
Hari sudah hampir beranjak siang, matahari juga sudah hampir berada di puncak kepala. Ruby dan kedua pelayan setianya itu sedang membereskan tikar piknik yang tadi di pakai sebagai alas untuk menunggu Raline berjemur di bawah pohon di halaman samping mansion.
" Sudah nyonya " Ucap Lusi membawa tikar piknik yang sudah terlipat rapi, sementara Sinta sedang membereskan mainan-mainan Raline.
" Kita pindah bermain ke dalam saja, sepertinya Raline belum mengantuk " Ajak Ruby yang sedang menggendong Raline.
" Baik nyonya " Jawab Sinta dan Lusi berbarengan. Dan mereka bertiga pun berjalan melintasi halaman menuju mansion.
Tidak ada yang berbeda dengan siang ini semua terlihat sama saja bagi Ruby yang selalu ada di dalam mansion, semua pelayan sedang mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Dan Pak Handoko sedang berkeliling memeriksa hasil pekerjaan mereka.
Ruby, Lusi dan Sinta langsung menuju ruang bermain Raline yang di dominasi warna krem tersebut. Ruangan itu telah sedikit di tata ulang begitu Raline mulai bisa tengkurap. Seluruh lantainya telah di ganti dengan kasur busa yang empuk dan aman jika sewaktu-waktu Raline tengkurap.
" Kita main disini ya sayang " Ucap Ruby setelah sampai di depan ruang bermain Raline. Dia melepas sandal rumahnya, melewati alat penyemprot uap besar yang berfungsi untuk menstrerilkan tubuh dan membunuh kuman serta bakteri yang barangkali menempel di badan, lalu setelah itu berganti sandal khusus yang hanya di gunakan di dalam ruangan.
Setelah sampai di dalam, Ruby menurunkan Raline dari gendongannya dan membiarkan dia bermain-main sendiri.
Raline yang sudah ahli tengkurap itu pun langsung menjejakkan kakinya lalu memutar tubuhnya dan berhasil tengkurap dengan sempurna.
" Yeayy " Mereka bertiga bertepuk tangan sambil bersorak untuk Raline.
Mendapat sorakan dan tepuk tangan yang meriah membuat Raline semakin keras menghentak-hentakkan kakinya dan tertawa terpingkal-pingkal.
" Aih lucunya nona Raline " Pekik Lusi gemas.
" Ah ya nyonya apa anda jadi menghadiri pesta pernikahan nona Vivianne ? " Tanya Sinta.
" Entahlah, datang tidak ya ? Rai juga diam saja tidak membahas masalah itu sama sekali " Jawab Ruby bingung.
Dia memang sudah memberitahu Rai perihal undangan yang dia dapatkan dari Vivianne, tapi jawaban Rai benar-benar tidak bisa di artikan. Dia hanya membulatkan bibirnya dan mengatakan " oh " lalu tidak membahasnya lagi.
Ruby sendiri sebenarnya malas berurusan lagi dengan Vivianne, tapi Ruby juga merasa ikut berhutang budi pada ibu Vivianne, Bibi Na pengasuh Rai sewaktu kecil.
Meskipun Ruby tidak pernah bertemu bibi Na tapi jika melihat Lusi dan Sinta yang dengan tulus membantunya mengurus Raline, Ruby seakan bisa mengerti tentang hutang budi keluarga Loyard pada Bibi Na.
Menjadi pengasuh bayi memang sangat melelahkan, terlebih lagi Rai terkadang ingin memiliki waktu berduaan saja dengan Ruby yang harus membuatnya terpaksa meninggalkan Raline bersama Lusi dan Sinta meski di luar jam kerja. Dan mereka selalu siaga saat di butuhkan kapan pun dan di mana pun.
" Kalau menurut saya sebaiknya tidak usah datang saja nyonya, memangnya nyonya lupa apa yang telah dia lakukan pada nyonya " Ucap Sinta ikut kesal saat mengingat kenangan pertama kali Ruby datang ke sini dan mendapat siksaan dari Vivianne.
" Ish kau ini kompor sekali " Decak Ruby memukul lengan Sinta pelan.
