
Waktu berlalu dengan cepat hingga bel makan siang pun berbunyi. Blair yang masih kesal itu pun terus menampilkan wajah cemberutnya saat di tatap oleh Dylan. Namun bukan Dylan namanya jika dia berubah panik mendapati onengnya cemberut.
Dylan tetap santai serasa berjemur di tepi pantai. Baginya hal yang mudah membuat Blair yang merajuk kembali ceria.
" Blair kau mau makan siang dengan kami ? " Tanya Bella ragu-ragu mengingat setelah obrolan mereka Blair langsung jadi cemberut sepanjang hari.
" Ok " Jawab Blair singkat, lalu melirik Dylan yang masih membereskan buku-bukunya, berharap Dylan menahannya untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.
Tapi sampai Blair selesai membereskan bukunya juga Dylan tak kunjung memberikan kode atau pun tanda-tanda akan menahan Blair.
" Ayo " Ajak Merry yang sudah berdiri, mau tidak mau Blair pun mengikuti mereka.
" Ayo kita makan siang " Ucap Blair dengan sengaja mengeraskan suaranya, masih berharap Dylan akan menahannya dan mengajaknya makan siang bersama.
Tapi lagi-lagi Blair harus menahan kekecewaannya saat melihat Dylan masih saja sibuk mengurusi buku-bukunya.
Dasar tidak peka !!!
Blair pun pergi dengan kesal.
Di sepanjang perjalanan menuju kantin Blair hanya terdiam, dalam hati berharap dia akan bertemu dengan Kiran dan bisa meminta saran serta pendapatnya tentang Dylan.
Namun sesampainya di kantin lagi-lagi Blair harus merasakan kecewa, Kiran tidak terlihat. Blair menghela napas panjang, tentu saja Kiran tidak ada di kantin, dia kan nyonya pemilik sekolah ini, sudah pasti dia sedang makan siang bersama suaminya, begitu pikir Blair.
Dengan malas Blair mengambil nampan dan mengambil makan siangnya.
Selera makannya hilang menguap terbakar api kecewa. Meskipun menu kali ini adalah masakan padang dengan rendang daging yang melegenda, ternyata tak mampu membuat cacing di perut Blair berpesta.
Setelah mengambil makanannya dia segera menuju bangku manapun yang masih kosong.
Merry dan Bella hanya bisa mengikutinya dalam diam, merasa sungkan dan bersalah karena telah membuat Blair terlihat lesu, meskipun mereka sendiri tidak tau letak kesalahan mereka dimana.
" Kau bertengkar dengan Dylan ya ? " Tanya Bella memberanikan diri setelah beberapa saat mereka duduk dalam diam.
" Entahlah " Jawab Blair asal bicara lalu menghela napas panjang lagi.
" Kalau kau tidak betah duduk dengannya, kau bisa minta kepada wali kelas agar memindahkan tempat dudukmu " Saut Merry merasa iba.
" Entahlah " Lagi-lagi Blair asal bicara, pikirannya sama sekali tidak berada di kantin, melainkan di Dylan.
" Kau termasuk yang paling sabar bisa bertahan duduk sebangku dengannya selama beberapa bulan. Kalau aku, sehari saja pasti sudah tidak betah " Ucap Bella mencoba mencairkan suasana.
" Ya entahlah " Blair kembali memberikan reaksi zombinya, dia sibuk mengorak-arik nasi yang ada di hadapannya.
Bella dan Merry pun saling berpandangan, kehabisan bahan untuk di bahas lagi dan akhirnya memilih makan dalam diam.
Tanpa di sadari Blair yang sedang tertunduk lesu itu, Dylan mengamatinya dari jauh di seberang ruangan.
Dia ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat sikap kekanak-kanakan Blair saat ini, tapi tentu saja akan aneh kalau dia tertawa sendiri.
