Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Cerita di Masa Lalu ( part 2 )


__ADS_3

Rai jatuh terduduk melihat wajah gadis yang sedang menangis itu. Nafasnya tersengal.


" Kau manusia atau hantu ? " Rai berteriak kepada gadis itu.


" Hei aku manusia, kenapa kau mengagetkanku, berjalan mengendap endap seperti hantu " Ruby menjawab ketus.


" Kenapa wajahmu seperti itu ? " Rai bertanya heran, mengatur nafasnya setelah tau bahwa lawan bicaranya masih manusia.


" Bukan urusanmu " Ruby menghapus air matanya. Hari ini hari pertamanya masuk sekolah menengah pertama, dia dikenal sebagai gadis tomboy yang hobby bela diri, dia bertekad saat masuk sekolah baru akan berubah jadi lebih feminin, dia sengaja memakai make up seperti teman-temannya yang lain. Tapi bukannya cantik wajahnya malah berantakan.


Memakai alas bedak yang berwarna terlalu cerah dari warna kulit aslinya membuatnya terlihat abu-abu seperti hantu. Teman-teman barunya mengejeknya dan membuatnya malu. Jadi dia memutuskan bolos sekolah dan pergi ke makam ibunya. Sepanjang perjalanan dia mendapat tatapan aneh dari semua orang yang berpapasan dengannya.


" Wajahmu terlihat seperti kuntilanak, apa kau yakin manusia ? " Rai bertanya ragu.


" Kau mau ku banting ? Jangan mengejek ku " Ruby menjawab ketus.


" Aku hanya memastikan, siapa tau kau sudah jadi hantu tapi tidak sadar kalau sudah meninggal dan masih menganggap dirimu manusia " Rai menjelaskan.


" Apa ini kaki seorang hantu ? " Ruby berdiri dan menghentakkan kakinya di tanah sebagai bukti bahwa dirinya memang manusia.


" Lalu kenapa wajahmu bisa putih pucat seperti hantu ? " Rai bertanya heran.


" Bukan urusanmu " Ruby memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikannya.


" Duaaarr !!! " Suara petir menggelegar dengan keras. Membuat mereka melonjak kaget. Tak berapa lama hujan lebat turun.


Mereka berlari ke bawah pohon mahoni besar untuk berteduh. Ruby menutupi kepalanya dengan tas sekolahnya.


" Hei mobilku ada disebelah sana, ayo kita pergi kesana dan berteduh di dalamnya " Rai menawarkan.


" Tidak mau, kita baru kenal, aku tidak tau kau orang baik atau jahat, jangan-jangan kau penculik " Ruby menjawab sinis.


" Ya sudah kalau tidak mau, aku pergi sendiri saja " Rai kemudian melepas jaketnya, dan menggunakannya sebagai pelindung dari hujan.


Ruby diam mematung menimbang, hujan sangat deras, tidak mungkin ada kendaraan umum yang lewat untuknya pulang.


" Hei tunggu " Dia berlari di bawah hujan menyusul Rai yang berada tidak jauh di depannya.


Rai yang mendengar teriakannya berhenti untuk menoleh, saat yang bersamaan Ruby sudah berlari mendekat dan menabrak dada Rai. Wajah mereka bertatapan. Rai memperhatikan wajah Ruby di balik lunturnya make up yang dia pakai karena terkena air hujan. Kulitnya coklat eksotis dan matanya sangat indah, membuat Rai terdiam.


" Ayo cepat, kita akan basah " Ruby membuyarkan lamunan Rai.


Rai segera sadar dan mereka berdua berlari menuju mobil Rai yang ada di depan makam. Sopir yang sudah menunggu segera membuka pintu dan mereka masuk mobil, sopir itu bergegas masuk juga kedalam mobil, menghindari hujan.

__ADS_1


Rai masih tertegun memandang Ruby yang sedang mengusap air yang ada di tubuhnya.


Dia cantik tanpa make up nya.


Ruby yang sadar Rai memperhatikannya menjadi salah tingkah.


" Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku ? " Tanya Ruby penasaran.


" Ah ya itu, make up mu luntur " Rai menjawab tergagap.


" Benarkah ? " Ruby mengusap wajahnya, make up itu menempel di tangannya.


" Pak tolong ambilkan tissu " Perintah Rai kepada sopir yang duduk di kursi pengemudi.


Sopir mengambilkan kotak tissu yang terletak di dashboard mobil, memberikannya kepada Rai.


" Ini, bersihkan dengan ini " Rai memberikan kotak tissu itu pada Ruby.


Ruby mengambil beberapa lembar tissu dan mengusap wajahnya. Tampak sisa make up tebal menempel disana.


" Itu masih ada sisa nya " Rai menunjuk wajah Ruby.


" Disini ? " Ruby mengusap keningnya dengan tissu.


