Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Selesai Tapi Belum Selesai


__ADS_3

Isak tangis Blair berangsur-angsur mereda, dia mendongakkan kepalanya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Beruntungnya dia kelas dalam suasana yang sepi jadi dia bebas dari sederet pertanyaan yang pasti akan di ajukan siapapun yang melihat kondisinya saat ini. Dia mengusap air matanya dan merapikan penampilannya sebentar.


Dengan tubuh yang lemas dia berdiri, dia akan pergi ke toilet wanita untuk membasuh wajahnya dan mengembalikan moodnya meski dia tau itu tidak akan berpengaruh sedikit pun.


Sepanjang langkahnya menyusuri lorong-lorong kelas dia berulang kali menghela napas lega karena lorong yang biasanya ramai oleh murid-murid yang berinteraksi satu sama lain itu terlihat kosong melompong. Mungkin mereka sedang berada di kantin untuk makan camilan atau berada di lapangan indoor sekolah untuk menonton pertandingan basket antar kelas yang biasa di adakan tiap hari sabtu.


Hari sabtu, Blair kembali menghela napas panjang saat ingat bahwa hari sabtu ini sangat dia nantikan beberapa hari yang lalu, karena itu artinya keesokan harinya dia akan pergi menonton bersama Dylan, bersenang-senang dan tentu saja menerima limpahan perhatian dari Dylan. Tapi takdir apa yang terjadi, semuanya hancur dalam sekejap.


Tiba-tiba jadwal pemotretannya berubah, tiba-tiba sikap Dylan juga berubah, dan nanti tiba-tiba apa lagi yang akan terjadi, hanya Tuhan yang tahu jalan cerita selanjutnya.


Blair membuka pintu toilet itu dengan malas, dan lagi-lagi keberuntungan yang tidak pada tempatnya itu sedang berpihak ke arahnya. Toilet sepi, semua pintu biliknya terbuka.


Dia langsung masuk ke dalam bilik pertama yang terdekat. Duduk di atas closet yang tertutup. Dan kembali menghela napas panjang.


Hatinya kembali seperti di peras oleh tangan raksasa saat mengingat sikap Dylan yang begitu dingin padanya hari ini. Dia tidak menyalahkan Dylan yang bersikap begitu karena dia tau dirinya bukan siapa-siapa dan mereka tidak terikat hubungan apapun. Hanya saja bukan cara seperti ini yang Blair inginkan. Setidaknya Dylan bisa memberinya waktu terlebih dulu untuk bersiap-siap, bukan langsung menjauh seperti ini. Atau minimal memberinya peringatan.


" Dasar perempuan sialan " Sebuah umpatan keras langsung terdengar berbarengan dengan pintu toilet yang terbuka.


Blair buru-buru menghapus air matanya dan menegakkan punggungnya.


" Aku tidak menyangka kalau bu Kiran ternyata garang juga, padahal selama ini dia selalu terlihat lemah lembut seperti malaikat " Saut Cissy sambil mengelus-elus kedua tangannya sendiri, meredakan bulu di tangannya yang meremang merinding.


" Cih malaikat apanya, dia itu serigala berbulu domba, dia tidak malu apa menjalin hubungan dengan seseorang yang di bawah umur begitu, seperti pedofil saja " Dera terus saja mengeluarkan umpatan demi umpatan untuk meredakan sakit hatinya.


" Tidak bisa di bilang pedofil juga sih, sepertinya Dylan sendiri terlihat tidak keberatan dengan hubungan itu " Jawab Cissy mengeluarkan pendapatnya.


Mendengar nama Dylan di sebut, Blair langsung berdiri dan merapatkan dirinya di pintu bilik toilet.


Dylan dan Bu Kiran ?


Batin Blair bertanya-tanya, mungkin saja itu ada hubungannya dengan sikap aneh Dylan pagi ini.


" Tidak mungkin, kau tidak lihat kalau wajah Dylan sangat tersiksa dan terpaksa. Aku yakin dia pasti berada di bawah tekanan perempuan licik itu " Saut Dera menggebu-gebu, dia tidak terima Dylan di salahkan sedikit pun.


" Iya iya dia terpaksa " Jawab Cissy memilih mengalah dan membenarkan pendapat Dera.


