
Suara cuitan burung-burung di halaman mansion keluarga Loyard terdengar nyaring. Saling bersahut-sahutan seolah berlomba ingin menjadi yang pertama menyambut mentari pagi.
Dylan membuka matanya perlahan, mengerjapkannya beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya. Dia melirik jam dinding yang ada di hadapannya.
Aku terlambat !!
Matanya membelalak sempurna saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.30, untuk pertama kalinya dia terlambat dan itu karena memikirkan Blair, si gadis oneng yang mendadak hadir di hidupnya, membuat dunianya seakan jungkir balik.
Hanya membutuhkan waktu 10 menit baginya untuk bersiap-siap, mandi dengan cepat, lalu mengambil seragamnya dan memakainya asal, yang penting segera turun dan berpakaian, begitu pikirnya.
“ Maaf aku terlambat “ Ucapnya sungkan saat melihat semua anggota keluarganya sudah berkumpul di meja makan dan memulai sarapan mereka.
“ Wuah Dylan kau terlihat sangat berbeda pagi ini “ Pekik Ruby tatkala melihat Dylan yang tak serapi biasanya.
“ Hei !! “ Teriak Rai menyahut bahkan sebelum Ruby sempat mengedipkan matanya dari mengagumi Dylan.
“ Kenapa ? Memang dia berbeda pagi ini “ Ruby menatap malas ke arah Rai yang sudah membulatkan matanya mendelik kesal pada Ruby.
“ Kan sudah ku bilang berkali-kali hanya aku yang boleh menerima pujian dari bibirmu ini, lama-lama akan ku jahit bibir mu jika kau bicara sembarangan pada orang lain lagi “ Sungutnya kesal seraya menyodorkan segelas besar air putih pada Ruby.
“ Apa ? Untuk apa ? “ Ruby menatap gelas itu dengan heran.
“ Aku tidak haus, terima kasih “ Lanjutnya malas lalu kembali menatap Dylan yang sedang sibuk merapikan dirinya.
“ Hahaha... “ Tawa dengan nada kesal meluncur mulus dari mulut Rai setelah melihat Ruby yang tidak peka dengan kodenya.
“ Sayang... “ Panggilnya dengan suara rendah yang menyeramkan.
“ Aku tidak menyodorkan ini untuk kau minum, tapi untuk berkumur. Bukankah kau harus menyucikan mulut mu yang kotor setelah memuji laki-laki lain ? Tanyanya tajam.
Ruby yang sedang memakan sarapannya itu pun terbatuk-batuk mendengar perintah Rai, mereka sudah bersama cukup lama, bahkan sudah memiliki anak, tapi rasa posesif Rai tidak mengendor sedikitpun. Yang terlihat malah semakin menjadi-jadi.
“ Nah kan “ Ucap Rai menatap Ruby dengan kesal.
“ Mulutmu itu harus di sucikan, atau kau ingin aku yang membantu menyucikan mulutmu “ Lanjutnya dengan seringai miring yang membuat bulu kuduk merinding.
“ Aku minum saja ya “ Dengan senyum kecut Ruby mengambil gelas yang di sodorkan Rai lalu meminumnya sampai habis.
“ Memangnya kau sedang merubah image mu ya ? “ Kiran ikut menimpali saat melihat Dylan yang berubah 180 derajat.
“ Image apa ? “ Tanya Dylan tidak paham.
“ Ya barangkali kau ingin terlihat lebih badboy, kan biasanya kau sangat rapi. Rabut di sisir ke atas, pakaian rapi lalu wangi, tapi sekarang rambutmu acak-acakan dan tidak sewangi biasanya “ Jelas Kiran.
“ Tidak, aku semalam tidur terlalu larut, jadi bangun kesiangan dan tidak sempat bersiap-siap dengan layak “ Jelas Dylan sembari melihat jam tangannya, kurang 15 menit lagi menuju jam 7, dan dia belum berangkat dari rumah, dia bisa terlambat.
“ Aku berangkat saja sekarang “ Dylan bangkit sebelum memakan sarapannya.
“ Makan dulu, kau bisa sakit “ Regis menginterupsi.
“ Tapi nanti aku bisa terlambat “ Tolak Dylan sopan.
“ Kakak mu saja belum berangkat, jadi kau takut apa “ Jawab Regis masih tetap ngotot memaksa Dylan untuk sarapan.
“ Biar aku antar saja tuan “ Sekertaris Yuri menawarkan diri.
__ADS_1
“ Saya juga ingin mampir ke apartemen mengambil beberapa berkas tambahan untuk rapat hari ini “ Jelasnya.
" Ya sudah kalau begitu " Jawab Regis mengalah kemudian.
" Bawa sandwich itu untuk sarapan di mobil " Perintahnya kemudian.
Dylan dan Sekertaris Yuri berdiri berbarengan, menundukkan kepala kemudian pamit pergi.
Sebuah kesempatan yang datang tiba-tiba menurut Dylan, semalam dia tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan omongan Dera tentang Blair yang di jodohkan dengan Andromeda.
