Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Penyakit Menular


__ADS_3

4 bulan kemudian...


Ruby sedang berjalan-jalan di taman halaman mansion, dengan perut buncit yang selalu di cari semua anggota keluarga saat pulang bekerja. Menjadi satu-satunya wanita di keluarga ini membuat Ruby sangat di limpahi perhatian dan juga kasih sayang. Setiap mereka pulang dari aktifitas mereka, hal pertama yang di cari adalah Junior di dalam perut Ruby. Dan mereka akan saling berebut untuk menyentuh perut Ruby saat Junior sedang berolah raga di dalamnya dengan menendang atau sebuah sikutan lembut.


Regis, sang kakek bahkan sudah mulai membangun taman bermain mini yang aman untuk Junior. Itu terletak di tanah kosong sebelah mansion.


Kehamilan Ruby sedang memasuki usia 40 minggu, menurut dokter bisa saja Ruby melahirkan di usia kandungannya saat ini.


Rai sebenarnya memutuskan agar Ruby segera pindah ke rumah sakit sejak usia kandungannya mencapai 24 minggu, tapi Ruby menolak. Dia tidak ingin menjadi stress dengan suasana rumah sakit, dimana banyak orang berjuang untuk sembuh dari sakit, atau lebih parah berjuang untuk hidup.


Sore yang cerah, Ruby menunggu Rai pulang bekerja dengan berjalan-jalan santai, sekaligus berolah raga ringan agar memperlancar proses persalinannya.


Sepulang bekerja nanti mereka akan melakukan pemeriksaan rutin seminggu sekali yang sudah di jadwalkan dokter kandungan mereka.


" Rosalinda " Panggil Rai dari kejauhan di belakang Ruby.


Ruby yang sudah sangat paham dengan tingkah konyol Rai saat ini segera menoleh asal suara.


" Rosalinda kepala mu " Ruby menjawab sinis begitu Rai mendekat.


" Kenapa kau memanggilku dengan panggilan aneh-aneh ? " Ruby protes tidak terima.


" Entahlah, sejak kau hamil aku ingin sekali memanggilmu dengan panggilan wanita-wanita cantik, mungkin ganti aku yang sedang ngidam " Rai menjawab asal, memeluk Ruby dan kemudian menghadiahi nya dengan ciuman bertubi-tubi.


Kemudian mereka berjalan bersama kembali ke dalam rumah.


" Alasan " Ruby mencibir.


" Ei jangan marah, meskipun begitu hanya kau yang ada di hati ku, nomor 2 setelah Junior " Rai kembali menggoda Ruby.


" Ya ya ya aku tidak akan bisa menang melawan Junior " Ruby mengalah.


" Kau sudah siap ? " Tanya Rai kepada Ruby saat mereka memasuki rumah.


" Ya aku sudah siap, kau ingin berangkat sekarang ? " Tanya Ruby yang melihat Rai sudah memakai pakaian casual.


" Ya tadi aku sudah bersiap-siap sebelum menemui mu, sebaiknya kita berangkat sekarang " Rai mengajak Ruby kemudian menghubungi sopir untuk menyiapkan mobil.


" Aku ambil tas ku dulu " Ruby akan pergi menuju kamarnya. Namun baru beberapa langkah menaiki tangga dia tiba-tiba merasakan perutnya yang sakit.


" Aauuww " Ruby berteriak kesakitan.


Rai yang sudah sampai di depan pintu masuk segera kembali untuk menghampiri Ruby, dengan panik segera menopang tubuh Ruby yang hampir jatuh terduduk.


" Kenapa ? " Tanya Rai panik.


" Entahlah, Junior sangat keras menendang ku, sampai aku kesakitan dan rasanya aku ngompol saat ini " Ruby menjelaskan dengan terbata-bata antara menahan sakit dan malu.


Rai melihat lantai, memang sudah menggenang air yang lumayan di bawah kaki Ruby.


" Kau ini bikin kaget saja, biarkan saja kalau ngompol memangnya kenapa. Biar nanti pelayan yang membersihkannya. Aku akan mengambilkan tas mu " Rai menjawab lega, ternyata hanya masalah kecil.


" Tunggu lah di sofa, aku akan segera kembali " Rai menunjuk sofa di ruang tamu dengan wajahnya. Ruby hanya mengangguk dan berjalan pelan menuju sofa.


