
Hari telah beranjak sore di negara bagian yang lain, karena perbedaan waktu 5 jam yang lebih cepat. Kiran dan Ken yang hari ini pergi ke desa para hobbit terlihat asyik mengambil foto-foto.
" Ramai ya " Ucap Kiran senang.
" Tentu saja, ini tempat wisata yang terkenal saat ini, sejak film the lord of the ring booming tempat ini sering menjadi tujuan para wisatawan " Jelas Ken.
" Udara di sini juga sejuk, tempatnya juga sangat hijau, bukit-bukitnya juga indah, coba kalau Raline ikut kesini, pasti dia akan terlihat semakin menggemaskan, dengan baju hangat yang tebal dan pipi yang kemerah-merahan, aah membayangkannya saja sudah membuat ku gemas sendiri " Oceh Kiran seraya berjalan di jalan setapak yang ada di depan rumah-rumah berbentuk seperti sebuah goa itu.
" Hm ? " Kiran menoleh untuk mencari Ken karena dia tidak ada disampingnya.
" Kenapa berhenti ? " Teriak Kiran yang melihat Ken diam saja di tempat mereka semula.
" Aku sedang berpikir " Jawabnya seraya berlari menghampiri Kiran.
" Berpikir apa ? " Tanya Kiran bingung dan melanjutkan langkahnya.
" Masih belum ketemu, nanti saja kalau sudah ketemu baru ku beritahu " Jawabnya asal tapi terlihat dari mimik wajahnya dia terus berusaha mengingat-ingat sesuatu.
Kiran menggenggam tangan Ken dan mengajaknya masuk ke dalam salah satu rumah hobbit.
" Wuah ! " Takjubnya saat melihat desain di dalamnya.
Mereka kemudian mengambil beberapa foto dan keluar setelah puas bersenang-senang di dalam, lalu berjalan-jalan kembali di sekitaran bukit hijau yang asri itu.
" Kau lapar ? " Tanya Ken yang melihat Kiran seperti tidak ada capeknya, mengitari setiap sudut objek wisata disana.
" Kenapa ? " Kiran balik bertanya.
" Kita beli makan saja, kaki ku lelah " Jawab Ken dan menghentak-hentakkan kakinya.
" Cih " Cibir Kiran.
" Ya sudah ayo pergi, baru juga jalan kaki beberapa jam sudah lelah " Gerutunya.
Mendengar Kiran yang cemberut Ken lalu merangkul pundak Kiran dan menariknya lebih mendekat kepadanya.
" Aku lelah karena aku harus jalan kaki di pagi hari, siang hari, sore hari, dan malamnya kakiku yang sudah lelah ini masih juga harus melakukan push up di ata... " Belum juga Ken menyelesaikan kalimatnya Kiran sudah membekap mulut Ken agar berhenti.
" Hei disini banyak orang ! " Pekik Kiran berbisik.
" Biarkan saja, toh mereka tidak mengerti bahasa kita " Jawab Ken acuh setelah menarik tangan Kiran yang menutup mulutnya.
" Aku tidak akan selelah ini kalau kau juga mau bekerja sama " Omel Ken meracau.
" Kerja sama apa ? " Tanya Kiran tidak paham.
Ken kembali menarik Kiran agar lebih mendekat.
" Kau di atas " Bisiknya lirih di telinga Kiran.
" Hei ! " Kiran memukul lengan Ken lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, malu-malu.
" Sudah ayo cepat cari makan malam, aku kelaparan " Ajak Ken dan menarik Kiran agar segera pergi dari sana.
__ADS_1
Kebanyakan turis disana tidak menggunakan kendaraan pribadi, mereka lebih memilih berjalan kaki, mungkin itu juga sebabnya udara disana terasa sangat bersih dan sejuk.
Kiran dan Ken pun memilih berjalan kaki seperti kebanyakan turis lainnya, mereka menuju sebuah restoran cepat saji yang ada di dekat objek wisata.
Lidah Kiran tidak bisa menyesuaikan dengan makanan yang ada disana, jadilah mereka hanya memakan makanan yang terlihat familiar, salah satunya adalah ayam goreng di restoran cepat saji.
" Yah ramai " Keluh Ken saat mereka memasuki restoran.
" Maaf ya " Jawab Kiran sungkan.
" Akan lebih mudah kalau kita makan malam di restoran bintang 5, tidak perlu antri dan tidak perlu berbaur dengan banyak orang begini " Gerutu Ken kesal.
