
Rai lebih dulu sampai di ruang makan karena Ruby harus menenangkan diri atas serangan mendadaknya di pagi hari.
Setelah berhasil menguasai dirinya dan bersikap normal dia segera turun menuju ke ruang makan.
Saat melihat Rai duduk di kursi, bayangan mereka berciuman mendadak muncul lagi membuatnya kesal sekaligus malu, wajahnya memanas dan memerah. Itu ciuman pertama nya.
Aku akan membuat perhitungan dengannya, pikir Ruby.
Di ruang makan semua berkumpul termasuk sekertaris Yuri dan penyihir Vi, namun mereka tidak ikut duduk di meja makan, mereka hanya berdiri di samping Tuan Regis dan penyihir Vi di samping Rai. Para pelayan sudah menyajikan makanan yang dimasak Ruby tadi.
Menjalankan peran sebagai istri yang baik, Ruby harus mengambilkan makanan untuk semua anggota keluarga, dan kemudian dia duduk disamping Ken alih-alih duduk di samping Rai.
“ Hei kakak ipar, kenapa duduk disebelahku bukan duduk disana? “ Tanya Ken sambil menunjuk kursi kosong sebelah Rai dengan wajahnya.
Ruby menghela nafas panjang dan lebih memilih untuk mengikuti saran Ken meskipun dia malas melihat wajah Rai, kejadian tadi masih membuatnya marah.
Ruby berdiri dan berjalan memutari meja makan menuju kursi sebelah Rai, tapi saat akan sampai di kursi itu tiba-tiba Ruby tersandung kaki penyihir Vi, dia sengaja melakukannya untuk membuat Ruby malu, namun ternyata Ruby malah jatuh terduduk di pangkuan Rai, mata mereka saling bertatapan.
Wajah Ruby merona merah seperti orang yang terserang demam, jantungnya berdegub tak karuan teringat lagi kejadian tadi pagi, tapi Rai tidak bereaksi sedikit pun.
“ Yaah... Kalian membuat semua orang iri “ Suara Regis mengagetkan Ruby akan posisinya, dia segera berdiri dan duduk disebelah Rai.
“ Hormati lah mereka yang tidak punya pasangan hahaha “ Lanjut Regis menggoda seraya menunjuk wajah sekertaris Yuri, Vivianne, dan Ken.
“ Waah lihat wajah kakak ipar merona malu, sepertinya kalian benar-benar sedang bahagia, jangan terlalu sering memperlihatkan kemesraan kalian di hadapan para jomblo, itu tidak baik untuk kesehatan mereka “ Goda Ken menimpali.
Tapi baik Rai maupun Ruby tidak menjawab.
Mereka semua makan dalam diam, sampai kemudian Regis membuka pembicaraan.
__ADS_1
“ Ruby apakah kau yang memasak telur gulung ini ? “ tanya nya.
“ Iya “ jawab Ruby dengan sopan.
“ Kau memang baik, aku sangat bosan dengan makanan yang dimasak para koki, dan sekarang nafsu makan ku bertambah karena ada menu yang berbeda dari biasanya “ Puji Regis.
“ Ah itu karena semalam Tuan Rai sepertinya mengalami hal buruk, jadi saya berinisiatif membuatkannya telur gulung itu “ Jelas Ruby.
" Dulu saat saya mengalami mimpi buruk di malam hari, ibu saya akan membuatkan telur gulung untuk sarapan, dan itu membuat suasana hati juga semangat saya kembali baik lagi " Lanjut Ruby.
Seketika Ruby ingat bahwa dia membuatkan masakan itu karena merasa kasihan dengan Rai, tapi setelah kejadian tadi pagi dia menyesal telah bersikap baik untuknya.
" Benarkah ? " Tanya Regis.
" Kau sungguh istri yang manis dan Ruby dia adalah suami mu, jadi panggilah dia dengan panggilan yang wajar, kalian bukan majikan dan pelayan " Regis menasehati Ruby.
