Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Saling Goda


__ADS_3

Rai dan yang lainnya sedang duduk di meja makan menikmati makan siang mereka seraya mendengarkan cerita bulan madu Kiran dan Ken, tapi hanya bagian jalan-jalannya saja yang mereka ceritakan.


Ruby sangat antusias sekali mendengarkannya, sesekali dia tertawa terbahak-bahak jika Ken menceritakan kisah yang lucu.


Rai yang sedari tadi hanya melihat wajah Ruby itupun meraih tangan Ruby yang duduk di sampingnya dan membawanya ke atas pahanya. Memainkan jari-jari Ruby dengan tangannya seraya terus menatap Ruby penuh cinta.


" Kau ingin kesana ? " Tanya Ken mengakhiri ceritanya.


" Tidak, aku tidak ingin kemana-mana, Raline masih terlalu kecil untuk di bawa berpergian " Jawab Ruby menggelengkan kepalanya.


" Kau kan bisa mengajak beberapa pelayan untuk membantumu mengurusnya, lagipula kau kan tidak akan naik pesawat komersil jadi tidak akan masalah kalau Raline menangis " Jawab Ken bingung dengan alasan Ruby.


" Justru karena itu, aku melihat dan membaca di beberapa artikel, tekanan udara di dalam pesawat terkadang membuat telinga berdenging, untuk orang dewasa saja itu mengganggu apalagi untuk anak kecil seperti Raline. Tidak, tidak, aku tidak akan membahayakan anak ku hanya demi kesenangan sendiri " Jawab Ruby mantap.


Mendengar jawaban Ruby, Rai semakin mengeratkan genggaman tangannya di bawah sana.


" Kau ini sempurna sekali sih jadi istri dan juga ibu " Puji Rai seraya mengelus-elus kepala Ruby.


" Cih " Ruby berdecak malu-malu mendengar pujian Rai.


Obrolan seru mereka terusik dengan suara tangisan Raline dari kereta dorongnya yang ada di sebelah Adelia.


" Ooh... sayangnya nenek mengantuk ya, ayo kita tidur " Adelia mengambil Raline dan menimangnya.


" Sini bu biar ku susui dia dan ku tidurkan " Ruby mengulurkan tangannya meminta Raline.


" Sudah kau makan saja, ibu bisa memberikannya asi mu dari botol susu saja, dan lagi dia ini milik ibu, tidak ada yang boleh mengambilnya dari ibu " Jawab Adelia berpura-pura marah. Namun semua yang mendengarnya hanya tertawa karena mereka tau Adelia hanya bercanda.


Adelia yang sangat menginginkan memiliki bayi sendiri itu pun terobati dengan lahirnya Kiran dulu, tapi sekarang setelah berpuluh-puluh tahun berlalu dia seperti lupa bagaimana rasanya menimang seorang bayi. Dan kerinduannya langsung terobati begitu Raline lahir, dia bisa kembali mengurus bayi.


" Memangnya ibu tidak lelah ? " Tanya Ruby sungkan.


" Tidak, ibu justru merasa sangat bertenaga saat ini, Raline itu seperti sebuah suntikan energi untuk ibu, memberikan warna di hidup ibu yang tadinya hanya monokrom. Kalau kau merasa kehilangan hamil saja lagi " Jawab Adelia menggoda Ruby.


" Ish ibu ini " Ruby tersenyum malu-malu mendengar jawaban Adelia.


" Baiklah ibu akan membawanya ke kamar dulu, dan kalian nikmati saja waktu kalian. Kau tidak perlu mengambilnya nanti Ruby, biar dia tidur dengan ibu saja " Ucap Adelia lalu pergi menuju kamarnya dengan Raline.


Mereka lalu melanjutkan bincang-bincang mereka di sela makan siangnya.


" Dylan sudah tau kalau kalian sudah pulang ? " Tanya Ruby kepada Ken dan Kiran.


" Belum, anak itu bahkan tidak mengirimi ku pesan sekalipun, adik durjana " Omel Ken kesal. Sebenarnya dia kesal karena Dylan tidak memberitahukan perihal penting yang terjadi di rumahnya, tentang kematian ayah Ruby.