Setelah menyelesaikan makan siangnya Dylan memutuskan akan kembali ke kelas, namun sebelum berdiri dia kembali melihat Blair yang masih saja mengaduk-aduk makanannya dan tidak memakannnya.
Dylan menghela napas panjang, ini lah bagian yang paling dia tidak suka. Cinta bisa membuat nafsu makan turun naik, dan itu tentu saja akan berimbas pada kesehatan.
Dia berdecak malas dan memutar bola matanya, ingin sekali menghampiri Blair dan menyuapkan makanan itu padanya.
Kalau tidak makan siang dia bisa pingsan seperti waktu itu, dia itu ceroboh sekali sih.
Batinnya sedikit kesal.
Setelah memastikan Blair akan tetap pada pendiriannya dengan tidak memakan makanannya, Dylan pun memutuskan akan membeli beberapa snack dan minuman untuk di selipkan di laci Blair sebelum dia kembali ke kelas nanti.
Beberapa murid terlihat sudah menyelesaikan makan siang mereka dan memilih menghabiskan sisa jam makan siang mereka dengan bermain atau mengobrol.
Begitu juga dengan Dylan, dia lebih cepat menyelesaikan makan siangnya dan memilih meninggalkan kantin saja.
Sembari membawa kantong plastik yang cukup besar dia berjalan melewati meja Blair.
__ADS_1
" Lihat lihat " Seru Merry saat Dylan sudah sedikit jauh.
" Dylan baru saja lewat, dan kau lihat wajahnya ? Sama sekali tanpa ekspresi. Wuah !! Ada ya anak begitu " Lanjutnya mencibir.
Blair yang mendengar nama Dylan di sebut pun langsung mengangkat wajahnya dan mencari ke sekelilingnya. Namun Dylan sudah tidak terlihat.
Jadi dia makan siang juga ?!?!
Batinnya semakin kesal lalu dengan keras menusuk-nusuk daging rendangnya dengan garpu.
Merry dan Bella yang melihat itu pun hanya bisa menelan ludah dengan takut-takut. Tak di sangka Blair yang memiliki image kalem dan selalu murah senyum itu bisa terlihat menyeramkan juga.
" Kalian sudah selesai ? Aku mau kembali ke kelas saja " Ucap Blair kemudian dengan lesu. Dia benar-benar sudah tidak bisa mengerti lagi tentang Dylan, bagaimana bisa dia bersikap begitu padanya.
Memangnya dia itu punya kepribadian ganda ya !!!
Geram batinnya kesal sembari berjalan mengembalikan nampannya di tray bagian piring kotor.
Bella dan Merry pun terpaksa mengikuti Blair meskipun mereka baru memakan separuh makan siang mereka.
Sepanjang perjalanan kembali ke kelas Merry dan Bella memutuskan membiarkan Blair berjalan sendirian di belakang mereka. Bukannya tanpa alasan, mereka takut salah bicara lagi yang malahan membuat Blair semakin cemberut.
Di bagian belakang Blair seperti orang linglung, berjalan dengan tatapan kosong. Pikirannya terus melayang mengingat-ingat percakapannya dengan Dylan semalam.
Dan saat dia yakin bahwa Dylan memang belum mengajaknya berkencan atau mengungkapkan rasa sukanya, hatinya kembali berdenyut nyeri.
Apa memang dia hanya main-main saja dengan ku ?
Ratap batinnya pilu.
Blair sadarlah !! Bukannya kau sendiri yang bilang sudah cukup walau hanya jadi teman tapi mesranya, kenapa sekarang kau mengharapkan lebih ? Semua yang berlebihan itu tidak baik Blair !!
Sosok batinnya yang lain sibuk mengomeli dirinya sendiri sembari menampar pipi.
Wajar saja dong kalau aku mengharapkan lebih, bukankah dia milik bersama, belum ada yang punya, jadi kurasa hal yang wajar kalau aku ingin menjadikannya milik ku sendiri, jadi milikku seutuhnya.