" Carilah tempat duduk, aku saja yang mengantri " Ucap Kiran cepat sebelum Ken berubah pikiran, dan menoleh kesana kemari mencari tempat duduk kosong.
Hari hampir menjelang malam, tentu saja restoran cepat saji itu penuh oleh para turis yang ingin makan malam.
" Itu ada yang kosong " Pekik Kiran menunjuk kursi yang ada disudut, lalu menarik tangan Ken menuju tempat kosong tersebut sebelum di isi orang lain.
" Tunggu disini, aku akan pergi mengantri " Ucap Kiran cepat, namun Ken malah menggenggam tangan Kiran.
" Sudah biar aku saja yang mengantri " Jawab Ken malas lalu menarik kursi dan mendudukkan Kiran disana.
" Kau yakin ? " Tanya Kiran sungkan.
" Ya tidak apa-apa " Jawabnya masih dengan nada malas lalu segera pergi menuju meja pemesanan sebelum antrian semakin panjang.
Kiran yang mengamati Ken dalam hati hanya bisa kagum dengan laki-laki yang saat ini telah resmi menjadi suaminya. Berwajah tampan dengan postur tubuh yang tinggi serta kebaikan hatinya, membuat Kiran tidak percaya dengan takdir yang di jalaninya saat ini. Dirinya yang hanya orang biasa terlebih lagi " rusak " bisa mendapatkan orang sebaik Ken dan keluarganya.
Ken yang sedang mengantri itu melipat satu tangannya di dada dan satu lagi menopang kepalanya yang agak tertunduk. Terlihat sedang serius berpikir.
Batinnya seraya berusaha keras memutar otaknya agar mengingat-ingat kembali apa yang terlupakan olehnya.
Namun lamunan Ken buyar saat beberapa wanita muda berpakaian seksi tiba-tiba saja masuk kedalam restoran tersebut dan tertawa bersama-sama, semua mata langsung menatap mereka, termasuk Ken. Hingga kemudian salah seorang wanita berpakaian seksi itu ikut mengantri di belakangnya, hal itu juga tidak luput dari pengamatan Kiran.
Wanita itu seksi sekali, apa Ken seperti laki-laki kebanyakan ya ?
Batin Kiran bertanya-tanya apakah Ken akan melirik wanita seksi tersebut atau tidak.
" Hei " Panggil wanita-wanita lain yang sedang menunggu di meja kepada wanita yang mengantri di belakang Ken, dalam bahasa yang tidak di mengerti Kiran.
" Apa ? " Tanya wanita itu sambil tersenyum-senyum seperti paham maksud dari teman-temannya.
" Lelaki di depanmu sepertinya boleh juga " Jawab para gadis kemudian terkekeh bersama menunjuk-nunjuk ke arah Ken.
" Ok " Jawab wanita yang mengantri di belakang Ken seraya membuat tanda dengan jari telunjuk dan jempol yang bersatu. Lalu dia membuka jaketnya sedikit dan menunjukkan pundaknya yang putih.
Kiran memang tidak paham apa yang para gadis itu bicarakan, tapi hanya dengan melihat gerak-gerik mereka saja dia bisa tau bahwa mereka berniat menggoda Ken.
Jangan tergoda, jangan tergoda...
Batin Kiran mengulang-ulang dalam hati seraya menatap Ken penuh harap.
Antrian bergerak maju, giliran Ken yang memesan sekarang. Terlihat dari jauh Ken mengamati deretan papan menu yang ada di meja pemesanan, lalu menunjuk beberapa menu dan kemudian menunggu pelayan menyiapkan pesanannya.
__ADS_1
Setelah beberapa lama menunggu pelayan tersebut kembali dengan nampan berisi pesanan Ken, sebuket ayam goreng dan beberapa sandwich serta soda berukuran jumbo. Setelah menyelesaikan pembayarannya, Ken mengambil nampan tersebut dan berbalik. Namun wanita di belakangnya langsung saja melancarkan aksinya untuk menarik perhatian Ken, dengan sengaja dia menjatuhkan dompetnya tepat di bawah kaki Ken, membuat Ken menghentikan langkahnya dan menoleh pada gadis tersebut yang sudah menatapnya dengan senyum manis merasa triknya berhasil.
Kiran sedikit merasa kecewa karena melihat Ken yang juga ikut tersenyum kepada wanita tersebut, namun di luar dugaan Ken malah berteriak mengumumkan perihal barang yang terjatuh di bawah kakinya.
" Ini milik siapa ? " Teriak Ken dalam bahasa asing yang masih bisa di mengerti oleh Kiran.