Rai pergi berlalu meninggalkan Ruby menuju lantai atas, menaiki tangga dengan bersiul riang karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan Junior lewat usg, dia selalu saja antusias setiap sesi usg di lakukan.


Ruby yang merasakan sakitnya kali ini berbeda hanya bisa berdiri diam tidak mampu menuju sofa. Sakit yang menyerang saat ini sangat hebat, dan ngompol yang dia rasakan semakin banyak saja. Dia menoleh ke lantai, genangan air itu berbeda dari urine.


Ken yang baru saja datang terkejut melihat Ruby yang memegangi perutnya dan menunduk menatap genangan air di bawahnya. Dia menghampiri Ruby.


" Ada apa ? " Tanya nya begitu mendekat.


Ruby yang tidak mengetahui kedatangannya terlonjak kaget dan itu semakin membuat sakit di perutnya menjadi jadi.


" Aarrgghh " Ruby refleks mencengkram lengan Ken dengan kuat.


" Aarrgghh " Ken juga ikut berteriak begitu kuku Ruby menancap di lengannya.


Rai yang baru saja keluar dari kamar setelah mengambil tas Ruby juga ikut terlonjak oleh teriakan dua orang tersebut. Dengan cepat segera menuruni tangga, 2 anak tangga sekaligus setiap kali melangkah.


" Kenapa ? Ada apa ? " Tanya nya panik dan khawatir.


" Dia mencakar ku " Ken menunjuk tangan Ruby yang mencengkram lengannya.


Rai melihat wajah Ruby sudah sangat pucat, butiran keringat besar-besar menghiasi dahi nya.


" Aku... sakit...perut... " Ruby menjawab di sela nafasnya yang tersengal karena menahan sakit.


Rai panik dan segera menggendong Ruby untuk masuk mobil, sementara Ken harus pasrah mengikuti karena tangan Ruby yang tidak juga di lepaskannya dari lengan Ken.


Mereka memasukkan Ruby dengan hati-hati, mendudukkannya di kursi penumpang dengan di apit Rai dan Ken. Sopir yang melihat keadaan darurat itu segera melajukan mobilnya.


" Aaarrggghhh " Ruby berteriak semakin keras, begitu juga dengan Ken.

__ADS_1


Suasana ribut di dalam mobil tidak terhindarkan lagi.


" Kenapa kau ikut berteriak ? " Rai bertanya panik dan juga kesal karena kehadiran Ken seperti menambah rumit keadaan.


" Kakak ipar mencakar ku semakin kuat, bagaimana aku tidak berteriak " Ken menjawab dengan setengah berteriak juga.


" Kalian berisik !! " Ruby memaki mereka berdua dengan keras.


" Sakit !! " Ruby kembali mengaduh.


Setiap kali Ruby mengalami serangan sakit dia akan mencengkram lengan Ken dengan keras, membuat Ken juga berteriak kesakitan.


Rai segera menghubungi rumah sakit agar menyiapkan semuanya.


" Kakak ipar bisa tolong kau cakar saja tangan kakak ku ? Aku ada kencan besok, tidak mungkin aku pergi dengan tubuh penuh luka begini " Ken memohon dengan menahan sakit.


" Kau...masih... Raiii " Ruby sudah tidak bisa lagi mengontrol nafas nya, sakit yang mendera nya semakin bertambah intensitas nya.


" Lebih penting mana kencan mu dan Junior ? " Rai menjawab kesal, menatap Ken dengan tajam.


" Tentu saja JUNIOR " Ken kembali berteriak karena merasakan cakaran kuat lagi di lengannya.


" Sayang bertahanlah, sebentar lagi kita sampai " Rai menenangkan Ruby dan mengelus elus perutnya.


Mobil mereka menikung tajam menuju pelataran rumah sakit, para perawat dan juga dokter sudah siaga menunggu di depan dengan sebuah ranjang dorong untuk Ruby.


Perawat segera membantu membuka kan pintu begitu mobil berhenti tepat di depan mereka.


Namun tidak ada satupun dari penumpang di dalamnya yang keluar. Membuat perawat itu bingung harus berbuat apa.


" Kenapa kau diam saja, cepat tolong dia " Perintah Rai berteriak karena melihat perawat yang hanya diam kebingungan.


" Mohon anda keluar dulu tuan, bagaimana nyonya akan keluar " Perawat itu menjawab takut.


Rai yang sadar kesalahannya segera keluar, tapi dia melihat Ken yang masih tetap di dalam mobil.