Lagi, bagian lain dari hatinya sibuk menyanggah dan memprotes omelannya sendiri.
Sisi jahat dalam dirinya kembali mengomel sembari berkacak pinggang.
Aish !! Tidak tau lah !!
Pergulatan batin memang sungguh sangat menyiksa dan melelahkan.
Blair menarik napas panjang, namun saat akan menghembuskannya lewat mulut tiba-tiba saja seseorang membekapnya dari arah belakang dan langsung menariknya.
Blair meronta-ronta berusaha melepaskan tangan yang sedang menutupi mulutnya, mencegahnya agar tidak bisa berteriak.
Tapi tenaga Blair yang belum makan siang itu pun tak cukup kuat untuk melepaskan tangan siapapun itu.
Seseorang yang ada di belakangnya nyatanya lebih dari kuat untuk menyeretnya melewati lorong ruangan yang sepi dan kemudian menariknya menaiki tangga yang menuju ke atap.
Blair semakin panik, pikiran-pikiran buruk seketika berkelebatan di kepalanya.
Fans fanatik ? Haters ? Atau penculik ? Yang pasti Blair tau itu bukan tangan seorang wanita, tapi tangan seorang laki-laki.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
" Hahahaha... " Tawa kecut terpaksa menguar dari bibir mungil Ruby.
Pupil matanya bergetar memandangi sederetan orang-orang yang sedang berbaris rapi di hadapannya.
" Mohon tanda tangani ini nyonya " Ucap seorang laki-laki di deretan paling ujung dari barisan tersebut. Dengan sopan dia mengulurkan sebuah kertas dan pena.
" Kalau aku tidak mau bagaimana ? " Geram Ruby kesal dari sela-sela giginya.
" Kami terpaksa harus memaksa nyonya untuk melakukannya " Jawab laki-laki tersebut dengan wajah yang serius.
__ADS_1
" Wuah kalian benar-benar punya nyali untuk memaksa ku ya ? " Sinis Ruby menengadahkan wajahnya untuk meredakan emosinya yang sudah memuncak.
" Tentu saja kami tidak akan berani melakukan itu kepada nyonya, jadi mohon kerja samanya " Jawabnya sembari menundukkan kepalanya.
" Kerja sama ? " Ulang Ruby dengan sinis.
" Dengar ya, aku bukannya berbicara sebagai nyonya di rumah ini sekarang, tapi aku sedang berbicara sebagai Ruby " Lanjutnya dengan suara rendah putus asa sekaligus kesal.
" Saya mengerti nyonya, tapi saya hanya menjalankan tugas dari perusahaan. Mohon kerja samanya " Laki-laki itu lagi-lagi menjawab Ruby dengan sopan lalu mengulurkan kertas dan penanya lebih dekat ke arah Ruby.
" Kalau kalian pulang dari sini dalam keadaan patah tangan atau kaki, jangan salahkan aku ya " Ancam Ruby.
" Kami hanya menjalankan tugas nyonya " Jawab laki-laki itu dengan sopan tanpa rasa takut atau terintimidasi oleh sikap Ruby.
Ruby menghela napas panjang, kesal, jengah dan marah melebur menjadi satu. Dia benar-benar sudah tidak tahan lagi.
" Hei hei ada apa ini ? " Suara teriakan Rai dari arah dalam pun terdengar.
Dia baru saja turun setelah berganti pakaian.
Semua pelayan yang sedang bersama Ruby dan juga deretan laki-laki itu pun kompak menundukkan kepala memberi hormat pada Rai yang kini sudah berdiri di samping Ruby.
" Kenapa ramai sekali ? " Tanyanya lagi.
" Nyonya Ruby J Loyard telah memesan 1 truck pembalut dan belum membayarnya, tapi sekarang nyonya beralasan bahwa bukan dia yang memesannya. Kami tidak mungkin kembali tanpa pembayaran karena kami bisa kehilangan pekerjaan kami " Jawab laki-laki itu sembari menunjukkan surat bukti pemesanan.