" Tapi kau benar juga sih, kalau mengingat waktu itu rasanya aku ingin sekali membantingnya " Jawab Ruby kesal.
" Nah kan " Seru Sinta.
" Jangan sampai dia mengganggu ketenangan di rumah ini lagi " Lanjutnya berapi-api.
" Entahlah, nanti saja aku akan bertanya pada Rai. Memang terasa aneh sih, dia bukan teman ku juga bukan kenalan ku tapi malah mengirimkan undangan atas nama ku, harusnya kan mengirim undangan atas nama Rai atau paling tidak tuan Regis " Ucap Ruby penasaran. Mau apa lagi sebenarnya si penyihir satu itu, kalau dia memang akan menikah, bukankah itu artinya dia sudah melupakan Rai dan memulai lembaran baru di hidupnya, tapi kenapa malah terasa aneh menurut firasat Ruby. Seperti Vivianne memang sengaja menunjukkan pada Ruby kehidupannya sekarang ini.
" Rumah ini banyak berubah ya " Sebuah suara keras dari luar ruangan membuat Ruby dan kedua pelayannya menoleh ke arah pintu.
Mereka menajamkan pendengaran mereka, suara hak sepatu yang beradu dengan lantai itu terdengar semakin dekat. Mereka bertiga mengernyitkan kening, menunggu siapa yang sedang berbicara dengan keras di lorong itu datang melintas.
" Hallo nyonya Loyard, lama tak bertemu " Sapa sebuah suara yang terasa asing di telinga Ruby namun tidak asing di matanya. Vivianne dengan gayanya yang tidak berubah, sombong dan sok berkuasa itu sedang berdiri di depan pintu.
Hemm... panjang umur sekali sih orang-orang model begini, belum lagi aku menutup mulutku dia sudah muncul disini.
Batin Ruby memutar bola matanya malas.
" Kau tidak ingin membalas sapaan ku ? " Tanya Vivianne dengan senyumnya yang selalu meremehkan.
" Ya hallo juga, lama tak bertemu " Balas Ruby asal-asalan.
" Wah kau tidak banyak berubah ya, dalam hal kurang sopan mu tentu saja, tapi kalau dalam penampilan... " Vivianne menatap Ruby yang sedang duduk di lantai itu dari atas sampai bawah.
" Hampir saja aku tidak bisa membedakan mu dengan mereka kalau saja mereka tidak memakai seragamnya " Lanjutnya penuh dengan nada mengejek yang kental.
" Jaga bicara anda nona " Hardik Pak Handoko yang berdiri di samping Vivianne dengan tegas.
" Aih Pak Handoko, kau terlalu kaku sekali sih jadi orang, memang beginilah cara menyapa sesama teman kalau di luar negeri " Sanggahnya santai.
" Sedikit mengejek tentu tidak akan membuat hati terluka, benarkan nyonya Loyard ? " Ucapnya dengan penekanan di bagian akhir kalimat lalu kembali menoleh ke arah Ruby, memberikan senyum miringnya yang menyebalkan.
Ruby menghela napas panjang mendengar ocehan Vivianne yang tentu saja akan membuat telinga juga hati panas, mungkin makanan sehari-harinya di luar negeri adalah ular berbisa, makanya kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu menyakitkan.
Tapi Ruby bukanlah perempuan biasa, jika Vivianne bilang hal yang wajar sedikit mengejek kalau berada di luar negeri, maka dari tempatnya berasal adalah hal yang lumrah sedikit membanting orang yang bermulut tajam seperti dia.
" Iya Pak Handoko jangan terlalu di ambil hati ucapan Vivianne " Jawab Ruby menenangkan Pak Handoko yang sudah terlihat akan emosi melihat Ruby terus menerus di hina.
Ruby bangun dari duduknya, dan menghampiri Vivianne juga Pak Handoko yang masih berdiri di depan pintu.
" Kau mau masuk ? " Tawar Ruby sembari tersenyum manis.
Vivianne berdecak malas dan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
" Ah untung saja kau tidak mau masuk, karena ini adalah alat pendektsi kuman-kuman yang membandel dan tidak tau diri " Jawab Ruby menunjuk alat penyemprot uap yang ada di sampingnya.
