
Regis, Adelia serta Sekertaris Yuri harus bolak balik memalingkan pandangannya dari tembok di atas perapian tempat foto terfenomenal itu di gantung.
Wajah mereka memerah karena menahan tawanya agar tidak pecah. Adelia bahkan sudah lebih dari sepuluh kali berdehem untuk menyamarkan tawanya. Sementara Sekertaris Yuri berpura-pura mengajak Raline bercanda demi bisa mencuri-curi kesempatan melepaskan tawanya.
Sejak makan malam tadi mereka bertiga sudah di buat penasaran perihal apa yang membuat ke empat saudara itu terlihat sangat bahagia dan tertawa terpingkal-pingkal sementara sang adik kecil justru berbanding terbalik, berwajah sangat masam dan kesal.
Dan kini setelah mereka melihatnya sendiri, mereka pun akhirnya mengerti.
" Jangan di tahan bu, lepaskan saja " Celetuk Dylan asal saat melihat Adelia dari seberang sofa yang sedang menutupi bibirnya kemudian berdehem. Lalu untuk yang kesekian kalinya Dylan menghela napas frustasi dan menoleh ke arah Rai. Berharap ketua power rangers itu akan berubah pikiran dan menurunkan foto terlaknat itu.
" Kak... " Rengeknya memelas sekali lagi.
" Sudah kalau tidak kuat jangan di lihat " Jawab Rai acuh sembari ikut mengajak Raline bercanda.
" Huh ! Awas saja akan ku balas kalian " Gumamnya kesal lalu menyilangkan kedua tangannya di dada.
" Kalau ada yang kesini dan melihat foto itu memangnya kalian tidak malu " Ucap Dylan kembali merengek masih mencoba peruntungannya.
" Tidak ada yang pernah bertamu ke rumah ini dan masuk ke sini " Jawab Ruby sembari tertawa.
" Kau bisa puas menikmatinya " Lanjutnya kembali terkekeh.
" Lagipula kalau pun terlihat orang lain juga aku tidak malu, fotonya bagus dan terlihat nyata " Kiran ikut menimpali dengan jahil.
" Ck kalian ini " Decaknya kesal lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan duduk yang sedikit melorot.
" Sudah, sudah " Lerai Regis menengahi, dia mencoba mengalihkan perhatian Dylan agar tidak terus memikirkan foto aibnya itu.
" Bagaimana sekolah mu ? Lancar ? " Tanya Regis.
Dylan langsung menegakkan punggungnya dan bersikap sopan.
" Ya ayah semuanya baik-baik saja " Jawabnya.
" Bagaimana persiapan lombanya ? "
" Ya baik, aku sudah cukup siap " Jawab Dylan mantap penuh keyakinan.
" Kalau kau butuh sesuatu untuk menunjang belajar mu bilang saja pada Sekertaris Yuri, apapun itu ayah akan memberikannya untuk mu " Jelas Regis.
Mendengar hal itu Dylan pun berniat untuk meminta sesuatu yang berhubungan dengan tugas bahasanya. Sepulang sekolah tadi dia sempat browsing tentang film yang akan di tontonnya dengan Blair, namun film itu telah tayang dua tahun lalu dan saat ini sudah tidak ada lagi bioskop yang memutarnya.
Jadi dia berencana meminta bantuan ayahnya agar salah satu bioskop di pusat perbelanjaan milik Klan Loyard bisa kembali menayangkannya meski hanya sekali dan itu pun untuknya.
" Umm... " Dylan ragu-ragu, menimbang apakah itu akan jadi permintaan yang sulit atau tidak.
" Ya ? " Tanya Regis seolah mengerti ada sesuatu yang ingin di minta Dylan.
" Begini ayah... aku mendapat tugas bahasa tentang resensi film bertema era 90 an, dan setelah aku cari tau, judul film yang ingin aku resensi sudah tidak tayang lagi di bioskop, bisa kah aku meminta tolong untuk menayangkannya sekali saja di bioskop mall ? " Pinta Dylan sungkan.
" Bioskop ? " Ulang Regis bingung, untuk apa Dylan meminta hal sepele seperti itu jika di mansion mereka ada bioskop yang bisa di lihat kapan pun tanpa perlu pergi ke mall.
" Ya bioskop " Jawab Dylan semakin sungkan, mengira permintaannya terlalu berlebihan.
" Kenapa jauh-jauh pergi ke mall, bukankah disini ada bioskop premiere " Saut Rai.
" Iya benar, disini kan ada bioskop yang sekalian bisa di pakai untuk uji nyali " Imbuh Ruby.
