Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Sumpah


__ADS_3

Blair terlalu sibuk mengutuki dirinya sendiri di dalam kelas hingga dia malas pergi ke kantin untuk makan siang. Sedangkan Dera yang telah menunggu Dylan itupun telah mengamankan kursi dan juga mengambilkan makan siang untuk Dylan. Dan sekarang dia sedang berdiri di depan pintu kantin untuk menunggu kedatangan Dylan.


" Dylan " Sapanya riang begitu melihat Dylan berjalan di lorong yang menuju kantin.


" Aku sudah mengambilkan makan siang mu dan menaruhnya di meja, ayo ku tunjukkan tempatnya " Ajak Dera senang dan berjalan mendahului Dylan menuju meja mereka. Dylan pun mengikutinya dari belakang.


" Aku sengaja memilih meja yang ada disudut ruangan ini agar kau merasa nyaman " Ucap Dera saat mereka telah sampai dan menarikkan kursi untuk Dylan duduk.


" Aku bisa melakukannya sendiri " Jawab Dylan acuh menahan tangan Dera, dia lalu menarik kursinya sendiri dan segera duduk. Dera pun segera duduk kursi yang ada di depan Dylan.


Dylan melihat piring makan siangnya, menu kali ini adalah menu yang paling tidak disukainya, set menu makanan barat dengan salad mentahnya sebagai serat, meatball sebagai proteinnya hewaninya, kentang tumbuk sebagai karbohidratnya dan juga sekotak kecil susu serta buah apel sebagai desertnya. Di hari senin memang minuman yang di jadwalkan adalah susu, sebagai bentuk dukungan sekolah loyard untuk pertumbuhan anak didiknya.


" Terima kasih Dylan " Ucap Dera memulai percakapan.


" Untuk ? " Tanya Dylan acuh.


" Kau sudah mau makan siang dengan ku " Jawab Dera malu-malu, namun Dylan memperhatikan Dera terus saja menoleh kesana kemari dengan gelisah. Dylan pun ikut mengedarkan pandangannya menyapu seluruh penjuru kantin. Lalu tersenyum sinis saat kembali menghadap Dera.


" Jangan terlalu memaksakannya, kau terlihat tidak nyaman duduk berhadapan denganku, sebaiknya kau pergi ke tempat teman-temanmu " Jawab Dylan dingin dan mulai mengaduk-aduk saladnya.


Semua mata sedang memandangi mereka saat ini, seorang ketua osis yang cukup populer di sekolah, cantik, pintar dan dari keluarga terpandang sedang makan siang bersama dengan anak seorang tunawisma yang meninggal karena di bunuh suaminya sendiri tentu saja menjadi bahan gosipan yang enak untuk di bicarakan.


Mereka semua sibuk berbisik-bisik saat menatap Dylan dan Dera yang ada dalam satu meja.


" Ti-tidak, aku bukan gugup karena mereka semua memandang ku " Saut Dera cepat, lalu mulai membenarkan posisinya agar lebih santai.


" Terserah kau saja " Jawab Dylan acuh dan langsung memakan makanannya.


Dylan masih saja membayangkan bagaimana ekspresi Blair tadi saat melihat nilai hasil ujiannya, lalu tanpa sadar sudut bibirnya tertarik ke atas dan membuatnya tersenyum lebar, sangat manis dan sangat tampan.


Syukurlah dia juga sesenang itu makan siang bersamaku.


Batin Dera lega, dia terus saja memperhatikan setiap gerak gerik Dylan dan melihat senyum Dylan yang terkembang.


" Kau jadi mau kan belajar bersama ku ? " Tanya Dera ragu-ragu, melihat suasana hati Dylan yang sepertinya sedang baik siang ini.


" Ya " Tanpa sadar Dylan mengiyakan pertanyaan Dera, pikirannya sedang tidak ada di kepalanya saat ini, tapi tertinggal di kelas, di bangkunya sedang menikmati momen-momen menggemaskan Blair yang pasti sibuk mengutuki rasa malunya.


" Kau janji ? " Cecar Dera senang.


" Ya " Jawab Dylan lagi-lagi tanpa sadar.


Akhirnya !! Jalanku mendekatinya sudah mulai terbuka !!


Dera memekik riang di dalam hatinya yang berdegub tak berirama.


6 tahun dia berusaha mencari jalan untuk dekat dengan Dylan, namun selalu saja gagal. Mulai dari berpura-pura selalu mencari buku di perpustakaan demi bisa bertemu dengan Dylan secara tak sengaja, namun Dylan seperti menutup diri dari pergaulan. Dia tidak peduli pada Dera yang selalu saja tiba-tiba muncul di sampingnya dengan tangan yang selalu bersinggungan dengannya saat akan mengambil buku di deretan yang sama.


Atau sengaja mengantri di belakang Dylan agar bisa berpura-pura menabrak punggungnya untuk minta maaf lalu memulai percakapan, namun sekali lagi. Dylan yang sangat cuek itu tidak pernah menoleh meskipun Dera menabrak punggungnya dengan keras. Membuat semua skenario yang telah di rancangnya hanya omong kosong belaka tanpa realisasi nyata.