" Mungkin dia sibuk, karena dia sudah punya teman baru " Jawab Ruby santai.


" Teman ? " Ken mengernyitkan keningnya.


" Ya teman sebangku, siapa ya namanya... " Ruby kembali mengingat-ingat.


" Da... " Gumamnya.


" Kenapa sih kau terus saja mengingat-ingat orang lain ? " Tanya Rai ketus, dia menarik tangan Ruby yang di genggamnya dan membuat Ruby jatuh ke dada Rai.


" Auh " Pekik Ruby kesakitan karena menabrak dada Rai yang keras berotot. Namun seolah ingin meluapkan kecemburuannya Rai langsung melingkarkan lengannya ke leher Ruby dan menciumi pipinya bertubi-tubi. Tidak peduli pada Ken dan Kiran yang langsung memalingkan wajah mereka sungkan.


" Sakit Rai " Berontak Ruby berusaha melepaskan diri dari pelukan Rai.


" Biar saja, siapa suruh kau memikirkan laki-laki lain " Jawab Rai asal dan terus saja menciumi pipi Ruby.


" Laki-laki ? " Tanya Ruby heran.


" Dia perempuan kok " Lanjutnya polos.


" Hm ? " Rai berhenti, dia mengernyitkan keningnya dan menatap wajah Ruby.


" Jangan-jangan kau kenal ya dengannya makanya kau selalu salah tingkah setiap aku membahasnya " Tanya Ruby sinis.


" Tidak, aku tidak kenal " Saut Rai cepat memasang wajah polos.


" Sungguh ? " Tanya Ruby meyakinkan.


" Ah itu pasti Blair, model yang baru saja pindah ke sekolah kita kak " Ken mengambil alih menjelaskan kepada Ruby.

__ADS_1


" Ehem.. ehem... " Rai berdehem keras untuk menyamarkan suara Ken yang dengan polosnya menjelaskan kepada Ruby tentang Blair.


Rai bukannya tidak tau jika Blair pindah ke sekolah Loyard, dia dan Regis selalu mengawasi pergerakan Dimitri yang terlalu berambisi menjadi bagian dari keluarga Klan Loyard, dan Blair adalah anak Dimitri, jadi secara tidak langsung dia juga ikut menjadi target pengawasan.


" Ah si model yang mendaftar jadi istri kedua mu itu ya ? Yang selalu kau ingat-ingat itu ya ? " Dengan kasar Ruby menepis tangan Rai dan menatapnya tajam.


" Kapan aku membuka pendaftaran mencari istri kedua ? " Sanggah Rai membela diri.


" Kak kau mendua ? " Pekik Ken terkejut.


" Cksst... " Desis Rai mendelik ke arah Ken.


" Kau tidak tau ? " Dengan sinis Ruby bertanya kepada Ken.


" Si Blair itu adalah gadis yang rencananya akan menemaninya dulu waktu pertama kali kita bertemu, dan kau tau lagi, ternyata dia berniat jadi istri kedua dari kakak mu ini " Jelas Ruby lambat-lambat dengan geraman yang tertahan. Lalu menoleh ke arah Rai dan mendelik dengan senyum yang dipaksakan.


Ken dan Kiran langsung menatap Rai dengan tajam, membuat Rai kesal merasa di tuduh atas apa yang tidak dia lakukan. Dengan malas dia berdiri dari duduknya.


" Bangun " Perintahnya pada Ruby yang masih merengut kesal.


" Tidak mau " Jawab Ruby ketus.


" Jangan sampai aku menggunakan kekerasan padamu ya ? " Perintah Rai tegas.


" Coba saja kalau berani " Jawab Ruby acuh.


" Baiklah, jangan menjerit ya. Kau sendiri yang memintanya " Lalu tanpa aba-aba Rai langsung menggendong Ruby dari duduknya. Membawanya ke pelukannya.


" Ya ampun " Pekik Ruby kaget.


" Bersiaplah lah gadis yang cemburuan " Goda Rai menyunggingkan senyumnya yang mampu meluluh lantakkan hati setiap gadis yang memandangnya.