Kata-kata Ruby berhasil menarik perhatian Vivianne, dia menatap Ruby dan mengikuti gerakan tangan Ruby yang menunjuk alat semacam air purifier tapi berukuran besar itu. Bisa Ruby lihat rahang Vivianne sedikit mengeras mendengar ucapan Ruby.
" Hampir saja aku lupa kalau kau adalah salah satunya " Lanjut Ruby santai lalu menyilangkan kedua tangannya di dada.
" Pft... " Terdengar suara tawa tertahan dari Lusi. Semua orang menoleh padanya dan menatapnya dengan pandangan yang berbeda-beda.
" Maafkan saya " Ucap Lusi takut lalu menundukkan kepalanya berulang kali.
" Dasar pelayan rendahan " Geram Vivianne melontarkan makiannya pada Lusi.
" Ya begini lah kalau mansion Klan Loyard di pimpin oleh nyonya yang tidak jelas asal usulnya, para pelayan tidak lagi memiliki rasa hormat pada tuannya " Cibirnya sinis menatap Ruby.
Berurusan dengan Vivianne memang selalu melelahkan, baik lelah pikiran juga lelah tubuh karena harus terus menghela napas demi mensuplai stok kesabaran. Lama-lama kadar oksigen di udara habis karena terlalu banyak dihirup oleh Ruby.
" Ah maafkan aku, memang salah ku yang tidak bisa mendidik para pelayan dengan benar " Jawab Ruby dengan nada bersalah penuh rasa sungkan.
" Akan ku tegur dia di depan mu " Lanjutnya tersenyum.
Vivianne langsung mengangkat dagunya penuh aura kesombongan, dengan tangan bersidekap di dada dia menunggu realisasi ucapan Ruby.
Ruby menolehkan kepalanya menghadap Lusi yang sudah tertunduk dalam dengan wajah pias, ketakutan sendiri.
" Lusi " Panggil Ruby tegas.
" I-iya nyonya " Jawab Lusi tergagap.
" Kau itu sangat tidak sopan sekali, lain kali kalau kau berniat mentertawakan orang lain pikir-pikir dulu. Tapi karena yang kau tertawakan bukan orang maka lanjutkan saja tawamu, lepaskan jangan di tahan " Jawabnya kemudian tersenyum lebar.
Lusi yang mendengar ucapan Ruby itu langsung mengangkat wajahnya dan menatap Ruby dengan bingung.
" Silahkan lanjutkan tawamu, aku memberimu izin " Ucap Ruby mengedipkan sebelah matanya pada Lusi dan tersenyum santai.
" Nyonya... " Jawab Lusi merengek.
" Ku pikir tadi anda benar-benar marah " Lanjutnya lemas karena telah di kerjai oleh Ruby.
" Tentu saja aku akan marah kalau kau melakukannya ke orang lain, tapi kalau ke orang ini... " Ruby kembali menoleh ke arah Vivianne yang sudah mengepalkan tangannya menahan kesal yang sudah mentok di ubun-ubunnya.
" Aku tidak melihat ada orang di sini, yang ku lihat adalah ular berbisa yang harus di binasakan " Lanjutnya kemudian memberikan Vivianne tatapan tajam menantang.
" Kau !! " Geram Vivianne dengan wajah merah padam, dia maju satu langkah ke depan, berniat menakut-nakuti Ruby.
" Perhatikan langkah mu " Desis Ruby memperingatkan.
" Terakhir kali ku dengar kaki mu harus di pasang besi penyangga di sana sini " Cibirnya sinis melirik kaki Vivianne.
Peringatan dari Ruby membuat Vivianne langsung menarik mundur kakinya, kembali ke tempatnya semula.
Dia paham benar apa yang di ucapkan Ruby, karena dia harus di rawat di rumah sakit selama 3 bulan untuk proses penyembuhan tulang-tulang kakinya yang patah. Meskipun kejadian itu di samarkan jadi sebuah kecelakaan kerja karena terjepit lift di tempat pembangunan gedung perusahaan Klan Loyard yang baru, tapi baik Vivianne maupun Ruby sama-sama tau kalau itu adalah pembalasan dari Rai atas cambukan rotan yang di berikan untuk Ruby.
