Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Semua Tentang Pesan


__ADS_3

Dera berusaha dengan keras untuk mendekati Dylan, dia tidak ingin Blair atau yang lainnya dekat dengan Dylan. Meskipun dia sendiri tidak yakin jika seorang artis seperti Blair akan tertarik pada Dylan, namun dia tidak boleh melonggarkan kewaspadaannya.


Setelah kembali ke kelas masing-masing, Dera sengaja mengiriminya pesan singkat.


Aku tadi lupa bertanya padamu, apa kau mau makan siang bersama nanti ?


Dengan gelisah Dera terus memandangi ponselnya yang di letakkan di atas meja, menanti balasan pesan dari Dylan.


" Kau sedang apa ? " Tanya Cissy heran.


" Aku sedang menunggu balasan pesan dari Dylan, aku mengajaknya makan siang bersama " Jelas Dera tanpa melepaskan pandangannya dari layar ponselnya.


Harapannya melambung tinggi mengingat mereka yang sudah mulai akrab saat di perpustakaan tadi. Dia yakin Dylan pasti akan menerima ajakannya.


Namun Dylan yang sedang asik melamun dan kembali memikirkan Blair itu mengabaikan suara " bip " di ponselnya. Hatinya masih di hantui perasaan bersalah karena dia belum tau keadaan Blair yang sebenarnya. Suasana kelas yang biasanya selalu membicarakan Blair pun kali ini sepi. Tidak ada yang menyinggung tentang Blair sedikitpun hari ini.


Berbagai kemungkinan tentang keadaan Blair hilir mudik menghiasi kepalanya. Rumah sakit, opname, bahkan yang terburuk ruang operasi.


Putus asa oleh keadaan, dia menghela napas panjang. Dan sekali lagi bunyi " bip " dari ponselnya mengusiknya.


Dengan malas dia mengambil ponselnya.


Bagaimana hari mu ? Lancar ?


Ranger Hitam, begitulah dia menamai Ken di kontak ponselnya.


Sudah minta maaf ?


Kali ini Ranger Kuning Kiran yang mengirim pesan di ruang obrolan chat grup mereka.


Jangan takut, dia pasti memaafkanmu kalau kau menjelaskan dengan baik.


Giliran Ruby ikut berkomentar.


Kalau dia tidak mau memaafkanmu ancam saja !!


Ide yang terlalu garis keras tentu saja berasal dari pemimpin para rangers.


Belum, dia tidak masuk sekolah.


Dylan membalas asal pesan dari ke empat kakaknya tersebut.


Sungguh ? Kiran.


Kenapa ? Ruby.


Kau yakin ? Ken.


Syukurlah. Rai


Dylan semakin menghela napas jengah tatkala membaca setiap pesan yang muncul di layar ponselnya. The amburadul family nya memang luar biasa dalam hal mempermainkan mentalnya. Dalam hati dia bersyukur masih di beri kewarasan otak untuk menghadapi para member rangers yang merangkap menjadi personil teletubbies itu.


Tentu saja aku yakin rangers hitam, karena aku dan dia kan satu bangku.


Dylan membalas pesan Ken dan tak lupa menambahkan emoticon wajah datar di ujung pesannya.


Kenapa "syukurlah" kak ?


Tanya Dylan heran melihat jawaban Rai yang lain daripada yang lain.


Itu artinya dia pasti sedang di rawat di rumah sakit, jadi syukurlah dia di tangani orang yang tepat yaitu dokter.


Jelas Rai asal.


Dylan memutar bola matanya malas, Rai memang sesuatu, dia selalu saja santai meskipun kata-katanya kadang mengintimidasi keadaan seseorang.


Namun belum sempat Dylan membalas mereka, sebuah pesan kembali masuk kedalam ponselnya.

__ADS_1


Tugas pelajaran bahasa inggris pengganti jam yang kosong hari ini adalah buku paket halaman 159 kumpulan soal no 1-30, di kumpulkan besok. Terima kasih.


Ketua kelas mengirimkan pemberitahuan di grup chat kelas.


Dylan mendongakkan wajahnya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, semua murid tidak membuka ponsel mereka, tampaknya mereka semua seperti sudah mengerti tentang tugas tersebut dan pesan itu hanya sebuah cara untuk memberitahu Dylan yang mungkin hanya tinggal dirinya seorang yang belum mengetahui tugas tersebut karena dia tidak berada di kelas tadi.


