
Bel masuk sudah berbunyi, Blair yang tidak sempat kembali ke ruang uks memutuskan segera kembali ke kelas meski perutnya masih terasa sakit. Namun rasa bingung di kepalanya masih lebih terasa di bandingkan dengan perutnya yang kram.
Semua teman-temannya sudah berada di kelas dan sedang sibuk sendiri sembari menunggu kedatangan guru. Mungkin hanya Blair yang terakhir masuk.
Dengan wajah yang lesu dia berjalan menuju bangkunya. Sepanjang jalan tadi dia terlalu sibuk merutuki dirinya sendiri hingga tidak sempat mengatur ekspresinya.
Dylan yang sedari tadi sudah kebingungan saat melihat bangku kosong Blair itu pun langsung menghela napas lega begitu melihat kedatangannya.
Dia membantu menarikkan kursi untuk Blair saat Blair semakin mendekat. Namun wajahnya yang semula merasa lega sekarang berganti cemas saat melihat wajah Blair yang pucat dan semakin bertambah lesu.
" Kau ini dari mana saja sih ? " Tanya Dylan menahan kesal bercampur cemas.
" Dari sana, zona berbahaya " Jawabnya lesu lalu menghempaskan tubuhnya dengan keras.
" Zona berbahaya ? " Dylan yang tidak paham ucapan Blair itu mengerutkan keningnya dan meniliknya dari atas sampai bawah.
" Hem.. " Hanya itu yang bisa di ucapkan Blair sebagai jawaban, kemudian langsung membenamkan wajahnya ke atas meja. Kalau Dylan tau aku mengancam bu Kiran seperti itu pasti dia membenciku, dia akan berpikir aku gadis yang jahat berhati busuk, bagaimana ini ?
" Bangun dulu " Dylan yang tidak puas mendengar jawaban Blair langsung menarik pundak Blair agar menghadapnya.
" Kau dari mana ? " Tanyanya lagi semakin panik tapi tetap bisa mengontrol volume suaranya agar tidak memancing perhatian.
" Dari sana " Jawabnya menunduk lesu, takut menatap wajah Dylan.
" Sana mana ? Jawab dengan jelas " Tuntutnya lebih jauh, namun Blair yang tidak pandai mencari alasan itu memilih diam saja sembari memegangi perutnya yang sedang kram.
Aish kacau semua !
Rutuknya kesal.
Pandangan mata Dylan langsung mengikuti gerakan tangan Blair yang mendarat di atas perutnya.
" Perutmu sakit ? " Tembak Dylan tanpa basa-basi.
Blair hanya mengangguk lemas sebagai jawabannya. Melihat hal itu Dylan dengan sigap segera mengambil jaketnya dari dalam tas, melipatnya jadi beberapa bagian dan meletakkannya di meja Blair.
" Pakai ini sebagai bantalan kepala mu " Tepuknya pelan pada lipatan jaketnya.
Blair yang memang sudah kalut itu langsung menuruti perintah Dylan, meletakkan kepalanya di atas jaket menghadap ke arah Dylan. Merasa ini kesempatan emas baginya karena jika Dylan terus saja bertanya mungkin dia akan mengaku dan hal itu tidak boleh terjadi, begitu pikirnya.
" Kalau sakit harusnya ke ruang uks " Omel Dylan khawatir, dia langsung mengeluarkan kantong plastik dari dalam lacinya, memeriksanya isinya. Sementara Blair hanya diam memperhatikannya.
" Atau kau.. " Omelan Dylan berhenti, membuat Blair mengernyitkan keningnya.
" Atau apa ? " Tanya Blair lemas.
" Tidak jadi " Kilah Dylan menggelengkan kepalanya, tadinya dia ingin bilang kalau-kalau Blair ingin pulang untuk beristirahat. Namun sisi egoisnya tidak menginginkan hal itu, baginya lebih baik melihat Blair kesakitan tapi tetap berada di jangkauan mata dan tangannya daripada tersiksa rasa khawatir karena tidak bisa melihatnya.
" Ck " decak Blair lirih.
" Selalu begitu " Gumamnya kemudian memutar bola matanya.
" Sudah jangan banyak bicara, ini minum obat pereda nyeri dulu " Dylan mengambil satu butir tablet mefenamic acid yang di mintanya pada dokter jaga tadi.
" Kau bawa begituan ke sekolah ? " Tanya Blair polos.
" Tidak, aku memintanya dari dokter jaga di ruang uks tadi sewaktu jam istirahat " Jawab Dylan, merobek pembungkus obat itu dengan menggigitnya.