" Baik " Ruby menjawab dengan sopan.
Setelah sarapan bersama semua anggota keluarga pergi untuk mengerjakan urusan mereka masing-masing, hanya Ruby yang tertinggal di rumah untuk melakukan jadwal pelatihan untuk menjadi nyonya Loyard.
Meskipun pernikahan mereka di rahasiakan untuk saat ini, tapi Tuan Regis memerintahkan bahwa suatu saat bagaimanapun juga pernikahan mereka harus di umumkan.
Dan menjadi nyonya di Klan Loyard bukan hal sembarangan, setiap perilakunya akan mendapat banyak sorotan, karena nya Rai memerintahkan Vivianne untuk melatih Ruby menjadi seorang “ Ratu “ agar tidak membuatnya malu, yang akan berpengaruh buruk terhadap citra Klan.
Vivianne jalan menuju sebuah ruangan melewati lorong yang menghadap ke taman air mancur, Ruby mengikutinya.
Mereka memasuki ruangan dengan banyak buku, seperti sebuah perpustakaan. Disana ada meja besar dan panjang terdiri dari beberapa kursi.
Vivianne duduk dikursi itu, pandangan matanya seperti seekor serigala yang menemukan mangsa.
__ADS_1
“ Apa pelajaran pertamamu ? “ tanya Vivianne ketus.
“ Tuan Rai menyuruh saya belajar bagaimana cara mengikat dasi “ jawab Ruby.
Vivianne tersenyum sinis melihat Ruby, merendahkannya.
“ Bagaimana bisa gadis bodoh seperti mu menjadi istrinya, bahkan mengikat dasi saja kau tidak bisa “ ejek Vivianne.
Vivianne kemudian meminta pelayan menyiapkan sebuah manekin dan sebuah dasi, dia mencontohkan bagaimana cara mengikat dasi. Hanya dengan sekali contohan saja kemudian Vivianne menyuruh Ruby mengulanginya. Dan Ruby tidak boleh membantah.
Di luar dugaan Vivianne juga telah menyiapkan sebilah rotan, setiap kali salah dalam melakukan ikatan dasi yang sempurna, dia memukulkan rotan itu ke paha Ruby.
Mendapat perlakuan seperti itu Ruby bereaksi dan melawan. Dia menahan rotan itu dengan tangannya.
“ Hei menurutmu aku melakukan ini atas perintah siapa ? “ Balasnya ketika Ruby menahan pukulan rotan itu.
" Kurasa Rai akan dengan senang hati mendengarmu membangkang dalam pelajaran.
Baiklah tidak perlu latihan lagi, dan mari kita lihat jika Rai marah kira-kira apa yang akan dilakukannya pada ayah tersayangmu yang sedang sekarat itu ? “ ancamnya kemudian.
" Aku menerima perlakuanmu bukan karena takut, tapi karena ayahku " Ruby menjawab sinis.
" Hei pelayan rendahan, kau pikir kau punya pilihan untuk melawan ? " Vivianne setengah berteriak mengetahui Ruby yang ternyata tidak takut dengannya.
" Aku tau pernikahanmu dengannya hanyalah sebuah kesepakatan, perlu kau tau kami tumbuh bersama, aku hafal setiap hal tentang Rai, dan dia jelas lebih percaya kata-kataku, jadi jangan melawanku. " ancamnya lagi.
Mata Ruby berkaca-kaca, dia kalah. Ayahnya menjadi kartu As yang membuatnya seperti kehilangan keberaniannya. Ruby sadar posisinya hanya sebatas pengasuh untuk Rai, dan Vivianne jelas lebih mengenalnya dan Rai lebih mempercayainya.
Dasar pelayan rendahan, akan ku buat hidupmu seperti di neraka, ini balasan untukmu karena telah merebut Rai dari ku.
__ADS_1
Ruby melalui kelas “ Ratu “ nya dengan puluhan pukulan dari Vivianne.