Dan satu-satunya yang bisa di mintainya informasi dengan aman adalah Sekertaris Yuri. Meminta informasi kepada kakak-kakaknya sama saja seperti bunuh diri, mereka akan menggodanya sedemikian rupa hingga sebelum memberikan apa yang dia butuhkan. Jika dia beruntung kakak-kakak durjananya hanya akan menggodanya, tapi jika kesialan sedang berpihak padanya, bukan tidak mungkin Rai akan kembali membuat jebakan batman yang lebih parah dari kemarin.
Mengingat jebakan batman dari Rai membuatnya kembali teringat akan sosok Blair yang oneng.
Oneng yang menggemaskan, versi Dylan.
Tin, tin !! Suara klakson mobil mengagetkan Dylan yang sedang melamun di depan pintu utama. Dia terhenyak dan buru-buru berjalan cepat menuju mobil Sekertaris Yuri yang sudah menunggu di depannya entah sejak berapa lama.
" Maaf paman " Serunya sungkan saat masuk ke dalam mobil.
" Kau melamun apa sampai tidak mendengarkan panggilan ku, bahkan suara klakson yang keras saja tidak juga membuatmu sadar " Tanya Sekertaris Yuri seraya menginjak pedal gasnya perlahan dan memutar setang kemudinya lalu melaju keluar dari halaman mansion.
Jalanan cukup ramai di jam-jam kerja seperti ini, semua orang mengendarai kendaraan mereka dengan cukup kencang, berpacu dengan waktu agar cepat sampai ke tujuan. Begitu juga Sekertaris Yuri, dengan sikap tenang dia mengemudikan kendaraannya sedikit melebihi batas kecepatan normal.
Dylan gelisah di tempat duduknya, sesekali menatap keluar jendela, sesekali melihat jam tangannya. Sudah lebih dari 5 menit mereka berkendara, tapi hanya suara musik yang terdengar.
" Kita tidak akan terlambat, kau tenang saja " Ucap Sekertaris Yuri melirik Dylan, mencoba menenangkan kegelisahannya.
Namun bukan itu yang membuat Dylan gelisah, dia hanya memiliki waktu sedikit saja untuk berduaan dengan Sekertaris Yuri. Dan jika kesempatan ini terlewat maka dia tidak akan tau kapan lagi kesempatan itu datang.
" Tidak, aku bukannya buru-buru ke sekolah " Saut Dylan cepat, menyandarkan punggungnya pada jok mobil, berusaha terlihat santai.
" Oh ya ? " Seperti maklum ada sesuatu yang ingin di bicarakan Dylan Sekertaris Yuri kemudian memperlambat laju mobilnya.
Pemandangan di luar jendela yang semula hanya bayangan-bayangan sekilas kini mulai terlihat lebih jelas bentuknya.
" Kau ingin tanya apa ? " Tanya Sekertaris Yuri tanpa basa-basi.
Dylan terbelalak kaget mendengar Sekertaris Yuri yang seperti memiliki kemampuan membaca pikirannya.
" Ti-tidak " Kilah Dylan.
" Aku hanya belum makan sarapanku " Berbohong, dia mengangkat sandwich yang terbungkus plastik khusus makanan yang ada di pegangan tangannya.
" Kalau begitu cepat makan " Sekertaris Yuri tersenyum saat mendengar Dylan berbohong.
Dia masih yakin jika Dylan ingin mengatakan sesuatu padanya.
" Ngomong-ngomong kemarin Tuan Rai mengerjaimu bagaimana ? " Tanya Sekertaris Yuri membuka jalan penyelidikannya.
" Dia memberiku uang saku sebanyak 10 juta tapi hanya pecahan uang seribuan " Jelasnya menggebu-gebu saat mengingat kembali kejahilan Rai.
" Oh ya ? " Sekertaris Yuri merasa sebentar lagi Dylan pasti akan masuk ke pokok permasalahan.
" Bayangkan saja paman, 10 juta dengan uang seribuan. Tas ku sampai berat sekali membawanya " Dylan menegakkan punggungnya dan menatap Sekertaris Yuri, larut dalam curhatannya.
__ADS_1
" Itu belum seberapa " Dia menghempaskan lagi punggungnya ke sandaran jok mobil, menghela napas sebentar untuk mengambil jeda sebelum menceritakan bom yang sebenarnya.
" Aku yang tidak tau apa-apa dengan percaya dirinya mentraktir Dasya makan di restoran cepat saji dan total belanjanya 1.100.000, bayangkan saja betapa malunya aku. Di depan 2 wanita sekaligus " Erang Dylan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
" 2 wanita ? " Sekertaris Yuri mengernyitkan keningnya. Mungkinkah Dera dan Blair jalan-jalan dengannya sekaligus ? Hebat sekali. Mengingat dirinya yang melupakan satu wanita saja masih belum bisa, jika di katakan dalam bahasa gaulnya, dia belum bisa move on.
" Iya 2 wanita, satu Dasya dan satunya lagi pramusaji yang menerima pembayaranku " Serunya dengan napas yang kembang kempis saking bersemangatnya bercerita.