Mereka semua memandang penuh tanya ke arah Dylan, membuatnya gelagapan sendiri. Dia lupa bahwa di mansion itu semua ada, mulai dari salon dan spa, perpustakaan, tempat fitness bahkan juga bioskop. Tapi tidak mungkin bukan mengajak Blair datang ke rumahnya.
" I-itu... masalahnya ini adalah tugas kelompok, jadi aku tidak bisa mengajak mereka menonton di sini " Jawabnya beralasan, dia masih tidak ingin ada orang lain yang tau siapa dia sebenarnya. Terlebih saat ini dirinya sudah mulai dekat dengan Blair, jadi dia ingin lebih tau lagi seberapa tulus Blair berteman dengannya tanpa embel-embel bibit, bebet dan bobot.
" Oh begitu ya " Ruby mengangguk-angguk maklum, saeperti paham apa yang di pikirkan Dylan.
" Memangnya film apa yang ingin kau tonton ? " Tanya Kiran penasaran.
" Film Dilan 1990 " Jawab Dylan.
" Wuah bukankah itu film yang sangat romantis " Saut Ruby antusias, dengan mata berbinar dia sejenak membayangkan setiap adegan dalam film romantis itu.
" Memangnya kau pernah nonton ? " Tanya Rai gusar, mendengar itu adalah film romantis dan mata Ruby yang berbinar saat menceritakannya, membuatnya langsung berpikir laki-laki mana yang telah mengajaknya menonton. Dia harus mencarinya dan membuat perhitungan dengannya.
" Tidak " Jawab Ruby dengan wajah masam karena Rai merusak khayalannya.
" Lalu darimana kau tau kalau itu film romantis ? " Tanya Rai semakin gusar.
" Dari iklan di tv, beberapa kali muncul " Jawab Ruby polos.
Mendengar hal itu Rai langsung menghela napas lega, setidaknya tidak ada laki-laki lain di hidup Ruby sebelum dirinya. Namun sejurus kemudian dia merasa sedih. Selama ini dia belum pernah mengajak Ruby nonton bioskop meskipun hanya di dalam mansion.
Rai terlalu fokus pada dirinya sendiri yang ingin menghabiskan waktunya berduaan saja dengan Ruby hingga tanpa sadar mungkin telah mengabaikan keinginan Ruby.
" Kau ingin nonton dengan ku ? " Tawar Rai lalu merangkulkan lengannya ke pundak Ruby.
" Mauuu... " Ruby langsung mengangguk penuh semangat.
Selama dia terkurung di mansion ini dulu, tidak ada satu pun yang mengajaknya nonton bioskop. Para pelayan selalu menolak setiap kali dia menawarkan, apalagi alasannya jika bukan karena takut dengan Rai. Jadi dia hanya bisa menontonnya sendiri dan sekaligus uji nyali saat menonton film horor. Lalu setelahnya dia tidak tertarik nonton film di bioskop itu lagi.
" Bagaimana kalian ? Juga mau ikut ? " Tawar Rai pada Kiran dan Ken.
Ken hanya mengedikkan bahunya kemudian menoleh ke arah Kiran, memberikan keputusannya pada Kiran.
" Iya mau " Angguk Kiran bersemangat. Dia juga sama sekali belum pernah masuk ke gedung bioskop di mansion ini.
__ADS_1
" Pak Handoko bisa tolong siapkan filmnya ? " Perintah Rai kemudian.
Pak Handoko lalu bergegas mengambil ponselnya dan menghubungi pelayan yang bertugas di bagian bioskop agar menyiapkan semuanya.
" Tuan filmnya akan siap dalam 15 menit lagi, jadi sembari menunggu apa ada sesuatu yang anda inginkan sebagai teman nonton ? " Tawar Pak Handoko sopan.
" Aku mau popcorn " Saut Kiran antusias.
" Aku juga, dan jus jangan lupa " Ruby ikut menimpali.
" Baiklah kalau begitu akan saya siapkan semuanya " Ucap Pak Handoko menundukkan kepalanya lalu pergi keluar.
" Ibu ayo nonton juga " Ucap Ruby mengalihkan pandangannya pada Adelia.
" Tidak, kalian saja yang nonton. Ibu akan bermain-main dengan Raline " Jawabnya lalu meminta Raline dari gendongan Sekertaris Yuri.
" Kalian nonton lah bersama, ayah akan menemani Adelia menjaga Raline " Jawab Regis kemudian bangun dari duduknya, di susul dengan Adelia.