Mendengar hal itu malah membuat hati Blair berdenyut nyeri. Dengan sedih dia kembali mendudukkan dirinya di closet sembari menunggu Dera dan Cissy keluar dari sana. Pikirannya gelap dan kosong, tidak tau lagi apa yang harus di lakukannya. Berbagai pilihan muncul di kepalanya, tetap bebal dekat-dekat dengan Dylan atau merelakannya dan menjaga jarak saja.


Dari semua pilihan yang terlintas tidak ada satu pun yang sepertinya bisa membuat suasana hatinya lebih baik. Dia sudah terlanjur jatuh cinta pada Dylan dan sepertinya itu menancap dalam.


Suara pintu yang tertutup membuyarkan pikiran Blair, dia mendongakkan kepalanya dan menajamkan pendengarannya. Sepi. Itu artinya tidak ada siapapun lagi disana.


Perlahan dia bangun dan membuka pintu bilik toilet, mengedarkan pandangannya. Kosong. Dia berjalan menuju wastafel dan kaca besar yang tergantung di dinding. Menatap bayangan dirinya yang terlihat kacau dengan hidung merah dan mata sembab.


Kau terlihat menyedihkan Blair, dimana harga dirimu yang seorang artis papan atas itu ?


Batinnya saat melihat pantulan dirinya sendiri.


Dia menggelengkan kepalanya dengan senyum getir. Mentertawakan kondisinya sendiri saat ini. Kemudian mencuci tangannya lalu merapikan penampilannya, setelahnya dia bergegas kembali ke kelas.


Suasana lorong kelas masih sepi, jam istirahat tersisa beberapa menit lagi tapi dia tidak bergairah untuk pergi kemana pun. Dia memutuskan akan kembali saja ke kelas, dia butuh kesendirian dan keheningan.


" Blair " Sapa Bella dan Merry berbarengan saat Blair masuk ke dalam kelas.


Blair menjawabnya dengan senyum yang sedikit di paksakan, dia ingin sendiri dan melamun tapi jika ada Bella dan Merry tentu saja hal itu akan mustahil. Blair menarik kursinya dan duduk dengan malas.


" Kau tidak lihat pertandingan basket ? " Tanya Bella pada Blair.


" Tidak, aku sedang kurang enak badan " Jawab Blair lemas.


Bella dan Merry langsung terhenyak dan mengamati wajah Blair dengan panik.


" Kau baik-baik saja ? "


" Kau ingin di panggilkan ambulance ? " Saut Bella dan Merry bergantian.


" Tidak, tidak separah itu. Aku hanya sedikit pusing " Jawab Blair tersenyum getir. Dia ingat sekali ekspresi Bella dan Merry saat ini persis sekali dengan ekspresi Dylan jika sedang mengkhawatirkannya.


Susah sekali menghapus dia dari kepala ku.


Batinnya pilu.


" Syukurlah " Bella dan Merry langsung menghela napas lega berbarengan.


Blair hanya mengangguk pelan dan melemparkan senyum tipisnya, dia ingin sekali merebahkan kepalanya dan larut kembali dalam lamunannya. Tapi dia tidak bisa melakukan itu karena Bella dan Merry masih saja menghadap ke arahnya.


Dengan malas dia memasukkan satu tangannya ke dalam laci meja dan sedikit membungkukkan punggungnya, menaruh tangannya yang lain ke atas meja dan menyangga pipinya.


" Hm ? " Blair merasakan tangannya menyentuh sesuatu yang dingin di dalam lacinya. Dia mengerutkan keningnya sembari terus meraba benda dingin bulat itu.


" Minuman ? " Gumamnya pelan lalu melihat ke dalam lacinya.


Sebuah botol minuman yang terlihat berair di bagian luarnya itu sedikit menyembul keluar setelah di tarik olehnya.


Punya siapa ?


Batinnya heran, karena dia tidak merasa membelinya. Bahkan sebelum meninggalkan kelas dia sangat yakin minuman itu tidak ada disana.


" Ini punya siapa ? " Tanyanya kepada Bella dan Merry seraya mengangkat minuman itu dan menunjukkannya pada mereka berdua.


" Tidak tau " Jawab Bella juga bingung, sedangkan Merry mengangkat bahunya sembari menggeleng, satu jawaban dengan Bella.

__ADS_1


" Memangnya di mana itu tadi ? " Tanya Merry kemudian.


" Di dalam laci ku " Jawab Blair semakin bingung.


" Berarti itu milikmu " Jawab Bella asal.


