerakan tangan Dylan, memantau arah datangnya pukulan. Kanan kiri depan belakang. Apapun itu Blair akan bersiap-siap.


Jantung Blair berdetak tak karuan, ini pertama kalinya dia berkencan. Dan dia nol besar dalam hal ini. Apa memang berkencan harus saling memukul? Atau itu hanya karena orang yang di kencaninya adalah anggota keluarga Loyard? Entahlah, yang pasti dia sudah terlalu dalam terlibat dengan Dylan, jadi dia harus siap sedia dengan segala kemungkinan terburuknya.


" Dasya... " Desah Dylan di telinga Blair yang langsung mengaktifkan seluruh syaraf dan membuat bulu di tubuhnya meremang.


" Ke-kenapa ? " Bisik Blair tergagap.


" Love you " Bisik Dylan dengan desahan yang lembut.


Ok siap !!!! Tanpa harus berpura-pura pun Blair bisa langsung pingsan mendengar kata-kata Dylan.


Kaki-kaki Blair mendadak berubah menjadi jelly, dia oleng dan menabrak tubuh Dylan. Pingsan yang sungguhan tanpa rekayasa.


Dengan sigap Dylan yang sudah memprediksi hal itu pun menangkap tubub Blair dan meraupnya dalam sekali gendongan.


" Permisi ada yang pingsan " Teriaknya sedikit keras, membuat semua murid mengalihkan pandangannya pada Dylan yang sedang menggendong Blair.


Petugas medis sekolah Loyard pun langsung siaga dan berlari menghampiri Dylan.


" Butuh tandu ? " Tanya petugas itu panik.


" Tidak perlu, saya akan membawanya langsung ke uks " Jawab Dylan santai dan bergegas pergi meninggalkan barisan kelasnya.


Kepanikan segera membahana di lapangan indoor tersebut, terlebih yang pingsan adalah seorang Blair. Dewi baru mereka.


Desas desus pun langsung terdengar seperti dengungan tawon. Sebagian langsung menyalahkan pemimpin upacara yang terlalu lama berceramah, dan sebagian lagi terlalu sibuk mengkhawatirkan kondisi Blair.


Menurut apa kata Dylan, Blair tetap mempertahankan posisinya.


Bukannya pandai berakting, tapi kali ini sungguhan. Tubuh Blair lemas, bukan karena terlalu lama berdiri tapi karena terlalu terbuai dengan kata-kata Dylan tadi, dan juga gendongan ini membuat Blair semakin merasa seperti jelly.


Kenapa berkencan harus semenggelikan ini, kupu-kupu ku mohon berhenti terbang di dalam perutku. Teriak batin Blair.


Tak butuh waktu lama Dylan sudah sampai di ruang uks. Suasana sepi karena setiap petugas medis juga di wajibkan mengikuti upacara. Dylan membaringkan Blair di atas tempat tidur di ujung ruangan.


" Pingsan karena apa ? " Dokter jaga yang menyusul Dylan itu sudah berdiri di samping tempat tidur Blair.


" Mungkin kelelahan " Jawab Dylan asal saja.


" Oh begitu, kalau begitu saya akan ambilkan kompres es dulu, bisa tolong jaga dia sebentar ? " Dokter jaga itu hanya asal bicara, karena nyatanya saat dia menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya sudah berada di sisi ruangan yang lain.


Dylan melirik ke arah Blair yang masih terpejam. Pura-pura atau sungguhan ?


" Kau sudah boleh bangun " Ucap Dylan terkekeh melihat gadisnya yang oneng yang mau-mau saja dia suruh pura-pura pingsan.


Blair membuka sebelah matanya, mengamati sekitar. Setelah di rasa aman dia membuka kedua matanya.


" Hei kau !!!! " Pekiknya dengan suara tertahan.


" Kan sudah ku bilang menolong orang pingsan itu perbuatan baik " Jawab Dylan masih terkekeh, dia lalu menghempaskan tubuhnya duduk di kursi tunggu yang ada di sebelah tempat tidur.


" Ya tapi mana boleh kau begitu " Jawab Blair masih tidak percaya dengan perbuatan Dylan. Apa memang begini bercandanya anak pintar? Kenapa ekstreem sekali.


" Yang penting kaki mu sudah tak lelah lagi " Jawab Dylan sembari mengedikkan bahunya santai.


Blair hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ini memang Dylan yang dia kenal atau Dylan yang baru dia kenal ? Kenapa sangat berbeda.


" Ini kompresnya " Dokter jaga yang masuk tanpa permisi itu membuat Blair berjengit kaget dan kikuk sendiri.