Sekertaris Yuri yang juga merasa sedang tidak ingin nonton itu pun ikut bangkit berdiri. Dia tidak terlalu suka nonton film, apalagi mendengar bahwa film yang akan mereka tonton adalah film romantis semakin membuatnya ingin menghindar sejauh mungkin.
" Kau mau apa ? " Tanya Regis bingung melihat Sekertaris Yuri yang sudah berdiri di sampingnya.
" Sa-saya juga akan ikut menjaga nona Raline " Jawab Sekertaris Yuri bingung ditanya seperti itu.
" Kau itu nonton saja dengan mereka, siapa tau itu bisa jadi referensimu agar bisa sedikit romantis " Perintah Regis berpura-pura tegas.
" Ta-tapi tuan... " Tolak Sekertaris Yuri.
" Sudah tidak ada tapi-tapian, kapan lagi kau punya kesempatan nonton bersama-sama " Potong Regis.
" Mari Bu Adel " Regis kemudian mempersilahkan Adelia untuk pergi ke luar ruang keluarga menuju ruang bermain Raline. Meninggalkan Sekertaris Yuri yang sedang melongo menatap kepergian tuannya.
Aish !!
Rutuknya dalam hati.
" Sudahlah Sekertaris Yuri, ikut nonton saja " Saut Ken mencoba menghibur Sekertaris Yuri yang sudah kembali duduk lemas di kursinya semula.
" Iya Sekertaris Yuri, pasti seru kalau kita nonton bersama " Saut Ruby.
Yang seru pasti hanya kalian saja, sedangkan aku...
Batin Sekertaris Yuri memelas.
" Terakhir kali nonton aku hanya seorang diri di ruangan gelap sebesar itu, hiiiyy " Ruby bergidik ngeri membayangkan masa lalunya.
" Memangnya kenapa kak ? " Tanya Dylan penasaran, dia sampai mencondongkan separuh badannya menyimak cerita Ruby.
" Itu seperti uji nyali " Jawab Ruby dengan serius, lalu kembali bergidik.
" U-uji nyali seperti di acara tv itu ya ? " Tanyanya lirih.
" Oh? " Ruby mengernyitkan alisnya bingung menatap Dylan. Diamatinya sang adik yang terlihat sedang memegang tengkuknya dengan gugup.
" Yang ada hantunya maksud mu ? " Tanya Ruby kemudian.
" Hmm... " Dylan mengangguk lemah.
Rai yang melihat itu tidak melepaskan kesempatannya untuk kembali menggoda adik bungsunya.
" Tentu saja gedung bioskop itu berhantu " Saut Rai cepat. Semua orang yang hafal dengan kejahilan Rai hanya bisa memutar bola matanya jengah, sementara Dylan semakin menciut di tempat duduknya.
Ketakutan terhadap hantu memang bisa menyerang siapa saja, termasuk ice bear sekalipun. Bukan tanpa alasan Dylan merasa takut dengan hal-hal yang berbau mistis begitu.
Setelah kematian Linda, Dylan yang mengalami syok berat itu pun di rawat di rumah sakit jiwa beberapa bulan lamanya, dan rumah yang menjadi tempat kejadian perkara itu di biarkan kosong begitu saja masih lengkap dengan garis pengaman kuning yang di pasang pihak kepolisian guna melakukan penyidikan.
Saat dirinya sudah keluar dari rumah sakit jiwa dan kembali ke rumah ibunya, dia mendengar desas desus dari tetangga sekitar rumahnya yang mengatakan jika sering mendengar suara-suara aneh dari arah rumah Dylan.
Lalu seperti api yang membakar kayu dengan cepat, desas desus itu berubah menjadi gosip yang semakin berhembus kencang. Beberapa orang bahkan mengaku pernah melihat Linda dengan gaun berwarna merah darah sedang menangis di balkon rumah mereka yang kosong waktu itu. Hantu Linda, menurut pengakuan seorang saksi mata, memanggil satpam komplek perumahan yang kebetulan sedang lewat di depan rumah itu untuk berpatroli. Namun saat satpam tersebut menyorotinya dengan sinar lampu senter mendadak wajah Linda berubah menjadi menyeramkan, dengan mata yang melotot dia mengeluarkan air mata darah.
Dan bom waktu itu akhirnya meledak. Cerita satpam tersebut seolah jadi pamungkasnya. Semua warga yang ada di sekitar perumahan milik Dylan dan ibunya itu pun berbondong-bondong menjual rumah mereka agar bisa segera pindah dari sana.