" Sembarangan saja kau, bagaimana kalau ada yang tidak suka dengan Blair lalu menaruh sesuatu yang berbahaya di dalamnya " Saut Merry memukul lengan Bella.


" Jangan di minum, buang saja " Lanjutnya mengibaskan tangan pada Blair.


" Eh tapi tadi sebelum masuk aku berpapasan dengan Dylan, dia baru saja keluar dari kelas ini. Mungkin itu miliknya " Seru Bella baru ingat.


" Dylan ? " Ulang Blair memincingkan matanya.


" Iya aku berpapasan dengannya di depan pintu, dan di kelas masih kosong tidak ada siapapun " Jawab Bella yakin.


" Ya mungkin Bella benar, bisa saja itu milik Dylan tapi dia salah meletakkannya " Imbuh Merry asal lalu mengganti topik pembicaraan mereka.


Blair memandangi botol minuman yang ada di genggaman tangannya. Itu adalah minuman yang sering di belikan oleh Dylan beserta sederet camilan untuknya saat istirahat.


Jangan-jangan...


Batin Blair dengan jantung yang berdebar-debar.


Mengingat hal itu Blair langsung menyusupkan tangannya masuk kembali ke dalam laci, berharap memang benar bahwa itu adalah pemberian Dylan untuknya seperti kemarin-kemarin.


Dia meraba menyusuri setiap sudut laci di bawah mejanya, namun kosong. Tidak ada apapun di dalam sana. Hatinya sedikit mencelos kecewa. Sepertinya memang benar itu adalah minuman Dylan dan dia salah meletakkannya.


Dia kembali menaruh botol minuman dingin itu ke dalam lacinya, kemudian menghela napas panjang meredakan denyut nyeri di dadanya.


Setidaknya dia masih memiliki satu alasan untuk mengajak Dylan bicara nanti saat mereka bertemu.


Tidak berselang lama bel masuk pun berbunyi, Blair langsung mengarahkan pandangan matanya ke arah pintu masuk.


Satu persatu teman-teman sekelasnya mulai masuk, ada yang hanya sendiri dan ada yang berkelompok. Murid perempuan masuk terlebih dulu dan murid laki-laki selalu lebih terlambat.


Dengan jantung yang berdegub kencang dia mengamati teman-temannya, dia bahkan menahan napas jika mendengar suara murid laki-laki mendekat. Dan dia akan menghembuskannya dengan keras saat melihat ternyata itu bukan Dylan.


Seluruh kelas hampir terisi, tapi Dylan tak kunjung datang. Blair semakin gugup, dia memilin jari-jarinya yang sudah berkeringat dingin sambil sesekali mencuri pandang ke bangku-bangku yang kosong. Tersisa 3 bangku kosong. Hari ini hanya 1 murid yang tidak masuk sekolah yang artinya hanya tinggal satu orang lagi dan yang satunya adalah Dylan.


Suasana lorong kelas mulai sepi, Blair semakin menajamkan pendengarannya. Terdengan bunyi langkah kaki di lorong, dia menoleh ke arah jendela, tapi sayangnya suara itu dari kiri kelas jadi Blair tidak tau siapa yang akan masuk kelas kali ini.


Ku mohon dia, ku mohon dia....


Ucapnya dalam hati sambil menahan napas tegang.


Dan benar saja, tubuh tinggi Dylan itu memasuki kelas dan langsung berjalan ke bangkunya.


Sesak langsung memenuhi rongga dada Blair saat Dylan menarik kursinya dan menyusup masuk. Blair sedikit melonggarkan bahunya yang tegang. Dengan canggung dia memiringkan badan menghadap Dylan yang langsung mengeluarkan buku-buku pelajarannya.


" I-ini... " Tangan Blair masuk ke dalam laci dan mengambil botol minuman itu.


" Apa ini punya mu ? " Tanya dengan suara tercekat. Jauh di dalam hatinya dia berdoa jika Dylan akan menjawab bahwa dia membelikan minuman itu sebagai permintaan maafnya, seperti yang biasa di lakukan Dylan.


" Hm " Jawab Dylan acuh sambil terus membaca buku-bukunya.


Fix.


Batin Blair mantap. Mantap kecewa dan mantap terluka. Dylan memang berubah kembali dingin padanya. Tapi karena apa, itulah yang harus Blair cari tau.


" A-aku menemukan ini di laci meja ku " Ucap Blair tergagap.


