Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Bersulang


__ADS_3

" Menurutmu kenapa kencan Dylan gagal ? " Tanya Kiran pada Ken yang tengah memainkan game di ponselnya.


Kiran yang baru saja keluar dari ruang ganti itu pun berjalan pelan ke arah ranjang kemudian menyusup masuk ke dalam selimut dan berbaring di samping Ken.


" Kata siapa gagal ? " Tanya Ken asal sembari terus memainkan game onlinenya. Kedua jempolnya dengan cepat mengetuk-ngetuk permukaan kaca di ponselnya.


" Kata Pak Handoko tadi, bukankah dia bilang wajah Dylan terlihat sedih, kecewa dan tidak bahagia. Lalu apa lagi penyebabnya kalau bukan karena kencannya tidak berjalan lancar ? " Ucap Kiran menjelaskan hipotesanya. Dia memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Ken. Meminta sedikit waktunya untuk berbincang-bincang.


" Kan kita belum dengar sendiri dari Dylan, jadi jangan terlalu cepat menyimpulkan " Jawab Ken asal, tidak melepaskan matanya dari layar terang di hadapannya. Matanya terus saja bergerak kesana kemari mengikuti gambar digital yang sedang dia mainkan.


" Memangnya kau tega bertanya kalau dia saja sudah memberikan kita petunjuk lewat wajahnya, salah bertanya bisa-bisa membuat suasana hatinya semakin buruk " Balas Kiran ketus, mulai kesal oleh pengabaian yang dia terima.


" Ya kalau begitu tidak usah tanya " Lagi-lagi Ken menjawab Kiran dengan asal.


Kiran menghela napas panjang, menahan emosinya yang mulai merangkak naik seolah lampu hijau di dalam dadanya perlahan-lahan berubah. Lonjakan hormonnya yang sedang dalam masa PMS membuat moodnya berubah-ubah dengan cepat.


Di tatapnya Ken dengan tatapan tajam. Namun Ken masih saja belum sadar situasi.


" Ayo kesini kau, ku bantai sekalian " Erang Ken saat memainkan game online yang akhir-akhir ini menjadi candunya.


Satu....


Kiran menghitung dalam hatinya.


" Mati kau, mati kau, mati kau.... " Lagi-lagi Ken masih sibuk mengeluarkan jurus-jurusnya di medan pertempuran dunia maya tersebut.


Dua...


Kiran menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan melalui mulutnya. Lampu yang semula hijau kini telah berubah kuning, pertanda "hati-hati".


" Hei kau mau kemana ? Mau lari, hah ? Oh tidak semudah itu ferguso, akan ku kejar kau " Geraman Ken semakin melengking tinggi saat mengetahui lawan bermain game onlinenya hampir kabur melarikan diri dari pertempuran.


Tiga !!!


Dengan cepat Kiran mengambil ponsel Ken.


" Tidak, tidak, jangan " Teriakan Ken yang terkejut oleh serangan mendadak dari Kiran.


" Sayang, sayang jangan di ambil, nanti aku kalah " Rengeknya dengan tidak sabaran, sedikit lagi dia hampir menang dan Kiran memotong langkahnya.

__ADS_1


" Kau... " Kiran merendahkan suaranya, membuatnya semakin terlihat menyeramkan.


Glek !!


Ken menelan ludahnya mendapat tatapan mata penuh kemarahan dari Kiran, terlambat sudah, lampunya telah menyala dengan warna semerah darah. Dalam hati dia merutuki kecerobohannya yang terlalu asik bermain game hingga mengabaikan Kiran.


" Sayang tarik napas... " Ken memberikan intruksi dengan gelagapan. Bukan masalah ponsel lagi yang dia takutkan, tapi suketi mode on yang dia khawatirkan.


" Akan ku buat kau membayar semua ini " Ancam Kiran dengan suara rendah nan dingin. Ken langsung bergidik ngeri.


Sudah dimulai, suketi yang di pelihara dalam tubuh Kiran telah keluar dan Ken tidak akan sanggup menghadapinya.


" Aku bersalah, maafkan aku " Ucap Ken takut-takut, mengangkat tangannya ke atas dada tanda bukti bahwa dia menyerah.


Namun di luar dugaan Kiran malah langsung menatap ke ponsel Ken yang membuat Ken semakin takut.


" Tidak sayang... jangan lakukan hal-hal yang akan kau sesali nantinya " Ucap Ken menenangkan. Pupil matanya bergetar membayangkan hal buruk apa yang akan di lakukan Kiran pada ponselnya. Merusak, menghancurkannya ? Kalau memang hanya itu maka Ken tidak perlu terlalu khawatir.


Semoga dia tidak menghapus akun ku.