Ruby mengusap lebih ke atas lagi, tapi sisa make up itu masih ada.


" Aish kau ini " Rai tidak sabar dan mengambil tissu dan mengusapkannya ke wajah Ruby.


Jantung Rai berdetak kencang, baru kali ini dia berhadapan langsung dengan seorang gadis. Selama ini hanya ibu nya satu-satunya wanita yang menyentuhnya dan berada di dekatnya.


Wajah Rai merona, dia malu sendiri. Dia kemudian membuang kasar tissu itu kepada Ruby.


" Bersihkan sendiri " Rai berkata ketus.


" Cih kasar sekali " Ruby mencibir.


Mereka menunggu hujan lebat reda. Sopir memberitahukan bahwa mereka akan pergi setelah hujan agak mereda, karena ini desa yang terletak di lereng gunung, maka berkendara dalam hujan lebat sangat beresiko, mungkin saja bisa longsor.


Rai dan Ruby duduk diam canggung, mereka hanya diam saja.


" Hei memangnya kenapa kau memakai make up segala ? " Tanya Rai memulai.


" Yah hanya iseng saja. Kau tau perempuan sangat rumit, aku tidak habis pikir dengan para gadis-gadis itu " Ruby menjawab asal.

__ADS_1


" Apa maksudmu ? " Tanya Rai heran.


" Mereka melihat drama dan menjadi tergila-gila dengan pemerannya, menentukan standart kecantikan berdasarkan artis itu, membuat yang tidak sama dengan mereka menjadi bahan ejekan. Kau tau aku tidak terlalu memperhatikan penampilan, tapi ini hari pertama ku masuk sekolah menengah pertama, aku juga ingin sedikit berubah, jadi seperti yang kau lihat sekarang, aku terjebak dalam make up ini " Ruby menjawab terkekeh, melihat kebodohan dirinya sendiri.


" Dasar tidak punya pendirian, kalau tidak suka ya tidak usah mengikuti, apa salahnya jadi berbeda ? " Rai mencibir.


" Kau hanya belum tau kejamnya dunia para gadis " Ruby menjawab sinis.


" Kalau aku tidak berdandan, maka mereka tidak akan mau jadi temanku, aku tidak ingin menghabiskan masa sekolah ku tanpa teman " Ruby melanjutkan, nada suaranya terdengar sedih.


Rai merasakan apa yang dia rasakan, dia sendiri selama 15 tahun hidupnya hanya berada di rumah saja, tanpa seorang teman, beruntung ada Ken yang selalu menemaninya. Ken berbeda dengannya, dia menempuh pendidikan normal dari kecil, jadi dia punya banyak teman.


" Kalau tidak punya teman memangnya kenapa, kau juga tidak akan mati " Rai menjawab ketus.


" Cih kau pemarah sekali, pantas saja kau tidak punya teman " Ruby menjawab sinis.


" Kenapa kau bisa terdampar disini ? " Rai bertanya heran.


" Aku mengunjungi makam ibu ku " Ruby menjawab santai.


" Benarkah ? Ibu ku juga di makamkan disini " Rai menjawab santai.


" Wah kalau begitu kita memiliki kampung halaman yang sama karena ibu ku penduduk asli desa ini " Ruby menjelaskan antusias.


" Kebetulan yang aneh ibu ku juga penduduk asli desa ini" Rai menjawab.


Mereka mengobrol dan tak jarang berdebat mempertahankan argumen masing-masing, tapi sifat Ruby yang lebih dewasa dari usianya membuatnya banyak mengalah dengan pendapat Rai yang terkadang tidak masuk akal. Membuat mereka menjadi cocok satu sama lain.


Dia seperti ibu, selalu mengalah.


Rai memandangnya kagum, jantungnya berdetak kencang. Dia memalingkan wajahnya agar Ruby tidak melihat wajahnya yang sudah pasti merona.


Mereka menunggu selama 2 jam sampai hujan sedikit mereda. Sopir mulai menyalakan mesin kendaraan dan melajukannya.


Rai tertidur selama perjalanan pulang. Tanpa sadar dia bersandar di pundak Ruby.


" Ibu " Rai bergumam lirih dalam tidurnya.


Ruby yang mendengar itu merasa kasihan, dia juga sangat merindukan ibunya. Dia menjaga kepala Rai agar tidak bergoyang.


Sopir menghentikan mobilnya di sebuah halte di pinggir jalan, Ruby mengucapkan terima kasih kepada sopir karena telah memberinya tumpangan. Dia melihat Rai masih tertidur di kursi penumpang. Jadi dia tidak bisa mengucapkan terima kasih secara langsung. Mobil melaju meninggalkan Ruby di halte.


Rai terbangun dan melihat sekelilingnya. Ternyata Ruby sudah turun.

__ADS_1


" Aku belum tau siapa namanya " Rai bergumam lirih.


__ADS_2