Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Tiba-tiba


__ADS_3

" I..ni apa sayang ? " Tanya Adelia tertegun melihat beberapa orang berseragam rapi dengan sarung tangan sedang turun dari atas van seraya membawa amplop coklat berukuran besar-besar. Silih berganti mengangkut masuk amplop-amplop coklat itu kedalam rumah.


" Jangan tanya nanti ibu syok " Jawab Ruby malas lalu menghela napas jengah.


Mereka semua sedang berkumpul di depan pintu utama menyambut kedatangan direktur bank yang bertugas mengantarkan uang pecahan seribuan kepada Ruby.


" Kakakmu itu mengerikan ya ? " Bisik Kiran menyenggol lengan Ken yang berdiri disampingnya.


" Maklum lah, kan dia budak cinta " Jawab Ken asal.


" Kau tidak akan begini padaku kan ? " Tanya Kiran ragu-ragu, di tatapnya wajah Ken yang terlihat santai melihat kekonyolan sikap Rai.


" Tentu tidak lah sayang, aku hanya akan cemburu jika kau dekat dengan laki-laki lain, selebihnya aku akan bersikap normal " Jawab Ken lalu merangkulkan lengannya kepundak Kiran, membawanya kedalam pelukannya dan mencium keningnya.


" Tidak ku sangka ya kehidupan marimar berat juga " Bisik Kiran lirih.


" Ya untung saja itu dia, jika wanita lain aku ragu dia bisa menghadapi sikap kakakku lebih dari 2 hari " Jawab Ken santai.


Kiran memandangi Ruby dengan kasihan sekaligus lucu, melihatnya yang terus saja berdecak kesal, lalu menghela napas, lalu tersenyum, lalu berdecak kesal lagi, lalu menghela napas lagi, lalu tersenyum lagi membuatnya ingin bersedih sekaligus tertawa.


Dia berjalan ke arah Ruby dan berdiri tepat di sampingnya.


" Memangnya dia memberimu uang berapa ? " tanya Kiran kemudian.


" Jangan tanya, aku sedang kesal setengah mati " Ucapnya dengan mengerang.


" Kau mau menyumbangkan itu semua ke panti asuhan ? " tanya Kiran lagi.


" Entahlah, merepotkan saja, hanya masalah gambar uang harus jadi seperti ini, bukankah dia sudah keterlaluan ? " Maki Ruby kesal, melampiaskannya pada Kiran yang sedari tadi juga sibuk mengawasi setiap orang yang mondar mandir masuk kedalam rumah.


" Eh tapi kalau ku pikir-pikir lagi sepertinya tuan Rai benar memberikanmu uang seribuan " Celetuk Kiran asal, mendengarnya Ruby langsung menoleh dengan cepat dan mendelik ke arah Kiran.


" Bayangkan saja saat Raline sudah besar dan dia bermain sendirian di halaman ini, lalu kau sedang sibuk di dalam, tiba-tiba ada penjual es nung-nung lewat didepan rumah dan Raline ingin beli, kau tinggal bilang saja " ambil uang di meja ", sudah barang mesti Raline tidak akan membawa uang terlalu banyak, paling dia hanya akan mengambil beberapa lembar saja jadi dia tidak perlu menghitung kembaliannya kan ? Wuah tidak ku sangka tuan Rai memang jenius, dia pasti sudah memperhitungkan masalah ini " Oceh Kiran panjang lebar.


" Hahaha... " Tawa Ruby membahana begitu Kiran menyelesaikan kalimatnya, dia menatap lekat sahabat sekaligus saudara iparnya itu.


" Benarkan ? " Kiran ikut tertawa lalu mengangguk-angguk melihat Ruby yang sepertinya setuju dengan hipotesanya.


" Ya kau benar sekali " Ucap Ruby mengerang.


" Kau dan dia sama-sama anehnya " Lanjutnya mendelik semakin bertambah kesal.


" Hei, kau pikir dia akan membiarkan Raline jajan sembarang macam itu, dan juga memangnya kau kira Raline hidup di jaman kita yang saat kecil bebas bermain ke rumah tetangga dari pagi sampai sore dan membawa uang saku untuk beli es nung-nung " Omel Ruby ketus.

__ADS_1


" Oh iya ya " Kiran tersenyum kikuk.


" Maaf maaf, aku hanya terjebak nostalgia masa lalu melihat uang seribuan " Jelasnya.


" Lalu mau kau apakan uang seribuan sebanyak itu ? " tanya Kiran menunjuk tumpukan amplop coklat itu dengan dagunya.


" Entahlah " Jawab Ruby pasrah lalu menghela napas lagi.


Terlihat orang-orang itu telah menyelesaikan tugas mereka dan sekarang sedang berbaris rapi di samping mobil van yang mengangkut uang tadi. Direktur bank tersebut lalu menghampiri Ken dengan membawa map untuk ditanda tangani sebagai bukti serah terima.


" Anda boleh menghitungnya lebih dulu tuan, kami akan sabar menunggu " Ucapnya dengan sopan.


Ken menoleh ke arah Ruby untuk meminta persetujuannya.


" Kau mau menghitungnya ? " Tawar Ken santai.


Ruby menoleh ke arah Direktur bank tersebut yang menunggu jawaban darinya dengan senyum manisnya.


" Tidak usah, tidak perlu " Saut Ruby tergagap, dia tidak sudi menghitung tumpukan uang tersebut, bahkan membayangkan menghitungnya saja sudah membuatnya merinding.


" Baiklah kalau begitu silahkan tanda tangan di sini tuan " Menyodorkan map berisi kertas-kertas yang harus di tanda tangani oleh Ken.


