
" Kalian paham " Teriakan lantang dari guru olahraga menggema di seluruh penjuru lapangan indoor tersebut.
Namun bukannya jawaban paham yang terdengar dari murid-murid yang di didiknya, malah keluhan panjang berdengung yang dia dengar.
" Ah malas sekali "
" Tidak bisa kah hanya lari-lari kecil saja pak ? "
" Ok fix! aku sarapan terlalu banyak tadi pagi, jadi sudah pasti aku gagal " Beragam ocehan putus asa dari murid-muridnya saling bersautan.
Salah satunya Blair, hanya saja dia menyuarakan keluhannya dalam hati, demi apalagi jika bukan demi menjaga imagenya.
" Sudah jangan mengeluh, ayo cepat, cepat " Perintah tegas dari guru itupun seakan menjadi keputusan final yang tidak bisa di ganggu gugat.
Mereka semua segera mencari pasangan masing-masing untuk melakukan sit up. Yang satu sit up dan yang lainnya menahan kaki, begitu juga nanti sebaliknya, mereka akan berganti-gantian dengan jeda waktu yang telah di tentukan. Meskipun malas, mereka tetap saja melakukannya karena kalau tidak maka dalam ujian pelajaran olahraga dadakan ini mereka akan mendapat nilai buruk.
Blair yang memang tidak terlalu mengenal teman-teman sekelasnya itupun hanya bisa celingukan bingung saat mereka semua menghambur menghampiri satu sama lain. Hingga pada akhirnya hanya tersisa Dylan yang seolah sudah terbiasa dengan situasi semacam ini, situasi di abaikan dan tidak pernah menjadi pilihan teman-temannya. Dan hal itu membuatnya terlihat sangat tenang.
" A-aku.... " Blair masih sibuk menoleh kesana kemari mencari partner tapi teman-temannya seolah lebih sayang diri mereka sendiri daripada rasa kagumnya pada Blair. Mereka tentu saja tidak ingin menjadi partner dengan Dylan, si pembawa virus dan kuman jahat menurut mereka.
Dylan yang melihat Blair kebingungan itu pun hanya tersenyum lucu, lalu berjalan mendekat perlahan ke arahnya.
" Sepertinya mereka tidak segila itu untuk menjadi penggemarmu ? " Cibir Dylan dengan senyum miringnya.
Blair melirik tajam ke arahnya, kesal mendengar komentar Dylan.
" Cih " Cibirnya ketus, lalu menatapnya dengan tatapan menantang.
" Kau sendiri bagaimana ? Tidak ada yang mau menjadi partnermu tuh ? " Balasnya mencibir seraya mendekap tangannya di dada, satu sama pikirnya.
" Aku ? " Dylan mencebikkan bibirnya seraya mengangkat bahunya.
" Tidak butuh tuh " Sombongnya lalu berlalu pergi dari hadapan Blair.
" Hiiiyy " Geram Blair kesal, jika sedang menyebalkan begini sikap Dylan sangat asam, melebihi asamnya lemon hingga mampu membuat Blair berdigik menahan marah.
" Sudah semua ? " Suara keras dari guru olahraga membuat Blair semakin panik, sepertinya hanya tinggal Dylan yang tersisa, jika dia tidak mau menjadi partnernya maka sudah bisa di pastikan guru yang memutuskannya, hanya masalah siapa yang memutuskan, hasil akhirnya akan sama saja. Dylan dengan Blair.
" Sudah " Teriakan dari teman-temannya membuat Blair menyerah. Tidak ingin membuang-buang waktu juga membuang-buang tenaga, dia pun segera menghampiri Dylan. Langsung berdiri di sampingnya tanpa mengucapkan apapun.
Dylan yang melihat sikap lucu Blair itu pun hanya bisa menahan senyum.
" Jangan GR, pada akhirnya aku juga memang harus menjadi partnermu " Ucap Blair menjelaskan situasinya saat ini.
" Oh aku GR sekali, jantungku sampai berdetak sangat cepat " Goda Dylan dengan sikap imut yang di buat-buat.
" Hentikan " Sinis Blair ketus.
" Aku tidak bohong " Melihat Blair yang kesal malah semakin membuat Dylan ingin menggodanya terus.
" Ku bilang hentikan " Geram Blair di antara giginya yang terkatup rapat.
__ADS_1
" Tidak percaya ? " Dylan masih saja asyik menggoda Blair, dan Blair langsung membuang mukanya kesal di iringi decakan lirih dari mulutnya.
" Nih " Dylan meraih tangan Blair yang sedang terlipat didadanya dan menaruhnya di dadanya sendiri.
" Ya ampun " Pekik Blair terkejut, dia menelan ludah saat tangannya berada di dada bidang Dylan.
