
Ken terus menggenggam tangan Kiran yang sedang tertidur di kursi pesawat. Dalam beberapa jam lagi mereka akan segera tiba di bandara.
Kiran sedang tertidur pulas karena semalam dia tidak tidur dan terus saja menangis. Ken menatap wajah istrinya yang sedikit bengkak akibat terlalu lama menangis itu. Dia membelai lembut kepala Kiran.
" Haah... bagaimana bisa kau akan bilang kau tidak tau apa-apa kalau wajah bengkak dan mata sembabmu ini terlihat jelas " Gumam Ken tersenyum saat mendengar alasan Kiran menangis semalaman.
Dia bilang ingin menghabiskan semua airmatanya di perjalanan saja, jadi dengan begitu dia tidak akan menangis nanti saat bertemu Ruby.
" Dasar marimar " Gumamnya lagi.
" Kenapa masalah sepenting ini malah di sembunyikan " Ken lalu ikut memejamkan matanya dan menyiapkan mentalnya untuk bertemu dengan Ruby tanpa air mata nanti.
Sudah bisa terbayang di pikirannya betapa hancurnya hati Ruby saat ini, detak jantung ayahnya yang dia perjuangkan selama ini ternyata hanya tipuan dari Rai agar dia bersedia di nikahi oleh kakaknya.
Dia sendiri mengutuki sikap Rai yang sudah keterlaluan telah membohongi Ruby, tapi mendengar cerita Rai yang juga ikut menyiksa dirinya sendiri membuatnya merasa kasihan dengan kakak tersayangnya itu.
Semalam sebelum mereka naik pesawat, Ken menelepon Rai dan melaporkan keberangkatan mereka padanya, dia berpesan pada Ken agar jangan ada airmata saat bertemu Ruby, dia lalu menceritakan tentang betapa frustasinya dia menghadapi Ruby yang berpura-pura tegar demi agar Rai tidak melukai dirinya sendiri.
" Kan sudah ku bilang pasangan Rhoma dan Marimar memang aneh, masih mending Rahul dan Anjeli, lebih terdengar masuk akal " Gumamnya lagi lalu memilih tidur untuk menyegarkan dirinya sebelum mereka mendarat.
Setelah beberapa jam melalui sisa perjalanan panjang dari benua yang berbeda di belahan dunia yang berbeda itu, akhirnya pesawat yang membawa Ken dan Kiran mendarat di bandara.
Pramugari yang bertugas di penerbangan Ken itu pun membangunkannya karena mereka harus segera turun.
" Nyonya terlihat begitu lelap, saya tidak tega membangunkannya " Ucap Pramugari itu sungkan dan menunjuk ke arah Kiran dengan sopan.
" Tidak apa-apa, biar ku bangunkan sendiri " Jawab Ken dan kemudian pramugari itupun pergi meninggalkan mereka.
Ken melihat jam tangannya, pukul 11 siang saat mereka mendarat di bandara.
" Kiran... sayang " Ken mengguncang pelan lengan Kiran.
" Sudah sampai ? " Tanyanya dengan suara serak dan mata yang sulit di buka.
" Ya sudah sampai, ayo bersiaplah " Ajak Ken lembut.
" Mataku berat sekali, tidak bisa di buka " Jawab Kiran asal dan mengusap-usap kedua matanya yang terasa bengkak.
" Bagaimana tidak berat, matamu sebesar biji salak sekarang, hitam pekat " Ken melepas sabuk pengamannya dan segera berdiri, lalu membantu Kiran melepas sabuk pengamannya juga.
Di sambut matahari yang terik, mereka berdua turun dari pesawat dan langsung naik ke mobil yang telah menunggu mereka untuk menuju gedung bandara. Setelah sampai di terminal kedatangan luar negeri, beberapa pengawal datang menghampiri mereka.
" Semua sudah di urus tuan " Sambut pengawal yang menjemput mereka berdua begitu turun dari mobil.
Lalu menunjukkan jalan menuju mobil lain yang akan membawa mereka pergi dari bandara. Beberapa mobil terlihat berderet menjemput Kiran dan Ken. Pengawal itu pun membukakan pintu untuk Ken dan Kiran. Mereka berdua naik mobil dan langsung meninggalkan bandara, sedang mobil yang lain masih menunggu koper-koper mereka sampai tugas mereka selesai.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Kiran yang sudah gugup kini semakin bertambah gugup.
Dia sibuk menyamarkan kantung matanya yang bengkak dan sembab dengan bantuan make up.
" Tenanglah sayang " Ken menggenggam tangan Kiran yang memegang kuas make up dengan gemetaran.
" Bagaimana aku bisa tenang Ken, kau tidak tau kakakmu bilang apa, " Kalau Ruby menangis, aku akan melukai diriku sendiri "" Jelas Kiran lambat-lambat.
" Itukan kalau Ruby menangis " Jawab Ken santai.
" Pasti dia menangis " Jawab Kiran yakin.
" Darimana kau bisa yakin kalau marimar akan menangis ? " Tanya Ken penasaran.