" Kau tidak keluar ? " Perintah Rai kesal.


" Kau ini bagaimana, aku juga ingin keluar, tapi lihat dia mencengkram lengan ku dengan kuat " Ken menjawab sambil meringis kesakitan.


" Tahan saja kalau begitu " Rai menjawab asal dan kemudian membantu untuk menurunkan Ruby dengan Ken juga yang menempel seperti lem.


" Kenapa... sakit... sekali " Ruby berteriak tidak dapat menahan sakitnya.


" Apa ?!? " Ketiga orang tersebut kompak bersuara.


" Kenapa sekarang ? Bukankah dokter bilang masih lama ? " Tanya Rai panik.


" Aku belum siap saat ini, di tunda saja " Rai menjawab asal.


" Kau gila " Ruby berteriak marah, dia semakin mengeraskan cengkramannya ke lengan Ken.


" Kalian berdua yang gila " Ken juga balas berteriak, merasakan sakit di lengannya.


Suasana rumah sakit benar-benar kacau karena ulah trio kwek-kwek itu. Perawat segera membawa Ruby ke ruang bersalin yang memang sudah di persiapkan khusus untuk Ruby sejak perutnya membuncit.


" Untuk tuan Ken, silahkan keluar, hanya tuan Rai yang boleh menemani " Perawat menjelaskan.


" Tidak " Jawab Ruby dan Rai bersamaan.


Semua orang yang panik menoleh ke arah mereka berdua. Heran dan bingung.


" Aku butuh tangan untuk di genggam " Ruby menjelaskan cepat dan setengah berteriak.


" Kenapa tidak tangan kakak saja ? " Tanya Ken panik melihat Ruby yang akan melahirkan. Dia tidak punya pengalaman apapun dengan perempuan hamil.


" Aku butuh dua tangan " Ruby masih mencengkram lengan Ken dan malah semakin keras.


" Ken diam saja dan turuti kakak ipar mu, aku juga butuh teman disini untuk melalui ini " Rai memerintah Ken dengan kesal.


Perawat hanya bisa membiarkan pertengkaran kecil di antara ketiga manusia heboh itu. Mereka segera memasang kain pembatas di antara dada dan perut Ruby.


Dokter dan perawat yang semuanya adalah wanita sekarang sedang berusaha menolong Ruby untuk melahirkan bayi nya.


Ruby yang merasakan sakit luar biasa hanya mampu untuk mencengkram semakin erat lengan Ken juga lengan Rai.


" Baik nyonya ikuti aba-aba dari saya " Dokter kandungan itu memberikan pengarahan.


" Aba-aba apa ? " Tanya Ken cepat, dia juga ikut panik dalam kondisi seperti ini.


" Aba-aba untuk mendorong bayi nya keluar " Dokter memberitahukan cepat.


" Tunggu dulu, apa kau akan menghitung 1,2,3 lalu dorong, atau 1,2, lalu dorong pada hitungan ke tiga ? " Ken bertanya detail.

__ADS_1


" Kau pikir ini sedang main-main ?! " Ruby berteriak kesal pada Ken, sementara Rai hanya bisa diam dan pucat merasakan perasaannya yang campur aduk, antara sedih dan bahagia. Sedih karena tidak tega melihat Ruby kesakitan dan bahagia karena sebentar lagi jagoan mereka akan lahir ke dunia.


" Kita harus menetapkan standart dulu kakak ipar " Ken berusaha membela diri.


" Memangnya kau, yang menghitung langsung 3 lalu kabur " Ruby menjawab kesal, mengingat betapa buruknya Ken dalam ilmu berhitung.


" Begitu juga bisa, dokter bisa menghitung langsung 3 dan kau langsung mendorongnya " Ken masih menjawab panik.


" Ken !!! " Teriakan Ruby melengking di antara nafasnya yang tersengal-sengal.


" Kalian semua diam,ikuti saja aba-aba dari ku " Dokter melerai dengan tegas.


" Baik nyonya, satu, dua, tiga, dorong " Perintahnya kemudian. Dia sudah bersiap-siap di depan perut Ruby.


" Heennggg " Mereka bertiga kompak mendorong dan mengejan. Perawat yang membantu Ruby melahirkan hanya bisa terdiam dengan mulut menganga melihat ketiga orang tersebut.


" Hanya nyonya saja yang mendorong, kalian tidak perlu ikut " Dokter memberikan interuksi lagi.