" Hahaha... " Tawa Sekertaris Yuri langsung pecah begitu Dylan menyelesaikan ceritanya. Dia sendiri tidak bisa membayangkan jika dirinya berada di posisi itu. Tapi baginya itu masih belum terlalu memalukan di banding dia yang menyusui Raline di rumah sakit untuk pertama kalinya.
" Nah kan ! " Seru Dylan.
" Paman saja tertawa mendengar ceritaku, apalagi pramusaji itu yang secara langsung mengalaminya. Aku bahkan masih bisa melihatnya tersenyum lucu saat menatap meja tempat kami makan " Rutuknya kesal.
" Iya maaf maaf " Sekertaris Yuri langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
" Tapi kenapa kau tidak memakai kartu kredit mu ? " Tanya Sekertaris Yuri mengalihkan pembicaraan agar tawanya mereda.
" Aku rasa kakak memblokirnya, kartu itu tiba-tiba tidak bisa di pakai " Jawabnya kesal.
" Pokoknya itu benar-benar pengalaman yang sangat memalukan, untung saja Dasya terlihat tidak terpengaruh " Gerutunya sendiri lalu menyilangkan kedua tangannya di dada.
" Tapi Dylan kenapa kau terus memanggil Blair dengan nama Dasya, bukankah itu lain dari pada yang lain " Tanya Sekertaris Yuri penasaran mendengar Dylan terus saja menyebut nama Dasya.
" Ya karena aku lebih suka mengenalnya sebagai Dasya daripada Blair, aku merasa Blair terlalu berpura-pura dan menjadi orang lain " Jelas Dylan mengangguk-angguk.
" Ah ya paman aku ingin bertanya sesuatu padamu " Dylan menurunkan tangannya dan sedikit memiringkan tubuhnya menghadap Sekertaris Yuri.
" Ya ada apa ? " Tanya Sekertaris Yuri santai.
" Apa benar Dasya dan Andromeda akan melanjutkan perjodohan mereka ? " Tanya Dylan ragu-ragu, dia bahkan membuat suara terdengar sedatar mungkin agar tidak terlalu mencurigakan.
Kening Sekertaris Yuri mengernyit dalam, sepanjang dia mengamati keluarga Dimitri tidak pernah ada laporan masuk kalau Dimitri akan kembali menjodohkan Blair dengan Andromeda. Mungkinkah dia kecolongan ? Jiwa perfeksionisnya sebagai Sekertaris handal dan terpercaya dari orang nomor satu di klan Loyard itu pun terusik, dia tidak akan tinggal diam jika sampai benar dia melewatkan informasi sepenting ini.
" Kau tau dari mana berita itu ? " Tanya Sekertaris Yuri berusaha terlihat tetap tenang, padahal jauh di dalam hatinya dia sangat penasaran tentang siapa yang menjadi sumber berita itu.
" Dera yang memberi tahu ku " Jawab Dylan pelan. Dia tidak begitu saja percaya dengan ucapan Dera, tapi juga bohong jika dia tidak terusik.
" Aku yakin hal itu tidak benar. Aku sangat mengenal Dimitri, otak serakahnya itu hanya ingin menjadikan Blair sebagai nyonya besar di klan Loyard " Jelas Sekertaris Yuri yakin. Meski begitu dia juga akan mencari tahu kebenarannya nanti.
" Benarkah ? " Dylan terlihat sumringah mendengar jawaban dari Sekertaris Yuri. Jika paman Yuri yang bilang begitu artinya benar, tidak mungkin paman Yuri bisa salah informasi.
" Ya kau tenang saja, sepertinya itu tidak akan terjadi " Jawab Sekertaris Yuri memastikan.
Mobil yang di kemudikan Sekertaris Yuri itupun semakin melambat dan kemudian berhenti di pinggir jalan, tepat sebelum halte bus tempat Dylan biasanya turun.
" Terima kasih tumpangannya paman " Pamit Dylan dengan girang dan kemudian membuka pintu mobil lalu turun dengan buru-buru.
Begitu Dylan menjauh Sekertaris Yuri segera mengambil ponselnya dan menghubungi anak buahnya.
" Kenapa aku bisa sampai tidak tau kalau Dimitri akan menjodohkan anaknya dengan anak pengacara Henry ? " Tembaknya langsung tanpa basa-basi.
Seseorang yang menjawab telepon darinya di ujung sana gelagapan sendiri, karena dirinya juga tidak tahu menahu perihal itu.
" Maafkan saya Sekertaris Yuri, saya akan segera mencari tahu " Jawabnya dengan terbungkuk-bungkuk takut seolah-olah Sekertaris Yuri sedang melihatnya.
__ADS_1
" Aku ingin laporannya satu jam ke depan " Perintah Sekertaris Yuri dingin dan kemudian menutup sambungan teleponnya.
" Kalau sampai berita ini benar, apa Dylan akan patah hati ? " Gumam Sekertaris Yuri lalu melajukan mobilnya pergi.