" Karena aku akan menangis begitu melihat wajah sedihnya, mataku pasti langsung berkaca-kaca begitu aku melihat dirinya " Jawab Kiran panik.
" Jadi artinya kau yang akan membuat Ruby menangis yang akan mengakibatkan kakak ku melukai dirinya sendiri, begitukah ? " Tanya Ken mengutarakan kesimpulannya.
" Ya kau benar, kalau tuan Rai melukai dirinya sendiri lalu dia dendam padaku bagaimana ? " Tanya Kiran takut.
" Itu tidak akan terjadi, segila-gilanya kakak ku dia tidak akan melukai yang namanya keluarga " Jawab Ken santai.
__ADS_1
" Sudah tenanglah, aku tidak akan membiarkan siapapun menangis nanti " Ken menarik tangan Kiran dan menciumnya lembut.
Mendengar kata-kata Ken yang meyakinkan Kiran menjadi sedikit lebih tenang. Dia menatap cermin yang di pegangnya, menilik riasan di wajahnya, terlihat natural dengan pipi bersemu merah tanda kebahagiaan.
" Ya aku percaya kau pasti tidak akan membiarkan kami menangis " Jawab Kiran juga yakin.
Mobil yang mereka tumpangi mulai memasuki jalanan menuju rumah Ruby, jalan raya besar mulai berganti dengan jalan perumahan yang lebih kecil.
" Kita sampai " Ucap Ken masih menggenggam tangan Kiran.
Kiran yang masih gugup pun menghela napas berulang kali, dia melihat ke jendela yang ada disampingnya. Gerbang berwarna merah bata itu mulai terlihat. Mobil mereka pun berhenti di depannya, sopir membunyikan klakson beberapa kali dan terlihat penjaga yang datang untuk membukakan pintu.
" Aku benar-benar gugup " Suara Kiran gemetaran.
" Tidak akan terjadi apa-apa, sudah tenanglah " Untuk yang kesekian kalinya Ken menenangkan Kiran.
Ruby dan Rai juga ibu Adelia dan dua pengasuh Raline yang sedang menunggu Raline di ruang tamu itupun mendengar suara mobil yang memasuki halaman.
" Ada tamu bu ? " Tanya Ruby penarasan.
" Sepertinya iya, tapi siapa ya ? Ibu tidak sedang ada janji dengan siapapun " Jawab Adelia bingung.
Rai yang tau bahwa itu adalah Ken dan Kiran, hanya diam saja dan berpura-pura cuek. Meskipun di dadanya jantungnya sedang berdetak tak karuan saat ini.
Dia sendiri sudah mempersiapkan kemungkinan terburuk dari permintaannya kepada Ken dan Kiran jika sampai Ruby tau bahwa ini adalah perintahnya.
Pelayan yang juga mendengar suara deru mobil itupun beranjak ke arah pintu untuk melihat siapa tamu tersebut.
" Aku masih gugup, lihat belum melihat wajah Ruby saja mataku sudah berkaca-kaca " Ucap Kiran panik dan mengipasi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menghalau air mata Kiran yang menggenang di pelupuk matanya yang siap muncur turun.
Ken menoleh ke arah Kiran, di raihnya pipi Kiran dengan kedua tangannya.
" Tenang sayang, tarik napas, hembuskan " Ken memberikan interuksi kepada Kiran dan Kiran menghela napas sesuai aba-aba darinya.
Ken lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan memakaikannya pada Kiran.
Ken dan Kiran kemudian turun dari mobil van mewah berwarna hitam itu dengan bergandengan tangan dan wajah yang tersenyum, mereka berdua berjalan menuju pintu.
" Nyonya itu tuan Ken dan nyonya Kiran " Pekik pelayan terkejut saat mengintip dari balik jendela besar yang ada di ruang tamu itu.
" Apa ? " Tanya Ruby tidak percaya, dia pun segera berlari menuju jendela dan ikut mengintip bersama pelayan tersebut.
" Kenapa mereka sudah pulang ? " Tanyanya pada pelayan yang sedang mengintip setengah berjongkok di bawahnya.
" Entahlah nyonya saya tidak tau " Jawab Pelayan itu juga bingung.
" Apa mereka bertengkar ya ? " Tanya Ruby lagi.
" Entahlah nyonya saya tidak tau " Jawab pelayan itu dengan jawaban yang sama.
" Aish kau ini, tidak tau tidak tau terus " Ruby memukul gemas lengan pelayannya itu.
Kiran dan Ken semakin mendekat.
" Dia datang, dia datang " Ucap Ruby buru-buru lalu menegakkan punggungnya dengan cepat, begitu juga pelayan yang setengah berjongkok di bawah Ruby itupun langsung berdiri dan mundur beberapa langkah berada di belakang Ruby.
" Kami pulang " Teriak Kiran dari luar sebelum masuk kedalam rumah.
Ruby langsung membuka pintunya dan berpura-pura terkejut.
" Kyaaa... Kiran.... Kiki.... " Teriak Ruby histeris.