Semua teman-temannya memang tidak ada yang mau memberitahukan secara langsung setiap tugas yang di berikan oleh guru kepada Dylan jadilah ketua kelas selalu mengumumkan di depan kelas atau tersurat melalui pesan singkat di chat grup, seperti kali ini.


Setelah selesai membacanya Dylan meletakkan ponselnya secara terbalik di mejanya, lalu kembali memikirkan nasib Blair. Kata-kata Rai terngiang-ngiang di kepalanya, bagaimana jika yang dikatakan Rai benar kalau Blair tidak masuk karena di rawat di rumah sakit. Perasaan bersalah semakin memenuhi rongga dadanya. Dia semakin frustasi.


Dan sebuah nada " bip " kembali berbunyi dari ponselnya, namun kali ini berbeda, semua teman satu kelasnya langsung memeriksa ponsel mereka dan heboh.


Dylan yang heran juga ikut memeriksa ponselnya.


Terima kasih pemberitahuannya.


Dylan membelalak tak percaya membaca sebuah pesan yang masuk di grup chat kelasnya. Blair, dia berkomentar di grup chat kelas.


Sontak saja jantung Dylan langsung berdegub dengan kencang tatkala melihat Blair mengirim pesan, itu artinya dia baik-baik saja. Dylan yang kehilangan fokusnya hampir saja mengirimi Blair pesan balasan di grup chat kelas untuk menanyakan kabarnya. Beruntungnya dia segera tersadar dan menghapusnya. Lalu mencari nomor Blair di daftar anggota grup untuk mengiriminya pesan pribadi. Jantungnya berpacu dengan cepat dan napasnya kembang kempis.


Kau baik-baik saja ?


Ketiknya cepat tanpa pikir panjang. Segera setelah pesannya terkirim, dia mengelus-elus dadanya untuk menenangkan sedikit debaran yang seperti terasa sampai di sekujur tubuhnya.


Siapa ya ?


Tak berselang lama balasan pesan Blair pun masuk. Dylan menepuk keningnya sendiri saat membaca balasan pesan Blair, karena terlalu bersemangat dia sampai lupa mencantumkan namanya di ujung pesannya.


Siapa ?


Blair kembali bertanya dalam pesannya karena tak kunjung mendapat balasan dari Dylan.


Baru saja Dylan akan membalas pesannya, grup chat the amburadul familynya kembali ramai. Para anggota rangers lainnya sudah memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan.


Memangnya Blair di rawat di rumah sakit ?


Benarkah ? Apa sakitnya parah ?


Kiran.


Hayo Dylan, bagaimana kau akan bertanggung jawab sekarang.


Ken.


Membaca deretan pesan yang masuk di grup chat itu, Dylan semakin kesal.


Dia tidak di rawat di rumah sakit sepertinya. Aku baru saja mengiriminya pesan untuk menanyakan keadaannya.


Balas Dylan cepat di grup chat keluarganya.


Syukurlah. Aku sempat syok mendengarnya.


Kiran.


Bicara baik-baik padanya, ok.


Ruby memberikan semangatnya dengan di imbuhi emoticon tersenyum.


Tunjukan bahwa kau ranger pink yang sesungguhnya, tunjukan bahwa hatimu se pink identitas rangermu.


Ken juga ikut memberikan semangat dengan anehnya.


Nunu bersemangatlah !!


Rai pun tidak ingin kalah memberikan dukungannya.


Membaca semua dukungan dari kakak-kakaknya bukan membuat suasana hatinya ikut membaik, malah membuatnya semakin kesal.

__ADS_1


Baru saja dia akan membalas chat dari keluarganya, chat dari Blair kembali masuk ke ponselnya.


Ini siapa sih ?


Desaknya tidak sabaran.


Terbakar perasaan kesal dan juga tingkat konsentrasi yang rendah karena perasaannya yang lega bercampur senang mengetahui Blair baik-baik saja, membuat Dylan mengklik pesan dari Blair dan menuliskan dengan cepat balasan yang ada dikepalanya, lalu mengirimnya secepat kilat. Balasan yang semula ingin dia berikan untuk kakak-kakaknya malah dia ketikkan di pesan balasan untuk Blair.


