Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Kapak Wiro Sableng


__ADS_3

Semua murid dan para guru berkumpul di lapangan untuk melakukan upacara. Ketua kelas mengatur barisan untuk masing-masing kelas, termasuk juga kelas Dylan.


Mereka semua berjejer rapi, murid perempuan berada di barisan depan, dan murid laki-laki berada di barisan belakang.


Dylan yang sudah hapal rutinitas di hari senin pagi itupun mengambil tempat paling belakang sendiri di dalam barisan. Bukan karena tubuhnya yang lebih tinggi di banding murid-murid yang lain, melainkan karena tidak ada yang mau berbaris dalam satu garis dengan Dylan.


Sepertinya dia memang sakit.


Dylan yang lelah mencari keberadaan Blair pun menyerah dan menunduk menghindari paparan sinar matahari yang lumayan menyilaukan mata.


" Hah hah hah... " Suara helaan napas pendek-pendek dan tersengal-sengal terdengar di sebelah Dylan.


" Hah untung saja... " Ucapnya lagi di sela napasnya yang terputus-putus.


Dylan yang mengenali suara itu pun menoleh dengan cepat untuk memeriksanya.


" Apa ? " Saut Blair sinis begitu pandangan mata mereka bertatapan.


" Cih " Cibir Dylan dan langsung kembali memalingkan wajahnya dengan dingin.


Syukurlah dia terlihat baik-baik saja.


Batin Dylan dan tanpa sadar bibirnya mengulas senyum tipis melihat kehadiran Blair.


Blair yang berlarian sepanjang lorong sekolah tadi menyeka keringatnya yang bercucuran. Dengan tangannya dia sibuk mengipasi wajahnya yang terasa panas dan berkeringat.


Dylan meliriknya sekilas, Blair sibuk menutupi wajahnya dari paparan sinar matahari yang menyilaukan mata yang memang bersinar cerah di pagi ini.


Dylan melangkah maju satu langkah, berusaha memayungi Blair dengan bayangan dirinya. Dan benar saja, Blair yang tadinya memincingkan matanya sipit sekarang bisa membuka matanya dengan normal.


" Ah akhirnya mendung pun melindungi ku " Gumamnya polos dan senang.


Dylan yang mendengarnya hanya tersenyum lucu, bagaimana bisa dia mengira keadaan di sekitarnya yang tiba-tiba berubah rindang di akibatkan mendung.


Dasar oneng.


Batin Dylan tersenyum dan lebih menegakkan lagi punggungnya agar bisa menutupi Blair lebih baik lagi.


Blair yang tau Dylan maju satu langkah dan membuatnya terlindung dari paparan sinar matahari itu pun mencuri-curi pandang pada Dylan.


Jangan bilang dia sengaja maju untuk melindungi ku ?


Batinnya salah tingkah, untuk ketiga kalinya jantung Blair berdegub kencang melihat tingkah Dylan yang terkadang terlihat gentle meskipun tanpa penjelasan.


Kalau memang benar dia sengaja melakukannya dengan senang hati aku akan melakukan apapun yang dia perintahkan.


Cibir Blair dan meliriknya dengan tatapan sinis.


Upacara di mulai dengan serangkaian acara, mulai dari pengibaran bendera dan juga menyanyikan lagu kebangsaan. Setelah itu barulah pemimpin upacara, yaitu kepala sekolah sementara pengganti Ken maju ke depan memberikan sedikit pengarahan dan juga pengumuman peserta yang akan mewakili sekolah ke ajang olimpiade matematika tahunan.


" .... dengan bangga kami akan memanggil ketiga peserta yang akan membawa nama baik sekolah ke kancah nasional. Dylan dari kelas 12-3, Dera dari kelas 12-1 dan Andreas dari kelas 12-5. Kepada kalian semua silahkan maju ke depan " Ucap Sekertaris Yuri di saat pidatonya.


Semua yang hadir di lapangan bertepuk tangan meriah menyambut Dera yang pertama kali maju ke depan. Siswi cantik berkacamata bulat itu memang menjadi primadona di SMA Loyard, selain parasnya yang cantik, dirinya memiliki nilai akademik yang tinggi di sekolah, predikatnya sebagai ketua osis pun seakan menambah lengkap sederet prestasi yang di milikinya.


Peserta kedua pun mulai maju, Andreas, bukan siswa yang terlalu populer di sekolah, tapi siapa yang tak kenal Andreas, dia adalah wakil ketua osis, bersama-sama dengan Dera, dia sering mengikuti berbagai lomba-lomba dan juga olimpiade.