" Marimaaarr... " Teriak Kiran juga histeris lalu menghambur memeluk Ruby yang sudah merentangkan tangannya menyambut Kiran.
" Hei kenapa kau sudah pulang ? " Tanya Ruby bingung.
" Bukankah kau baru pulang minggu depan " Lanjutnya melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Kiran untuk memeriksanya.
__ADS_1
" Aku tidak kerasan disana, lidahku tidak cocok dengan makanannya " Jawab Kiran terkekeh.
" Pantas saja kau terlihat lebih kurus " Jawab Ruby.
Adelia yang sedang menggendong Raline itu pun ikut berdiri menyambut Kiran.
" Ibuu " Pekik Kiran girang melihat ibunya, dia merentangkan tangannya dan akan menghambur memeluk Adelia.
" Ei tunggu dulu, jangan dekat-dekat, kau belum membersihkan tubuhmu, kau tidak boleh dekat-dekat dengan Raline " Jawab Adelia lembut dan menahan Kiran dengan uluran tangannya agar Kiran menjaga jarak dengannya.
" Oh ya, baiklah " Kiran mengangguk-angguk meminta maaf dan mundur beberapa langkah, dia melihat Rai yang masih duduk dengan acuh dan tidak ikut larut dalam suasana penyambutan Kiran dan Ken.
" Ken " Pekik Ruby dan merentangkan tangannya akan memeluk Ken.
Ken tersenyum santai dan berjalan menuju pelukan Ruby.
" Kami sangat merindukan mu " Ucap Ruby berbisik di telinga Ken. Mendengar hal itu mendadak membuat Ken merasa sedih.
" Dasar marimar auu... soto mie bakso " Jawab Ken menggoda Ruby dengan menyanyikan sepotong lagu telenovela yang di pelesetkannya.
Mendengar hal itu Ruby pun melepaskan pelukan Ken dan tertawa terbahak-bahak. Kiran yang ada di samping Ruby juga ikut tertawa terbahak-bahak.
" Hei kenapa kau pakai kacamata di dalam rumah ? " Tanya Ruby heran melihat Kiran yang bersikap tidak seperti biasanya.
" I-ini karena mataku sakit " Jawab Kiran gelagapan.
" Benarkah ? " Tanya Ruby panik dan memegang kedua pipi Kiran, mengamati wajahnya.
" Y-ya mataku sakit, aku tidak ingin kau tertular " Jawab Kiran dengan suara tercekat menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh di hadapan Ruby.
" Ooh sayang, pasti itu sebabnya kau segera pulang " Ucap Ruby sedih lalu memeluk Kiran sekali lagi, mengelus-elus punggungnya.
Kiran yang sudah tidak bisa menahan air matanya membiarkannya jatuh di balik punggung Ruby.
Dasar bodoh, saat terluka seperti ini pun kau masih lebih peduli pada orang lain.
Batin Kiran pilu.
Ken yang melihat itu juga langsung memeluk Ruby dan Kiran, membiarkan airmatanya juga jatuh di balik punggung Ruby.
Rai yang merasa ikut sedih itupun berdiri dan menghampiri mereka, lalu ikut-ikutan memeluk mereka bertiga.
" Aku senang kalian bisa pulang " Ucapnya kepada Kiran dan Ken. Tidak bisa di pungkiri suasana haru tiba-tiba menyeruak. Ruby yang menyadari arti ucapan Rai itupun semakin mengeratkan pelukannya pada Kiran.
" Terima kasih kalian semua " Ucapnya dengan suara tercekat. Dan mereka semua menangis tanpa suara dalam satu pelukan besar.
" Stop !! " Pekik Ken tiba-tiba menghentikan suasana haru itu.
" Jika kita semua berpelukan seperti ini, kita sudah pas seperti teletubbies " Serunya.
" Apa ? " Tanya Ruby dan Rai bingung mendengar ocehan Ken yang tiba-tiba itu.
" Sudah abaikan dia " Jawab Kiran malas.
" Aahh... berpelukan " Lanjut Ken seraya semakin mengeratkan pelukannya dan mereka berpelukan untuk beberapa saat.
" Kasihan Dylan " Ucap Rai sedih saat mereka sudah melepaskan pelukan mereka. Ruby dan Kiran memandang Rai dengan tatapan heran.
" Tenang saja kak, nanti saat kita semua lengkap, kita akan berpelukan lagi " Jawab Ken girang.
" Memangnya teletubbies ada 5 ya ? " Tanya Rai bingung.
" Tidak, dia akan jadi nunu " Jawab Ken santai. Kiran dan Ruby mengernyitkan keningnya bingung, mereka tidak pernah mendengar ada personil teletubbies bernama nunu
" Ternyata yang jadi Rangers pink adalah nunu si penyedot debu " Lanjutnya lagi seraya tertawa terbahak-bahak dan di susul oleh tawa Rai juga.
Kiran dan Ruby hanya bisa menepuk jidat mereka mendengar percakapan kakak beradik itu.
__ADS_1