Degub, degub, degub !! Bisa Blair dengar dengan keras detak jantungnya, melihat secuil adegan yang menurutnya seksi itu membuat darahnya berdesir.
Sejak kejadian ciuman yang gagal itu, Blair selalu saja membayangkan bibir Dylan dan bagaimana rasanya sebuah ciuman. Apakah benar terasa sangat nikmat seperti di drama-drama yang di tontonnya ?
Tanpa sadar dia memejamkan matanya, membayangkan bibir pink natural milik Dylan perlahan mendekat ke arahnya.
Iya benar begitu, cium aku, cium, cium, cium...
Batinnya girang dan tanpa sadar juga dia sudah memajukan bibirnya, seperti siap menerima ciuman yang sudah di nantikannya.
Eh ? Kok rasanya keras sih ? Bibir Dylan seperti plastik. Atau memang begini rasanya ciuman itu ? Tidak enak
Batinnya bertanya-tanya sendiri.
Perlahan-lahan dia membuka matanya dan langsung terhenyak saat melihat sesuatu yang buram berwarna hitam di depannya.
" Kaget aku " Gumamnya lirih sambil mengelus-elus dadanya.
Dylan yang sedang mengulurkan botol minumannya itu bingung melihat tingkah Blair.
" Kau ini tadi katanya minta minum " Decaknya kesal.
" Oh ? " Blair memincingkan matanya, menangkap maksud ucapan Dylan.
" Kan ku suruh kau bangun minum obat, kau tidak mau malah memanyunkan mulutmu, mana bisa minum obat dengan posisimu begitu " Ucapnya semakin kesal melihat keonengan Blair yang tidak tepat waktu menurutnya.
Blair langsung menghela napas lega begitu mendengar penjelasan Dylan, lalu tersenyum kikuk.
Huuuh untung saja, ku pikir tadi bibir Dylan rasanya seperti plastik, sempat syok aku.
Dia kembali menepuk-nepuk pelan dadanya sembari mengatur napas.
" Sudah cepat minum ini sebelum gurunya datang " Perintah Dylan tegas namun lembut, mengulurkan tangannya yang memegang tablet obat pereda nyeri tersebut, dan tangan lain yang memegang botol minuman.
Blair mengambilnya keduanya, dan bersiap akan meminumnya.
" Eh tunggu dulu " Cegat Dylan.
" Kau tidak punya penyakit lambung kan ? Karena obat itu sedikit tidak baik untuk penderita penyakit lambung " Lanjut Dylan bertanya.
" Tidak tenang saja, lambung ku setebal kulit badak, tahan malu juga tahan banting " Jawab Blair sambil meringis lucu lalu dengan cepat meminum obatnya bersama satu tegukan air.
" Terima kasih ya " Ucap Blair setelah selesai minum dan menutup botolnya, lalu mengulurkannya kembali kepada Dylan.
" Sudah jangan di pikirkan, yang penting kau baik-baik saja " Jawab Dylan acuh mengambil kembali botol minumannya dan meletakkannya di tas.
" Sini " Panggilnya kemudian berdiri.
" Kemana ? " Tanya Blair bingung.
" Pindah tempat duduk dengan ku, jadi sepanjang pelajaran nanti kau bisa membaringkan kepalamu tanpa terlihat guru. Aku akan menghalangi pandangannya " Ucap Dylan menggeser jaketnya yang akan di gunakan Blair sebagai bantalan.
Dengan patuh Blair mengikuti perintah Dylan sambil terus menatapnya. Perasaan bersalah semakin menghujam jantungnya.
Bagaimana kalau dia tau ternyata aku seorang gadis yang jahat ? Aku sudah mengancam orang lain yang dekat dengannya, dia pasti tidak akan suka itu. Raline saja tidak mengancam ku meski aku dekat dengan kekasihnya.
Batinnya merasa frustasi lalu meletakkan kepalanya di atas jaket, menatap Dylan lekat-lekat.
Laki-laki yang baik sepertinya sering sold out duluan, beruntungnya Raline...
__ADS_1
Batinnya memelas lalu menghela napas dan memejamkan matanya, menghalau rasa sesak di dada yang tiba-tiba saja menghimpitnya. Dia melingkarkan tangannya ke arah perut, seolah sedang memeluk dirinya sendiri.
Dylan yang mendengar helaan napas Blair menoleh ke arahnya, dengan mata yang terpejam Blair sedikit meringis kesakitan sembari memegangi perutnya, setidaknya begitu yang di sangkakan Dylan.
" Sakit sekali ya ? " Tanyanya lirih berbisik.