" Selamat siang anak-anak " Suara guru yang datang membuat Dylan terkejut lalu menekan tombol back dengan cepat dan buru-buru memasukkan ponselnya kedalam saku tanpa mengeceknya kembali.


Yang penting dia baik-baik saja.


Senyum Dylan penuh kelegaan dan dia sudah siap melanjutkan harinya dengan beban batinnya yang sudah terangkat.


Semua murid mengeluarkan buku pelajaran mereka dan memulai kegiatan belajar mengajar, termasuk juga Dylan.


Namun beberapa kilometer jauhnya dari sekolah Loyard, Blair terheran-heran membaca pesan yang masuk di ponselnya. Dia mengedip-ngedipkan matanya berulang kali, di bacanya pesan itu lambat-lambat, mengeja setiap hurufnya.


" Aku yakin mataku belum rabun, tapi pesan apa ini ? " Gumamnya takut-takut. Dibacanya lagi seluruh chatnya dengan Dylan sedari awal, tidak ada yang aneh dan mencurigakan atau bahkan kata-katanya yang tidak pantas, tapi kenapa balasan terakhir itu membuat Blair bingung setengah mati.


Blair mengklik foto profil dari nomor yang mengiriminya pesan, nihil, tidak ada petunjuk. Hanya foto seorang bayi perempuan berpipi montok dan merona seperti bakpao, dan tidak ada keterangan status juga nama penggunanya. Membuatnya bertanya-tanya siapa yang mengiriminya pesan seaneh ini.


" Apa ini fans fanatik ku ya ? " Gumamnya lagi, lalu bergidik ngeri membayangkannya.


" Jaman sekarang banyak orang aneh, apa aku blokir saja nomornya " Baru saja dia menyelesaikan kalimatnya, Nania mengetuk kamarnya membawakan makanan serta obat herbal untuknya.


Blair melempar asal ponselnya dan langsung menarik selimutnya, melanjutkan akting sakitnya.


" Masuk " Ucapnya dengan suara lemah yang di buat-buat.


" Sayang mama bawakan bubur untuk mu " Jawab Nania setelah masuk kedalam kamar, dengan membawa nampan berisi semangkok bubur dan juga segelas minuman berwarna coklat pekat berbau menyengat khas obat-obatan. Meletakkannya di nakas sebelah ranjang.


Aish !! Inilah karma ku harus berpura-pura sakit.


Jerit batinnya memelas membayangkan dia harus meneguk cairan dengan rasa pahit itu.


" Aku akan memakannya nanti saja ya ma, aku masih mengantuk ingin tidur " Elaknya memelas. Nania duduk di tepi ranjangnya dan mengambil mangkok bubur tersebut dari atas nampan.


" Tidak, mama akan menyuapi mu dan memastikan kau memakan habis bubur ini dan juga obat herbal ini " Tolak Nania dan kemudian menyendokkan bubur lalu menyodorkannya ke arah Blair.


Di tempat lain, kegundahgulanaan sedang melanda Dera yang sedari tadi menunggu balasan pesan dari Dylan. Dia bolak balik mengecek ponselnya, memeriksa aplikasi whatsupnya.


" Ku lihat dia baru saja online beberapa menit yang lalu, tapi kenapa dia tidak membaca pesan ku " Gumamnya sedih saat mengecek status di profil whatsup milik Dylan dan melihat pesannya masih bertanda centang dua tanpa warna biru tersebut.


" Dera gurunya sudah datang, simpan ponsel mu " Cissy menyenggol lengan Dera yang terlihat lesu.


Dera mendongak untuk melihat guru yang datang, lalu dengan malas menyisipkan ponselnya ke laci mejanya.


Ku kira kita sudah lebih dekat, tapi kenapa kau masih menjaga jarak dengan ku ?


Hatinya berdenyut nyeri memikirkan sikap Dylan padanya.


Bersambung....


.


.


.


.


.


Epilog...


Sudah ku bilang aku bukan ranger pink juga bukan nunu si penyedot debu, aku pipanya teletubbies.

__ADS_1


Isi pesan Dylan yang tidak sengaja terkirim pada Blair.


__ADS_2