Tapi kali ini, entah harinya atau apa, tiba-tiba Dylan menyetujui ajakannya untuk makan siang bersama. Seperti mimpi yang jadi kenyataan, terlalu indah untuk di lukiskan.


" Kau suka sekali dengan salad ya ? " Tanya Dera kemudian. Mendengar pertanyaan Dera, Dylan mendongak menatap Dera.


" Tidak " Jawabnya santai.


" Kalau kau tidak suka, kenapa kau makan lahap sekali " Dera terkekeh dan menunjuk piring Dylan yang hampir saja kosong dengan lirikan matanya.


Dylan pun menunduk untuk memeriksa piringnya, benar saja, sayuran mentah yang hanya di siram dengan saus entah apa namanya itu pun hampir saja tandas.

__ADS_1


Cih !!


Dylan memalingkan wajahnya lalu tersenyum sendiri. Memikirkan Blair membuatnya lupa dengan apa yang sedang di kerjakannya, hingga makanan mentah di depannya yang dulu selalu membuatnya mual itu kini hanya tersisa beberapa sendok saja.


" Apa ? Kenapa kau tersenyum-senyum terus dari tadi ? " Tanya Dera manja.


" Entahlah " Jawab Dylan menutupi bibirnya yang masih saja mengulas senyum manis. Belum pernah sekalipun dalam hidupnya dia bertindak tidak masuk akal seperti sekarang ini.


Dylan pun mengedarkan pandangannya, menyisir seluruh isi kantin, mencari keberadaan Blair. Namun dia tidak terlihat dimanapun.


" Kau sudah selesai ? " Tanya Dylan acuh.


" Kenapa ? " Tanya Dera lembut.


" Aku ingin kembali ke kelas secepatnya, kalau kau belum selesai aku duluan saja ya, kau selesaikan makan siangmu sendiri " Dylan bangkit berdiri, mengambil susu kotak dan apelnya lalu kemudian pergi begitu saja.


" Tunggu " Cegat Dera. Dia juga ikut berdiri.


" Aku sudah selesai, ayo pergi bersama-sama " Lanjutnya.


Dan mereka pun pergi meninggalkan kantin, berjalan berdampingan melewati lorong sepi menuju kelas mereka.


" Kau ingin belajar bersama dimana ? Perpustakaan atau kelas ku atau kelas mu ? " Tanya Dera lembut.


" Aku akan belajar sendiri " Jawab Dylan acuh.


" Tapi kan kau sudah janji akan belajar bersama dengan ku untuk olimpiade " Jawab Dera dengan kecewa.


" Kapan aku berjanji ? " Dylan berhenti dan menatap Dera yang ada disampingnya.


" Tadi saat kau sedang makan, kau janji kau akan belajar bersama dengan ku, kau tidak boleh ingkar janji " Sungut Dera sedikit kesal.


Aish !!! Gara-gara terlalu memikirkan si oneng itu aku sampai tidak berkonsentrasi pada apapun. Dia berbahaya juga.


" Kau sudah berjanji loh Dylan " Tegas Dera lagi setengah memaksa.


Dylan menghela napas jengah. Janji adalah janji, dia tidak bisa mengingkarinya, itu bukan sifat keluarga Loyard.


" Ya ya baiklah " Jawabnya malas.


" Yeay... " Pekik Dera senang.


" Jadi kau mau belajar dimana ? " Tanya Dera semangat.


" Di kelas ku saja " Jawab Dylan asal, dia sebenarnya ingin cepat-cepat kembali ke kelas untuk memeriksa Blair, apakah dia baik-baik saja atau sedang pingsan memikirkan nilainya yang sangat luas biasa mengejutkan itu, dari sekian banyak soal yang di tanyakan pada ujian dia hanya mampu menjawab kurang dari 10 soal, dan itupun tidak seluruhnya benar hingga membuatnya mendapatkan nilai berwarna merah membara seperti itu.


" Baiklah kalau begitu tunggu sebentar dulu, aku akan mengambil buku-buku ku " Jawab Dera riang lalu berlari meninggalkan Dylan menuju kelasnya untuk mengambil buku pelajarannya, sedangkan Dylan terus saja berjalan menuju kelasnya.


Dia masuk kelas perlahan-lahan. Pandangannya langsung menuju sudut ruangan tempat bangku mereka berada, di lihatnya Blair yang sedang membenamkan wajahnya di meja.


Dylan menghela napas sejenak, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju bangkunya.


Dengan suara berisik, Dylan menarik kursinya seakan memberitahukan keberadaannya pada Blair yang masih saja tertunduk menyembunyikan wajahnya.


" Ehem... ehem " Dylan berdehem dengan keras karena nyatanya suara berisik kursi yang berderit itu tidak membuat Blair mengangkat wajahnya.


Sabar... sabar... ini ujian, harap bersabar.


Batin Blair berusaha menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Dylan menatap punggung Blair yang sedang telengkup itu.


" Hei " Panggil Dylan pelan, namun Blair tidak bereaksi sama sekali.