Wajah Vivianne sedikit pias namun dia berhasil menguasainya dan menyembunyikannya dengan apik, dia kembali mengangkat dagunya dengan penuh kesombongan.
" Aku hanya datang untuk menyapa paman Regis sekaligus membicarakan masalah pernikahan ku, pastikan kau datang nyonya karena kalau tidak acara ku tidak akan meriah tanpa kehadiran badut pestanya " Balas Vivianne tak kalah dinginnya, lalu dia menyunggingkan senyum mengejek, merasa menang kali ini.
" Tentu " Jawab Ruby mantap.
" Tentu saja aku akan datang, sayang sekali kalau aku harus melewatkan pesta pernikahan mu. Bukankah kau yang menyuruhku menjadi nyonya Loyard yang baik, jadi bagaimana bisa aku melewatkan pesta pernikahan bawahan ku " Lanjutnya tersenyum lebar, menghadapi Vivianne harus dengan kepala dingin atau kalau tidak dia akan terbakar sendiri, terbakar kekesalan yang sengaja di pancing oleh Vivianne.
" Aku sangat menantikannya " Balas Vivianne tak mau kalah lalu pergi dari sana.
Pak Handoko yang bertugas menemani Vivianne itu pun menundukkan kepalanya berpamitan pada Ruby.
" Saya permisi dulu nyonya " Ucap Pak Handoko sopan.
" Ya silahkan Pak Handoko, jangan lupa bawa dia ke gudang dan kunci saja di sana " Jawab Ruby kesal setengah mati, dia lalu melepaskan napasnya yang penuh kekesalan yang sedari tadi di tahannya.
" Anda memang nyonya Klan Loyard yang tangguh " Puji Pak Handoko sambil tersenyum lalu pergi menyusul Vivianne.
Ruby berjalan kembali ke arah Lusi dan Sinta yang sedang melongo syok.
" Nyonya anda benar-benar hebat " Sinta mengacungkan kedua jempolnya dengan wajahnya yang masih syok.
" Iya nyonya, aku saja merinding mendengar anda membalas setiap perkataan dari orang itu " Jawab Lusi mengulurkan tangannya dan menunjukkan pada Ruby bulu-bulu tangannya yang meremang.
" Kalian tidak tau saja aku benar-benar sudah ingin menyumpal mulutnya dengan sandal ini " Jawab Ruby menggebu-gebu lalu jatuh terduduk lemas.
" Ternyata dia sekejam rumornya ya " Celetuk Lusi sambil menggosok-gosok tangannya meredakan rasa merindingnya yang belum menghilang.
" Ini baru permulaannya " Saut Ruby menghela napas panjang. Terbayang sudah pertengkaran panjang yang akan mereka lalui jika sering bertemu nantinya.
Haaah... dasar nensi.
__ADS_1
Batin Ruby malas.
🍁🍁🍁🍁🍁
Dylan yang sudah lebih dulu kembali ke kelasnya itu terlihat sedang gelisah menunggu kedatangan Blair dari toilet.
Dia kembali memeriksa kantong plastik yang dibawanya, isinya hanya tinggal jamu herbal untuk meredakan nyeri haid, pembalut dan juga celana dalam sekali pakai sudah di berikannya pada Blair.
Dia juga sudah memberikan jaketnya yang berukuran oversize untuk di pakai Blair menutupi noda darah di roknya.
Tubuh Dylan yang tinggi berbanding terbalik dengan Blair yang mungil, jadi jika jaket Dylan di pakai oleh Blair maka panjangnya akan sampai lutut.
Dylan menoleh ke arah pintu sekali lagi, untuk melihat Blair, tapi yang di tunggu-tunggu belum juga terlihat batang hidungnya.
Benar-benar tidak enak sekali menunggu itu.
Batin Dylan tidak sabaran.
Tak berselang lama, Blair yang tenggelam di dalam jaket Dylan itu pun terlihat memasuki kelas.
Dia terus mengobral senyumnya pada semua murid yang menatapnya heran melihat penampilannya itu.
" Blair kau pakai jaket siapa ? " Tanya Bella buru-buru saat Blair sampai di tempat duduknya.