" Baik nyonya, tarik nafas dalam, dan pada hitungan ke tiga nanti dorong sekuat tenaga sambil menghembuskan nafas " Perintah dokter.


" Haaaaap " Lagi-lagi mereka bertiga menghirup nafas dalam dan menahannya.


" Satu, dua, tiga, dorong " Dokter memberikan aba-aba.


Seketika itu juga mereka bertiga kompak membuang nafas dan ikut mengejan lagi.


" Duuut " Terdengan suara pelepasan dari Ken, yang tidak lama kemudian tercium bau busuk.


" Maaf maaf aku tidak sengaja, aku terlalu menghayati " Ken meminta maaf atas kelakuannya.


Untung saja semua perawat dan juga dokter mengenakan masker sehingga mereka tidak terganggu dengan bau busuk dari hasil pencernaan Ken.


Tapi tidak hal nya dengan Ruby dan Rai, mereka di buat mual dan hampir muntah-muntah oleh bau busuk itu.


" Kau pergi keluar saja " Teriak Ruby mengusir.


" Terlambat kak, kaki ku seperti lumpuh tidak bisa bergerak " Ken menjawab dengan senyum masam. Dan Ruby baru sadar kalau Ken ternyata juga menggenggam tangan Ruby dengan kuat untuk menopang tubuhnya sendiri.


Ken dan Rai memang tidak bisa melihat proses persalinannya karena tertutupi dengan kain pemisah tinggi yang di pasang oleh para perawat. Tapi melihat dan mendengar keadaan genting ini membuatnya seperti mati rasa.


" Baiklah nyonya kita lakukan lagi, rambut junior sudah terlihat " Dokter menjelaskan antusias memberi semangat.


" Satu, dua, tiga, dorong " Perintahnya lagi.


Dan tentu saja lagi-lagi mereka bertiga sangat kompak dalam senam nafas dan mengejan. Setelah beberapa dorongan akhirnya pecahlah suara tangisan seorang bayi mungil.


Ketiga orang tersebut segera melepaskan suara helaan nafas dengan keras pertandaan kelegaan.


" Haaaahh... akhirnya kakak ipar, junior sudah lahir " Ken menjawab girang, mengusap keringat yang membasahi dahi nya.


Rai yang juga ikut senam nafas dan mengejan langsung terduduk lemas, seperti baru saja berlari berkilo-kilo meter jauhnya.


" Sayang, akhirnya... " Ucapnya juga di sela nafas yang tersengal-sengal, Ruby hanya bisa mengangguk lemas. Dia lah yang paling berat berjuang, bertaruh antara hidup dan mati. Sekarang hanya ada air mata kebahagiaan yang menggantikan rasa sakitnya melahirkan.


Kelelahan dan kesakitannya terbayar sudah dengan tangisan kencang dari junior.


Perawat mengambil Junior dari tangan dokter untuk membersihkannya dan untuk melakukan perawatan pertama pada bayi yang baru lahir.


Sementara dokter dan perawat lainnya membantu merawat Ruby, membersihkan sisa-sisa darahnya.


Setelah semua nya selesai, dokter memberikan Junior kepada Ruby yang sedang berbaring setengah duduk di ranjang pasien.


" Selamat nyonya dia bayi anda sehat dan sempurna " Dokter memberikan Junior untuk di gendong Ruby.


Rai dan Ken sangat antusias sekali dengan bayi mungil yang sekarang ada di gendongan Ruby, berkulit putih bersih kemerah-merahan, dan mulut mungil yang mengerucut membuatnya semakin terlihat menggemaskan.


" Lihat dia, sangat menggemaskan " Ken tersenyum lebar menatap Junior, dia seperti ingin menggigit pipi bakpao junior.


Brakk !!! Tiba-tiba pintu di buka dengan paksa, Regis dengan nafas terengah-engah berdiri di depan pintu.


" Jangan ada yang berani menyentuhnya " Perintahnya tegas.


Ken yang akan menyentuh pipi junior tertegun, tangannya menggantung di udara.


" Kau akan menularkan penyakit konyolmu kalau menyentuhkan tangan mu kepada Junior " Regis melanjutkan perintahnya dengan tegas dan tajam.


Mereka bertiga menghela nafas mendengar alasan dari ayahnya.


Drama apa lagi ini ? Ruby.


Kekonyolan itu di turunkan, bukan di tularkan. Rai.


Aku penyakit menular ??? Ken.

__ADS_1


__ADS_2