" Hei kau baik-baik saja ? " Tanyanya.


Jangan begini Blair, tunjukkan bahwa kau baik-baik saja, kau tidak boleh terlihat lemah. Itu tidak akan elegan. Tatap matanya dengan santai dan angkat dagumu.


Blair menghela napas panjang dan mengangkat tubuhnya, menegakkan punggungnya dan menatap Dylan dengan wajar.


" Memangnya ada apa ya ? " Tanyanya berpura-pura normal.


" Ok sepertinya kau baik-baik saja " Dylan mengedikkan bahunya dan mencebikkan bibirnya, lalu kembali menahan senyumnya melihat usaha Blair yang ingin terlihat baik-baik saja.


" Memangnya aku harus terlihat tidak baik-baik saja, begitukah ? " Tanya Blair dengan tenang padahal jauh didalam hatinya dia ingin segera berlari keluar dari kelas ini karena terlalu malu.


" Tidak, hanya saja kau tidak makan siang " Jawab Dylan santai.


" Ya aku sedang diet " Jawab Blair acuh.


Kruuk, kruuk, kruuk !!! Namun suara perut kelaparan Blair seakan mengatakan kebalikannya. Blair memejamkan matanya menahan malu namun Dylan hanya tersenyum melihatnya.


" Raline ku selalu bilang tidak baik untuk seorang yang sedang bertumbuh seperti kita melewatkan makan siang " Jawab Dylan menggoda Blair.


" Nih " Dia meletakkan sekotak susu dan buah apel yang dibawanya dari kantin tadi ke atas meja, lalu menyodorkannya kepada Blair.


" Sudah ku bilang aku sedang diet, aku seorang model jadi harus menjaga berat badanku " Jawab Blair acuh. Namun lagi-lagi perutnya berbunyi keras.


Blair adalah salah satu golongan manusia yang mungkin saja di benci seluruh wanita yang ada di dunia ini, bagaimana tidak, dia adalah pelahap yang profesional, sebanyak apapun makanan yang masuk ke tubuhnya, tetap saja tidak akan membuatnya bertambah gendut atau tumbuh kesamping. Mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi inilah dunia dengan segala macam fenomenanya. Dan harus menahan lapar seperti ini tentu saja itu sebuah penyiksaan baginya.


" Ya sudah " Dylan mengambil kembali susu dan apel yang tadi di berikannya dan menaruhnya di laci mejanya.


Dylan lalu mengeluarkan buku pelajarannya dan mulai membaca serta mengerjakan sesuatu disana.


Blair melihat jam tangannya, waktu makan siang hampir habis, dan sudah pasti dia akan terlambat jika pergi ke kantin sekarang.


" Dylan " Sapa Dera riang saat masuk kedalam kelas dengan membawa buku-buku di tangannya dan langsung duduk di kursi yang ada di depan Dylan setelah sebelumnya memutarnya agar mereka bisa berhadapan.


" Oh Blair ? Kau tidak makan siang ? " Tanya Dera lembut menatap Blair, namun secara tidak langsung Dera ingin Blair pergi dari sana dan membiarkan mereka hanya berdua saja.


" Ah ya ini aku baru akan pergi makan siang " Jawab Blair sungkan, mungkin dia memang mendapat nilai dua puluh lima untuk ujian matematikanya, tapi dia tidak sebodoh itu untuk ujian hidupnya, dia tau Dera ingin dia pergi dari sana, mengusirnya secara halus.


" Hm ? " Dera melihat jam tangannya.


" Kalau kau pergi ke kantin sekarang, kau akan terlambat untuk kelas berikutnya " Lanjut Dera memberitahukan.


" Ya aku tau " Blair tersenyum canggung.


" Aku sudah membawa makan siangku sendiri kok " Jawab Blair lalu merogoh laci Dylan dan mengambil susu serta apel yang tadi di tolaknya. Dia butuh alasan yang elegan untuk meninggalkan Dera dan Dylan, jadi harga dirinya tidak akan terluka.


" Nih " Lanjutnya menaruh apel dan sekotak susu itu di atas meja.


Dera yang melihat apel dan susu yang termasuk menu makan siang di kantin itupun dengan cepat menoleh ke arah Dylan yang seperti tidak peduli dengan obrolan kedua gadis itu. Dia bahkan terus saja membaca bukunya.


Ja-jadi dia sengaja menyisakan susu dan apel itu untuk Blair. Sudah sejauh apa hubungan mereka ?


Dera yang cemburu itu pun hanya bisa menatap Dylan dengan nanar, hatinya bagai sebuah luka menganga yang disiram oleh air jeruk, perih terbakar.


" Aku permisi dulu " Pamit Blair dan membawa makan siangnya lalu pergi.

__ADS_1


Aku tidak boleh kalah, aku harus semakin mendekati Dylan sebelum sesuatu terjadi di antara mereka. Dylan tidak boleh dengan siapapun.


Dera mengepalkan tangannya menahan kesal, mengaungkan sumpah didalam hatinya untuk menjadikan Dylan miliknya.


__ADS_2