Blair yang mendengar suara Dylan membuka matanya perlahan, dan langsung mendapati wajah cemas Dylan di hadapannya.
Aaahh... aku bisa gila kalau begini terus, bolehkah aku jadi kekasih kedua mu saja ?
Jerit batinnya, lalu tanpa sadar matanya berkaca-kaca, mendadak suasana hatinya juga ikut buruk dan dia ingin menangis saat ini.
" Iya sakit sekali " Jawabnya lirih, menggambarkan rasa berdenyut nyeri di dadanya.
" Bagian mana yang sakit " Tanya Dylan penuh perhatian.
Hati, hatiku yang sakit.
" Sini " Blair memegang tulang punggung bagian bawahnya, tepat di sekitar pinggang.
Lalu tanpa mengucapkan apapun Dylan langsung mengelus-elusnya dengan sedikit tekanan layaknya memijat.
" Sini ? " Tanyanya memastikan.
Perasaan nyaman langsung membanjiri Blair, nyaman karena di sentuh oleh Dylan, dan nyaman karena Dylan memang memijit titik sakitnya.
" Sudah kau tidur saja kalau bisa " Perintah Dylan lalu kembali menghadap buku catatan di depannya dengan tangan kirinya yang masih terus memijit Blair.
Blair memejamkan matanya, berusaha keras menahan agar tangisnya tidak pecah. Suasana hatinya benar-benar buruk saat ini, tiba-tiba saja sakit dan tiba-tiba saja melankolis.
Guru pelajaran pun telah datang dan keadaan kelas langsung hening seketika, seolah paham jika Blair memang sedang ingin menenangkan diri. Mereka semua larut dalam menerima penjelasan guru, tidak sadar bahwa jika di bangku paling belakang, di sudut yang tersembunyi dari depan, Blair yang sedang membaringkan kepalanya dengan Dylan sedang memijit punggungnya.
Tiga jam pelajaran dengan dua mata pelajaran yang berbeda sebelum bel makan siang berbunyi harus mereka tempuh. Namun semua itu di lalui Blair dengan hanya rebahan saja, meskipun cuma kepalanya. Dan selama itu juga tangan Dylan tidak berhenti untuk mengelus-elus juga memijit tulang punggung bawah Blair.
" Selamat siang " Kata perpisahan dari guru di jam ke lima itu mengakhiri pelajaran, lima belas menit lebih awal sebelum bel makan siang.
Semua murid langsung meregangkan tubuhnya dan bersorak girang. Mendapat bonus waktu lima belas menit artinya mereka bisa berada di urutan pertama antrean makan siang. Dengan wajah sumringah sebagian murid langsung membereskan bukunya dan kemudian meninggalkan kelas, berjalan menuju kantin dengan perlahan jadi saat nanti bel makan siang berbunyi mereka sudah berada di area kantin.
" Blair " Teriak Bella yang duduk di bangku depan, dengan cepat membalikkan badannya.
" Hah ! " Pekiknya kaget begitu melihat wajah Dylan dan bukannya Blair.
" Apa ? " Dengan tatapan mata yang tajam juga nada yang ketus Dylan bertanya. Tapi pertanyaannya seperti mengisyaratkan jika dia tidak butuh jawaban.
Bella dengan takut-takut menoleh ke arah samping Dylan dan mendapati Blair sedang tertidur.
" Bla... " Panggilnya kemudian.
" Sstt... " Desis Dylan dengan cukup keras.
" Kau itu berisik sekali sih " Ucapnya sinis dengan menyeramkan.
" A-aku ma-mau memanggilnya, bukan kau " Tantang Bella memberanikan diri.
" Kau buta ya ? Tidak lihat orang sedang tidur " Jawab Dylan dingin.
" Ck " Dengan memberengut kesal Bella berdecak dan membalikkan badannya.
" Menyebalkan " Sempat terdengar rutukan dari Bella sebelum dirinya memutuskan untuk mengajak Merry teman sebangkunya pergi.
" Lagian kau sendiri kenapa menjawabnya " Suara Merry menyalahkan Bella, mereka berdua sudah separuh jalan menuju pintu kelas.
Ada yang sangat serius melihat layar datar yang sedang di genggamnya dan ternyata sedang bermain game online dengan suara latar yang cukup keras dan ada yang sibuk streaming video dengan memakai headsetnya. Praktis, mereka semua mengabaikan Dylan dan Blair yang ada di bangku pojok. Bangku tambahan yang tidak pernah di harapkan kehadirannya dulu. Makanya tidak pernah ada yang mau repot-repot menoleh ke arah bangku Dylan, mereka seperti sudah terbiasa menganggap Dylan tidak pernah ada.