Dylan yang semula merasa baik-baik saja tinggal sendirian di rumahnya mulai di rayapi rasa takut, dan traumanya akan bayang-bayang detik-detik kematian sang ibu itu pun kembali muncul. Itulah salah satu alasannya mengapa Dylan lebih memilih menyewa kamar kost daripada harus tinggal di rumah yang konon kabarnya angker tersebut meskipun rumah itu cukup mewah dan lengkap.
" Hantu itu tidak ada " Ruby berusaha menenangkan Dylan, namun Rai sudah mengeratkan pelukannya dan menarik dagu Ruby agar menghadap ke arahnya.
" Ada sayang " Geram Rai sembari mengedip-ngedipkan matanya memberi kode.
" Jangan rusak suasana " Bisiknya di telinga Ruby.
" Kenapa menakut-nakutinya dengan hal semacam itu ? " Bisik Ruby ketus.
" Memangnya kenapa ? Seru tau. Ken sudah tidak mempan lagi di kerjai " Balas Rai juga tak kalah ketus.
" Cih " Ruby mendelik kesal.
" Kekanak-kanakan sekali sih, nanti kalau dia tidak berani tidur sendiri bagaimana ? " Ruby mencubit pinggang Rai.
" Tidak sakit " Ejeknya lalu mencium bibir Ruby dengan cepat.
Ruby yang tidak siap dengan serangan mendadak itupun meronta-ronta mendorong Rai.
" Hei !! " Teriaknya mendelik kesal.
__ADS_1
" Kalau kau tidak bisa di ajak bekerja sama ya begitulah akibatnya " Bisik Rai menggoda, lalu dengan tiba-tiba menggigit pelan telinga Ruby.
" Ish " decak Ruby kesal.
" Iya iya " Jawabnya mengalah.
" Se-sepertinya aku akan menonton filmnya secara online saja " Jawab Dylan beralasan.
" Yaah jangan dong, kan enak nonton bersama-sama " Decak Kiran kecewa.
" Iya, sudah jangan takut, ada kita semua " Ruby ikut menyemangati Dylan.
Namun belum sempat Dylan memberikan alasan penolakannya, Pak Handoko sudah muncul dan memberitahukan bahwa gedung bioskop sudah siap untuk di gunakan.
Mereka semua berdiri, hanya Dylan yang masih diam di tempat duduknya. Melihat hal itu Sekertaris Yuri pun menarik tangan Dylan agar ikut berdiri.
" Sudah ayo ikut, kau itu hanya di kerjai oleh kakak-kakakmu " Bisik Sekertaris Yuri memberitahukan Dylan.
" Apa ? " Pekiknya kesal lalu menoleh dengan cepat ke arah Rai.
" Hei kakak, kenapa senang sekali sih mengerjaiku ? " Sungutnya kemudian.
" Siapa yang mengerjaimu, memang disana ada hantunya " Kilah Rai masih berbohong.
" Aish sudah sudah " Sekertaris Yuri pun merangkul pundak Dylan dan segera menariknya keluar agar mereka segera menyelesaikan acara yang akan menyiksa batin ini.
" Tapi paman... " Rengeknya memelas.
" Nanti akan aku tunjukkan uji nyali yang sebenarnya " Jawab Sekertaris Yuri asal dan terus saja menggandeng Dylan mendului kakak-kakaknya.
Bioskop di mansion itu jarang sekali di gunakan, dulu saat Lorie masih hidup, setiap akhir pekan Regis selalu mengajaknya dan Rai juga Ken untuk menonton bersama, namun setelah kematian Lorie, mereka tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di gedung itu, mungkin lebih memilih menghindari tempat-tempat penuh kenangan bersama ibu mereka.
Kini setelah bisa move on dari kematian sang ibu, Rai datang bersama dengan Ruby untuk membuat kenangan indah mereka berdua.
Gedung bioskop itu tidak berisikan kursi-kursi seperti gedung bioskop lainnya, melainkan ranjang berukuran cukup besar yang dapat di naikkan bagian sandarannya serta terdapat fitur pemijat otomatis. Di sampingnya di lengkapi dengan meja kecil untuk meletakkan camilan teman nonton mereka.
Pak Handoko memandu mereka semua masuk. Dylan dan Sekertaris Yuri memilih duduk di deretan ranjang depan, sementara Rai dan Ruby serta Kiran dan Ken memilih di deretan belakang.
Setelah mereka semua duduk di atas ranjang dan camilan serta minuman sudah tersedia, Pak Handoko mulai mematikan lampu dan pelayan lainnya mulai memutarkan film request an dari Dylan itu.