__ADS_1


" Oh sudah sadar ? " Tanyanya saat melihat Blair yang sudah membuka matanya.


" I-iya miss " Jawab Blair ketakutan.


" Syukurlah, meski begitu tetap kompres kaki mu dengan es ini, bisa meredakan sedikit pegalnya " Ucap dokter jaga itu sembari mengulurkan kantong kompres kepada Blair.


" Terima kasih " Jawab Blair sembari tersenyum kecut. Baru kali ini dia berbohong, dan rasanya tak nyaman.


" Ok kalau begitu saya tinggal ke depan, kalau butuh sesuatu bilang saja " Ucap Dokter itu ramah dan kemudian pergi meninggalkan Blair dan Dylan berduaan.


Dylan kembali terkekeh melihat gadis onengnya yang kebingungan.


" Kenapa ? " Tanyanya dengan masih terkekeh.


" Aku merasa jahat karena telah berbohong pada miss Dokter " Jawab Blair sungkan.


" Oh jadi pingsan mu tadi hanya pura-pura ? " Dylan bertanya jahil, padahal ini semua kan ulahnya.


" A-apa ?! " Blair membelalakkan matanya tak percaya. Benarkah ini Dylan? Kenapa jahil sekali.


" Kau nakal ya, tidak baik berbohong seperti itu, lain kali jangan ulangi lagi ya " Jawab Dylan menggoda Blair. Dia lalu berdiri dan mengambil kompres es dari tangan Blair dan meletakkannya di kaki Blair.


" Kan kau yang menyuruhku " Sanggah Blair dengan cepat. Tak percaya Dylan melimpahkan kesalahan hanya padanya.


" Kenapa mau ? " Balas Dylan asal sembari memutar-mutar kompres es.


" Kau... " Blair kehabisan kata-kata, dia tidak mungkin menang berdebat dengan Dylan. Otaknya dan otak Dylan tidak berada di satu frekuensi yang sama.


Dylan kembali terkekeh saat melihat Blair memberengut kesal. Menggoda Blair selalu semenyenangkan ini.


" Meskipun aku bercanda saat menyuruhmu pingsan, tapi aku serius dengan kata-kata ku tadi " Ucap Dylan tiba-tiba, kembali ke wajahnya yang seperti biasa. Datar tak berekspresi.


" Yang mana ? " Tanya Blair, bukan bermaksud oneng. Hanya saja dia ingin mendengar kata-kata itu sekali lagi.


" Yang tadi " Jawab Dylan santai.


" Tadi yang mana ? " Kejar Blair tak mau kalah.


" Kalau tidak dengar ya sudah, aku bukan tv yang bisa siaran ulang " Jawab Dylan santai.


" Cih " Cebik Blair kesal. Padahal dia ingin mendengarnya sekali lagi.


" Kenapa ? " Tanya Dylan pura-pura polos.


" Aku kan ingin mendengarnya sekali lagi " Ketus Blair sembari mendekap kedua tangannya di dada.


" Dengar apa ? " Tanya Dylan masih berpura-pura polos.


" Kata-kata yang tadi " Jawab Blair semakin kesal. Mereka kan sedang tidak bermain tebak-tebakan, kenapa harus berputar-putar sih.


" Kata-kata yang apa ? " Kejar Dylan menggoda.


" Ish kau ini, kata-kata yang tadi itu, yang kau ucapkan untuk membantuku pingsan " Jelas Blair tak sabaran.


" Kata-kata yang mana ? Kau kan hanya pura-pura pingsan " Goda Dylan.


" Aarggh !!! " Geram Blair tak sabaran.


" Yang love you tadi " Jelasnya dengan ketus.


" Love you too " Dylan malah membalas kata-kata Blair seolah Blair lah yang lebih dulu mengungkapkan perasaannya.


Psstt !!! Wajah Blair langsung memerah mendengar ucapan Dylan. Kupu-kupunya sekarang beranak pinak, membuat perut dan rongga dadanya seperti sebuah peternakan kupu-kupu. Geli menggelitik.


Kalau begini dunia benar-benar hanya milik mereka berdua, yang lain hanya mengontrak.


Hingga tanpa mereka sadari, seorang pengontrak itu mendengarkan percakapan lovey dovey mereka dari balik gorden yang tertutup.


Dasar perempuan murahan !!! Makinya dalam hati.

__ADS_1


Tekadnya semakin bulat untuk membuat Dylan menjadi miliknya, entah Dylan setuju atau tidak, yang pasti dia akan mendeklarasikan hubungan mereka berdua lusa. Di depan seluruh orang.


Dera pergi dengan tangan yang terkepal menahan panasnya api cemburu.


__ADS_2