" Bangun " Bisik Dylan lirih mengguncang pundak Blair.
" Hmm... " Gumam Blair sebagai jawaban.
" Sudah hampir waktunya makan siang " Ucap Dylan lembut.
Blair membuka matanya perlahan, kemudian memincing saat cahaya terang matahari menyilaukan matanya.
" Masih sakit ? " Tanya Dylan lembut.
Blair yang belum sepenuhnya sadar itu mengerjapkan matanya berulang kali.
Ya ampun aku ketiduran ? Di depan Dylan ? Aish !!! Kok bisa siiiiih ?!?!
Erangnya dalam hati. Dia bukan tipe orang yang bisa tidur di mana saja, hanya di tempat-tempat yang menurutnya nyaman baru dia bisa tidur dengan nyenyak.
Dan tentu saja, pijatan lembut Dylan sudah membuainya dan membuatnya lebih dari nyaman.
Kruuk, kruuk, kruuk !! Belum lagi Blair mengatasi rasa malunya karena tertidur sekarang perutnya pun seolah ingin membuatnya semakin malu.
Dylan tersenyum mendengar bunyi perut Blair yang di rasanya cukup keras. Lalu tanpa banyak bicara lagi Dylan merogohkan tangannya ke dalam laci mejanya yang di tempati Blair saat ini.
Tubuh Dylan yang otomatis condong ke depan mengikis jarak antara mereka berdua. Hingga Blair bisa merasakan hembusan napas Dylan yang hangat di pipinya.
Oh my gosh !!! Apalagi ini, jantung mana jantung ?
Dengan panik dia meraba dadanya sendiri, memastikan organ vitalnya itu masih bekerja karena yang dia rasakan saat ini adalah mati rasa, tubuhnya menegang dan lemas secara bersamaan. Entahlah, apa kata yang pas untuk menggambarkan keadaannya saat ini. Yang jelas jika itu berhubungan dengan Dylan, maka bisa di bilang dia tidak normal.
" Nih " Ucap Dylan setelah menegakkan punggungnya lagi dan kembali ke posisi semula. Dia mengambil kantong plastik berwarna putih yang cukup besar, dan mengeluarkan beberapa isinya.
Blair sibuk mengatur napas dan juga meredakan debarannya lebih dulu sebelum kembali berinteraksi dengan Dylan.
" Makan ini dulu " Dylan mengulurkan kue coklat kesukaan Blair.
Blair menegakkan tubuhnya perlahan, sambil terus mengatur napasnya.
Dengan canggung dia menerima kue coklat yang di ulurkan Dylan. Lalu memakannya.
" Pelan-pelan saja " Ucap Dylan sembari memiringkan tubuhnya ke samping dan mengamati Blair yang sedang makan, salah satu ekspresi favoritnya, karena Blair seperti anak kecil jika sedang makan, belepotan dimana-mana.
" Harus begitu ya melihat ku ? " Tanya Blair canggung, merasa sungkan Dylan melihatnya sampai sebegitunya.
" Kenapa ? " Tanya Dylan bingung.
" Tidak, hanya saja aku merasa... " Jawab Blair sambil berpikir mencari kata yang pas. Dylan menunggunya dengan sabar dan terus saja tersenyum, gemas sendiri melihat ekspresi bingung Blair yang menurutnya imut dan polos.
" Merasa jadi orang yang spesial buatmu " Gumamnya lirih lalu kembali memakan kue coklatnya, salah tingkah sendiri.
" Pft... " Dylan hampir saja kelepasan tawanya mendengar gumaman Blair, tapi dia berusaha menahannya.
" Pokoknya jangan sering-sering lihat aku dengan cara seperti itu, tidak baik untuk kesehatan jantung ku " Lanjut Blair mengalihkan pembicaraan.
" Kenapa ? " Tanya Dylan berubah serius, mendengar kata kesehatan jantung langsung membuat pikiran Dylan fokus pada penyakit Blair, penyakit yang di kiranya sendiri.
__ADS_1
" Apa aku membuat sakitmu bertambah parah ? " Tanyanya takut-takut.
" Tidak " Jawab Blair polos.
" Oh ya " Seru Blair ingat sesuatu, sudah lama dia ingin bertanya dari mana Dylan bisa menyangka jika dirinya memiliki penyakit jantung.
" Memangnya kau tau dari siapa kalau aku sakit jantung ? " Tanyanya penasaran.
" Umm... " Dylan melirik ke atas, berusaha menyusun kalimatnya dengan hati-hati. Mengingat jika dirinya mungkin saja menjadi penyebab pingsannya Blair kala itu.