Blair melirik ke arah Dylan yang sepertinya tidak tertarik untuk maju ke depan. Dia melihat Dylan dengan wajah jengah yang tak di sembunyikan sedang berdecak kesal karena harus maju ke hadapan seluruh murid.


Dengan langkah perlahan dia mulai meninggalkan barisan, bergerak maju kedepan ke samping pemimpin upacara.


Tidak ada sambutan, tidak ada tepuk tangan, semua siswa malahan sibuk berbisik-bisik dan terkadang melayangkan pandangan jijik saat Dylan melintas di depan mereka. Blair menoleh kesana kemari mencari seseorang yang akan menyambut Dylan dengan tepuk tangan, namun nihil. Tak satupun dari mereka yang mau bertepuk tangan untuknya.


Prok, prok, prok !! Tanpa sadar Blair menepukkan kedua telapak tangannya di tengah suasana yang hening itu. Jelas saja itu mengundang seluruh perhatian seisi sekolah, mereka dengan serempak menoleh ke arah Blair.


" Semangat Dylan... " Teriak Blair dari tempatnya berdiri.


Semua orang kompak terkejut dan melongo tak percaya, seorang Blair memberi semangat kepada Dylan, bahkan sang tokoh utama pun di buat tertegun oleh teriakan Blair yang membahana di tengah lapangan.


Namun Blair yang seperti sudah biasa mendapat perhatian banyak orang pun terlihat nyaman-nyaman saja dan terus melemparkan senyumnya ke arah Dylan yang sedang diam mematung di tengah lapangan.


Sepertinya dia memang sedang sakit.


Batin Dylan lalu menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian melanjutkan langkahnya untuk berbaris bersama peserta olimpiade lainnya.


" Ehem... ehem... " Sekertaris Yuri berdehem untuk mengalihkan perhatian seluruh siswanya yang mungkin sedang syok melihat seorang artis meneriaki nama Dylan yang notabene adalah anak yang di kucilkan di seluruh penjuru sekolah.


" Baiklah semuanya saya mohon perhatiannya " Lanjut Sekertaris Yuri dan kemudian melanjutkan pidatonya setelah semua siswa kembali menghadap ke depan.


" Hai Dylan " Sapa Dera seraya tersenyum.


" Hai " Balas Dylan canggung, baru kali ini ada orang lain dalam lingkup sekolah yang menyapanya.

__ADS_1


Setelah berpidato cukup lama akhirnya kepala sekolah mengakhirinya dan prosesi terakhir upacara pun di lanjutkan.


" Dylan " Panggil pak Tomy saat para peserta upacara mulai membubarkan diri.


" Bisa tolong ke ruangan guru sebentar " Lanjutnya.


" Baik pak " Jawab Dylan sopan dan menundukkan kepalanya. Dan pak Tomy pun pergi kembali ke ruang guru. Dylan yang tadinya ingin langsung ikut menyusul Pak Tomy terhalang oleh uluran sebuah tangan.


" Dera " Ucapnya memperkenalkan diri.


" Dylan " Balas Dylan canggung dan juga mengulurkan tangannya membalas jabatan tangan Dera.


" Ini pertama kalinya aku ikut olimpiade matematika, aku sangat gugup " Ucap Dera riang.


" Ah ya " Jawab Dylan singkat dan mulai berjalan meninggalkan lapangan bersama Dera.


Blair yang melihat Dylan dan Dera berjalan ke arah yang berlawanan dengan kelas mereka pun memperhatikan dari kejauhan.


" Hm ? " Blair memincingkan matanya mengamati Dylan.


" Kenapa dia malah ke sana ? Kan kelasnya ada disini ? " Gumamnya lagi.


" Cih dasar mata keranjang, dia sama saja dengan kekasihnya, yang satu selingkuh dengan tuan Rai, yang satunya lagi suka tebar pesona " Blair berdecak kesal lalu berbalik dengan cepat menuju toilet.


Blair memasuki toilet yang sepi. Dia langsung menuju bilik terakhir yang ada di pojok. Semalam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, dan bangun terlambat di pagi harinya. Tidak punya waktu untuk sarapan hingga dia terpaksa harus memakan sarapannya di dalam mobil yang di kemudikan dengan cepat oleh Manager Yo demi mengejar waktu agar tidak terlambat.


" Bagaimana bisa seorang artis terkenal sepertimu memberi contoh buruk untuk yang lain " Omel Manager Yo saat mereka terburu-buru mengejar waktu di jalanan.