" Ku-ku pikir kau yang memberikan ini untuk... " Dia tidak mampu meneruskan kata-katanya karena tenggorokannya mulai tercekat rasa perih membakar.


" Bukan aku yang memberikannya " Saut Dylan cepat.


Satu lagi hantaman telah yang memporak-porandakan hati Blair, apa salahnya hingga Dylan sampai berubah begini hanya dalam semalam.


" Benar kah ? " Tanya Blair dengan suara bergetar menahan tangis.


" Benarkah bukan kau yang menaruhnya di situ ? " Lanjutnya. Dadanya sudah naik turun mengatur napas seiring air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.


" Hm " Dylan masih tetap acuh dan tidak melihat ke arah Blair sedikit pun. Karena dia tau pasti wajah Blair sedang sedih saat ini, dan itu adalah kelemahan baginya. Dia tidak akan kuat melihat ekspresi Blair yang menahan tangis dan pasti akan langsung mengusap pipi Blair untuk menenangkannya.


" Baiklah kalau memang bukan kau yang menaruhnya di situ, aku akan membuangnya saja " Ucap Blair dengan sedikit mengancam. Dylan hanya diam tak menjawab. Remuk sudah hati Blair meski dia tau kalau Dylan lah yang menaruhnya di situ. Tapi kenapa Dylan tidak mau mengaku itu lah yang Blair tidak tau.


Dengan kesal bercampur sedih Blair bangun dari duduknya dengan pandangan mata yang terus menatap Dylan, berharap masih ada secercah harapan Dylan akan menahannya. Tapi sepertinya Blair terlalu menaruh tinggi harapan itu, karena Dylan benar-benar tidak bergeming dari tempat duduknya dan posisi membacanya.


Baiklah Blair, sudah cukup kau merendahkan harga dirimu sampai seperti ini. Begitu kau membuang minuman ini maka selesai sudah. Selesai dengan perasaan mu dan selesai dengan apapun yang berhubungan dengannya.


Batin Blair meyakinkan dirinya sendiri. Dengan hati yang hancur dia berjalan keluar kelas untuk membuang botol minuman itu.


Tidak ingin kembali ke dalam kelas yang terasa pengap dan menyesakkan itu, Blair memutuskan akan pulang saja. Dia tidak tahan lagi, dia butuh tempat tidurnya yang nyaman untuk meluapkan kesedihannya.


Dia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Manager Yo.


" Manager Yo, jemput aku " Perintah Blair begitu teleponnya tersambung.


" Kenapa mendadak ? Apa kau sakit ? " Tanya Manager Yo panik.


" Ya aku sakit, sangat sakit " Jawab Blair dingin lalu menutup teleponnya dan berjalan pergi menuju pintu gerbang sekolah.

__ADS_1


Kiran yang akan pergi ke ruangan Ken itu kebetulan berpapasan dengan Blair dan menatapnya heran.


" Bla... " Sapanya namun Blair terlihat tidak tertarik dan terus saja berlalu melewati Kiran.


" Tumben ? Biasanya dia akan ceria dan membalas semua sapaan " Gumam Kiran. Dia memilih mengabaikannya dan terus melangkahkan kakinya menuju ruangan Ken.


Kiran langsung mengetuk pintu tiga kali begitu sampai dan masuk tanpa menunggu perintah dari Ken.


" Say... " Panggilnya ceria dan riang.


" Sstt... " Desis Ken lirih seraya menempelkan jari telunjuknya di bibir.


" Memangnya apa yang kau inginkan ? " Tanya Ken pada seseorang di ujung sana.


Kiran langsung menutup mulutnya rapat-rapat dan memilih duduk di sofa menunggu urusan Ken selesai.


" Sebaiknya kita bertemu secara langsung saja agar kau tau dengan siapa kau berhadapan " Suara Ken terdengar dingin dan tajam, membuat Kiran mengerutkan keningnya menatap suaminya itu.


" Ok besok " Ucap Ken lagi dengan mantap kemudian menutup sambungan teleponnya. Dia lalu menghela napas panjang, terlihat jengah dan kesal.


" Siapa ? " Tanya Kiran penasaran, belum pernah dia melihat Ken sebegitu kesalnya saat menerima panggilan telepon.


" Rekan bisnis " Jawab Ken asal, pertanda dia tidak ingin membahas apapun mengenai si penelepon tadi.


" Ada apa ? " Tanya Ken berdiri kemudian berjalan menghampiri Kiran di sofa.