" Dulu sewaktu aku sedikit kurang sopan padamu " lanjutnya canggung.
" Hem " Blair mengangguk-angguk antusias saat mendengarkan, pikirnya dia harus berterima kasih pada siapapun itu yang telah membuat Dylan salah paham. Karena orang itulah dia bisa merasakan manisnya di perhatikan, jika orang itu perempuan dia akan menganggapnya saudara, jika dia laki-laki Blair akan mentratiknya makanan enak sampai perutnya meledak.
" Dan kau pingsan saat pulang sekolah, aku sempat mendengar managermu bilang soal sakit jantung saat dia buru-buru masuk ke ruang uks " Cerita Dylan pelan.
" Yaah " Blair melenguh kecewa. Kalau manager Yo orangnya aku tidak jadi mentraktirnya deh.
" Tunggu dulu " Tahan Dylan panik begitu melihat wajah kecewa Blair.
" Kau jangan marah padanya, dia bergumam sendiri waktu itu, dan aku tidak sengaja mendengarnya karena aku berdiri terlalu dekat di pintu masuk " Jelas Dylan panik.
" Oh ? " Blair melongo bingung mendengar penjelasan Dylan.
" Aku tidak marah padanya kok " Jawabnya polos.
" Lalu kenapa kau terlihat seperti kecewa padanya ? " Kali ini Dylan yang kebingungan.
" Aku bukan kecewa karena hal itu, hanya kecewa karena hal lain " Jawab Blair beralasan.
" Syukurlah, ku kira kau akan menegurnya " Jawab Dylan lega.
" Oh manisnya, kau bahkan perhatian sekali pada manager ku " Ucap Blair gemas lalu tanpa sadar mengelus-elus kepala Dylan.
" Cih " Cibir Dylan menahan senyum.
" Kau itu tidak pantas mengusap kepala ku begitu " Dylan meraih tangan Blair dan menggenggamnya di atas pangkuannya.
" Kau itu yang lebih pantas di usap begini " Lanjutnya lembut dan mengelus kepala Blair dengan satu tangannya yang bebas.
Aaaarrgghhh !!! Kau ini terbuat dari apa sih ? Kenapa bisa manis sekali.
Teriak batin Blair kegirangan.
Lima belas menit yang terasa bagai di kahyangan, begitulah perasaan Blair saat ini. Jika dulu dia sangat menyesal telah pindah sekolah, maka hari ini dia menarik semua perasaan buruk itu. Karena tanpa terduga justru sekolah yang di anggapnya sumber penderitaannya itu malah memberikannya pengalaman masa SMA yang tidak terlupakan. Kisah kasih di sekolah sebagai teman tapi mesra.
Sementara Dera yang datang untuk menjemput Dylan mengajaknya makan siang bersama harus menelan pil pahit menyaksikan kemesraan antara Dylan dan Blair dari dekat pintu. Dia lupa tekad bajanya untuk menjadi duri dalam durian merupakan kesalahan besar, karena duri pada buah durian berada di luar, tidak akan pernah bisa masuk ke dalam merusak manisnya si raja buah itu. Harusnya dulu dia bertekad menjadi duri dalam daging saja, baru pas.
Bersambung....
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Epilog....
Cieeeee yang punya teman tapi mesra....
Kiran langsung saja mengetikkan pesannya di grup chat power rangers.
Siapa ? Siapa ?
Balas Ruby dengan cepat penuh rasa penasaran.
Dylan...
Balas Kiran di imbuhi dengan emoticon tawa penuh.
Benarkah ?
Ruby membalas tak kalah cepat dengan rentetan emoticon terkejut yang banyak.
Si nunu ?
Ken ikut menimpali tak percaya ?
Iya, dan gadisnya sangat cantik sekali.
Balas Kiran cepat.
Wuah... ayo kita rayakan.
Balas Ruby bersemangat.
Boleh, boleh...
Ken ikut menimpali.
Rai yang sedang sibuk bekerja itu hanya menyimak saja pembicaraan satu-satunya grup chat yang ada di aplikasi whatsup nya.
Sepi dan tidak lagi berbunyi, mungkin ketiga orang itu menunggu persetujuan dari pemimpin rangers.
Hancurkan rangers pink...
Balas Rai singkat dengan emoticon devil yang tertawa jahat.
Siaaapp...
__ADS_1
Ketiga anggota lainnya langsung membalas dengan girang mendapat persetujuan dari Rai.
Sementara sang tokoh utama sedang asyik bercengkarama dengan Blair hingga tidak tau ulah apa lagi yang akan di perbuat oleh kakak-kakaknya.