Dan sekarang Blair sedang duduk di atas toilet dan merasakan perutnya yang sakit karena harus berlarian sepanjang koridor dan halaman depan.


" Aish ini karena ac sialan itu, aku jadi tidak enak badan " Gumamnya lirih dan mengambil sebotol minyak kayu putih dari dalam sakunya lalu mengoleskannya di perutnya yang terasa tidak nyaman.


Dia meluruskan kakinya sejenak, memegangi perutnya yang terasa melilit karena harus berlari tepat setelah dia menghabiskan sarapannya. Namun baru saja di bersantai sejenak, dia mendengar suara tawa cekikikan dari beberapa murid yang masuk ke dalam toilet. Blair langsung menegakkan punggungnya.


" Kau serius ingin dekat dengan Dylan ? " Suara seorang siswi membuat Blair berjengit kaget.


Siapa dia ?


Tanpa sadar Blair berdiri dan mendekatkan telinganya di pintu bilik toilet, menguping pembicaraan yang ada di luar sana.


" Ya dia anak yang baik, aku sudah memperhatikannya sejak kami kelas 10 " Jawab seorang siswi lainnya.


Mendekati siapa ?


" Dera apa kau tidak tau gosipnya ? Dia itu anak seorang pel... " Saut seorang siswi lainnya dengan sengit.


" Aku tau, aku tau karena kami satu SMP. Tidak masalah bagiku bagaimana latar belakangnya, sejauh yang ku tau dia anak yang baik dan tidak pernah terlibat dengan pelanggaran peraturan sekolah, dan juga dia anak yang cukup berprestasi. Jangan lupa kalau dia adalah juara umum setiap tahun di sekolah ini " Jawab Dera lembut.


Remahan kerupuk itu ? Aku rasa gadis itu agak konslet. Bagaimana dia bisa sebijak itu memandang Dylan. Kalau saja dia tau betapa mesum dan juga menyebalkannya si remahan kerupuk itu, aku yakin dia akan lari terbirit-birit dan tidak akan mau berada dalam radius 100 meter dengannya. Hah... gadis yang malang.


Oceh batin Blair merasa iba dengan kepolosan Dera.


" Hmm ? " Seorang siswi yang menyadari ada sesuatu yang janggal di dalam toilet itu mengenyitkan keningnya.


" Bau apa ini ? " Tanyanya seraya menutup hidungnya.


" Bau apa ? " Tanya Dera dan temannya yang lain bingung, lalu mengendus-endus bau yang dimaksud.


Blair yang ada di dalam toilet itu pun ikut mengendus-endus mencari tau bau apakah itu.


" Seperti bau apa ya ? " Pikir gadis itu seraya mengendus kembali baunya.


" Iihh... seperti bau nenek ku, bau minyak angin " Cibirnya jijik.


" Masa ? " Dera dan temannya itu semakin mengendus-endus mencari asal bau minyak angin di dalam bilik toilet itu.


Blair yang merasa baru saja mengoleskan minyak kayu putih ke perut dan dadanya itu pun mengendus sendiri tubuhnya.


Enak saja bau nenek-nenek, ini wangi bayi tau. Wangi bayi itu begini.


Geramnya kesal di dalam hati. Dengan kesal dia membuka pintu bilik toilet tempatnya menguping sedari tadi.


" Oh ? " Blair berpura-pura terkejut melihat ketiga murid yang sedang sibuk membenahi riasan wajah mereka di depan cermin toilet itu.


" B-blair " Kedua siswi itu pun tergagap bertemu dengan Blair, tapi tidak dengan Dera. Dia menatap Blair dengan tenang.


" Kau Blair bukan ? " Sapanya sopan dan tersenyum manis.


" Ya " Jawab Blair pun tak kalah sopan.


" Perkenalkan namaku Dera " Ucapnya sopan dan mengulurkan tangannya.

__ADS_1


" Ah ya " Blair juga mengulurkan tangannya membalas jabatan dari Dera.


" Blair " Lanjutnya dengan senyuman tak kalah manis.


" Terima kasih kau telah menyemangati Dylan tadi di lapangan " Ucap Dera lembut.


" Tak masalah, kami kan teman sebangku " Jawab Blair tak kalah lembut.


Kenapa juga kau yang harus mengucapkan terima kasih atas namanya.


Cibir Blair sinis di balik senyum manisnya.


Dia cuma ingin menarik perhatian Dylan saja.