" Hahaha... " Dylan tergelak keras melihat ekspresi Blair yang sedang melongo menatap dadanya.
" Iiish !! " Decaknya kesal lalu dengan kasar menepis tangan Dylan.
Tahan Blair, tahan, ini ujian.
Dia mengelus-elus dadanya menenangkan perasaannya yang kembali di aduk-aduk.
Dadanya bidang juga ya, terlihat sangat...
Tanpa sadar bibirnya mengulas senyuman tipis saat membayangkan ada roti sobek di balik seragam itu, seperti model laki-laki yang sering dia lihat fotonya di internet. Macho dan seksi.
Haah ?!?! Pikiran mesum macam apa itu, Blair kenapa otakmu kotor sekali sih !!
Rutuknya dalam hati lalu menampar pelan pipinya untuk menyadarkan diri. Lalu sedetik kemudian mengelus-elus pipinya yang terasa panas.
Dylan yang terus saja mengawasi tingkah lucu Blair hanya bisa tersenyum-senyum sendiri, tiba-tiba pikirannya melayang pada the amburadul familynya.
Dia cocok menjadi anggota the amburadul family dengan tingkahnya yang tidak jelas itu.
Batinnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Murid-murid pun langsung mengambil posisinya masing-masing, dan guru olahraga berjalan berkeliling memantau keadaan seraya membenahi posisi para muridnya agar tidak terjadi cedera otot akibat salah gerakan olahraga.
" Kau atau aku yang berbaring dulu ? " Tanya Dylan kepada Blair.
" Be-berbaring ? " Blair yang memang sudah kehilangan akalnya akibat serangan jantung yang di sebabkan oleh Dylan itu pun semakin bertambah bingung. Mendengar kata berbaring yang ada di pikirannya adalah berbaring seperti di atas ranjangnya yang empuk. Dia menatap lantai lapangan lalu menatap Dylan secara bergantian.
" Ayo cepat " Decak Dylan tidak sabaran, ini adalah ujian dan gerakan lelet dari Blair tentu akan sangat menghambatnya dan mungkin malah membuat nilainya jelek.
" Iya iya " Dengan bersungut-sungut kesal Blair langsung berbaring di atas lantai lapangan, namun bukannya berbaring dengan posisi sit up dia malah berbaring dengan posisi layaknya akan pergi tidur.
" Aish si oneng ini " decak Dylan lirih. Lalu tanpa permisi lebih dulu dia langsung mencondongkan diri ke atas tubuh Blair yang sedang tidur terlentang.
" A-apa ? Ma-mau apa kau ? " Blair semakin gelapan saat tubuh Dylan kini berada di atasnya, dengan lembut mengangkat kepala Blair dengan satu tangan, lalu tangan yang lainnya mengarahkan kedua tangan Blair dan meletakkannya di bawah leher.
Aku sakit, benar-benar sakit, jantung aduh jantungku.
Tanpa sadar Blair menahan napas saat dia menatap Dylan dengan jarak yang begitu dekat, sangat dekat, dia bahkan bisa merasakan hembusan napas Dylan menyentuh keningnya.
" Kalau posisi mu tidak benar nanti punggungmu cidera, lalu lehermu akan sakit " Ucap Dylan dengan suaranya yang sehalus beledu.
Namun Blair yang sudah tak sadarkan diri itu sama sekali tidak bisa mendengarkan apa kata Dylan, di telinganya saat ini suara Dylan bagaikan nyanyian nina bobo pengantar tidurnya. Khalayannya terbang kemana-mana, ranjang yang empuk, taman bunga yang indah, dan alunan musik langsung dari penyanyinya. Tanpa sadar dia jadi memejamkan matanya dan tersenyum-senyum sendiri.
" Oiii !! " Dylan memukul kaki Blair lumayan keras, membuatnya langsung terhenyak dan merenggut semua bayangan indahnya tadi. Dylan sudah ada di posisinya semula.
__ADS_1
" Kau ini ternyata orang yang aneh ya, dari tadi sukanya melamun terus " Dylan berdecak kesal dan menatap Blair dengan sebal.
Blair memandang sekitarnya dan melihat teman-temannya telah melakukan sit up, dia pun gelagapan salah tingkah. Lalu saat dia masih dalam posisi yang bingung belum siap, Dylan yang tidak sabaran itupun sudah menekuk kedua lutut Blair dan menahannya dengan kedua tangannya. Dengan cepat Blair mengatur napasnya, berusaha mengambil oksigen sebanyak-banyaknya karena mendadak dia lupa caranya bernapas saat wajah Dylan kini berada di atas lututnya.