" Ah ini jaket Dylan " Jawab Blair sungkan.
" Hah ?!? " Pekik Bella terkejut lalu dengan cepat menutup mulutnya.
" Jaket dia ? " Bisiknya menunjuk Dylan dengan lirikan matanya.
" Iya jaket dia " Angguk Blair bersemangat.
" Ternyata dia itu sangat baik sekali loh teman-teman " Lanjutnya bercerita pada Bella dan Merry yang terlihat tidak percaya kalau dia sedang memakai jaket Dylan.
" Bagaimana bisa kau memakai jaketnya ? " Tanya Merry penasaran.
" Itu karena aku sedang tembus " Bisik Blair malu-malu.
" Dan kebetulan dia melihatnya " Lanjut Blair. Dia berharap dengan teman-temannya melihat hal itu, mereka akan mengubah cara pandang mereka saat melihat Dylan dan berhenti mengucilkannya.
" Euww... tembus itu sangat menyebalkan, aku pernah mengalaminya sekali saat kelas 1, saat masa orientasi murid baru, dan malunya sampai ke otak bagian dalam " Saut Bella bercerita, malah mengabaikan cerita Blair yang menampilkan sisi baik Dylan.
Dengan berat hati Blair pun mendengarkan cerita Bella dan Merry secara bergantian. Ternyata mereka semua benar-benar tidak peduli terhadap Dylan, apakah sebenarnya dia baik atau tidak. Mereka menilai hanya berdasarkan katanya, tanpa mau repot-repot mencari tau kebenarannya.
Blair menghela napas kecewa, merasa tidak mampu melindungi Dylan seperti Dylan yang selalu melindunginya. Mendadak suasana hatinya kembali sedih, dia ingin sekali menangis. Begitulah selama masa haid, mood bisa berubah-ubah dengan sangat cepat.
Blair menundukkan wajahnya, menyembunyikan ekspresi sedihnya. Sementara Dylan yang sedang berpura-pura membaca buku pelajaran itu pun langsung mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Blair.
Hai gadis...
Kau terlihat sangat cantik memakai jaket itu, boleh ku pegang tangan mu ?
Ponsel Blair yang ada di sakunya itu bergetar, dengan malas dia membukanya.
" Cih " Decaknya malu-malu lalu melirik Dylan yang masih berpura-pura sibuk membaca bukunya.
Satu tangan Dylan kemudian merosot turun ke bawah meja dan terulur ke arah Blair.
" Ayo " Bisiknya tanpa suara.
Dengan malu-malu Blair membalas uluran tangan Dylan. Sengatan listrik berkekuatan penuh langsung menjalari sekujur tubuh Blair begitu kulit mereka bersentuhan.
Dylan langsung menggenggam tangan Blair dengan erat dan membawanya masuk ke dalam laci meja namun dengan sikap yang masih terlihat serius membaca.
Jika di lihat dari luar mereka seperti dua orang yang sibuk sendiri dan tidak terlihat dekat, tapi jika di lihat dari bawah meja, tangan Dylan sedang menggenggam erat tangan Blair dengan ibu jari yang mengelus-elus lembut punggung tangan Blair.
Raga Blair mendengarkan cerita Bella dan Merry, tapi pikirannya sedang tidak berada di tempat, sedang berkelana membayangkan akan seromantis apa Dylan jika menjadi kekasihnya kelak.
Kedatangan guru itupun membuat semua perhatian murid-murid terarah ke depan. Mendapat sedikit kesempatan, Blair langsung menoleh ke arah Dylan untuk melihat wajahnya.
" Kau lihat apa ? " Bisik Dylan pelan.
" Wajahmu " Jawab Blair lirih.
" Jangan di lihat " Balas Dylan juga berbisik lirih.
" Kenapa ? "
" Nanti kau bisa jatuh cinta " Jawab Dylan asal lalu menggenggam tangan Blair lebih erat lagi.
Tidak perlu menunggu nanti, sekarang saja aku sudah jatuh cinta padamu Dylan, kau sweet sekali sih.
Blair menggigit bibir bawahnya agar dia tidak berteriak histeris.
__ADS_1