" Aku tadi bertemu Blair di lorong, dia terlihat sangat sedih dan putus asa sepertinya " Ucap Kiran, lupa akan tujuannya semula kalau dia ingin minta di belikan salad buah oleh Ken.


" Blair ? " Ulang Ken mengernyitkan keningnya. Sejak kapan bertemu Blair saja sampai harus melapor padanya.


" Iya dia berjalan ke arah depan, saat ku sapa dia tidak membalas dan terus saja berjalan seperti orang yang linglung " Jelas Kiran menggebu-gebu.


" Memangnya kenapa dia ? " Tanya Ken.


" Entahlah tapi aku yakin itu ada hubungannya dengan Dylan, karena tadi saat jam istirahat aku melihatnya juga dengan ekspresi yang sama dengan Blair " Jawab Kiran sambil mengangguk-angguk.


" Memangnya kau bisa tau kalau itu ada hubungannya dengan Dylan hanya dari ekspresinya ? " Tanya Ken dengan nada meremehkan.


" Hm kau ini, aku yakin seratus persen kalau itu ada hubungannya dengan Dylan. Kenapa sih tidak kalian bantu saja mereka agar lebih mendekat tanpa menunggu keputusan dari Dylan ? " Tanya Kiran berapi-api.


" Ini semua keputusan kakak, aku yakin dia tau apa yang harus di lakukan. Dan lagi kami harus menunggu keputusan Dylan karena dia lah yang akan berjuang. Tidak akan ada artinya dukungan kami kalau bukan dirinya sendiri yang akan memperjuangkan hubungannya " Jelas Ken santai lalu mengelus-elus kepala Kiran.


" Tapi kalau begini kan dia pasti sangat galau, kau tidak lihat sih bagaimana ekspresinya tadi " Decak Kiran kecewa.


" Sudahlah kau tenang saja, kalau memang mereka berdua di takdirkan bersama, mereka pasti bersatu. Aku dan kakak akan membantunya agar segera menentukan keputusannya nanti malam " Jelas Ken sabar.


" Baguslah kalau begitu, kasihan juga melihatnya begitu " Jawab Kiran pelan.


" Ada apa kau kesini ? Tumben " Tanya Ken mengalihkan pembicaraan.


" Ah ya " Kiran menepuk keningnya sendiri, baru ingat tujuannya semula.


" Aku ingin makan salad buah lagi " Jawabnya pelan lalu meringis lebar.


" Salad buah ? " Tanya Ken getir, dalam hati dia menyesal telah bertanya.


" Iya yang manis ya " Jawab Kiran mengangguk-angguk dengan mata yang berbinar.


Jangan percaya Ken, ini pasti jebakan. Nanti kalau dia sudah makan salad buahnya dia pasti berganti keputusan ingin makan ceker pedas.


Batin Ken dengan wajah yang tersenyum kaku menahan kesal. Harus sampai kapan hari-hari seperti ini dia lalui, pikirnya.


" Kau yakin ? " Tanya Ken memastikan.


" Salad buah atau ceker ya ? " Gumam Kiran mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di bibirnya.


Nah kan !!!


Seru batin Ken, belum ada satu menit Kiran sudah hampir berubah keputusan.


" Aku bingung ingin makan apa, kau ada saran ? " Tanya Kiran asal.


" Hm... kau kan kemarin sudah makan ceker, bagaimana kalau hari ini salad buah saja ? " Tawar Ken membantu menyumbangkan ide yang bisa menguntungkannya. Kalau salad buah dia tidak akan terlalu jauh membelinya.


" Ok baiklah " Jawab Kiran tersenyum lebar.


" Aku makan rujak buah saja " Lanjutnya.


" Sayang " Panggil Ken dengan senyum kecut.


" Hm ? " Jawab Kiran santai.


" Kau mau bunga melati ? Aku punya banyak " Jawab Ken dengan geraman tertahan.


" Bunga melati ? " Tanya Kiran bingung, kenapa tiba-tiba membahas bunga melati.


" Iya siapa tau kau butuh sesajen makanya ku pesankan langsung dari dukunnya " Jelas Ken masih dengan geraman yang tertahan.


" Hmm... boleh boleh " Jawab Kiran malah girang.


Jiaaahh dukun saja tidak mempan menghadapi wanita PMS apalagi aku.

__ADS_1


Teriak batin Ken putus asa.


__ADS_2