Ken merapalkan terus doanya di dalam hati sembari tetap menjaga raut wajahnya berusaha setenang mungkin. Salah mimik sedikit saja akan membuat suketi yang punya indera ke tujuh, delapan atau berapapun itu pasti tau apa yang ada di pikiran Ken.


Tidak bisa bermain game ? Mematahkan tangan ? Atau menghancurkan ponselnya ?Ya semoga saja begitu.


Batin Ken menerka-nerka.


Namun kelengahan Ken yang sedang sibuk menerka-nerka tindakan Kiran langsung di manfaatkan Kiran untuk segera menghapus akun game online milik Ken dengan cepat bahkan sebelum Ken sempat menyadarinya.


" Nih " Setelah selesai Kiran langsung menyodorkan ponsel milik Ken dengan kasar ke dadanya.


" Hah ? " Ken yang masih kebingungan hanya bisa melongo menatap Kiran dan ponselnya bergantian.


" Tidak di apa-apakan ? " Gumamnya dengan linglung.


" Sudah aku mau tidur, jangan berisik, jangan mengeluarkan suara apapun. Mengerti ? " Ancam Kiran lagi dengan mata penuh kilatan kemenangan.


Dengan cepat Kiran langsung berbalik memunggungi Ken dan menarik selimut sampai menutupi lehernya. Lalu tersenyum puas.


Sementara itu Ken di belakang punggungnya sedang menjerit tanpa suara melihat game onlinenya sudah teruninstal beserta akunnya yang hilang.

__ADS_1


Seketika itu juga soundtrack kebangsaan bagi orang yang teraniaya semacam dirinya berdengung merdu di kepalanya.


Ku menangis.... membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku....


Beberapa saat yang lalu dia mencibir acara salah satu televisi yang menayangkan jeritan hati seorang istri. Dia menganggap acara tersebut terlalu mendramatisasi dan berlebihan. Tapi kini dia merasakannya sendiri bagaimana pilunya penderitaan para istri-istri tersebut.


Di lain tempat, musuh bertarung Ken sedang kebingungan karena mendadak lawannya menghilang begitu saja di tengah-tengah pertempuran.


Dia mengamati ponselnya dengan serius, menunggunya, namun tidak ada yang berubah. Lawannya masih tetap menghilang, tidak terlihat dan tidak kembali.


" Yess " Dengan girang dia mengepalkan tinjunya ke atas udara, merayakan kemenangannya.


" Sudah berminggu-minggu aku bertarung dengannya tapi selalu kalah, akhirnya hari ini pun tiba " Ucapnya dengan senyum pepsodent yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


" Haaah... hari ini aku benar-benar beruntung, aku baru saja punya pacar dan aku menang bertarung, apalagi yang di butuhkan laki-laki untuk merasa lebih beruntung dari ini " Dengan jumawa dia menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan tangan yang terkepal.


Dengan senyum yang masih terkembang dia meletakkan ponselnya di meja nakas, mematikan lampu tidurnya, lalu segera menarik selimut dan memejamkan matanya.


" Selamat malam Dasya " Gumamnya pelan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Di tempat lain, berkilo-kilo meter jauhnya dari mansion klan Loyard yang telah tertidur, seseorang duduk di kursi besar menghadap meja, sebuah amplop coklat besar di depannya.


Tampak di seberang meja seorang laki-laki mengenakan pakaian serba hitam sedang berdiri memberikan laporannya.


" Kau yakin tidak ketahuan ? " Suara serak seorang pria bertanya pada laki-laki tersebut.


" Yakin tuan, semua aman terkendali, mereka tidak curiga sedikit pun " Jawabnya mantap.


" Bagus " Pria itu terkekeh lalu mengambil amplop tersebut dan mengeluarkan isinya.


" Ingat misi ini sangat-sangat berbahaya, jadi pastikan kau tidak melakukan kesalahan sekecil apapun " Perintah pria itu lagi.


" Tenang saja tuan, karena saya sudah memastikan semua latar belakang saya bersih dan sesuai, jadi meskipun mereka menyelidikinya mereka hanya akan menemukan kejujuran saya " Jawabnya yakin.


" Benar, kau memang benar. Mereka mengutamakan kejujuran tapi kejujuran itu juga yang akan membuat mereka hancur " Gumam pria bersuara serak itu sembari mengangkat foto yang telah dia keluarkan dari dalam amplop tersebut.


Matanya menatap tajam ke arah sosok yang telah di foto diam-diam itu. Mengamatinya lekat-lekat.

__ADS_1


" Bersulang nyonya Loyard " Dengan tangan yang lain dia mengangkat gelas berisi minuman dan menyodorkannya ke arah foto tersebut. Seolah sedang ikut duduk dan minum bersama Ruby yang juga sedang mengangkat gelas minumannya.


__ADS_2