" Ayo cepat oneng " Geram Dylan tak sabaran, wajahnya benar-benar kesal saat ini. Dia bisa saja melakukan sit up sendirian tanpa butuh bantuan orang lain untuk menahan kakinya, dan mendapatkan nilai sempurna untuk ujian olahraganya. Tapi bersama Blair, dia malah membuang-buang waktu.
" Ya ampun iya iya !! " Balas blair juga ikutan kesal karena sedari tadi Dylan terus saja mengomelinya.
" Sa... " Dylan ikut membantunya menghitung, namun Blair sama sekali tak bergerak dari posisi terlentangnya.
" Henggg !! " Sekuat tenaga Blair berusaha mengangkat punggung untuk melakukan sit up namun seperti ada magnet besar yang menahan tubuhnya, membuatnya tak bisa bergerak.
" Haah " Dengan napas yang tersengal-sengal Blair menghempaskan tubuhnya kembali ke lantai, untuk kesekian kalinya dia mencoba mengangkat tubuhnya namun gagal. Dia tidak bisa melakukan sit up, bahkan sekalipun tidak.
" Aku tidak bisa, sudah tidak bisa " Ucapnya putus asa dan menyerah, tidak mau melakukannya lagi. Dylan hanya bisa menghela napas melihat tingkah Blair.
Priiitt !! Terdengar bunyi peluit panjang sebagai tanda pindah posisi. Dengan sigap Dylan lalu menarik tangan Blair untuk membantunya bangun, namun karena terlalu keras tarikan tangannya Blair sampai terlempar ke depan dan menabrak dada Dylan.
Hmm wangi...
Blair malah asyik mencium aroma tubuh Dylan. Membuat Dylan benar-benar kesal, lalu dengan kedua tangannya Dylan menyentakkan tubuh Blair ke samping dan kemudian berbaring untuk melakukan sit up tanpa penahan.
" Eh ? " Blair tersadar oleh sentakan keras dari dylan, dia sudah duduk di samping kaki Dylan yang sedang melakukan sit up. Dengan buru-buru dia langsung menahan kaki Dylan, melakukan tugasnya sebagai partner yang baik.
" Kenapa tidak menunggu ku dulu sih " Blair memanyukan bibirnya kesal, wajahnya ada di atas lutut Dylan.
" Kau lelet sekali sih " Jawab Dylan seraya mengangkat tubuhnya dan wajah mereka sangat dekat sekali hingga hampir saja hidung mereka bersentuhan.
" I-itu karena... " Blair mencari alasan yang tepat, tidak mungkin kan dia beralasan bahwa dia tidak bisa berkonsentrasi karena perubahan sikap Dylan, nanti pasti Dylan akan menganggapnya aneh. Dia memutar bola matanya ke atas, berpikir.
" Karena perutmu buncit ? " Tanya Dylan asal seraya terus bergerak naik turun.
" Enak saja ! " Omel Blair tidak terima, dengan alis berkerut dia menatap Dylan, namun waktunya tidak tepat, mata mereka justru kembali bertatapan karena Dylan sedang dalam posisi naik ke atas. Membuatnya lupa akan kekesalannya.
Jauh-jauh !! Aku bisa mati mendadak kalau begini terus.
Blair menarik kepalanya sedikit mundur kebalakang agar tidak perlu terlalu dekat saat nanti bertatapan. Lalu memilih mengabaikan seringai mengejek dari wajah Dylan yang merasa menang.
Priiit !! Kembali terdengar bunyi peluit dan semua murid dengan sigap berpindah posisi, belajar dari pengalaman dari sikap lelet Blair, Dylan lalu menyentakkan kakinya yang sedang di tahan Blair dengan keras, membuat Blair yang tidak siap langsung terhenyak ke depan. Jatuh ke atas tubuh Dylan yang masih berbaring. Dan hidung mereka saling bersentuhan.
Degub, degub, degub !! Hanya itu suara yang mampu di tangkap telinga Blair, detak jantungnya sendiri. Dia diam membeku di atas tubuh Dylan.
" Kan lelet lagi " Decak Dylan kesal lalu merangkulkan tangannya ke pinggang Blair dan dengan gerakan cepat memutar tubuh Blair ke bawah. Lalu bangun dan kembali menahan kaki Blair, melakukan tugasnya.
Bunuh saja aku dengan cepat !!
Teriak batinnya putus asa.
Sementara itu di samping lapangan, Dera yang sudah kembali dari mengambil minuman untuk Dylan sekali lagi menyaksikan adegan kasat mata dari Dylan dan Blair itu pun meremas kaleng minuman di tangannya. Hatinya berdenyut nyeri tak terkira, sakit tak berdarah. Air matanya pun tak tertahankan lagi, meluncur mulus tanpa hambatan.
Dylan kau jahat !!
__ADS_1
Dia berbalik dan pergi dari sana dengan berurai air mata.