" Heh ? " Suara terkejut Rai terlihat sangat di buat-buat.
" Nyonya Loyard tidak mau membayarnya ? " Dengan wajah jahilnya dia menatap ke arah Ruby.
" Hei sayang kau jangan semena-mena begitu, kau ini benar-benar kejam. Memangnya kau tidak kasihan pada mereka ? Wah kau ini manusia yang tidak berperikemanusiaan ya " Cibir Rai berpura-pura dengan wajah yang di buat sepolos mungkin.
" Jangan bercanda " Geram Ruby melotot pada Rai.
" Aku tau ini ulah mu. Hentikan sekarang sebelum aku meledak dan menghajarmu disini saat ini juga " Lanjutnya.
" Ooohh aku takut sekali " Rai membuat ekspresi ketakutan seperti anak kecil yang sedang di marahi ibunya.
Ruby menghela napas panjang, memejamkan matanya. Sekuat tenaga dalamnya menahan emosinya yang sudah berdenyut-denyut di ubun-ubunnya.
" Sudah jangan buang-buang waktu lagi, kasihan mereka kalau sampai di pecat. Cepat sana bayar. Kalau kau pesan tentu saja harus di bayar bukan ? " Lanjut Rai.
Sabar Ruby, luaskan hati mu, tenangkan pikiranmu. Dia ini tidak akan bisa di lawan dengan kepala yang panas.
Batin Ruby sembari mengelus-elus dadanya. Dia tidak punya pilihan lagi, mana bisa dia membuat orang lain kehilangan pekerjaannya karena keisengan Rai. Di tatapnya wajah Rai yang sudah di penuhi senyum kepuasaan.
Dia mengerjai Ruby dengan memesan pembalut atas nama Ruby dan meminta melakukan pembayaran dengan tunai saat barang telah sampai.
" Baiklah " Ucap Ruby pada akhirnya, memilih menyerah. Dengan terpaksa dia menandatangani surat tanda terima. Dan kini sampai di bagian yang paling memalukan. Dia akan membayarnya dengan uang seribuan yang di berikan oleh Rai.
" Pembayarannya akan saya lakukan di dalam, mohon kalian semua ikut kedalam " Ucap Ruby dengan putus asa, lalu masuk dengan di ikuti para staf pengirim barang tersebut yang terlihat bingung.
Ruby yang kesal itu pun bersumpah akan membalas perbuatan Rai, selama ini dia diam saja karena baginya percuma meladeni Rai yang sifatnya kekanak-kanakan, tapi kali ini habis sudah kesabarannya. Dia akan merencanakan sebuah balas dendam yang epic.
Tunggu saja !! Akan ku buat kau merasakan apa yang namanya senjata makan tuan atau tuan yang terpaksa makan senjata.
Batin Ruby sembari melirik Rai yang juga sedang berjalan di sampingnya.
Rombongan mereka pun tiba di depan sebuah ruangan tempat uang-uang itu di simpan.
" Pembayarannya silahkan kalian ambil sendiri " Ucap Ruby malu-malu sembari menunjuk tumpukan uang kertas di dalam ruangan tersebut.
Seperti yang sudah bisa di duga, ekspresi para staf pengirim barang tersebut hanya mampu membelalak dengan mulut yang menganga.
" Kau perlu lagu yang bisa semakin mendramatisir suasana ? " Tanya Rai dengan gelak tawanya yang membahana.
Lalu tanpa menunggu jawaban Ruby, dia menjentikkan jarinya. Seketika itu juga soundtrack sejuta suasana langsung mengalun tepat di bagian reffrainnya.
__ADS_1
Nun mu ri na....
Kali ini Rai memilihnya dalam bahasa korea agar lebih terasa suasana dramanya.