Semua orang yang sedang sibuk makan malam mau tak mau menoleh karena mendengar pengumuman Ken yang dengan suara lantang, termasuk para gadis yang berniat menggoda Ken, sedangkan gadis pemilik dompet itu hanya menutupi wajahnya dengan tangan karena malu.
Semula rencananya dengan menjatuhkan dompetnya dia bisa berkenalan dengan Ken yang sudah pasti akan membantunya mengambilkan dompetnya. Namun sekali lagi, terkadang ekspektasi tidak sesuai realita. Ken yang acuh malah mengumumkan kepemilikan dompet tersebut meskipun dia tau bahwa itu milik gadis yang saat ini ada di hadapannya.
Merasa semua orang tidak ada yang mengaku memiliki dompet tersebut, Ken lalu mengambilnya dengan satu tangannya, hal itu disambut dengan senyuman oleh gadis pemilik dompet tersebut.
Namun saat dirinya dengan percaya diri menghadap Ken untuk mengulurkan tangannya menerima dompet tersebut, Ken malah membawanya ke tempat pelayan restoran.
" Tidak ada satupun yang merasa memiliki dompet ini di ruangan ini, jadi tolong hubungi polisi dan berikan dompet ini padanya, biar polisi yang mengurusnya " Ucap Ken kepada pelayan tersebut, lalu Ken berbalik dan berjalan lurus tanpa menoleh lagi kepada gadis yang sedang syok dengan perlakuan Ken.
Kiran yang melihat semua kejadian itu tidak tau harus berkomentar apa, antara senang dan juga kesal. Senang karena Ken tidak mudah tergoda wanita lain, tapi kesal kenapa dia tidak memberikannya langsung kepada wanita itu alih-alih memberikannya kepada pelayan, bukankah akan sangat malu menjadi wanita tersebut.
" Ini, sebuket ayam goreng untukmu, makan sampai perut mu meledak " Ucap Ken menaruh nampannya di hadapan Kiran.
" Hei... " Ucap Kiran jengah.
" Kenapa harus berbuat sampai begitunya, kenapa tidak kembalikan saja dompetnya, kasihan sekali dia, lihat dia pasti sangat malu " Lanjutnya.
" Itu masih dalam kategori sopan jika di banding dengan rhoma " Jawab Ken acuh dan mengambil sandwich dari nampan lalu memakannya.
" Hm ? " Kiran memiringkan kepalanya bingung.
" Jika itu terjadi pada Rhoma, kau tau apa yang akan di lakukan ? Dia akan menginjak-injak dompet itu sampai rusak lalu membuangnya ke tempat sampah " Jawab Ken santai.
" Wuah dia memang kejam ya ? " Gumam Kiran heran.
" Dimataku hanya kau wanita yang boleh menarik perhatianku, selebihnya tidak, tapi di mata kakakku yang manusia purba itu, hanya Marimar yang seorang wanita, lainnya bukan " Jelas Ken santai.
" Dia memang mengerikan " Gumam Kiran lagi, takjub dengan pemikiran kedua saudara itu. Dia lalu mengambil sepotong ayam goreng hendak memakannya.
" Aku ingat !! " Pekik Ken keras membuat Kiran terkejut hingga menjatuhkan ayam gorengnya di atas piring.
" Apa ? " Tanya Kiran panik.
" Desa hobit itu seperti desa teletubies " Jawabnya antusias.
" Tapi sayang formasi kita tidak pas " lanjutnya berubah sedih.
" Apa ? " Ulang Kiran yang masih syok tidak percaya sedari tadi Ken memutar otaknya hanya untuk mengingat hal seperti itu.
" Harusnya kita pas, tapi kasihan Dylan dia tidak akan kebagian peran, Raline tentu saja akan sangat lucu jika menjadi mataharinya. Kira-kira Dylan marah tidak ya kalau kita tidak membaginya peran kali ini ? Aku takut dia akan tersinggung dan merasa tersisih. Kasihan Dylan yang malang " Oceh Ken lagi.
" Heol daebak ! " Gumam Kiran melongo tak percaya isi pikiran Ken hanya sebatas itu.
Di tempat lain...
" Hachi... hachi... " Dylan mengusap hidungnya yang terasa gatal.
__ADS_1
" Ruang perpustakaan pasti banyak debunya " Ucapnya seraya menggerak-gerakkan tangannya seperti menyingkirkan debu-debu yang tak terlihat di hadapannya. Lalu berjinjit untuk mengambil buku di deretan paling atas di rak buku perpustakaan.