Karena ini adalah tugas sekolah, Dylan sangat serius mengamati layar lebar yang ada di depannya. Terlebih lagi dia ingin segera mengerjakan tugas resensi itu sendirian, jadi nanti saat tiba waktunya dia akan menonton bersama Blair, dia bisa berkonsentrasi memperhatikan Blair, karena tingkat konsentrasinya sangat rendah jika berada di samping Blair. Dan lagi mereka bisa bermain-main setelah nonton tanpa perlu mengerjakan tugas sekolah.
" Jangan rindu, berat. Kamu tidak akan kuat, biar aku saja " Begitulah dialog yang terdengar dari layar yang ada di depan sana.
" Cih " Terdengar decakan mengejek dari arah sebelah Dylan. Membuatnya mau tidak mau menoleh ke arah Sekertaris Yuri yang terlihat seperti sedang kesal itu.
" Dia bilang rindu itu berat, dia belum tau saja bagaimana beratnya uji nyali disini " Cibirnya lagi.
" Kenapa paman ? " Bisik Dylan penasaran dan mulai di rambati rasa takut lagi.
" Menahan rindu itu sama sekali tidak berat, yang berat itu harus menjadi obat nyamuk untuk mereka " Tunjuknya ke arah belakang dengan dagunya.
Dylan yang masih belum paham maksud Sekertaris Yuri itupun menoleh ke arah yang di maksudkan. Bukannya pemandangan menyeramkan yang di lihatnya melainkan pemandangan mengenaskan.
Ya, mengenaskan untuk mereka berdua, menonton film romantis tanpa pasangan. Hanya bisa berandai-andai. Sedangkan ke empat makhluk di mabuk cinta yang ada di belakang sana sedang asyik berpelukan sembari berciuman mesra.
Nasib jomblo.
Dylan menghela napas dan kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke Sekertaris Yuri.
" Ice bear mengerti perasaan paman, ice bear siap menyediakan dadanya untuk di peluk " Ucapnya dengan nada datar serta wajah tanpa ekspresi kemudian merentangkan kedua tangannya lebar.
" Tidak terima kasih " Tolak Sekertaris Yuri.
" Kau lihat saja sampai selesai, aku akan kembali. Film romantis bukan genre ku " Ucapnya kemudian berdiri dan pergi dari sana.
Ice bear merasa kasihan.
Batinnya juga ikut menghela napas, lalu menyandarkan punggungnya lagi dan melanjutkan pengamatannya pada film itu.
Akhirnya setelah satu jam 50 menit Dylan menonton, film itu pun berakhir. Dia meregangkan tubuhnya, meluruskan otot-otot punggungnya. Dan lampu pun sudah mulai di nyalakan.
Namun ada yang aneh, suasana di sana sangat sepi. Dylan pun menoleh ke arah belakang untuk melihat mungkin saja ke empat kakaknya sedang tertidur.
" Hah ? " Pekiknya terkejut melihat ranjang yang di tempati kakak-kakanya telah kosong entah sejak kapan.
" Kemana perginya teletubbies ya ? " tanpa sadar Dylan pun bertanya sendiri.
Aish !! Gara-gara keseringan di ejek pipa aku jadi hafal dialognya.
Sungutnya kesal sendiri.
Dia pun bergegas pergi dari sana untuk kembali ke kamarnya. Dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur begitu sudah masuk ke dalamnya.
Pikirannya masih saja terbayang-bayang oleh adegan demi adegan di film Dilan itu.
Jadi romantis itu begitu ya ? Sangat berbeda dengan ku yang cuek. Kira-kira kalau Blair di perlakukan seperti itu mau tidak ya ? Aku akan lebih lembut lagi padanya mulai sekarang.
Janjinya dalam hati.
Jika saja Blair memiliki kekuatan super untuk membaca pikiran Dylan, sudah pasti dia akan berteriak-teriak sembari memegangi dadanya yang hampir meledak. Dylan yang selama ini di mata Blair sudah kelewat romantis masih akan bersikap lebih lembut lagi padanya. Kalau sampai itu terjadi bisa di pastikan Blair tidak akan kuat menyangga tubuhnya sendiri karena terus saja di buat meleleh oleh sikap Dylan.
" Hachi... hachi... " Blair mengusap hidungnya dengan kasar.
__ADS_1
" Aku kena santet atau apa ya ? Sering sekali bersin-bersin sekarang " Ucapnya kesal.