" Aku culik dia sebentar, jangan ada yang lapor polisi atau mencarinya " Ucap Rai pada Kiran dan Ken yang hanya menatap mereka berdua dengan jengah.


" Cih tukang pamer " Cibir Ken sinis.


" Aku juga bisa seperti itu " Ken berdiri dengan dada membusung.


" Mau apa kau ? " Tanya Kiran malas.


" Tidur siang " Jawab Ken cepat, lalu menarik tangan Kiran yang masih duduk diam dan mengajaknya pergi ke kamar yang lain.


Rai dan Ruby hanya menatap punggung mereka yang menghilang di balik pintu kamar dengan bingung, bertanya-tanya kenapa jadi mereka yang pergi lebih dulu.


" Ya sudah, ayo kita susul mereka " Ajak Rai tak mau kalah.


" Susul ke mana ? "


" Tidur siang "


" Di kamar mereka ? " Tanya Ruby polos.


" Ck " Decak Rai.


" Tentu saja ke kamar kita sendiri lah " Jawab Rai kesal.


" Kamar yang mana lagi ? Kan disini cuma ada 3 kamar, satu untuk ibu, satu yang di masuki Ken dan Kiran tadi, dan satu untuk pelayan yang menginap disini " Jawab Ruby polos.


Rai yang seperti tersadar oleh ucapan Ruby itu pun langsung menoleh ke arah kamar yang di masuki Ken tadi.


" Hei pantas saja dia mendului kita, ternyata !! " Teriak Rai penuh emosi.


" Sudah, sudah, turunkan aku, ayo kita ngobrol saja di halaman, aku ingin main ayunan " Jawab Ruby menenangkan Rai.


" Tidak mau, akan ku gendong kau sampai halaman " Terlanjur malu Rai langsung membawa Ruby keluar dari rumah ke halaman samping tempat dimana ayunannya berada.


Rai menurunkan Ruby begitu mereka sampai di depan ayunan kayu. Ruby segera mendudukkan dirinya dan menepuk tempat kosong di sebelahnya.


" Kemarilah kuli gendong, aku akan membayar upahmu atas gendonganmu yang tadi " Ucap Ruby menggoda.


" Cih " Rai memalingkan wajahnya malas, namun tetap beranjak duduk di sebelah Ruby.


" Mana ada kuli gendong setampan diriku, bayaran ku tidak murah loh " Cibir Rai sinis.

__ADS_1


" Aku tau, kau bukan orang murahan, makanya aku akan membayarmu dengan sangat mahal " Jawab Ruby menepuk pelan paha Rai lalu merengkuh tangan Rai dan membawanya ke dadanya.


" Terima kasih ya sayangku, cintaku, manisku, seluruh dunia ku " Ucap Ruby dengan serius. Rai yang semula memalingkan wajahnya malas kini menoleh ke arah Ruby, menatap dalam mata Ruby yang sudah mulai berkaca-kaca.


" Sa... " Rai membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, namun Ruby menahannya dengan jari telunjuknya.


" Kali ini kau hanya mendengar dan aku yang bicara " Potong Ruby lembut. Dia kembali menggenggam tangan Rai dan menaruhnya di pipinya.


" Terima kasih atas semuanya, ayahku, kehidupanku, cintamu, kasih sayangmu, Raline, dan keluarga baru yang sangat sempurna. Aku tidak bisa membayangkan ada keluarga yang lebih hebat dari keluarga kita. Aku sangat menyayangi mu, benar-benar menyayangi mu. Dan setiap kali kau terluka aku juga pasti akan ikut terluka. Jadi apapun yang terjadi padaku, berjanjilah jangan melakukan hal bodoh yang akan melukai dirimu sendiri. Mungkin aku sedih dengan kepergian ayahku, tapi akan lebih membuatku sedih kalau kau terus saja menyiksa dirimu sendiri dan tenggelam di dalam rasa bersalah. Aku melihat semuanya, lukamu, tangismu dan juga penyesalanmu serta permintaan maaf mu. Percayalah ayahku pasti bangga memiliki menantu seperti mu, yang rela mengorbankan apapun demi diriku, dan aku yakin dia pasti menerima permintaan maafmu yang tulus itu " Jelas Ruby lembut dengan suara tercekat dan air mata yang berkumpul di pelupuk matanya.