Cibir Dera juga sinis di balik senyumnya.


" Ah ya karena kalian teman sebangku, maaf kalau nanti akhir-akhir ini aku akan sering mengunjungi Dylan di kelasnya, kami harus sering berdiskusi masalah olimpiade " Jawab Dera lembut.


" Ya tidak masalah, tenang saja tidak perlu sungkan " Balas Blair.


" Baiklah kami permisi dulu, kau ingin bergabung ? " Tawar Dera.


" Ah tidak kalian duluan saja, aku ingin mencuci tangan ku dulu " Jawab Blair dan mengacungkan tangan kirinya.


Dera dan teman-temannya pun pergi meninggalkan Blair di dalam toilet sendirian. Blair terus mengawasi mereka hingga hilang di balik pintu.


" Cih sombong sekali " Gerutunya begitu dia merasa keadaan sudah sepi, dengan kesal dia menyalakan kran air dan mencuci tangannya. Namun karena dia terlalu keras menggosok tangannya, air yang turun dengan deras itu pun memercik ke tubuhnya dan membahasi baju bagian depannya.


" Aish !! " Decaknya kesal melihat bajunya yang basah itu.


" Setiap kali aku memikirkannya, aku selalu saja sial. Aku harus menjauhi orang semacam remahan kerupuk itu " Gerutunya lagi. Dia mematikan keran air dan kemudian mengambil tissu toilet sebanyak mungkin untuk mengelap bajunya.


Dengan masih mengelap bajunya, Blair keluar dari kamar kecil.


" Dylan " Sapa suara yang langsung membuat Blair mendongak dengan cepat.


Dylan yang sedang berjalan membawa tumpukan buku-buku dan kertas itupun berhenti. Dera keluar dari dalam kelas dan menghampiri Dylan yang sedang lewat didepan kelasnya.


Blair yang tepat berada di belakang mereka menatap mereka berdua dengan tajam. Dia lalu menoleh ke arah kelas tempat Dera keluar tadi. Kelas 12-1, kelas Dera. Dan Blair baru sadar kelas mereka berada tepat 2 ruangan setelahnya.


Memangnya tidak ada jalan lain sampai kau harus lewat sini. Kau kan bisa memutar lewat sana. Dasar modus.


Batinnya kesal melihat Dylan.


Dengan malas dia melanjutkan langkahnya dan melewati mereka berdua yang sedang asyik mengobrol.


" Tunggu " Panggil Dylan saat melihat Blair berlalu dan sudah beberapa langkah di depannya. Blair menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Dylan.


" Kau memanggil ku ? " Tanya Blair malas.


" Memangnya ada orang lain yang sedang melintas ? " Tanya Dylan acuh.


Blair mengepalkan tangannya menahan geram dengan sikap Dylan. Dalam hati dia mengutuki kebodohannya sendiri yang sudi repot-repot menyemangati Dylan di lapangan tadi.


" Kenapa ? " Tanya Blair malas.


" Aku pergi dulu, sebentar lagi pelajaran di mulai " Pamit Dylan kepada Dera yang di jawab dengan anggukan dan senyuman manis.


" Ya silahkan " Jawab Dera lembut.


Apaan sih ? Aku di panggil hanya untuk melihat kalian berdua saling sapa dengan manis begitu ?


Batin Blair malas dan membuang wajahnya.


Dylan berjalan mendekati Blair dan langsung menyerahkan beberapa buah buku di hadapan Blair.


" Omo ! " Seru Blair terkejut dan gelagapan menerima buku-buku yang diserahkan Dylan.


" Apa-apaan ini ? " tanyanya ketus.


" Bantu aku membawa buku-buku ini ke kelas, bukankah kita satu tujuan " Jawab Dylan asal.


" Tidak mau " Blair kembali menyodorkan buku itu kepada Dylan dengan kesal.


" Kau pasti mau " Jawab Dylan memberikan kembali buku itu kepada Blair lalu mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Blair.


" Baju mu basah dan bra hitam mu itu terlihat lagi " Ucap Dylan berbisik jahil lalu berlalu meninggalkan Blair yang mendelik kaget mendengar ucapan Dylan.


" Hei, hei !!! " Teriak Blair kesal, namun Dylan hanya menoleh lalu tersenyum melihat kemarahan Blair dan terus melanjutkan langkahnya.


Dimanakah gerangan kapak wiro sableng berada ?!?!

__ADS_1


Geram Blair dengan tangan mengepal serta emosi yang tertahan.


__ADS_2