Setelah urusan serah terima beres, mereka pun pergi dari mansion tersebut. Ruby dan yang lainnya juga kembali masuk ke dalam rumah.


" Kau yakin tidak ingin menghitungnya ? " Goda Ken asal.


" Yah paling tidak kau bisa membeli ratusan drum puding tabi dengan semua uang itu " Goda Ken lagi.


" Aish !! " Decak Ruby kesal lalu mengajak Adelia serta Kiran dan Raline untuk pergi ke ruangan bermain.


Ruangan yang telah disiapkan oleh Regis untuk tempat bermain Raline jika nanti sudah lebih besar.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sementara itu Dylan yang sudah bersusah payah berkonsentrasi dengan pelajaran yang di terangkan oleh guru yang ada di depan kelas itu pun menyerah. Sudah beberapa jam berlalu dan berganti mata pelajaran, namun tak ada satupun materi yang bisa di tangkap oleh ingatannya.


Baru kali ini dalam hidupnya dia merasa senang mendengar bel penanda berakhirnya jam pelajaran. Dan suara riuh ramai murid-murid yang lain pun mulai terdengar bersaut-sautan sesaat setelah guru keluar dari kelas.


Dylan menajamkan pendengarannya, mencoba mencari informasi apapun tentang Blair. Namun nihil, hari ini tidak ada satupun yang membicarakan Blair.


Dia mengeluarkan ponselnya lalu menghela napas jengah. Tak ada satupun aplikasi media sosial di ponselnya, jadi bagaimana mungkin dia bisa mencari tahu tentang media sosial Blair.


Keputusasaan mulai menyelimutinya, dengan kesal dia memasukkan ponselnya ke saku dan membenamkan wajahnya di meja.

__ADS_1


Aish !! Apa aku juga harus membuat akun instagr*m juga ya ? Atau Facebo*k ? Atau apa lagi ? Bisa-bisa aku gila sendiri memikirkannya.


" Dylan " Sebuah suara memanggil Dylan yang sedang terlengkup di atas mejanya.


Dylan menegakkan punggungnya perlahan melihat siapa yang memanggilnya, karena selama ini tidak ada satupun teman sekelasnya yang mau repot-repot memanggil namanya.


" Dera ? " Dylan memincingkan matanya tidak percaya, ini belum jam istirahat, dan lagi masih ada satu mata pelajaran lagi yang akan di tempuh Dylan.


" Para guru sedang rapat, jadi kita akan ada jam kosong " Jelas Dera seperti paham isi kepala Dylan.


" Mau belajar bersama ? " Tanyanya seraya mengangkat buku paket matematika yang tebal yang ada di pegangan tangannya.


" Ah ya " Jawab Dylan canggung. Disaat dia sedang malas belajar, entah kenapa dia justru di kejar-kejar kewajiban untuk belajar, tapi sebaliknya saat dia sedang bersemangat belajar, dia justru tidak mendapatkan motivasi dari siapapun atau apapun.


Dylan mengemasi barang-barangnya dan menaruhnya ke dalam tas, lalu berdiri dan mengajak Dera pergi ke perpustakaan saja.


" Anak yang satunya lagi tidak ikut ? Bukankah kelasnya juga jam kosong ? " Tanya Dylan beralasan, dia hanya sedang tidak ingin berkonsentrasi belajar, jadi dia akan membiarkan kedua rekan olimpiadenya yang memecahkan soal sedangkan dia akan melamun saja.


" Aa...um... dia tadi bilang agak tidak enak badan, jadi dia tidak bisa ikut belajar bersama " Jelas Dera dengan gugup. Dylan yang sudah sangat malas hanya mengangguk-angguk saja. Mereka pun segera mempercepat langkah mereka menuju perpustakaan.


Suasana di perpustakaan seperti biasanya selalu sepi, tidak banyak murid-murid yang mau ke perpustakaan meskipun koleksi buku-buku disana sangat lengkap. Mulai dari ilmu pengetahuan hingga novel yang sedang kekinian menjadi koleksi di perpustakaan sekolah Loyard.


Dylan dan Dera mencari bangku kosong yang ada di ujung ruangan.


" Kau kenapa ? " Tanya Dera setelah mereka duduk, dia memperhatikan Dylan tidak seperti biasanya. Jika Dylan selalu bersikap dingin dan acuh, maka kali ini diamnya lebih mengarah pada sikap malas.


" Tidak " Jawabnya singkat lalu membuka buku kumpulan soal matematika yang di bawa Dera.


" Kau sedang tidak mood belajar ? " Tanya Dera lagi.


" Tidak " Dylan tidak melepaskan pandangannya dari buku, berusaha menemukan konsentrasinya disana agar berhenti memikirkan Blair.


" Sudah tutup saja kalau begitu " Dera meraih buku yang ada di hadapan Dylan dan menutupnya, menatap Dylan yang sedang kebingungan dengan senyum manisnya.


" Kau sedang tidak konsentrasi sekarang, jadi percuma saja kita belajar " Lanjutnya.


Dylan menghela napas dan balik menatap Dera dengan jengah.


" Kalau begitu aku kembali saja ke kelas " Dylan berdiri dari duduknya dan berbalik.


" Tunggu " Cegah Dera memegang tangan Dylan.


" Tidak boleh kah aku mengenalmu lebih lagi ? " Tanya Dera ragu-ragu.

__ADS_1


" Apa ? " Dylan tertegun mendengar pertanyaan Dera. Baru kali ini ada orang lain yang mengatakan hal seperti itu padanya dan itu membuat jantungnya tiba-tiba berdetak dengan cepat.


Kenapa tiba-tiba...


__ADS_2