" Maafkan aku Ruby " Jawab Rai lirih, lalu memeluk Ruby. Mereka lalu tertawa sekaligus menangis bersama.


" Kemarikan tanganmu " Ruby menyodorkan telapak tangannya, meminta tangan Rai setelah Rai melepaskan pelukannya.


" Hm ? " Rai menatapnya bingung namun mengulurkan tangannya dengan perlahan.


" Iihh !! " Ruby memukul keras tangan Rai yang ada di pegangannya.


" Hei " Pekik Rai terkejut dan reflek menarik tangannya, namun Ruby memegangnya dengan erat.


" Tangan ini kan yang melukaimu ? " Tanya Ruby polos menggoda Rai.


" Apa ? " Rai masih belum paham kemana arah pembicaraan Ruby.


" Apa tangan yang ini ? " Ruby berganti mengambil tangan Rai yang lain lalu memukulnya dengan keras.


" Kau ya yang melukai sayangku ? Kau ini nakal, iihh !! " Ruby terus saja memukul tangan Rai dan memarahinya.


" Hentikan " Rai tersenyum melihat kelakuan Ruby yang terlihat menggemaskan di matanya.


" Tenang saja sayang aku akan membalasnya untukmu, kau tau kan kalau aku jago taekwondo, akan ku patahkan tulangnya " Goda Ruby mengedipkan matanya kepada Rai.


" Hei, hentikan " Melihat Ruby yang sepertinya berniat mengerjainya, Rai panik dan berusaha menarik tangannya, namun genggaman tangan Ruby juga cukup kuat.


" Hei kau !! " Ruby kembali menatap tangan Rai yang di pegangnya.


" Kau akan mati di tanganku, akan ku patahkan tulang-tulangmu itu " Makinya kemudian menunjuk tangan Rai.


Rai semakin keras memberontak saat Ruby meniup-niup tinjunya yang akan dia layangkan ke pergelangan tangan Rai.


" Sayang " Tawa Rai kecut.


" Biar aku sendiri yang menghukumnya, ya ? " Rai menarik-narik tangannya.


" Eii kali ini biarkan aku yang melindungi mu ok " Goda Ruby menaik-naikkan alisnya.


" Hahaha... " Rai tertawa kecut menatap Ruby yang terus saja menggodanya.


" Oh ayah kau datang " Rai menatap jauh melewati pundak Ruby dan menundukkan kepalanya.


Ruby yang terkejut juga langsung membalikkan badannya hendak menyapa Regis.


" Hahaha... " Tawa Rai meledek Ruby yang berhasil masuk perangkapnya. Dia sudah pergi menghindari Ruby beberapa meter jauhnya.


" Hei kau kemarilah " Ruby tersenyum kecut Rai berbalik mengerjainya.


" Baiklah baiklah " Rai berjalan mendekat dan kembali duduk di samping Ruby.


" Hei kau berani-beraninya menipu sayangku, rasakan ini " Ucap Rai ketus memarahi seraya memukul mulutnya sendiri.


" Aku sudah menghukumnya untukmu " Bisik Rai ke arah Ruby dan mengedipkan matanya, membalas godaan Ruby tadi.


Hal konyol yang di lakukan Rai membuat Ruby tertawa terbahak-bahak.


" Sini sini aku juga akan ikut menghukumnya " Ucap Ruby di sela gelak tawanya. Dia lalu menangkup kedua pipi Rai dan dengan cepat mengecup bibirnya.


" Rasakan itu dasar mulut jahat " Ucap Ruby lagi ikut berpura-pura memarahi bibir Rai.


" Wuah kalau itu hukuman yang kau berikan, sebaiknya aku berkata jahat terus saja agar bisa mendapatkan hukuman sebanyak mungkin " Oceh Rai lalu merangkul Ruby dan membawanya ke dadanya. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak bersama, menyelesaikan semua ganjalan di hati masing-masing.


" Aku sangat menyayangi mu " Ucap Rai lirih.


" Aku juga " Jawab Ruby dan semakin mengeratkan pegangan tangannya di pinggang Rai.

__ADS_1


__ADS_2